Sinopsis "Alien Dari Langit"
Zack adalah makhluk luar angkasa yang telah hidup selama ratusan tahun. Ia telah berkali-kali mengganti identitasnya untuk beradaptasi dengan dunia manusia. Kini, ia menjalani kehidupan sebagai seorang dokter muda berbakat berusia 28 tahun di sebuah rumah sakit ternama.
Namun, kehidupannya yang tenang berubah ketika ia bertemu dengan seorang pasien—seorang gadis kelas 3 SMA yang ceria dan penuh rasa ingin tahu. Gadis itu, yang awalnya hanya pasien biasa, mulai tertarik pada Zack. Dengan caranya sendiri, ia berusaha mendekati dokter misterius itu, tanpa mengetahui rahasia besar yang tersembunyi di balik sosok pria tampan tersebut.
Sementara itu, Zack mulai merasakan sesuatu yang belum pernah ia alami sebelumnya—ketertarikan yang berbeda terhadap manusia. Di antara batas identitasnya sebagai makhluk luar angkasa dan kehidupan fana di bumi, Zack dihadapkan pada pilihan sulit: tetap menjalani perannya sebagai manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MZI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Fokus pada Sekolah dan Cita-cita
Hari-hari Elly kini lebih terstruktur dan penuh dengan tantangan. Sebagai siswa kelas 3 SMA, ia menyadari bahwa ujian akhir sudah semakin dekat. Setiap hari dimulai dengan rutinitas pagi yang dimulai dengan bangun lebih awal untuk mempersiapkan diri. Meskipun sering merasa lelah, ia tahu bahwa perjuangannya ini akan menentukan masa depannya.
Elly selalu memastikan untuk memulai hari dengan sarapan yang sehat dan sedikit latihan ringan agar tubuhnya tetap bugar. Setelah itu, ia langsung bersiap untuk sekolah. Setiap pagi, ia berangkat dengan sepeda, melewati jalan-jalan yang masih sepi, sambil memikirkan pelajaran apa yang akan ia hadapi hari itu. Terkadang, ia merasa sedikit tertekan dengan banyaknya tugas yang harus diselesaikan, tetapi ia tidak pernah membiarkan perasaan itu menghalangi langkahnya. Ia tahu bahwa belajar dan mencapai tujuan adalah prioritas utama.
Di sekolah, Elly selalu terlihat lebih serius dibandingkan sebelumnya. Di dalam kelas, ia duduk dengan tekun, memperhatikan setiap pelajaran dengan cermat. Meskipun di dalam hatinya masih ada keinginan untuk segera kembali ke rumah sakit dan belajar langsung di sana, ia tahu bahwa saat ini adalah waktunya untuk fokus pada ujian dan memastikan ia bisa lulus dengan nilai yang baik. Ia mulai memperbaiki kebiasaan belajarnya. Setiap malam, ia mengulang pelajaran dan mengerjakan tugas yang diberikan. Kadang-kadang, Elly menghabiskan waktu lebih lama di perpustakaan sekolah untuk belajar sendiri atau berdiskusi dengan teman-temannya mengenai materi pelajaran yang sulit.
Terkadang, Elly merasa kesepian karena harus mengorbankan waktu untuk berkumpul dengan teman-temannya demi belajar. Teman-temannya yang lain sering mengajaknya untuk hangout setelah sekolah atau menghabiskan waktu di kafe, tetapi Elly lebih memilih untuk pulang cepat dan belajar di rumah. Meskipun ia tidak bisa sepenuhnya menikmati masa-masa terakhir di SMA seperti yang dilakukan teman-temannya, Elly tahu bahwa semua pengorbanan ini akan membawa manfaat besar bagi masa depannya.
Setelah sekolah, Elly menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumah sakit, walaupun hanya sebentar. Ia tidak bekerja lagi seperti sebelumnya, tetapi ia ingin tetap terhubung dengan dunia medis. Elly sering berinteraksi dengan beberapa dokter yang ia kenal, mendengarkan pengalaman mereka, dan belajar dari cerita-cerita mereka. Meskipun magang atau bekerja di rumah sakit tidak lagi menjadi rutinitasnya, Elly merasa puas dengan kemajuan yang ia buat dalam menjalani pendidikan. Ia mulai merencanakan bagaimana ia bisa melanjutkan pendidikannya ke universitas medis, dan itu memberinya motivasi setiap hari untuk tetap fokus.
