Kisah seorang anak perempuan terakhir yang hidupnya selalu di tentukan oleh orang tuanya,dan tidak di beri kesempatan untuk memilih untuk hidupnya.
hingga akhirnya ia pergi dari rumah, dan bertemu dengan seseorang yang mampu untuk ia jadikan rumah dan tempat bersandar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Kusumaningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RUSB 11
" Nina"
Nina yang sedang mencuci gelas terkejut pasalnya saat ia keluar kamar tadi,Villa sudah tampak sepi dan tidak ada orang bangun.
" Aaaa" teriak Nina kala ada yang memanggilnya hingga gelas yang ia gengam terjatuh dan pecah.
pyarrrr...
Dengan cepat Raynar menarik Nina hingga tanpa sengaja mereka Nina jatuh di pelukan Raynar, Raynar menatap ke arah Nina yang tampak begitu manis tanpa polesan make up sama sekali.
Nina tersadar kemudian ia bangkit " Maaf Pa- ehh mas, saya kaget nanti saya gelas nya saya ganti deh, janji tapi jangan bilang ke Bu Arista yaa mas.. saya takut di pecat" ujar Nina yang tampak panik.
Raynar kemudian membantu Nina memumuti pecahan gelas itu, " Maaf mas saya beneran enggak sengaja " ujar Nina kembali.
" Iya gapapa, enggak perlu di ganti juga kok, cuma gelas doang juga" sahut Raynar.
" Jangan mas... nanti saya ganti yang sama persis" ujar Nina yang begitu merasa bersalah.
Raynar memperhatikan Nina yang wajahnya tampak takut dan ada rasa bersalah karena telah memecahkan gelas.
" Gapapa cuma gelas doang, kamu juga gak akan di pecat juga karena mecahin gelas Na, lagian salah saya juga yang ngagetin kamu" sahut Raynar .
" Beneran mas? " tanya Nina lagi memastikan.
" Iya.. kamu gapapa kan? kenapa belum tidur?" tanya Raynar.
" saya gapapa mas... saya lupa bawa obat mas.. jadinya susah tidur" jawab Nina yang suka keceplosan soal di tanya, sebenarnya ia tidak ingin bilang jujur, namun otak dan mulutnya selalu tak sinkron.
" obat apa?" tanya Raynar.
Nina tampak gugup ketika di tanya obat, ia bingung harus jawab apa? karena tidak ada yang tau sama sekali jika Nina mengalami Anxiety dan insomia, ia sulit untu tidur dan perlu obat yang ia dapat dari dokter agar bisa tertidur.
" Kamu insomnia?" tanya Raynar.
" enggak, maksudnya saya mungkin saya tadi minum kopi kebanyakan jadinya saya susah tidur, maaf mas.. kadang kalau lagi kayak gini mulut sama otak enggak sinkron" jawab Nina berbohong.
Raynar tampak ragu dengan jawaban Nina, namun ia memelih percaya agar Nina merasa tenang.
" Oalah begitu, sudah kamu buang ini aja ke sampah biar ini saya yang lanjutkan" ujar Raynar .
" Iya mas" .
Raynar kemudian menyapu sisa - sia baling, sedangkan Nina hanya menunggu setelah membungan pecahan beling tadi.
Nina adalah tipe orang yang bingung harus berbuat apa, jika sedang berada bersama orang lain,ia takut melakukan kesalahan,jika ia melakukan kesalahan itu akan mengangu pikirannya walau sekecil apapun kesalahan itu.
Nina melihat Raynar sudah selesai menyapu pecahan beling, ia melanjutkan mencuci gelas dan piring kotor lainnya, ia tampak bingung, yahh begitu lah Nina, jika berhadapan dengan pelanggan ia mampu mengatasinya, maupun sedang berhadapan dengan orang lain namun saat bekerja, saat santai seperti ini ia akan menjadi orang yang paling bodoh dan akan bingung harus bagaimana menanggapi orang- orang yang menjadi lawan bicaranya.
