Riana terpaksa menjadi Sekertaris Zayn Abimanyu yang gila kerja dan sangat ketat karena Sekertaris sebelumnya memilih Resign karena tak kuat menanggung beban kerjanya. Namun bukan hanya itu masalahnya, Riana menemukan sesuatu yang lebih gila dari Bosnya itu.
Lima kepribadian dalam satu tubuh. Zayn, Ares, Dewa, Rayan dan Bram, setiap nama punya karakter masing-masing.
Dewa si penggoda ulung - Miss I Love You.
Ares - Kakak cantik, tubuh Kakak wangi sekali.
Rayan - si culun yang pemalu.
Bram - Ketua Geng motor rahasia.
Sedang Zayn, si bos dingin yang entah sejak kapan mulai tertarik dengan Riana, wanita yang menjadi pelindungnya, pemegang rahasianya yang seluruh dunia tidak boleh tahu, termasuk keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Whidie Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 - Dia tapi bukan dia
Riana menjinjing paper bag berisi eskrim dengan berbagai rasa, strawberry, coklat, vanilla untuk dia dan Ares, demi memenuhi janjinya pada si bocah besar.
“Tara... Satu Cup Eskrim rasa strawberry spesial untuk Tuan Ares telah datang, silahkan dinikmati,” ucap Riana sambil menyodorkan cup karton tersebut kearah Zayn atau Ares.
Dia meraihnya dengan tatapan tak lepas dari sang pemberi. Sementara Riana sendiri ikut duduk di samping Ares yang kini tengah duduk di bangku taman. Suasana disini lumayan sepi karena Riana memang sengaja memilih tempat yang agak pojok untuk menghindari orang yang berlalu lalang.
“Ada apa?” tanya Riana karena menyadari sejak tadi Ares terus menatap kearahnya, “ada yang aneh di wajah aku? Atau Eskrimnya belepotan?” tanya Riana menunjuk wajahnya sendiri.
Ares menggelengkan kepalanya, “terus kenapa kamu liatin aku kaya gitu?” protes Riana karena tak nyaman terus dipandangi begitu.
“Karena Kakak cantik,” cetusnya dengan wajah sepolos bayi.
Riana terdiam dengan sendok eskrim yang masih berada di mulutnya, untuk beberapa saat tatapan mereka saling terkunci satu sama lain.
‘Sadar Riana sadar, dia itu kepribadian lain dari Zayn si bos gila, tak kan kamu terpengaruh oleh kata-katanya,’ batinnya mengingatkan.
Riana tersenyum, “terimakasih, aku memang sudah cantik sejak lahir,” balas Riana narisis dia kembali menyendok eskrim dan menyuapkan ke mulutnya sendiri.
“Dimakan Eskrimnya tuh masih banyak, sayang kan nanti keburu meleleh,” ucap Riana.
Ares mengangguk cepat, dia melahap Eskrimnya penuh semangat, satu cup, dua cup. Dia menghabiskan tiga cup eskrim dengan rasa yang berbeda.
“Wah kamu kuat makan makanan manis ya, tapi itu eskrimnya belepotan, lap nih pake tisu,” Riana menyodorkan selembar tisu kearahnya, namun dia diam saja.
“Haish, bocah besar oke biar Kakak cantik yang lap kan,” kekehnya disertai candaan.
Riana menyeka ujung bibir Ares dengan tisu di tangannya membuat laki-laki itu lagi-lagi cegukan, high! Pupil matanya sedikit melebar.
“Udah jangan di makan lagi, itu kamu sampai cegukan gitu, ini minum,” Riana beralih memberikan botol minum yang langsung di ambilnya tanpa ragu.
Setelah puas makan Eskrim mereka pun beranjak pulang. Riana melirik Ares yang entah sejak kapan tertidur di kursi penumpang, sepertinya kesadaran Zayn akan kembali setelah dia terbangun.
Cekitt...
Riana menginjak Rem tiba-tiba karena lampu hijau telah berganti merah tanpa ia sadari.
Aww... Ringis Zayn karena kepalanya tak sengaja membentur kaca mobil. Dia terbangun, dia melirik sekitar awalnya dengan tatapan bingung namun dia ingat bahwa dirinya punya kelainan, namun karena Riana yang ada di sampingnya dia pun merasa tenang.
“Riana, bagaimana pertemuannya? Apa saya mengacaukannya?” tanyanya pasrah, dia tak akan menyalahkan Riana jika misalnya ini gagal karena itu kesalahannya sendiri, seharusnya dia tetap terjaga apa pun yang terjadi.
“Se lancar gaji saya bulan ini Pak,” sahut Riana, sambil bersiap untuk melaju lagi karena lampu merah telah berganti kuning, kemudian hijau.
“Apa kamu bilang?”
“Semuanya berjalan baik, Bapak juga sudah menandatangani surat kontraknya,” jelas Riana.
Zayn menyandarkan punggungnya dengan lega, di kembali bertanya dengan ragu, “siapa yang kali ini muncul?” tanyanya.
“Ares,” sahut Riana pendek.
Zayn mengangguk pelan, dia merasakan hal aneh di mulutnya, giginya terasa ngilu dan dia menginginkan makan yang gurih-gurih.
Dia mengambil botol air kemudian menenggaknya, “Riana, apa saya makan sesuatu yang manis atau dingin tadi?”
“Iya, Bapak makan Eskrim tadi,” tanggap Riana.
“Ck sialan. Gigi saya sensitif, saya juga gak suka makanan manis,” keluhnya, sambil menekan pipinya dengan jemarinya seperti orang sakit gigi.
“Tapi Ares suka, dia yang minta saya belikan Eskrim Pak. Lagi pula saya juga gak tahu gigi Bapak sensitif jadi jangan salahin saya,” balas Riana tak peduli, mobil yang ia lajukan berbelok memasuki area perumahan tempat Zayn dan dia kini tinggal, setelah beberapa saat mereka pun sampai.
Zayn masuk lebih dulu, sementara Riana menyalakan sebagian lampu di ruangan itu, kemudian masuk ke kamarnya sendiri. Disana sudah ada komputer sepertinya Zayn telah menyambungkan cctv ke komputer itu agar Riana bisa mengawasinya kalau-kalau dia berubah lagi jadi orang lain.
riana kan pawang zayn..
🤣🤣😄😄💪💪❤😍😍
❤❤❤😍😍😍
itu bukan ketergantungan..
tapi ..
cemburu berat...
🤣😄😄😍😍❤💪💪💪❤❤
😍😍❤❤💪💪💪
zayn cemburuuuu..
😄😄😍❤💪💪
akankah Riana ninggkain zayn saqt ada mamanya..
😍😍❤❤💪💪💪
jadi senyum2 bacanya..
😄😄😄😄😄😍😍❤💪💪💪
zayn mulai ada rasa..
mereka berdua deh..
😄😄😍😍❤💪💪💪
😍😍❤💪💪
bener2..
kasihan zayn..
dirawat tapi diundat2...
😍😍😍❤❤💪💪
klai gk takut..
minggat aj azayn..
😄😄❤❤💪💪
❤😍😍💪💪💪
❤❤😍💪💪💪
spesies baru lagi ini..
😄😄😄😄❤❤😍💪1
❤❤❤❤❤❤😍😍😍😍😍💪💪💪
🤣🤣😄😄❤❤😍💪💪
❤❤😍😍💪
🤣🤣😄❤❤😍💪
bukan aruna ya kak..
😄❤😍💪
😄😄😄