NovelToon NovelToon
Promise: Menafsir Kamu

Promise: Menafsir Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Kisah cinta masa kecil / Cinta Terlarang / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Iyikadin

Rayna tak pernah benar-benar memilih. Di antara dua hati yang mencintainya, hanya satu yang selalu diam-diam ia doakan.
Ketika waktu dan takdir mengguncang segalanya, sebuah tragedi membawa Rayna pada luka yang tak pernah ia bayangkan: kehilangan, penyesalan, dan janji-janji yang tak sempat diucapkan.
Lewat kenangan yang tertinggal dan sepucuk catatan terakhir, Rayna mencoba memahami-apa arti mencintai seseorang tanpa pernah tahu apakah ia akan kembali.
"Katanya, kalau cinta itu tulus... waktu takkan memisahkan. Hanya menguji."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iyikadin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11 - Bayangan Itu Datang

"Aku lihat matanya tertawa, tapi suaranya lelah. Ada sesuatu yang ia sembunyikan di balik senyum yang terlalu sering dipaksakan."

...***...

Mama mengajak Rayna dan Ben untuk makan siang bersama. Suasana makan siang terasa hangat dan menyenangkan, meskipun Rayna masih merasa sedikit gelisah dan tidak nyaman.

Selesai makan siang, Ben berpamitan untuk pulang. Rayna mengantarnya sampai ke depan pintu.

"Makasih ya, Ben udah nganterin gue," kata Rayna sambil tersenyum.

"Sama-sama, Ray. Gue seneng kok bisa nganterin lo," jawab Ben.

Saat Rayna hendak berbalik masuk ke dalam rumah, tiba-tiba kakinya terpeleset. Ia kehilangan keseimbangan dan jatuh ke depan. Untungnya, Ben dengan sigap menangkapnya.

Rayna jatuh tepat di pangkuan Ben, dengan posisi wajah mereka sangat dekat hingga hampir bersentuhan.

Jantung Rayna berdegup kencang. Ia bisa merasakan hembusan napas Ben di wajahnya. Mereka saling bertatapan selama beberapa saat, terhanyut dalam suasana yang tiba-tiba menjadi canggung dan mendebarkan.

Namun, suasana itu tidak berlangsung lama. Mama tiba-tiba datang menghampiri mereka, membuyarkan momen tersebut.

"Hey hey, kalian masih sekolah, nggak baik itu begitu begituan," kata Mama sambil tersenyum menggoda.

Rayna langsung berdiri tegak, merasa malu dan salah tingkah. "Rayna tuh, Tante, modus-modus duluan," goda Ben sambil tertawa kecil.

"Ih, enggak kok, Ma! Tadi aku kepeleset," bantah Rayna, wajahnya memerah.

"Alah, bilang aja pengen dicium sama gue," timpal Ben, semakin membuat Rayna kesal.

"Dih, geer banget sih lo! Siapa juga yang mau," balas Rayna.

"Hus, udah udah. Pokoknya nonono ya," ucap Mama sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Iya, Ma," jawab Rayna.

"Ya udah, Tante, Ben pamit pulang dulu ya," kata Ben sambil meraih helmnya dan menaiki motor.

"Iya, hati-hati ya, Ben," kata Mama.

Ben mengangguk, lalu menyalakan motornya dan pergi meninggalkan rumah Rayna. Rayna dan Mama hanya menatap kepergian Ben sampai ia menghilang dari pandangan.

...***...

Sesampainya di rumah, Ben memarkirkan motornya di garasi. Ia masuk ke dalam rumah dengan lesu.

"Eh, anak Mama udah pulang. Ayo sini makan bareng," sapa Mama Ben dengan ceria.

"Enggak, Ma. Mama aja," jawab Ben singkat.

"Ayo, Ben. Mama udah masakin masakan yang paling enak," bujuk Mama.

"Ben udah kenyang, Ma. Mama aja ya," tolak Ben lagi, berusaha menghindari percakapan lebih lanjut.

"Yah, kok kamu gitu sih? Dulu Ken selalu mau makan bareng Mama, tapi kamu nggak pernah mau ikutin kemauan Mama," ucap Mama Ben, nadanya mulai terdengar kecewa.

