NovelToon NovelToon
Transmigrasi Ke Tubuh Selir Gendut

Transmigrasi Ke Tubuh Selir Gendut

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: ᴀᴜᴛʜᴏʀ_ʀᴀʙʙɪᴛ¹⁸

Seralina Lexander adalah seorang wanita yang bekerja sebagai pengantar bunga dan dia anak yatim. Di siang hari Sera sangat terburu" pergi ke alamat tujuan, sebab dia hampir terlambat gegara membaca buku di perpustakaan, saat di perjalanan Tiba-tiba sebuah mobil melaju kencang membuat mobil tersebut menabrak Sera. darah mengalir dan bunga-bunga berserakan.

Li Qiang Xu adalah seorang wanita cantik, sebelumnya ia pernah di tidurin oleh Kaisar saat Kaisar mabuk, dan Qing di kabarkan hamil membuat permaisuri membencinya sebab dia seorang permaisuri tapi belum mempunyai keturunan. sedangkan Qiang hanya satu malam bersama Kaisar, sudah di kabarkan hamil.

semenjak Qiang sudah berstatus Selir, Kaisar menyanyangi Qiang dari pada permaisuri begitupun Selir lain. Ibu Suri pun terus menerus menemui Qiang membuat permaisuri semakin murka. Permaisuri pun membayar pelayan dapur untuk mencampurkan obat fiktif kepada makanan Qiang, hingga beberapa hari Qiang di kabarkan mengalami keguguran

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ᴀᴜᴛʜᴏʀ_ʀᴀʙʙɪᴛ¹⁸, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

"Aku mengerti. Baiklah, aku akan ikut bersama Permaisuri," jawab Qiang Xu tenang.

"Selain itu, Permaisuri juga mengirimkan pakaian ini khusus untuk Nyonya, agar dikenakan saat menghadiri pesta besok lusa," lanjut pelayan itu sambil menyodorkan nampan berisi gaun yang terlihat sangat cantik namun penuh perhitungan.

"Baik, aku akan memakainya nanti," ucap Qiang Xu sambil menerima nampan tersebut.

Ia kemudian menatap tajam ke arah pelayan itu. "Sekarang pergilah. Kehadiranmu di sini sudah cukup mengganggu pemandanganku."

"Baik, Nyonya Qiang Xu," jawab pelayan itu tertegun sejenak, lalu segera berbalik dan berjalan pergi. Di jalan keluar, ia berpapasan dengan Ruyi yang sedang membawa gelas berisi jus buah segar.

"Nyonya, ini jus buah yang saya buatkan khusus untuk Nyonya," ucap Ruyi sambil menyodorkan gelas itu.

Qiang Xu menatap senyum tulus pelayannya, lalu tersenyum lembut. "Wah, kamu semakin pandai meracik jus ya sekarang."

"Itu semua berkat bimbingan Nyonya, jadi saya perlahan bisa belajar dan terbiasa melakukannya," jawab Ruyi dengan wajah memerah senang.

Tiba-tiba mata Ruyi tertuju pada gaun cantik yang tergeletak di atas meja. "Nyonya... gaun ini... sepertinya ada yang tidak beres," ucapnya ragu sambil menatap benda itu lekat-lekat.

"Tentu saja ada yang aneh," jawab Qiang Xu tenang. "Tadi pelayan Permaisuri Xun Sin datang ke sini. Beliau mengundangku hadir di pesta teh bersama Ibu Suri, dan ini adalah pemberiannya untuk kugunakan."

"Nyonya... apakah Nyonya tetap berniat memakai gaun ini?" tanya Ruyi cemas.

"Tentu saja," jawab Qiang Xu menatap pelayan setianya dengan senyum tenang.

"Sebaiknya jangan, Nyonya. Aku khawatir ada rencana buruk di baliknya," ucap Ruyi tak tenang.

"Kau tidak perlu cemas, Ruyi," hibur Qiang Xu lembut.

"Baiklah, Nyonya," sahut Ruyi patuh.

Qiang Xu menatap tajam ke arah gaun itu. "Hm... Sepertinya aku harus pergi mencari sesuatu di dalam hutan sekarang."

"Mencari apa di dalam hutan, Nyonya?" tanya Ruyi bingung.

"Bahan untuk meracik racun—dan juga obat penawar yang bisa menetralisir racun yang tersembunyi di gaun ini," ucap Qiang Xu sambil menunjuk benda di atas meja.

