NovelToon NovelToon
SI JUTEK DAN PAK DOSEN KILLER

SI JUTEK DAN PAK DOSEN KILLER

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nina Sani

Ana—si “Jutek" cantik yang keras kepala—tidak pernah takut pada siapa pun di kampus. Kecuali satu orang yang benar-benar membuatnya naik darah: **Adi**, dosen muda yang terkenal killer, dingin, dan terlalu sexy untuk diabaikan.

Pertemuan mereka selalu penuh ketegangan—tatapan tajam, debat panas di kelas, dan permainan kecil yang hanya mereka berdua pahami.

Ana yakin ia membenci Adi.
Adi justru menikmati setiap detik perlawanan itu.

Namun di balik kebencian yang keras dan gengsi yang tinggi, ada sesuatu yang perlahan tumbuh—**panas, berbahaya, dan semakin sulit disembunyikan.**

Karena kadang…
orang yang paling ingin kita lawan adalah orang yang paling membuat jantung kita berdebar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BIMBINGAN DI MULAI

Beberapa hari setelah pertemuan dengan Ketua Jurusan, Ana merasa seperti sedang berdiri di tepi tebing yang sangat tinggi. Di tangannya ada sebuah ponsel yang layarnya berpendar terang, menampilkan kolom percakapan WhatsApp yang masih kosong. Nama "Pak Adi" di kontak teleponnya seolah memelototinya, menuntut untuk segera dikirimi pesan.

Hal yang kelihatannya sederhana—meminta jadwal bimbingan—ternyata menjadi perjuangan batin yang luar biasa. Lima menit berlalu hanya untuk mengetik satu pesan singkat. Ana menulis, menghapus, menulis lagi, lalu menghapus lagi.

Versi pertama terdengar terlalu formal, seperti surat lamaran kerja. Versi kedua terlalu santai, seolah ia sedang mengajak teman main futsal. Versi ketiga? Malah terdengar seperti orang yang mau meminjam uang dengan nada memelas.

Akhirnya, dengan napas yang tertahan, ia mengetik cepat sebelum keberaniannya menguap.

Selamat siang Pak Adi, ini Ana. Saya mau bimbingan skripsi. Kapan Bapak ada waktu?.

Ana menatap layar ponselnya beberapa detik. "Yaudah lah, gak usah banyak mikir," gumamnya.

Klik. Terkirim.

Setengah jam kemudian, sebuah notifikasi muncul. Balasannya singkat, padat, dan sangat khas Adi:

Nanti sore. Ke perpus saja.

Ana membaca pesan itu, lalu menjatuhkan ponselnya ke kasur dengan pasrah. "Ya ampun... ke perpus?. Kenapa sih bimbingan di tempat yang suasananya kayak mau kencan begini?"

Desir yang Tak Diundang

Sore harinya, Ana sudah berdiri di depan perpustakaan ikonik di dekat alun-alun kota itu. Bangunan joglo yang telah direnovasi menjadi ruang literasi modern itu terlihat hangat. Lampu-lampu gantung di dalamnya mulai berpendar keemasan, menciptakan bayangan yang estetik di jendela kaca besar.

Ana berdiri sebentar di depan pintu kayu jati yang berat. "Kenapa aku jadi deg-degan banget sih," gerutunya pelan sambil memegangi dadanya. Padahal ini cuma bimbingan skripsi, bukan sidang penentuan hidup dan mati.

Begitu masuk, suasana tenang langsung menyergapnya. Perpus di sore hari Di meja panjang dekat jendela—tempat yang seolah sudah dipesan secara permanen oleh takdir—duduklah pria itu. Adi sedang fokus menatap layar laptopnya. Sore ini ia terlihat berbeda. Tidak ada kemeja kaku atau dasi dosen. Ia hanya memakai kaos lengan pendek berwarna hitam polos yang... Selalu nampak sangat pas di tubuhnya.

Duh belum apa-apa jantung udah kaya mau copot. Kenapa dia keliatan ganteng banget sih sore ini?. Batin Ana.