Mendengar nama Ken, saudara kembarnya yang sudah meninggal, hati Ben mencelos. Emosinya langsung terpancing.

"Berisik banget sih lo!" teriak Ben, suaranya meninggi.

"Gue udah ngikutin apa yang lo mau selama ini! Sekarang lo mau apalagi sih dari gue, hah!" lanjutnya dengan nada penuh amarah.

"Nggak cukup ya lo ngatur hidup gue! Emang apa yang gue lakuin nggak pernah lo anggap sedikit pun! Muak gue sama semua ini!" Ben terus meluapkan emosinya, lalu bergegas naik ke kamarnya.

Mama Ben terkejut dan sedih mendengar bentakan Ben. Ia hanya bisa terdiam, menahan air matanya.

Tak lama kemudian, Papa Ben datang menghampiri Mama Ben yang masih terdiam di ruang makan.

"Kenapa lagi anak itu?" tanya Papa Ben, nada suaranya khawatir.

Mama Ben hanya menggelengkan kepala, tidak sanggup berkata apa-apa. Papa Ben menghela napas, lalu berjalan menuju kamar Ben.

"Ben! Kamu nggak usah bentak-bentak Mama gitu!" tegur Papa Ben, suaranya tegas.

"Apa lagi sih, Pah? Aku tuh capek, Pah. Aku pengen istirahat," jawab Ben dengan nada lelah.

"Tapi Mama kamu cuma ngajak kamu makan," balas Papa Ben.

"Tapi Ben udah kenyang, Pa! Lagian tuh orang masih aja bawa-bawa si Ken yang udah mati!" bentak Ben lagi, emosinya kembali terpancing.

"Ben! Jaga ucapan kamu!" hardik Papa Ben, suaranya meninggi.

"Ah, udah lah! Berisik lo semua!" kata Ben sambil beranjak dari tempat tidurnya dan pergi meninggalkan kamar serta rumahnya. Ia membanting pintu kamarnya dengan keras, membuat Papa Ben hanya bisa menggelengkan kepala dengan pasrah.

Di sisi lain, Rayna berpamitan kepada Mamanya.

"Ma, Rayna pamit mau cari tempat bagus ya. Rayna mau melukis, udah lama sejak di sini belum melukis lagi," kata Rayna.

"Iya, hati-hati ya. Kalau ada apa-apa telepon Mama atau Ben," pesan Mama Rayna.

"Iya, Ma. Dah, Mama," Rayna mencium pipi Mamanya, lalu pergi.

Rayna pergi ke sebuah taman. Di sana ada danau buatan, tapi pemandangannya indah. Belum lagi banyak pohon bikin udara sore sedikit sejuk. Rayna mulai melukis. Setelah beberapa waktu melukis, lukisannya sudah setengah jadi. Kemudian, dia mendengar suara teriakan.

"KENAPA SEMUA INI HARUS TERJADI SAMA GUE SIHH!"

"ARRGGHHHH!"

Rayna kaget, dia mencari asal suara itu. Berjalan menyusuri taman. Di balik pohon gede, ada Ben yang baru aja teriak dengan muka yang lesu dan kurang semangat gitu lah.

"Ben, lo ngapain di sini? Lo kenapa?" tanya Rayna, khawatir.

Ben menoleh ke arah Rayna. "Harusnya gue yang tanya, ngapain lo di sini?" balas Ben.

"G.. gue lagi melukis di sini. Tiba-tiba ada suara orang teriak, gue cari sumbernya, ternyata lo. Lo kenapa?" Rayna berusaha menjelaskan.

Ben hanya diam dan memalingkan mukanya, enggan menjawab pertanyaan Rayna.

"Kalau ada apa-apa, lo bisa cerita sama gue," kata Rayna, mencoba menawarkan dukungan.

Beberapa detik Ben hanya terdiam, kemudian mulai menatap wajah Rayna. Lalu, ia kembali menundukkan kepalanya, seolah ada beban berat yang menghimpitnya.

Rayna yang merasa kasihan melihat Ben, menggapai kepala Ben, kemudian memeluknya dengan hangat.

