Di sebuah kota modern, ada sebuah toko antik yang hanya muncul saat hujan deras. Pemiliknya bukan manusia, dan barang yang ia jual bukan benda mati, melainkan "waktu" yang hilang dari masa lalu pembelinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANGWARUL MUJAHADAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jam Aris rusak
Matahari tepat berada di atas ubun-ubun, menyengat tanpa ampun seolah membakar permukaan bumi hingga retak-retak.
Uap panas terlihat menari-nari di atas permukaan aspal yang mulai melunak, sementara udara terasa begitu berat dan menyesakkan, seolah setiap hembusan angin pun ikut tersengat oleh terik yang luar biasa.
Tak ada tempat untuk berteduh yang benar-benar sejuk; dedaunan pun tampak layu dan terkulai pasrah, menyerah pada siang yang seakan tak punya belas kasihan.
Di bawah naungan cuaca yang menekan itu, Aris dan Bimo sedang terjebak dalam teka-teki yang paling dingin dalam karier mereka.
Sebuah kasus pembunuhan yang tidak meninggalkan jejak fisik—tidak ada sidik jari, tidak ada senjata, dan tidak ada saksi mata.
Korbannya adalah seorang auditor keuangan negara yang ditemukan tertidur di ruang kerjanya yang terkunci dari dalam, tanpa tanda-tanda kekerasan, namun dengan isi otak yang telah terpapar gelombang mikro frekuensi tinggi.
Bimo menatap tumpukan laporan forensik di meja, sementara Aris berdiri di dekat jendela, memutar gelang perak di pergelangan tangannya.
"Ini pembunuhan yang diorganisir oleh seseorang yang tahu persis bagaimana sistem pengamanan modern bekerja, Bimo," ujar Aris pelan. "Mereka tidak hanya membunuh korban; mereka menghapus sejarahnya. Data di komputernya dienkripsi dengan algoritma yang bahkan Hana butuh waktu berhari-hari untuk membukanya."
"Polisi menyebutnya serangan jantung mendadak," balas Bimo sambil memijat pelipisnya. "Tapi kita berdua tahu, auditor ini seharusnya bersaksi di sidang korupsi besar besok pagi. Ini adalah pembunuhan yang sempurna karena di rancang untuk terlihat seperti kematian alami."
Aris memutar gelang peraknya. Ia tahu satu-satunya cara untuk memecahkan kasus ini adalah dengan melompat ke masa lalu. Ia harus berada di ruang kerja tersebut tepat sebelum auditor itu meninggal, guna melihat siapa tamu tak diundang yang mampu menembus sistem keamanan super ketat tanpa menyentuh apa pun.
Saat ia terlempar ke dalam lorong waktu, Aris mendapati bahwa pelaku bahkan tidak perlu masuk ke ruangan. Seseorang dari gedung seberang menggunakan perangkat pemfokus gelombang untuk menyerang target dari jarak jauh. Itu adalah perpaduan antara teknologi militer, presisi komputer, dan perencanaan yang dingin.
"Bimo," Aris kembali ke masa kini dengan tatapan tajam,
"Siapkan dirimu. Kita tidak sedang melawan preman atau gangster lagi. Kita melawan arsitek sistem yang menggunakan hukum fisika sebagai senjata pembunuhnya."
Kini, tim Aris harus bergerak cepat untuk mengungkap identitas sang arsitek sebelum ia menargetkan saksi kunci berikutnya.
**
Aris dan Bimo menyadari bahwa melawan pembunuh yang menggunakan fisika sebagai senjata memerlukan bukti yang tidak bisa dibantah oleh argumen serangan jantung.
"Kita tidak bisa memenangkan ini di pengadilan dengan bukti fisik," gumam Bimo. "Mereka telah menghapus semua jejak di server gedung. Kita harus menciptakan lagi jejaki itu sendiri."
Aris memberikan rencana yang berisiko: "Hana, aku butuh kau memanipulasi feed kamera pengawas di gedung seberang. Jangan meretasnya, tapi buatlah loop rekaman yang menutupi saat perangkat itu dioperasikan. Bimo, kau harus memancing pelaku untuk melakukan serangan kedua."