Warna hitam itu sangat kontras dengan kulit Adi yang kuning langsat dan bersih. Lengan kemejanya yang sedikit tersingkap memperlihatkan otot lengan yang ramping namun tegas. Siluet Adi sore itu, dengan cahaya lampu yang jatuh tepat di garis rahangnya, terasa...emh... sexy!.

Ana menelan ludah. Ada desir aneh yang menggelitik dadanya. Ia segera menggelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran-pikiran yang menurutnya "berbahaya" itu, lalu berjalan mendekat.

“Sore, Mas.”

Ana sengaja menyesuaikan panggilannya. Di luar kampus, ia sudah sepakat untuk memanggil Adi dengan sebutan 'Mas', sebuah kompensasi atas ketegangan yang mereka alami di ruang kelas.

Adi mengangkat kepala. Selama beberapa detik, ia hanya menatap Ana dalam diam, seolah sedang melakukan pemindaian menyeluruh. Ada desiran aneh di dadanya melihat penampilan Ana yang sedikit berbeda dari biasanya. Jika biasanya gadis itu tampil dengan rambut tergerai, sore ini Ana tampak lebih segar dan berbeda dengan rambut dikuncir kuda. Setelah beberapa detik terpaku menatap Ana, barulah sebuah senyum kecil muncul di wajah pria itu.

“Lama nggak kelihatan.” Sapa Adi kemudian.

Ana menarik kursi di depan Adi dan duduk dengan gerakan yang sedikit kaku. “Udah mulai magang, Mas. Jadi jarang ke kampus.”

Adi mengangguk, matanya masih memperhatikan wajah Ana. “Kelihatannya sibuk banget magangnya sampe bikin kamu kelihatan... capek.”

Ana mendengus kecil, sambil mengeluarkan map berisi draf proposalnya. “Yah, namanya juga budak korporat magang sambil dikejar deadline skripsi, Mas.”

Hening sempat menyergap di antara mereka. Nama 'Mas' yang keluar dari bibir Ana ternyata memberikan efek samping bagi Adi. Ada desir yang tidak biasa, sebuah kesan intim yang mendadak melunakkan suasana profesional mereka.

Adi berdehem, mencoba kembali fokus, lalu melirik map di hadapannya. “Jadi... akhirnya kamu tetap nekat ambil topik ini?” tanya Adi, nadanya santai tapi penuh penekanan.

Ana mengangguk mantap. “Iya, Mas.”

“Kamu tahu kan topik ini berat? Risetnya harus dalam, literaturnya kebanyakan bahasa asing, dan analisisnya nggak boleh cuma permukaan.”

Ana mengangkat bahu, sedikit menantang seperti biasanya. “Tahu. Tapi udah terlanjur suka sama topiknya.”

Adi menatapnya dalam-dalam, sebuah tatapan yang membuat Ana merasa seolah sedang dibaca sampai ke pori-porinya. “Berarti kamu juga sudah siap buat capek bimbingan sama saya.”

“Kalau capek sih udah biasa, Mas. Yang saya belum siap itu kalau Mas hobi nyoret-nyoret tanpa penjelasan.”

Adi tersenyum tipis—senyum menyebalkan yang entah kenapa sore ini terlihat jauh lebih manis. Ia membuka map proposal skripsi Ana, lalu mulai membaca dengan serius. Keheningan kembali meraja, hanya ada suara helaan napas dan gesekan kertas.

Ana memperhatikan Adi diam-diam. Dari jarak sedekat ini, ia bisa melihat kerutan halus di kening Adi saat sedang berpikir. Ia bisa melihat betapa panjang bulu mata dosennya itu di balik kacamata. Sial, kenapa pria ini harus terlihat sangat rupawan saat sedang bekerja?

“Topik kamu bagus,” kata Adi tiba-tiba tanpa mengangkat kepala.

Ana terkejut setengah mati. “Serius, Pak... eh, Mas?”