"Selama ini lo selalu baik sama gue, jadi kalau lo ada apa-apa, lo bisa cerita sama gue. Gue kan juga tunangan lo," ucap Rayna, berusaha menenangkan Ben.

Ben akhirnya membuka suara, "Gue lagi capek sama orang-orang di rumah." Ucapnya lirih, masih dalam dekapan Rayna.

Ben melanjutkan dengan suara yang bergetar, "Gue selalu salah di mata mereka berdua. Semua itu berawal dari kematian saudara kembar gue, Ken..."

Rayna terkejut mendengar pengakuan Ben. Ia baru tahu kalau Ben punya saudara kembar yang ternyata juga sudah tiada.

"Ben, jadi lo punya saudara kembar?" tanya Rayna, dengan nada terkejut.

"Iya, dulu... terus dia meninggal... karena gue," jawab Ben, suaranya tercekat.

"Ken anak yang baik, penurut, pintar, berbanding terbalik sama gue," Ben melanjutkan ceritanya dengan nada getir. "Dia selalu disayang Mama, semua yang dilakukannya terlihat sempurna di mata Mama."

"Tapi gue?" Ben terdiam sejenak, lalu melanjutkan, "Gue selalu dianggap anak nakal yang susah diatur." Nada bicaranya semakin lirih dan penuh dengan kesedihan.

"Gue kesel sama diri gue sendiri, gue juga kesel sama dia," Ben melanjutkan, emosinya mulai naik. "Karena dia bisa mendapatkan kasih sayang Mama, sedangkan gue? Gue marah, gue kesel, gue pengen meluapkan kekesalan gue. Sampai saat dimana hari itu tiba..."

Tatapan Ben sedikit kosong, seolah pikirannya sedang melayang ke masa lalu yang kelam.

Rayna terus memperhatikan Ben dengan seksama, menggenggam tangannya dengan erat dan hangat, berusaha memberikan dukungan dan kekuatan.

Bersambung...

1
TokoFebri
nggak apa pak. manusia bisa luput dari kesalahan.
TokoFebri
haduh .. buruan ke rumah sakit...😢
TokoFebri
rayna kamu aquarius?
⛧⃝ 𓂃Luo Yi⧗⃟
Dengan terbukanya ben ke Ray hubungan mereka akan lebih baik. Dan Ray walaupun masih kepikiran masa lalu mungkin lama-kelamaan akan ada hati ke Ben
⛧⃝ 𓂃Luo Yi⧗⃟
Pasti sakit sih jadi ben.. secara selalu di banding-bandingkan
mama Al
ah elo mah mumet Mulu ben
mama Al
tinggal bilang kalau kalian di jodohkan.
nanti kalau ada yang dekati kamu ga kaget
🦋RosseRoo🦋
mulai salting kan kau, di panggil cintaku/Slight/
🦋RosseRoo🦋
nglunjak si Ben😌
🦋RosseRoo🦋
oh ya, mau ujian ya. kalo gt fokus sekolah aja deh Ben. Takut jadi gak bsa belajar karena kecapean.
kim elly
kalo gitu lupain vando 🙄
kim elly
🤣cuci muka gosok gigi dah gitu aja
🦋RosseRoo🦋
Ben udah nyaman curhat ke Rayna.
🦋RosseRoo🦋
boleh, buat hilangin ovt dr rumah. kerja capek dapet duit, drpd maen.
🦋RosseRoo🦋
julid amat jadi temen, tp terlalu kepo juga bikin kesel tau. 😅
Nuri_cha
jangan seterluka itu Rayna. karena di sana, belum tentu Vando menjaga cinta kalian
Nuri_cha
elah... inget Vando Mulu. dia aja gak inget sama kamu. kalau inget mah, dia pasti ngehub kamu. ini udh berbulan2 kan, gak ada effort sama sekali dari si vando. lupain aja lah
Nuri_cha
Rayna masih merasa kurang nyaman sama kamu, Ben. kasih dia waktu dulu ya
mama Al
Emang iya kan🤣
mama Al
jangan kasih ke anak bujang orang, Ray.
Lo aja masih mikirin vando
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!