"Ibu mau kemana? " suara Rara kecil nyaris tak terdengar.
Ibu menoleh sekilas. Mata mereka bertemu sejenak, lalu ibu buru-buru membuang pandangan. Ia mendekat, memeluk Rara sekilas. cepat sekali, seperti orang yang terburu-buru ingin pergi dari mimpi buruk.
"Kamu di sini dulu ya sama ayah. Kalau ada rezeki, kamu dan Alisya ibu jemput," bisiknya pelan, sebelum berbalik.
Rara tak mengerti. Tapi hatinya nyeri, seperti ada yang hilang sebelum sempat digenggam. Ketika mobil itu perlahan menjauh, ia masih berdiri mematung. Air matanya jatuh, tapi tak ia sadari.
"Rara Alina Putri" Namanya terpanggil di podium.
Ia berhasil wisuda dengan peringkat cumlaude, matanya berkaca. kepada siapakah ini pantas di hadiahkan?
Jika hari ini ia berdiri sendiri di sini. Air bening mengalir tanpa terasa, Langkah Kecil Rara sudah sejauh ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ica Marliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pasar Malam
"Kita mau kemana, Yah?" tanya Rara penasaran.
Malam begitu pekat, mereka hanya menggunakan senter sebagai penerangan, melewati jalan setapak dan persawahan.
"Ikut aja, Ayah mau ajak kalian menonton pasar malam."
"Jauh ya, Yah?" Alisya juga menimpali.
"Lumayan jauh, di lapangan dekat balai desa," ucap laki-laki itu kemudian.
Suasana kembali hening, tidak ada lagi pertanyaan. Hanya suara jangkrik yang terdengar bernyanyi riang. Sesekali di sahut suara-suara kodok yang tak kalah heboh.
Rara melewati persawahan yang biasa ia lalui ke sekolah. Kemudian berbelok ke perumahan warga yang bisa di hitung jari. Karena lebih banyak kebun dari pada rumahnya sendiri. Rara bergidik, ia ketakutan, cepat-cepat menggenggam tangan ayahnya. Alisya juga berpacu dengan kecepatan kaki Rara. Terdengar juga suara burung hantu, membuat malam semakin mencekam.
"Ayah, Rara takut," ucapnya kemudian.
"Nggak apa-apa, pegang tangan Ayah,"ujar ayahnya menenangkan. Setelah cukup jauh perjalanan, terdengar gemericik air sungai. Mereka melewati sebuah jembatan kecil, kanannya persawahan dan kirinya ladang warga, di pinggir kiri sungai ada sebuah mushola kecil yang ditinggalkan.
Dalam gelap mereka terus menyusuri jalan.
"Ayah masih jauh?" Alisya memecah sunyi malam.
"Sebentar lagi kita sampai jalan raya, tak jauh dari sana pasar malamnya." ucap ayah memberi pengertian.
"Alisya capek, Yah," lirihnya lagi.
Samar-samar Rara melihat ayahnya membalikkan badan, lalu menggendong Alisya di punggungnya.
Rara memperkuat genggaman tangannya. Ia mulai bergidik, malam kelam tanpa cahaya.
Setelah bergumal lama dengan pikiran masing-masing. Samar terdengar suara hingar bingar kendaraan yang lewat, suara klakson mobil dan motor. Akhirnya mereka sampai di jalan raya. Ada cahaya, ada penerangan listrik dan suara hiruk pikuk manusia.
Rara menarik napas lega, akhirya mereka berhasil melewati jalan yang mencekam itu
Rara dan ayahnya terus berjalan di tepi aspal jalan raya. Alisya melihat sekelibat pantulan cahaya terang.
"Apa itu, Ayah?" ucapnya penasaran.
"Itu lampu pasar malam," ucap ayahnya datar.
Ada rasa yang tak bisa Rara gambarkan malam ini, pertama kalinya ia melihat pasar malam. Ia sudah tidak sabaran untuk cepat sampai.
"Ada jajanannya, Yah?" sambung Alisya lagi.
"Di sana banyak jajanan, kalian bisa pilih apa saja yang kalian mau."
Rara merasa dadanya hangat. Ia melihat sisi ayahnya yang lain, suaranya lembut, menenangkan, seolah menyingkirkan ketakutan di sekeliling mereka.
