NovelToon NovelToon
KERIKIL BERDURI - Sucinya Hati Dan Berdarahnya Janji

KERIKIL BERDURI - Sucinya Hati Dan Berdarahnya Janji

Status: sedang berlangsung
Genre:Gangster / Identitas Tersembunyi / Epik Petualangan / Barat / Persaingan Mafia
Popularitas:199
Nilai: 5
Nama Author: Ardin Ardianto

rapuhnya sebuah jalan bersih yang dipilih, membawanya ke arah yang berlawanan. Setiap langkahnya seperti berjalan di atas kerikil yang berduri tajam—menyakitkan berbahaya, dan tak mudah untuk kembali pada jalan yang bersih, Di tengah kekacauan, hanya satu yang tetap suci: hati dan janji. Namun janji yang dipilih untuk di ucapkan kini tersayat oleh darah dan pengkhianatan karna arus sebuah jalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardin Ardianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

I8 hitam

Pagi itu terasa seperti jeda singkat dari neraka. Matahari sudah naik tinggi, sinar kuning menusuk celah gorden tipis ruang tamu. Shadiq duduk di sofa plastik reyot, badan masih pegal dari tidur di lantai semalaman. Rumah sunyi setelah Arva dan Irva berangkat sekolah.

Shadiq tatap tangan sendiri. Gemetar pelan. Ancaman semalam masih terngiang: *Jumat jam 5 pagi, atau Irva nggak pulang.*

Pintu depan terbuka pelan. Arva masuk kembali. Wajahnya lebih baik dari tadi pagi, kemarahan sudah lebih terkendali, hanya tersisa kekesalan dingin di mata. Ia nggak bicara, langsung ke dapur.

Shadiq ikut. Irva sudah di sekolah, rumah kembali berdua.

Arva buka kulkas, keluarkan air putih. “Irva udah diantar. Guru bilang dia ceria hari ini.”

Shadiq angguk, dekati dari belakang. “Maaf ya, yang. Semalam aku—”

Arva potong, suara datar tapi nggak keras seperti kemarin. “Udah. Nggak usah dibahas lagi. yang ada kamu bikin janji lagi akhir-akhirnya ongkir lagi nanti bang.”

Shadiq duduk di kursi dapur. Arva lanjut minum tanpa menoleh.

Beberapa menit sunyi. Lalu Arva duduk di sebelahnya, taruh gelas. Tatap depan.

“Kalo gini kan lebih bagus daripada pulang telat terus.”

Shadiq pegang tangan Arva pelan. Kali ini nggak ditarik. “Iya. Aku tahu. tapi kadang di luar ada aja-'

Arva lirik sekilas. potong kalimat Shadiq dengan nda lembut"tapi kamu udah kasih janji bang. Harusnya ga perlu aku ingetin kmu tau harus apa, ku tanya kamu mau sampai kapan bang kerja sampai larut, tadi pagi kamu sampe tidur di teras gara-gara telat loh. Telat nya 2 hari malahan. Irva bang kamu ga kasihan liat dia cari kamu tiap malam?.”

Mereka diam sebentar, tangan saling genggam. Jeda damai singkat.

Tiba-tiba terdengar suara mesin mobil mewah di luar gang—deru halus BMW i8, ban berhenti pelan di depan pagar.

Shadiq alis berkerut. “Apa mobil mahal masih sering lewat?”

Arva angguk pelan. “iya bang. kamu bilang orang survey tapi aku takut bang, Tapi kalo kamu di rumah aku ga bakal takut, kamu kan petinju eh mantan petinju. Bisa bunuh orang di arena pake satu pukulan kan? Mereka ga bakal aneh-aneh kalo kamu dirumah.”

Shadiq berdiri, hati berdegup. Ia lirik dari jendela kecil. i8 hitam parkir miring, kaca gelap total. Mesin masih nyala.

Ia keluar pelan ke halaman depan. “Aku cek bentar.”

Arva ikut ke pintu, tatap khawatir. “Hati-hati, Bang.”