**
Bimo mengumumkan kepada publik bahwa mereka telah menemukan data rahasia yang ditinggalkan sang auditor sebelum kematiannya. Informasi itu disebarkan melalui kanal berita, lengkap dengan lokasi pertemuan fiktif di sebuah taman terbuka yang terjangkau oleh jangkauan visual gedung-gedung di sekitarnya.
Aris melihat sosok pria di gedung seberang. Pria itu menyalakan sebuah alat pemancar laser-gelombang mikro yang presisi. Aris memperhatikan bagaimana pria itu tidak terlihat panik, gerakannya sangat terlatih, seolah-olah dia adalah seorang mantan ilmuwan militer.
Tepat saat pelaku mengarahkan alat tersebut ke arah sasaran—yang sebenarnya adalah Bimo yang sedang mengenakan pelindung tubuh berteknologi tinggi.
Aris melakukan manuver yang berani, namun ia tidak menyerang sang pelaku. Sebaliknya, ia muncul tepat di belakang pelaku di gedung seberang saat alat itu masih aktif.
"Kau tidak perlu menarik pelatuknya," ucap Aris dingin, tangannya menekan tombol override pada alat pemancar tersebut.
Pelaku terkejut, namun ia segera mencoba melawan dengan serangan fisik.
Sementara itu, di bawah, Bimo sedang melakukan siaran langsung,
"Pemirsa, apa yang Anda lihat di balik gedung itu bukan sekadar perbaikan alat komunikasi. Itu adalah senjata pemancar frekuensi yang digunakan untuk menghentikan detak jantung seseorang dari jarak satu kilometer!"
Sementara Hana, dari jarak jauh, berhasil menyiarkan sinyal dari alat pemancar itu langsung ke layar-layar besar di seluruh kota. Masyarakat Jakarta menyaksikan live bagaimana alat itu bekerja, mengubah teori konspirasi menjadi realitas yang mengerikan.
***
Tertangkap tangan dengan senjata yang sedang aktif dan disiarkan ke jutaan orang, sang pelaku tidak bisa lagi mengelak. Ia bukan hanya seorang pembunuh, dia adalah bukti hidup dari proyek rahasia yang selama ini disangkal oleh pemerintah.
Bimo berhasil membawa kasus ini ke tingkat Mahkamah Agung, tidak lagi sebagai kasus pembunuhan biasa, melainkan sebagai kasus Kejahatan terhadap Kemanusiaan dan Penggunaan Teknologi Terlarang.
Pelaku akhirnya buka suara. Ia mengakui bahwa ia dibayar oleh sindikat yang lebih besar—sebuah konsorsium yang menguasai teknologi frekuensi untuk menyingkirkan siapa pun yang mengancam stabilitas pasar.
Namun, saat pelaku itu dibawa ke tahanan, ia menatap Aris dengan senyum yang mengerikan. "Kau pikir kau menang, Pengamat? Kau baru saja membuktikan bahwa teknologi ini ada. Sekarang, mereka akan membunuhmu. Mereka akan menghancurkan team mu."
Aris terdiam. Ia baru menyadari bahwa dengan membongkar senjata ini, ia telah memicu musuh baru.
Langit Jakarta malam itu berubah menjadi kanvas hitam legam yang koyak oleh sirine polisi yang meraung bersahutan, seolah meratapi tamatnya era kerahasiaan. Di ruang kendali bawah tanah, udara terasa berat, beraroma ozon dari server yang bekerja melampaui batas.
"Aris, mereka tahu!" Hana berteriak, jemarinya menari di atas hologram yang berkedip merah. "Pasukan elit dengan enkripsi militer tingkat tinggi baru saja meretas perimeter pertahanan gedung kita. Bukan polisi, bukan gangster—ini adalah Unit Pemburu Anomali. Mereka punya alat pelacak resonansi temporal!"
Aris menatap gelang peraknya yang kini berdenyut cahaya biru elektrik, seolah merespons ancaman yang mendekat. "Berapa lama kita punya waktu?"
"Tiga menit sebelum mereka mendobrak pintu bunker!" jawab Hana panik.