Setiap malam, setelah belajar, Elly biasanya merasa sangat lelah. Tetapi ia berusaha untuk tidak mengabaikan kesehatan tubuhnya. Sebelum tidur, ia berusaha untuk merilekskan diri dengan membaca buku non-akademis yang ia sukai, atau terkadang menonton acara medis di televisi untuk tetap terinspirasi. Terkadang, ia merasa rindu dengan suasana rumah sakit, tetapi ia tahu bahwa saat ini adalah waktunya untuk menyiapkan dasar yang kuat untuk kariernya di masa depan.
---
Keseharian Zack: Dunia Medis dan Rutinitas yang Padat
Zack menjalani kehidupan yang sangat berbeda, tetapi di satu sisi, keduanya memiliki kesamaan: dedikasi yang besar terhadap pekerjaan mereka. Sebagai seorang dokter bedah yang sangat dihormati, hari-harinya dimulai dengan jadwal yang padat dan penuh tantangan. Setiap pagi, Zack bangun lebih awal untuk mempersiapkan diri menghadapi hari yang panjang. Setelah sarapan ringan, ia langsung menuju rumah sakit.
Hari-harinya di rumah sakit tidak pernah monoton. Ia sering kali memulai hari dengan pertemuan dengan tim medis, membahas kasus-kasus pasien yang membutuhkan tindakan medis segera, atau merencanakan jadwal operasi yang akan dilaksanakan hari itu. Sebagai seorang dokter bedah, Zack harus siap kapan saja, bahkan di tengah malam sekalipun, untuk menghadapi keadaan darurat. Namun, Zack tidak pernah mengeluh. Ia menyukai tantangan yang ada dalam pekerjaannya. Setiap operasi yang berhasil ia lakukan selalu memberi kepuasan tersendiri. Meski terkadang merasa kelelahan, ia tahu bahwa ini adalah pilihannya, dan ia mencintai pekerjaannya.
Sehari-hari, Zack bertemu dengan berbagai pasien, baik yang membutuhkan tindakan medis ringan maupun yang memerlukan perawatan lebih intensif. Zack adalah sosok yang sangat dihormati oleh pasien-pasiennya. Ia memiliki pendekatan yang tenang dan penuh perhatian, serta keahlian yang tidak diragukan lagi. Meski memiliki karakter yang keras dan cenderung fokus pada pekerjaan, Zack selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi pasiennya.
Di sela-sela pekerjaan, Zack juga harus berkomunikasi dengan kolega medis lainnya. Terkadang, ada diskusi mengenai prosedur medis terbaru, atau ada pelatihan yang harus dihadiri untuk menjaga kualitas layanan medis rumah sakit tempat ia bekerja. Meskipun ia tidak suka terlalu banyak berbicara tentang kehidupannya pribadi, Zack menyadari pentingnya kolaborasi dalam dunia medis. Ia sering bertemu dengan dokter lain yang memiliki keahlian khusus, dan dari pertemuan-pertemuan itu, Zack terus belajar dan berkembang.
Setelah berjam-jam di ruang operasi atau ruang perawatan, Zack kadang merasa kelelahan. Namun, ia tidak pernah mengeluh. Satu-satunya hal yang ia pikirkan adalah bagaimana bisa memberikan pelayanan terbaik kepada pasiennya. Kadang, di tengah kesibukan itu, Zack menyempatkan diri untuk berjalan-jalan sejenak di rumah sakit, memikirkan kasus medis yang sedang ia tangani, atau sesekali duduk di ruang medis sambil menikmati secangkir kopi. Meskipun hidupnya dipenuhi dengan rutinitas yang padat, Zack merasa puas karena ia tahu bahwa pekerjaannya membawa dampak besar bagi banyak orang.
Di malam hari, setelah seharian bekerja, Zack kembali ke rumahnya yang sederhana namun nyaman. Meskipun ia sering merasa kesepian, ia lebih banyak menghabiskan waktu untuk menenangkan diri. Ia tidak banyak berinteraksi dengan orang lain setelah bekerja, lebih memilih untuk merilekskan tubuhnya dan menikmati waktu sendiri. Terkadang, Zack merenung tentang perjalanan hidupnya. Ia sadar bahwa meskipun ia begitu sukses dalam bidang medis, hidupnya terasa kosong dalam beberapa aspek. Mungkin, ia butuh lebih banyak waktu untuk dirinya sendiri, tetapi pekerjaan selalu menjadi prioritas utamanya.