Shadiq dekati mobil, ketuk kaca sopir pelan. “Ada apa, Mas? Salah alamat?”

Kaca turun pelan. Wajah pria kurus, mata dingin. Tiba-tiba tinju keluar cepat— Shadiq silangkan tangan ke bagian perut *BUGH!* tinju mendarat keras di tangan Shadiq. Ia mundur bersiap serang balik.

Insting mantan petinju Jakarta 10 tahun lalu bangkit seperti api. Shadiq balas hook kanan super cepat—**KRAK!** Tinju hantam menembus kaca mobil- bolong, tangan lanjut mengenai rahang pria, serpihan kaca beterbangan. Ia rebut kunci dari dashboard dalam sekejap, mesin mobil mati.

Pintu sopir terbuka keras. Pria kurus keluar, jaket hitam, tubuh tegap seperti tentara. Ia serang langsung—tendangan rendah ke lutut Shadiq.

Shadiq hindar geser kaki, balas uppercut ke dagu—**BUGH!** Kepala pria terangkat, darah muncrat dari bibir pecah.

Tapi tiga pintu lain terbuka serentak. Tiga pria lain keluar—besar, otot kawat, tato leher naga, mata pembunuh profesional.

Perkelahian meledak seperti film action Hollywood di gang sempit.

Pria kedua serang dari kiri—pukulan lurus ke wajah. Shadiq blok tangan kiri, balas elbow kanan ke hidung—**KRAK!** suara Tulang hidung terpukul, darah menyemprot keluar ke dagu. Pria menutup darah dengan pakaiannya.

Pria ketiga coba cekik dari belakang. Shadiq pivot cepat, lempar over shoulder judo-style—pria terbanting keras ke aspal berdebu, napas habis.

Pria keempat—rambut gelombang ke belakang sedikit panjang—serang dengan knee ke perut. Shadiq tangkap kaki, twist, lempar pria ke pagar bambu—pagar tidak ambruk, pria jatuh ke bawah pagar.

Warga gang mulai keluar rumah. Bapak RT pegang golok dapur, tetangga lain bawa kayu dan batu.

“ Preman! Bantu Pak Shadiq!” teriak seorang pria sambil melempar batu ke arah pria-pria itu.

Dua warga nyerang pria yang jatuh, pukul kaki dengan kayu. Kekacauan total— seperti pengeroyokan begal yang tertangkap basah.

Sekilas di tengah chaos, Shadiq lihat pria rambut gelombang mengantongi pistol hitam. Dan tas pinggang hitam dengan **gantungan kelinci perak** mengkilap di matahari.

Shadiq melotot. Flashback instan: pelabuhan Minggu lalu, keranjang galon hancur, dipecat. **Mereka.** Orang yang rusak hidupnya dari awal.

Pria kelinci perak raup pistol dari saku. **DOR!** Tembak ke langit sekali. Suara menggelegar seperti petir.

Warga bubar lari ketakutan, teriak “Tembakan! Lari!”

Pria sembunyikan pistol lagi di saku. “Serahkan barangnya. kami tau kamu bawa kabur peti kayu itu"

Shadiq ingat peti dan AK di bawah kasur.

Ia mundur cepat ke rumah.

Arva di pintu, wajah pucat lihat chaos luar. “Bang... apa ini?!”

“Masuk kamar! Cepet!"

Tatapan Arva berubah—campur takut dan curiga—tapi ia patuh, lari ke kamar lantai 1, pintu dikunci keras.

Shadiq masuk kamar utama, dorong kasur busa. Peti kayu terbuka cepat. Ia ambil satu AK-47 emas-perak, magazen klik masuk keras. Senjata berat, dingin, siap seperti monster bangun.

Ia keluar ke jalanan lagi, AK teracung.

Pria-pria itu sudah di halaman, senjata tersembunyi, tapi siap.

Shadiq nggak tunggu. **DAK-DAK-DAK!** Burst fire ke tanah depan mereka. Debu beterbangan seperti hujan peluru.