"Benaran Yah, nanti kita bisa beli apa saja?" Rara bertanya untuk memastikan lagi.
"Iya, kebetulan ayah habis gajian."
"Hore!!" teriak Alisya dalam gendongan ayahnya.
Setelah perjalanan melelahkan, mereka melihat dari kejauhan lampu warna-warni yang menghiasi malam, ada banyak permainan di sana. Bunyi mesin-mesinnya cukup memekakkan telinga.
Rara terkesima, melihat keramaian untuk pertama kalinya. Matanya mencari-cari para penjual jajanan. Hampir setiap mata memandang, para penjual dia temukan. Dengan berbagai macam jajanan tradisional.
"Kita sampaikan, Yah?" seru Alisya. Matanya berbinar, ia bahagia.
Laki-laki itu menurunkan Alisya dari gendongannya. Bocah enam tahun itu, meloncat-loncat kegirangan. Matanya berbinar, memandang takjub arena itu.
Suara musik dan suara pedagang saling bersahutan bagai panduan suara, menambah semarak malam yang terus berdenyut penuh warna.
Rara dan Alisya digandeng ayahnya di tengah keramain. Badannya yang kecil terkadang tenggelam dalam kerumunan orang-orang dewasa. Mereka makin erat memegang tangan ayahnya.
"Sate!! Sate!!" teriak pedagang sate itu. Ia mengipas daging yang sedang di bakar, Aromanya terbang kemana-mana. Hingga asap itu sampai ke hidung Rara. Baunya begitu wangi, membuat perut Rara keroncongan.
"Yah, Rara boleh beli sate?" pintanya setengah berbisik, suara bising hampir menenggelamkannya.
"Boleh! Alisya juga mau?" Tawar ayahnya.
Alisya mengangguk pelan. "Tapi Alisya juga mau popcorn, Yah?" Ia memandangi popcorn tanpa berkedip.
Pedagang popcorn yang teriak-teriak memanggil pelanggan, juga mengundang perhatian Alisya.
Lelaki itu mengangguk, menghampiri pedagang sate. Memesan tiga porsi sate, lalu menyuruh Rara dan Alisya duduk di kursi yang telah di sediakan.
"Ayah, mau kemana?"
"Ayah beli popcorn dulu, kamu di sini dulu sama kakak."
Ia berjalan ke penjual popcorn, membelinya dua untuk Rara dan Alisya.
Rara tak berkedip melihat punggung ayahnya. Meskipun lelaki itu jarang tersenyum, bicara selalu dingin tapi malam ini Rara benar-benar merasakan kehangatan kasihnya.
"Di makan ya satenya, Dek!" tegur penjual sate ke Rara dan adiknya.
"Iya, terimakasih, Pak." balas Rara santun.
Aroma sate membuatnya tak tahan untuk mencicipi. Tak menunggu ayahnya datang, sate disantap dengan lahap.
"Kak, satenya enak ya?" Alisya berbisik ke kakaknya.
"Iya Dek, sejak ibu pergi baru kali ini ya kita makan enak." Rara tersenyum kecil pada adiknya.
"Coba kalau sama ibu dan adik-adik ya, Kak. Pasti lebih seru." ujar Alisya dengan wajah sumringahnya.
Tak berselang lama lelaki paruh baya itu datang. Membawa dua kantong popcorn di tangannya.
Saat sate itu sampi di perutnya, ada yang sedang berperang di sana. Makanan enak seperti ini, adalah makanan langka yang jarang mereka nikmati.
Selesai menikmati sate, lelaki itu membawa Rara dan Alisya berkeliling pasar malam.
Ada Ayunan putar, cora-cora, rumah hantu dan masih banyak lagi. Lampu warna-warni berputar di atas wahana ayunan, memantul di mata Alisya yang berbinar
"Kak Rara, kita naik ayunan keliling yuk?" tawa Alisya merekah, ia menggoyang-goyang tangan ayahnya, meminta persetujuan.
Lelaki itu mengangguk.
"Hore!!!" lonjak Alisya kegirangan.
"Tapi Ayah ikut ya?" timpalnya lagi.
"Soalnya kak Rara dan Alisya nggak berani, kalau Ayah tidak ikut!"
Lelaki itu mengangguk, wajah Rara dan Alisya merona. Sejak di tinggal ibu, ini hari pertama kebahagian itu ada.