---
Perubahan dan Penghormatan antara Elly dan Zack
Meskipun kehidupan Elly dan Zack sangat berbeda, mereka mulai memahami bahwa masing-masing memiliki peran penting di dunia yang mereka jalani. Elly, dengan dedikasinya pada pendidikan, berusaha keras untuk mencapai tujuannya menjadi seorang dokter, sementara Zack, dengan pengalaman dan keahliannya di dunia medis, berjuang untuk memberikan yang terbaik bagi pasien-pasiennya.
Suatu hari, setelah beberapa bulan berlalu, Elly kembali ke rumah sakit untuk mengunjungi dokter senior yang dulu pernah ia kenal. Kali ini, ia datang dengan sikap yang lebih percaya diri. Ia merasa bangga dengan kemajuan yang ia buat dalam sekolahnya, dan ia ingin kembali melihat dunia medis yang begitu ia cintai. Di ruang rumah sakit yang familiar, ia bertemu dengan beberapa rekan dokter, termasuk Zack.
Zack yang sedang sibuk dengan pekerjaannya melihat Elly dari kejauhan. Untuk pertama kalinya, ada rasa penghormatan dalam dirinya terhadap gadis muda itu. Ia melihat bagaimana Elly kini lebih dewasa, lebih fokus, dan lebih matang dalam menjalani hidup. Meskipun hubungan mereka dulu sering penuh ketegangan, kali ini Zack merasa bahwa ada sesuatu yang berbeda dalam diri Elly.
Saat mereka bertemu secara kebetulan, Zack menyapanya dengan senyuman tipis. "Bagaimana sekolahmu, Elly?" tanyanya dengan nada yang lebih ramah daripada sebelumnya.
Elly, yang awalnya merasa canggung, tersenyum balik. "Aku sudah lebih fokus, Zack. Terima kasih atas semua pelajaran yang kamu berikan... meskipun kadang aku kesal dengan cara kamu berbicara."
Zack tertawa kecil. "Terkadang kita perlu sedikit tantangan untuk tumbuh. Senang mendengar kamu lebih fokus sekarang."
Pertemuan mereka kali ini berbeda. Tidak ada lagi ketegangan atau perang kecil seperti sebelumnya. Keduanya saling menghormati pilihan hidup masing-masing. Meskipun mereka memiliki jalur hidup yang berbeda, mereka kini mengerti satu sama lain dengan lebih baik. Mereka mungkin tidak akan pernah menjadi teman dekat, tetapi mereka menghormati perjalanan masing-masing.
---
Dengan demikian, kehidupan Elly dan Zack tetap berjalan dalam ritme yang berbeda. Elly tetap fokus pada pendidikannya, sementara Zack tetap berada di dunia medis yang ia cintai. Namun, melalui perubahan dalam diri mereka masing-masing, mereka mulai memahami arti dari dedikasi dan proses, serta pentingnya menghormati pilihan hidup orang lain.
---
Kabar Tentang Perpindahan Zack
Hari itu, seperti biasa, Elly sedang duduk di meja belajarnya di kamar, menyelesaikan tugas-tugas sekolah yang menumpuk. Ia merasa sedikit lebih lelah dari biasanya, namun tekad untuk terus belajar demi masa depannya sebagai seorang dokter membuatnya tetap semangat. Semua yang ia lakukan, ia lakukan dengan tujuan besar di depan matanya. Lulus dengan nilai terbaik, masuk ke universitas medis, dan akhirnya bisa bekerja di dunia medis yang selama ini begitu ia idamkan.
Namun, suasana hati Elly berubah saat ponselnya berbunyi. Itu adalah pesan dari ayahnya, Pak Arif. Elly mengangkat ponselnya dan membaca pesan yang baru saja masuk.
"Elly, aku ingin memberitahumu sesuatu yang penting. Aku baru saja mendapat kabar bahwa Dr. Zack akan dipindahkan tugas ke Jepang dalam waktu dekat. Tugasnya di sana akan cukup lama, mungkin bertahun-tahun. Ini adalah kesempatan besar baginya, tetapi tentu saja aku tahu ini akan menjadi hal yang sulit untukmu."
Baca pesan itu, Elly merasa seakan dunia berhenti berputar. Untuk sesaat, ia tidak bisa mempercayai apa yang baru saja dibaca. Zack—dokter yang selama ini menjadi inspirasinya, yang secara tak sadar telah ia kagumi, yang selalu ada di rumah sakit untuk memberikan bimbingan, akan pergi jauh, sangat jauh. Jepang. Ia merasa ada yang kosong di dalam dirinya, seperti kehilangan sesuatu yang sangat berharga.
