Aluna terjebak dalam pernikahan neraka. Di mata dunia, dia adalah istri Arvino Hardinata. Namun di balik pintu tertutup, dia dianggap sebagai "pembunuh" oleh suaminya sendiri. Aluna bertahan demi Lili, satu-satunya sumber kekuatannya, sambil berharap suatu hari Arvino melihat ketulusan cintanya—sebelum penyakit dan kelelahan batin menggerogoti Aluna sepenuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: Kendali Sang Istri Kontrak
Sejak menyatakan statusku sebagai "Istri Kontrak" dan menegaskan batasan profesional, suasana di rumah memang tidak menjadi hangat, namun setidaknya menjadi lebih teratur. Lebih dingin, tapi juga lebih aman bagiku.
Aku segera memberlakukan rutinitas baru untuk Lili. Aku menyiapkan chart besar di kamar bayi, mencatat detail waktu tidur, waktu menyusui (formula), suhu tubuh, dan bahkan warna serta frekuensi popoknya. Aku bekerja layaknya dokter anak yang sedang menangani pasien penting.
Sus Rini, yang awalnya ragu, kini sepenuhnya mengikuti instruksiku. Aku menjelaskan padanya secara medis mengapa Lili harus melakukan tummy time setiap pagi dan mengapa Sus Rini harus memastikan sirkulasi udara di kamar bayi. Sus Rini, yang menghormati gelar dokterku, tidak lagi memandangku sebagai istri yang terbuang, melainkan sebagai atasan.
"Lili tampak lebih tenang, Nyonya," puji Sus Rini saat aku sedang mengawasi Lili yang tertidur pulas setelah menyusu tepat waktu.
"Itu karena rutinitas yang konsisten, Sus. Bayi butuh keteraturan, bukan sekadar pelukan," jawabku datar.
Sore itu, sekitar pukul lima, Arvino pulang dari kantor. Wajahnya terlihat kusut, bekas kekesalan yang dipendam seharian. Dia segera melesat ke kamar Lili, mengabaikan sapaan dari Mbok Nah.
Aku sedang duduk di sofa ruang keluarga, membaca jurnal tentang perkembangan motorik bayi, ketika Arvino muncul lagi, kali ini dengan rahang mengeras.
"Apa yang kau lakukan dengan kamar anakku?!" tuntutnya tajam.
Aku menutup jurnal, menatapnya dengan tatapan tanpa emosi. "Aku hanya memberlakukan sistem, Kak. Sebagai dokter, aku memastikan Lili mendapat stimulasi maksimal. Semua jadwal itu berdasarkan literatur kedokteran terbaru."
Arvino berjalan mendekat, melemparkan selembar kertas berwarna cerah ke meja—itu adalah chart pertumbuhan Lili yang kubuat.
"Konyol! Kau mengubahnya menjadi rumah sakit!" Arvino membanting tangannya ke meja. "Sarah tidak pernah sekaku ini!"
"Sarah tidak perlu sekaku ini karena dia melahirkan Lili dengan cinta yang utuh. Aku, sebaliknya, harus membangun hubungan dengannya secara profesional dan ilmiah, karena aku dilarang menyentuhnya secara emosional," balasku, kata-kataku menusuk tepat sasaran.
Arvino terdiam. Matanya memancarkan rasa sakit, yang dengan cepat ia tutupi dengan amarah.
"Aku memerintahkanmu menghentikan omong kosong ini! Aku tidak mau anakku dididik oleh wanita yang dingin dan kaku!"
"Kalau begitu, tunjukkan padaku jadwal yang lebih baik, Kak," tantangku. "Apa jadwal yang Kakak berikan saat Lili rewel kemarin? Memberi ASI tanpa mengecek suhu, atau membiarkannya menangis hingga kelelahan?"
"Aku suaminya! Aku ayahnya!"
"Dan aku adalah Dokter Anak yang juga terikat pada wasiat ibunya. Aku punya hak untuk memastikan Lili sehat, dan Papa mendukungku," aku menegaskan. "Jika Kakak ingin mengganggu jadwalnya, silakan buat laporan tertulis kepada Papa."
Ancaman Papa ternyata adalah benteng terkuatku. Arvino tidak berdaya. Dia hanya bisa mendengus kesal, frustrasi karena amarahnya tidak lagi membuatku mundur.
Malam harinya, setelah makan malam yang canggung, aku kembali ke kamar utama. Arvino tidak ada. Dia masih di kamar Lili, bermain dengannya.
Aku mengambil laptop dan mulai mengerjakan beberapa proposal untuk proyek medis Papa yang terbengkalai. Aku harus tetap sibuk; pikiran kosong adalah musuh terbesarku.