“Mundur! Atau gue habisin semua di sini!”

Pria kelinci perak tersenyum dingin, raup pistol emasnya. **DOR-DOR!** Balas tembak dua kali, peluru lewat bahu Shadiq, sobek kaus.

Shadiq sembunyi balik pintu kayu, balas **DAK-DAK-DAK-DAK!** Full auto singkat. Satu pria tertembak kaki—teriak kesakitan, jatuh berguling, darah semprot ke aspal.

Satu pria lain kabur lari ke semak pinggir gang, hilang di belakang rumah tetangga.

Shadiq keluar untuk mengejar mereka.

Pria ketiga dipepet Shadiq di semak—laras AK di dada.

“maksud kalian apa? Ngomong sekarang atau!”

Pria meringis, tangan pegang luka gores di lengan. “Lo curi senjata Farhank. Serahin ke gue. Biar Farhank beli baru buat agung. Lo ga bakalan hidup pegang itu.”

Shadiq mata menyipit. “ Lo bukan orang Farhank? Ngapain Lo minta?"

Pria ketawa pahit, napas tersengal. “Farhank? Tikus kurir.aslinya Kita yang punya. Lo masuk jalur yang salah, harusnya Lo ikut kita.”

Shadiq dorong laras lebih keras. “ikut? maksud lo apa? Kenapa lo rusak keranjang gue di pelabuhan?”

Pria diam sebentar, lalu nyengir. “ gue ganti bro. ikut kita aja, jatuhin Farhank , gue beliin Lo keranjang dari emas perak."

Tiba-tiba tendangan dari belakang—pria kelinci perak! Shadiq mencoba tangkis tapi gagal- Bahu Shadiq kena keras, AK hampir jatuh, Shadiq stagger.

Perkelahian jarak dekat meledak lagi. Shadiq balas hook kiri pakai AK untuk memukul, pria hindar gesit. Pria kelinci perak serang dengan butt pistol emas ke wajah Shadiq—*wush* pukulan lawan mengenai angin depan wajah Shadiq.

Shadiq lepas AK- aka mengantung di bahu Shadiq, tangkap tangan lawan yang memegang pistol, twist keras—pistol emas jatuh ke tanah berdebu.

Mereka gulat sengit. Shadiq knee ke perut, pria balas elbow ke rusuk—napas Shadiq habis sebentar. Tinju Shadiq hantam rahang pria—**KRAK!** pria terpukul mundur 2 langkah.

Di susual kaki Shadiq tepat di perut - Pria kelinci perak jatuh mundur, tangannya merayap di tanah ambil pistol lagi. Shadiq maju injak tangan pria —pistol terlepas.

Pria lain yang luka bangkit, bantu—tapi Shadiq ambil AK lagi, **DAK-DAK!** Tembak peringatan ke tanah.

Pria kelinci perak mundur, lompat ke i8. Mesin nyala, Shadiq menoleh ke mobil sedikit teralihkan suara mesin i8,membuat pria luka berhasil ikut ke mobil .

Mobil meluncur gaspol keras, ban berasap, kabur tinggalkan Shadiq sendirian di halaman—asap knalpot, darah di aspal, kaca pecah tersebar di sekitar Shadiq.

AK masih di tangan Shadiq, laras panas. Napas tersengal. perut terasa sedikit nyeri.

Ia bingung total.

*Farhank bukan dalang utama? Agung grup lain? Mereka siapa? Mereka tahu aku curi peti? Tidak memberi tahu Farhank, apa sebenarnya semua ini? Dan siapa mereka?*

Pintu rumah terbuka pelan. Arva berdiri di ambang, wajah pucat total, nangis ketakutan.

“Bang... bang... kamu bawa senjata? kamu mau bunuh orang lagi? Kamu.... Aneh..... Aku ga nyangka suamiku..."

Shadiq tatap AK di tangan. Darah di kaus.

Rahasia terbuka.

Dan sekarang, dua kelompok musuh—Farhank dan kelinci perak.

*Permainan baru saja naik level.*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!