NovelToon NovelToon
Senyum Berbalut Luka

Senyum Berbalut Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / Romantis / Persahabatan
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: RahmaYesi.614

Nadia anak tanpa identitas yang mencoba tetap tersenyum menghadapi kejamnya dunia.

Nadia hanya ingin hidup nyaman, mengubur semua duka masa lalu untuk melanjutkan masa depan yang lebih baik. Namun, suatu hari Nadia menabrak mobil milik orang kaya, sehingga Nadia harus membayar ganti rugi sebanyak ratusan juta.

Mampukah Nadia membayar uang ganti rugi atau Nadia memilih mengakhiri perjalanan hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RahmaYesi.614, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan tak terduga

Kafe sudah tutup sejak 10 menit yang lalu. Nadia baru saja keluar dari ruang ganti dengan sudah berpakaian rapi.

"Pulang sama siapa Nadia?" Tanya Adit basa-basi.

"Pulang naik motor, bang Adit."

Adit mengangguk sambil tersenyum. "Hati-hati di jalan. Nyetirnya pelan-pelan aja, jangan ngebut."

"Iya, bang. Duluan ya."

Nadia mulai melangkah menuju pintu keluar. Adit tampak bingung, ingin menghentikan tapi tidak punya alasan yang tepat.

"Nadia!"

Langkah Nadia terhenti, segera dia menoleh ke belakang dimana Adit menatapnya dengan tatapan bingung.

"Kenapa, bang?"

Adit melangkah menghampiri Nadia. "Mau di antar gak?"

"Aduh makasih bang, tapi aku bawa motor sendiri."

"Oh bukan, maksudnya mau saya iringi sampai rumah. Gitu..."

"Gak usah bang Adit. Aku duluan." Pamit Nadia sopan.

"Ya, hati-hati..." menatap kecewa punggung Nadia hingga menghilang dari pandangannya.

"Maju lah bang, nanti keduluan loh!" seru Boni, karyawannya juga.

Adit menoleh dengan sedikit senyum menanggapi Boni. "Kelihatan banget ya?"

"Iya lah bang. Hampir semua orang tahu, kecuali Nadia."

"Itu dia yang membuat Abang ragu untuk maju. Nadia gak ngasih tanda-tanda sedikit pun."

"Gas ajalah bang. Doi kan pendiam banget, terlalu tenang untuk bisa diusik. Kalau Abang gak maju, doi makin gak ngeh. Siapa tau doi diam-diam juga punya rasa, tapi segan karena Abang kan bos."

Kalimat Boni membuat Adit mengangguk setuju. "Abang suka nih yang seperti ini. Doakan Abang ya." Merangkul bahu Boni.

"Tentu bang. Tapi, kalau boleh tau, kenapa sih Abang suka sama doi. Padahal ada Cindi sama Susi yang terang-terangan suka sama Abang. Mereka cantik juga. Ya kalau menurutku sih mereka lebih menarik dari Nadia."

"Weh, gitu ya. Sayangnya hati Abang tertariknya sama Nadia. Entahlah, rasanya seperti ada sesuatu dalam diri Nadia yang seakan butuh tempat untuk berlindung. Menatap Nadia tu bawaannya rasa ingin memberinya pelukan hangat penuh kasih sayang. Gitu aja, gak ada alasan yang lebih spesifik."

"Dalam juga ternyata cinta bang Adit sama doi. Moga berhasil deh bang. Tak bantu doa."

"Waduh, makasih banyak doanya." Menepuk-nepuk pundak Boni.

"Santai. Ya udah bang, aku duluan ya. Semoga sukses! Jangan tunggu lama-lama nanti diambil orang." Ledek Boni sebelum meninggalkan Adit.

"Ye, malah nyanyi. Sialan!" Rutuk-nya.

Sementara itu, di salah satu ruangan VIP di tempat karoke, Yuri, Laura dan dua teman lainnya beberapa jam yang lalu terhanyut dalam keseruan bernyanyi bersama dengan suara yang mereka lepaskan tanpa ditahan sedikit pun.

Seperti biasa mereka bernyanyi sambil berjoget sesuai apa yang mereka mau. Terlebih malam ini Yuri merayakan peringatan ulang tahunnya. Jadi pestanya harus lebih heboh dari biasanya.

Tidak terasa hampir empat jam berlalu di ruang karoke, suara mereka sudah mulai habis, tenaga pun mulai melemah. Akhirnya mereka mengakhiri pesta itu untuk malam ini.

"Lo yakin gak mau gue antar?" tanya Yuri pada Laura.

"Gak usah. Lo antar mereka aja, gue naik taksi online."

"Oke deh. Take care, beb."

"Yeah, bye..."

Lambaian tangan Laura mengiringi kepergian mobil Yuri. Tidak berselang lama taksi yang ia pesan tiba.

"Mbak Laura?" tanya sopir itu dengan membuka kaca mobilnya.

"Oh iya mas, saya Laura." Laura hendak membuka pintu belakang mobil, tapi sayup-sayup ia mendengar suara seseorang memanggil namanya.

"Laura!" panggilan itu berasal dari Rio yang baru keluar dari restoran di samping gedung karoke setelah makan malam bersama dengan Kevin dan pacarnya.

Laura menoleh, terdiam menatap wajah yang familiar itu. Jantungnya berdegup kencang saat Rio semakin mendekat.