"Kalau begitu, aku ikut bersama Nyonya! Aku akan menjaga Nyonya," ucap Ruyi sigap.

"Baiklah. Kalau begitu, mari kita berangkat sekarang," setuju Qiang Xu.

"Jangan berangkat dulu!" tegur suara Ming tiba-tiba terdengar.

Qiang Xu menoleh seketika sambil mengerutkan dahi. "Ada mata-mata yang mengawasi sekeliling kediaman. Jika kalian keluar sekarang, mereka pasti akan membuntuti kita sampai ke hutan," jelas Ming serius.

"Lalu apa yang harus kulakukan?" tanya Qiang Xu.

"Aku akan menggunakan kekuatanku untuk membuat kalian tak terlihat. Sekaligus aku akan membuat bayangan halusinasi yang persis seperti kalian berdua, agar tetap terlihat ada di dalam kediaman ini. Sekarang... tutup mata kalian rapat-rapat sampai aku perintahkan untuk membukanya," perintah Ming.

Ruyi menatap bingung. "Nyonya? Kenapa diam saja? Bukankah kita hendak pergi ke hutan?"

Qiang Xu tersenyum tipis. "Ah, tidak apa-apa. Ruyi, bisakah kau menutup matamu sebentar saja?"

"Bisa, Nyonya," jawab Ruyi patuh.

Keduanya pun menutup mata rapat. Saat itulah Ming mulai mengerahkan kekuatan sihirnya, menyelimuti tubuh mereka dengan kabut tak kasat mata dan menciptakan bayangan pengganti yang sempurna.

Tak lama kemudian, Ming memberi aba-aba. Qiang Xu pun menyuruh Ruyi membuka mata.

"Baiklah, ayo kita berangkat sekarang," ucap Qiang Xu.

"Siap, Nyonya!" jawab Ruyi—ia sama sekali tidak menyadari bahwa dirinya kini sudah tak terlihat oleh siapa pun yang mengintai.

Ming berjalan menyusul dari belakang. Baru setelah mereka melangkah masuk jauh ke dalam rimbunnya hutan, sihir perlahan lenyap dan wujud asli mereka kembali terlihat.

"Lihat ke sana, Ruyi," tunjuk Qiang Xu pada sekelompok bunga berwarna merah menyala yang tampak sangat cantik namun mematikan. "Itulah bunga yang mengandung racun yang kita cari."

"Apakah Nyonya yakin?" tanya Ruyi ragu melihat keindahannya.

"Benar sekali. Aku pernah membacanya di buku kuno tentang tanaman beracun," jawab Qiang Xu yakin.

"Baiklah, aku akan memetiknya sekarang," ucap Ruyi hendak menjangkau bunga itu.

"Tunggu, jangan disentuh langsung dengan tangan kosong!" cegah Qiang Xu cepat. "Gunakan kain ini di tanganmu dulu, agar racunnya tidak menembus kulit."

Ruyi segera menerima kain itu, melilitkannya di tangan, lalu memetik bunga beracun itu dengan hati-hati dan menyimpannya di dalam tas.

"Racunnya sudah didapatkan. Sekarang kita cari tanaman obat penawarnya," ucap Qiang Xu melangkah santai menembus semak belukar, diikuti Ruyi dan Ming di belakangnya.

Setelah berjalan cukup jauh, mereka tiba di sebuah air terjun yang indah. Di sana, mata Qiang Xu tertuju pada sekumpulan bunga berwarna putih bersih. Senyum tipis merekah di wajahnya, lalu ia berjalan mendekat dan memetik bunga itu dengan hati-hati.

Ia pun berbalik menatap Ruyi. "Sudah selesai, Ruyi. Ayo kita pulang sekarang," ucapnya lembut.

"Baik, Nyonya," jawab Ruyi sigap.

Baru saja hendak melangkah pulang, tiba-tiba terdengar suara rengek kesakitan dari balik semak belukar. Qiang Xu berniat mendekat untuk mengeceknya.

"Berhenti! Itu pasti umpan jebakan untuk memancingmu keluar," cegah Ming cepat menghalangi jalannya.

"Tenang saja, ini bukan jebakan," bisik Qiang Xu tanpa menggerakkan bibirnya, hanya Ming yang bisa mendengarnya.