Pukul delapan malam, aku mendengar suara Arvino kembali ke kamar Lili. Waktunya Lili tidur. Aku memutuskan untuk mengecek.
Aku masuk tanpa mengetuk, menganggap itu adalah area profesional.
Arvino sedang menggendong Lili, menepuk-nepuk punggungnya, berjalan mondar-mandir. Wajah Lili merona merah, dia menguap, tapi enggan memejamkan mata.
"Ayolah, Sayang... tidur ya," bujuk Arvino dengan suara lembut—suara yang selalu membuatku mencair, suara yang tak pernah dia gunakan untukku.
Aku mendekat. "Kak, posisi gendongnya salah. Kepala Lili terlalu tegak, itu membuatnya kesulitan rileks," kataku, menganalisis.
Arvino mendengus, namun tidak membantah. Dia terlalu fokus pada Lili. "Dia rewel. Sudah sejam begini."
"Gendong menghadap ke depan, lalu ayun perlahan dari sisi ke sisi. Lili suka melihat bayangan, itu stimulasi visualnya," instruksiku.
Arvino tampak ragu. Tapi karena Lili terus merengek, dia menuruti. Dia memutar posisi Lili, membuat wajah mungil itu menghadap ke depan.
"Gendong di posisi shushing," ujarku lagi. "Buat suara 'Sshhhh' panjang. Itu meniru suara bising di dalam rahim."
Arvino menatapku dengan tatapan aneh, tapi dia mulai mengayun dan membuat suara shushing yang panjang dan pelan.
Keajaiban terjadi. Lili, yang tadinya rewel, perlahan memejamkan mata. Dalam waktu kurang dari dua menit, dia sudah tertidur pulas.
Arvino menatap Lili, lalu menatapku. Ada campuran rasa terima kasih yang singkat dan kebencian yang langsung muncul kembali.
"Kenapa kau tahu semua itu?" tanyanya dingin.
"Itu ilmu dasar pediatri, Kak. Aku seorang dokter," jawabku, mengabaikan kedalaman pertanyaannya. "Sekarang letakkan dia di ranjang. Aku akan memastikannya tidur pulas."
Saat Arvino hendak meletakkan Lili, bayi itu tiba-tiba terbangun dan merengek mencari sentuhan.
Aku mengulurkan tangan. "Berikan padaku. Aku akan memberikannya stroke ringan di dahi."
Arvino ragu. Cengkeramannya pada Lili menguat. Tapi dia melihat kelelahan di wajah Lili, dan dia mengalah.
Dia menyerahkan Lili kepadaku.
Saat Lili berada di pelukanku, rasanya seperti pulang. Tubuhnya yang mungil, bau susu dan telon yang hangat. Lili mendongak, matanya yang tadi rewel kini menatapku.
Aku mengusap dahinya perlahan, lalu menyenandungkan lagu pengantar tidur yang sama dengan yang biasa kunyanyikan untuk Mbak Sarah saat dia hamil dulu.
Lili tersenyum. Senyum bayi yang tulus, tanpa dosa, dan langsung mengenai jantungku.
Saat itu juga, Arvino yang berdiri di hadapanku melihat senyum itu. Dia melihat Lili yang tenang di pelukanku, dan dia melihat senyum lega di wajahku.
Ekspresi Arvino berubah. Ada kilatan cemburu yang menusuk. Bukan cemburu karena aku menyentuhnya, melainkan cemburu karena Lili meresponsku.
"Cukup!" bentaknya, suaranya tajam dan menyakitkan.
Dia menarik Lili dari pelukanku dengan kasar, seolah aku adalah racun. Lili kembali menangis karena gerakan tiba-tiba itu.
"Jangan pernah sentuh dia dengan cara seperti itu lagi!" Arvino memeluk Lili erat, seolah melindunginya dariku. "Aku tidak mau anakku terbiasa dengan sentuhan seorang pembunuh!"
Aku mundur, merasakan sakit yang tajam menembus lapisan profesionalitasku. Namun, aku segera menutupinya.
"Baiklah, Kak. Sesuai kontrak. Aku hanya akan memberikan instruksi. Selamat malam."
Aku berbalik dan meninggalkan ruangan itu, meninggalkan Arvino yang kebingungan memeluk Lili yang menangis di dalam pelukannya.
Aku berhasil mengambil kendali profesional. Tapi setiap kali Lili tersenyum padaku, lapisan es yang kubangun terasa retak, dan Arvino selalu ada di sana untuk menusukkan belati, mengingatkanku bahwa ikatan kami hanyalah duri di antara sepasang luka.
...****************...
Bersambung....
Terima kasih telah membaca💞
Jangan lupa bantu like komen dan share❣️