Setelah selesai mencuci semuanya, Raynar meminta tolong Nina untuk membuatkan Hot chocolate, Setelah membuatkan Hot chocolate untuk Raynar, Nina kemudian memberikannya pada Raynar yang sedang berada di ruang keluarga.
" Ini mas, Hot chocolate nya" ujar Nina menyodorkan Segelas Hot chocolate pada Raynar.
" Iya... makasih ya Na, oh yaa... saya mau minta pendapat kamu, tentang renovasi rumah kamu yang di solo, kalau gini bagaimana" ujar Raynar menyodorkan laptopnya ke arah Nina.
" Aduh mas, lebih baik mas Raynar tanya sama bang Haris atau Kak Wira saja, saya takut salah kalau Mas Raynar tanya saya" jawab Nina.
" Tapi ini kamar kamu? kata bang Haris suruh tanya kamu" sahut Raynar.
Nina tampak terkejut,jadi kemarin dia di bohongi jika ia sudah tidak memiliki kamar, karena kamarnya sudah jadi milik Boby.
" Hah.... kamar saya? bukannya kamar saya sudah jadi kandang Boby?" tanya Nina bingung, Nina ini terkadang polos, terkadang juga sedikit menyebalkan.
" Kamu percaya sama ngomong Bang Haris kemarin?" tanya Raynar balik.
" Yaa... percaya,karena mereka lebih sayang bo- boby dari pada saya" jawab Nina sedikit belibet.
Yah.... itu Nina yang asli terkadang jika berbicara sedikit belibet, namun yang membuat heran teman kerjanya, Nina akan lancar berbicara ketika menjelaskan tentang produk ke konsumen atau berbicara dengan konsumen.
" enggak lah Na, coba liat dulu dech, kamu suka enggak sama desainnya?" tanya Raynar yang memang sudah tau kebiasaan Nina itu, karena mulai dari hari dimana ia mengagumi Nina, mulai saat itu ia mencari informasi tentang Nina.
Nina kemudian duduk di bawah sofa dan melihat desain kamar miliknya, yang sepertinya di buat langsung oleh Raynar.
" Di atas aja Na, dingin lho" pinta Raynar.
" gapapa mas di bawah aja" jawab Nina.
Raynar kemudian juga ikut duduk di bawah bersama dengan Nina, Nina tampak menoleh.
" loh mas Raynar ,kok duduk di bawah? " tanya Nina.
" emang kenapa? saya juga mau duduk di bawah kok" sahut Raynar.
Tak mau berdebat akhirnya Nina tak berbicara lagi, ia kemudian melihat desain yang di tunjukan kepadanya.
" Mas apa ini bisa di kasih pintu?" tanya Nina
" bisa, emang kamar kamu gak ada pintunya?" sahut Raynar.
" gak ada mas, cuma gorden biasa, soalnya kata ibu kamar aku enggak boleh di kasih pintu, katanya biar kalau di bangunin sholat gampang, aku susah bangun soalnya, dan itu buat saya gak punya privasi mas" sahut Nina.
" Ya berarti nanti perlu tambah pintu ya..., yang lainnya bagaimana?" tanya Raynar.
" emmm okey,saya suka masih simple tapi girly " sahut Nina.
" okay, jadi senin besok bisa ikut saya untuk survei, rumah kamu?,biar langsung di kerjakan" tanya Raynar.
Nina tampak berfikir sebentar kini kesempatannya untuk pulang bertemu dengan sodara- sodaranya, kebetulan ibu bapaknya sedang Haji, pasti rumah kosong, namun di sisi lain ia takut jika akan menjadi berbincangan di kantor.
" Kayaknya engga bisa mas" sahut Nina .
" kenapa?" tanya Raynar .
Nina tampak diam sebentar untuk memikirkan kata- kata yang pas, agar Raynar tidak bertanya lagi, namun Nina adalah Nina yang otak dan mulutnya selalu tidak sinkron.
" Saya takut"