Bimo, yang biasanya tenang, kini memegang pistol dengan tangan gemetar. "Aris..! Kau harus pergi. Sekarang!"
Aris menggeleng tegas. Ia tidak akan meninggalkan timnya,
"Hana, aktifkan protokol Ghost Overload. Ubah setiap perangkat elektronik di radius satu kilometer menjadi magnet elektromagnetik skala besar. Jika mereka ingin masuk, biarkan mereka masuk ke dalam jebakan arus yang akan melumpuhkan semua teknologi mereka sekaligus."
Di luar gedung, kendaraan lapis baja hitam berhenti dengan presisi mematikan. Pasukan dengan seragam tanpa identitas, wajah tertutup topeng taktis yang memancarkan inframerah, bergerak seperti bayangan. Mereka tidak bicara; hanya isyarat tangan. Mereka adalah The Erasers, unit pembersih yang ditugaskan untuk menghapus setiap bukti keberadaan teknologi Aris.
BRAKK!
Pintu baja bunker diledakkan dengan bahan peledak terarah. Asap memenuhi ruangan. Namun, saat pasukan itu melangkah masuk, Hana menekan tombol terakhir.
ZING!
Gelombang elektromagnetik yang sangat kuat menyapu ruangan. Semua lampu padam. Perangkat taktis pasukan itu—penglihatan malam, senjata pintar, dan alat komunikasi—mati total, berubah menjadi logam tak berguna.
"Bimo, lindungi Hana!" teriak Aris sambil menghantamkan bahunya ke arah musuh yang mencoba meraih gelang di lengannya.
Pertempuran itu brutal. Di tengah kegelapan total bunker, hanya sesekali terlihat percikan api dari gesekan senjata dan kilatan cahaya ungu dari gelang Aris yang beresonansi dengan ketegangan ruang waktu. Aris seperti menari di antara peluru—atau lebih tepatnya, ia menari di antara kemungkinan peluru yang akan ditembakkan.
Tiba-tiba, seorang musuh dengan tato aneh di lehernya berhasil mendekati Aris dan menyuntikkan sesuatu ke lengan Aris. Aris tersungkur. Pandangannya mulai kabur. Itu adalah serum inhibitor saraf—racun yang dirancang untuk memutus sinyal otak manusia ke perangkat elektronik.
"Selesai," desis sang pemimpin pasukan sambil mendekat untuk merenggut gelang itu.
Namun, saat jari sang pemimpin menyentuh gelang perak tersebut, sebuah ledakan energi murni meledak. Aris telah memprogram gelang itu untuk melepaskan seluruh energi kinetik miliknya dalam satu hentakan jika detak jantungnya berhenti atau ia kehilangan kesadaran.
Gelombang kejut itu menghancurkan tembok bunker, melemparkan pasukan elit itu keluar ke jalanan kota seperti boneka kain. Aris tergeletak di lantai, napasnya tersengal, gelang peraknya kini pecah menjadi kepingan-kepingan logam mati yang tak lagi bersinar.
Keheningan menyelimuti reruntuhan bunker. Bimo dan Hana bergegas menghampiri Aris yang terbaring lemah.
"Aris... gelang itu..." Hana berbisik, menatap kepingan logam yang tak lagi berharga.
Aris mencoba tersenyum, meski darah mengalir dari sudut bibirnya. Ia melihat ke arah langit-langit bunker yang jebol, menatap bintang-bintang yang kini tampak jauh lebih terang. "Mereka kalah... tapi rahasia waktu ini... sudah bukan milik kita lagi."
Di kejauhan, lebih banyak lampu sirene mendekat. Namun, bukan lagi lampu polisi. Kali ini, itu adalah sesuatu yang lebih besar—karena di dunia yang kini mengetahui rahasia waktu, perang yang sesungguhnya baru saja dimulai.
***
Gelang itu hancur, namun Aris masih memegang memorinya.
sesuatu yg berlebihan itu tidak baik, meskipun dengan niat untuk menolong ..
andai waktu bisa di putar ....
ah sudahlah
baru bab 1 z udah menarik ini bikin penasaran, lanjut thor