Adi tertawa kecil mendengar Ana yang salah ucap. “Serius. Untuk ukuran mahasiswa yang hobinya debat di kelas, kerangka berpikir kamu di sini lumayan terstruktur.”

Ana menyilangkan tangan di dada, pura-pura tersinggung. “Biasanya Mas langsung bilang salah di halaman pertama.”

“Kalau memang salah, baru saya bilang. Kalau bagus, masa saya bilang jelek?” Adi bersandar di kursinya, menatap Ana dengan gaya santai yang mengintimidasi. “Tapi jangan senang dulu. Ke depannya, bimbingan kamu pasti bakal lebih menantang.”

Ana hampir tertawa, tapi ia menahannya. “Ya ampun... Mas emang nggak bisa ya bikin mahasiswanya tenang sedikit?”

“Bimbingan itu bukan sesi curhat, Ana. Itu sesi uji logika.”

Ana menghela napas, namun kali ini napasnya terasa lebih ringan. “Yaudah deh. Saya pasrah.”

“Kenapa? Mau ganti pembimbing?” goda Adi.

Ana menggeleng pelan. “Enggak. Malas adaptasi lagi sama dosen lain. Mas udah biasa debat sama aku, jadi kalau aku salah, Mas tinggal marahin aja, nggak usah pakai sindiran halus.”

Adi menatapnya selama beberapa detik, lalu tersenyum lagi. Kali ini senyumnya lebih lebar, memperlihatkan sisi manusiawi yang jarang ia tunjukkan di depan mahasiswa lain. “Kamu sadar kan kalau itu bukan hal yang membanggakan?”

“Lumayan buat latihan mental sebelum sidang beneran,” jawab Ana cepat.

Diskusi pun berlanjut. Tidak ada ketegangan yang mencekik seperti di kelas. Adi mulai menunjukkan poin-poin yang harus diperbaiki, namun caranya menyampaikan jauh lebih persuasif. Ia menunjuk satu paragraf tertentu.

“Bagian ini kamu harus perkuat lagi. Argumennya sudah dapet, tapi referensinya masih kurang 'daging'. Kamu cari jurnal yang saya sebutkan tadi.”

Ana mendekat, mencoba melihat paragraf yang dimaksud Adi. Karena jarak mereka yang semakin dekat, Ana bisa mencium samar aroma parfum citrus dan kayu cendana dari tubuh Adi. Jantungnya kembali berkhianat.

“Mas...” panggil Ana pelan.

“Hm?” Adi menoleh, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari Ana.

“Kalau nanti di bab-bab selanjutnya aku banyak salah... tolong jangan dibantai terlalu keras ya. Kasihan mental budak magangnya.”

Adi menatap mata Ana datar selama beberapa saat. Lalu, dengan suara yang tenang namun penuh wibawa, ia menjawab, “Saya tidak bisa janji. Tapi saya pastikan, setiap coretan saya akan bikin skripsi kamu jadi yang terbaik.”

Ana mendesah panjang. “Tuh kan, ujung-ujungnya tetep aja 'killer'.”

Adi hanya tertawa kecil. Dan entah kenapa, bimbingan skripsi pertama yang Ana bayangkan sebagai neraka itu justru terasa jauh lebih ringan.

Sore itu, di perpustakaan tua yang hangat, Ana menyadari bahwa bimbingan skripsi mungkin tidak akan menjadi beban yang membosankan selama mentornya adalah pria menyebalkan yang diam-diam mulai ia kagumi ini.

Perjalanan skripsi baru saja dimulai, namun rasa benci yang selama ini dipelihara Ana mulai retak, menyisakan ruang bagi sesuatu yang baru yang ia sendiri belum berani mengakuinya.

1
Fitriani
😄😄
Murni Asih
dr pertama sy lngsng suka
dr pertama cerita nya kngsng seru ka
Nina Sani: makasih ya kak, stay tune ikutin kelanjutannya😇
total 1 replies
Sartini 02
kayaknya menarik ya kak Krn masih bab 1
lanjut kak....🤭🙏👍
Nina Sani: siaap 😇😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!