"Laura, kan?" tanya Rio memastikan.

"Bukan, salah orang."

Laura langsung masuk ke mobil dan meminta sopirnya untuk segera melaju. Rio yang masih penasaran pun mengejar mobil itu.

Sean yang baru keluar dari restoran setelah tadi ke toilet dulu, heran melihat Mario berlari mengejar mobil yang semakin melaju cepat.

"Rio! What's up?!" teriaknya berjalan cepat menghampiri Mario yang membungkuk dengan menjadikan lutut sebagai tumpuan kedua tangannya.

"What's up?" menepuk punggung Rio.

Rio menghela napas panjang beberapa kali sebelum ia kembali berdiri tegak. Lalu melangkah ke pinggir jalan diikuti Sean.

"Dia... gue..." Rio memejamkan mata, tubuhnya ia bawa duduk di pinggir aspal yang berdebu.

Sean ikut duduk di sampingnya, menunggu dengan sabar sampai Rio siap bercerita.

"Dia, gue kenal dia..."

"Dia?! Dia yang lo maksud itu, salah satu mantan lo, kan?"

"Bukan."

"Terus?"

"Gue pernah pacaran sama dia."

"Hah!" Sean menghela napas kesal. "Ya namanya itu mantan, bego."

"Ya, tapi gue gak pernah setuju buat putus sama doi..."

Kening Sean berkerut, alisnya menekuk nyaris menyatu. Dengan kesal ia menggaruk belakang kepalanya, bukan karena gatal, tapi karena tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan Mario si penakluk wanita ini.

"Elo! Elo gak pernah setuju putus sama cewek itu?! Gue kayak nya salah denger nih."

"Gue serius!"

"Oke. Serah lo dah. Cerita, gue dengerin!"

"Lo ingat kan waktu gue kuliah dulu dan itu semester akhir, gue pernah jadi relawan di salah satu desa yang kena banjir dan longsor?"

Sean memegang dagunya sebentar. "Iya... gue ingat."

"Di sana, di desa itu gue ketemu dia. Dia waktu itu masih kelas dua SMA, dia imut, lembut, sopan, manis dan gue tertarik sama dia...."

Rio menceritakan semuanya, awal dia mulai merayu mendekati Laura yang masih terbilang baru beranjak remaja. Kemudian tepat sebelum Rio selesai menjadi relawan, malam itu dia menyatakan perasaannya pada Laura. Rio yang memang sudah terbiasa bermain dengan wanita pun tanpa sadar menyentuh Laura sampai kebablasan.

"Gila lo..." Sean sampai tidak bisa berkata kata.

"Sumpah, gue sendiri gak kebayang sampai bisa kebablasan gitu. Gue nyesel."

Rio sangat menyesal, itu penyesalan pertama dalam hidupnya. Rio berjanji akan bertanggung jawab pada Laura. Tidak! Bukan bertanggung jawab seperti itu, karena Rio menggunakan pengaman saat menyentuh Laura waktu itu.

Sejak kejadian itu, Rio tidak pernah berhenti menghubungi Laura. Dia yang awalnya hanya tertarik akhirnya benar benar jatuh hati. Tapi, karena kesibukannya di tahun terakhir kuliah, dia lupa memberi kabar pada Laura.

Setelah ujian selesai, Rio lulus, barulah dia ingat untuk menghubungi Laura. Tapi sayangnya dia sudah di blok, bahkan semua akun media sosialnya pun di blok Laura.

"Lo gak coba cari dia ke desa itu?" tanya Sean serius.

"Gue datang, gue cari dia. Gue ke rumahnya di hari gue wisuda. Ingat kan, gue gak ikut ngumpul sama kalian!" Sean mengangguk mengingat hari itu Rio buru buru pergi setelah sesi pemotretan di hari wisudanya.

"Gue ke rumahnya. Apa yang terjadi! Gue di tampar sama bokapnya. Gue di usir dan diancam mau di laporkan atas percobaan pelecehan terhadap Laura. Gue bingung, gue takut, bego. Jadinya ya gue pergi gitu aja." tuturnya frustasi.

Sean menepuk pundaknya. "Setelah dengar cerita lo, gue ngerasa sepertinya lo harus temui dia, ngomong sama dia, jelasin semuanya dan lo harus minta maaf. Gue pikir, kayaknya dia salah paham sama lo."

"Entahlah, gue gak tau, gue harap dia benaran salah paham, bukan malah takut atau benci sama gue. Gue ngerasa bersalah banget sama Laura. Gue mau ketemu dia, setidaknya minta maaf. Gue benar-benar gak bermaksud buat nyakitin dia. Gue nyentuh dia dengan perasaan bergetar malam itu, getaran yang mendebarkan, bukan hanya sekedar nafsu seperti yang biasa gue lakukan sama perempuan perempuan lain." ungkapnya penuh penekanan.

"Gue paham." menepuk-nepuk pelan punggung Rio untuk membantunya merasa sedikit lebih tenang.

"Bantu gue cari tau keberadaan Laura, please!"

"Oke. Gue atur. Setidaknya paling lambat dua sampai empat hari."

"Thanks, bro. Gue frustasi banget kali ini."

"Ya gue paham." ucap Sean sambil menepuk pelan punggung sahabatnya itu.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!