Qiang Xu tetap berjalan menembus semak, dan mendapati seekor rubah berbulu halus yang sedang kesakitan—kakinya tertusuk duri batang mawar yang tajam.

"Aduh... sakit sekali..." rengek rubah itu pelan.

"Ruyi, apakah kau mendengar suara apa pun?" tanya Qiang Xu menoleh ke arah pelayannya.

Ruyi menggeleng bingung. "Tidak, Nyonya. Aku tidak mendengar apa-apa," jawabnya jujur.

"Hei manusia... tolonglah aku," pinta rubah itu lagi.

"Berbicara yang sopan kepada Tuanku!" tegur Ming sambil menggeram dan hendak melompat mencakar.

"Dasar kucing hitam jelek! Bulu rubahku jauh lebih indah daripadamu!" cibir rubah itu tak mau kalah.

"Kau yang tidak tahu diri!" Ming makin kesal dan siap menerkam.

Qiang Xu segera mengangkat tubuh Ming sebelum sempat melompat, lalu menyerahkannya kepada Ruyi. "Ruyi, tolong gendong kucing ini sebentar ya," ucapnya tenang.

"Baik, Nyonya," jawab Ruyi patuh memeluk Ming yang masih mendengus kesal.

Setelah itu Qiang Xu berjongkok, perlahan dan sangat hati-hati mencabut duri serta batang mawar yang menancap di kaki rubah itu. "Nah, sudah selesai. Kau sudah bisa bergerak kembali," ucapnya lembut.

"Terima kasih banyak..." ucap rubah itu penuh syukur.

"Cih! Baru kali ini aku mendengar rubah sombong seperti kau bisa berterima kasih," gumam Ming pelan—hanya Qiang Xu dan rubah itu yang mendengarnya, sementara Ruyi sama sekali tidak paham apa yang terjadi.

"Jangan hiraukan dia. Sekarang, apakah kau sudah bisa berdiri?" tanya Qiang Xu lembut menatap rubah itu.

Rubah itu berusaha bangkit berdiri, namun baru saja menumpukan berat badannya pada kaki yang terluka, ia kembali meringis kesakitan.

"Sudahlah, jangan dipaksakan," ucap Qiang Xu pelan. "Kau ikut aku pulang saja. Aku akan merawat dan mengobati lukamu sampai sembuh."

Ia pun perlahan mengangkat tubuh rubah itu ke dalam pelukannya dengan hati-hati agar tidak menambah rasa sakit.

"Ruyi, ayo kita pulang sekarang," panggil Qiang Xu.

"Tapi Nyonya... apakah Nyonya berniat membawa rubah ini pulang?" tanya Ruyi sedikit heran.

"Iya. Aku ingin mengobati luka kakinya agar dia bisa berjalan kembali dengan lancar," jawab Qiang Xu tersenyum lembut.

"Baiklah, Nyonya," jawab Ruyi patuh sambil memeluk erat Ming di pelukannya.

...​ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
kaylla salsabella
kok lama gedek aku sama kaisar bodoh
Herlina Susanty
lanjut thor smgt
kaylla salsabella
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
kaylla salsabella
lanjut
kaylla salsabella
yeeeeeeee. ... manusia ular Sekutu permaisuri
kaylla salsabella
yeee berhasil
kaylla salsabella
kenapa tidak di simpan di ruang dimensi tuh kalung🤔🤔
author_rabbit18✍︎: mungkin dia blm tahu caranya😂
total 1 replies
kaylla salsabella
lanjut thor
Sribundanya Gifran
lanjut
kaylla salsabella
lagi thor
kaylla salsabella
Ming raja kucing
Sribundanya Gifran
lanjut thor
Sribundanya Gifran
lanjut💪💪💪💪
Sribundanya Gifran
lanjut
Herlina Susanty
lanjut thor smgt 😍💪
Osie
seruuuu..moga msh ada lanjutannya🙏🙏💪💪
Osie
curiga aku kalau yg dikandung permaisuri bukan anak kaisar🤭🤭🤭
Osie
sera transmigrasi ke jaman lampau..moga paket komplit ya..punya ruang dimensi..jago bela diri..smart n lebih licik dr yg paling licik..secara dr dunia modern kan
Rya Wijayanti
gak di lanjut lgi kah?
Santai Dyah
halo thor saling suport yuh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!