Elly merasakan perasaan cemas yang mencengkeram dadanya. Dia memikirkan semua momen yang telah ia lewati bersama Zack di rumah sakit. Meskipun hubungan mereka tidak selalu berjalan mulus, ada rasa saling menghormati yang tumbuh seiring berjalannya waktu. Zack adalah sosok yang keras kepala, namun juga sangat peduli dengan pekerjaannya dan memberikan contoh yang jelas tentang dedikasi dan profesionalisme. Ia mengajarkan Elly banyak hal tentang dunia medis dan tidak jarang memberikan tantangan yang membuat Elly berkembang.
Namun, kenyataan bahwa Zack akan pergi jauh membuat Elly merasa sangat kehilangan. Ada bagian dari dirinya yang merasa terguncang, seolah-olah semangat yang ia rasakan selama ini, yang dipicu oleh kehadiran Zack, mendadak memudar.
"Kenapa tiba-tiba?" Elly bergumam pada dirinya sendiri. "Aku baru saja merasa mulai bisa mengimbanginya, dan sekarang dia akan pergi."
Elly menundukkan kepalanya, mencoba menahan air mata yang mulai menggenang. Ia tahu, ini adalah kesempatan besar bagi Zack, kesempatan untuk berkembang lebih jauh dalam dunia medis. Tetapi di sisi lain, perasaan kesedihan itu begitu berat, apalagi dengan kenyataan bahwa mereka berdua sudah jarang berinteraksi, dan kali ini Zack akan pergi jauh dari kehidupannya.
Namun, meskipun perasaan sedih itu menyelimuti hatinya, Elly tahu bahwa ia tidak bisa terus-terusan larut dalam kesedihan. Ia telah berjanji pada dirinya sendiri untuk tetap fokus dan bekerja keras untuk mencapai tujuannya. Sebagai seorang pelajar yang sedang meniti jalan untuk menjadi dokter, Elly tahu bahwa ini adalah ujian besar baginya. Kehilangan seseorang yang ia kagumi dan hargai bukanlah alasan untuk berhenti. Ini adalah saat yang tepat untuknya untuk lebih fokus pada cita-citanya.
---
Menemukan Kembali Semangatnya
Selama beberapa hari setelah mendengar kabar itu, Elly merasa sedikit terpuruk. Di sekolah, meskipun ia berusaha tampil seperti biasa, pikirannya sering melayang ke Zack dan kepindahannya ke Jepang. Ia merasa sedikit kehilangan arah, seperti ada celah kosong yang tak bisa ia penuhi. Meskipun ia tahu bahwa cita-citanya untuk menjadi seorang dokter tetap harus diutamakan, kepergian Zack seolah menjadi sebuah penghalang yang tidak mudah untuk dilewati.
Namun, suatu pagi, setelah bangun tidur, Elly melihat pesan dari ayahnya yang mengingatkan untuk tetap fokus dan tidak menyerah. "Kamu kuat, Elly. Ingat, cita-citamu lebih besar dari apapun. Dr. Zack mungkin akan pergi, tapi dia selalu mengingatkanmu untuk tetap belajar dan berusaha. Jangan biarkan perasaanmu menghalangi perjalananmu."
Pesan itu menyentuh hati Elly. Ia tahu bahwa ayahnya selalu ada untuk mendukungnya. Perasaan kehilangan itu wajar, tapi bukan berarti ia harus menyerah pada keadaan. Elly kembali merenung, menatap tujuan utamanya—menjadi seorang dokter. Jika itu berarti bekerja keras lebih dari sebelumnya, maka ia siap melakukannya. Dunia medis adalah tempat yang ia inginkan, dan kepergian Zack, meskipun menyakitkan, tidak akan menghentikan langkahnya.
Elly memutuskan untuk mengambil waktu sejenak untuk menenangkan pikiran. Ia duduk di kursi favoritnya di dekat jendela dan menatap ke luar, menikmati angin pagi yang sejuk. Dalam keheningan itu, ia merasakan ketenangan yang perlahan mengisi dirinya. Perjalanan hidupnya tidak bisa diukur dengan satu atau dua rintangan. Kepergian Zack hanya akan menjadi salah satu kenangan, yang suatu saat akan memberikan kekuatan dan motivasi dalam perjalanannya.
"Aku harus melanjutkan apa yang sudah aku mulai," gumam Elly, bertekad untuk tidak membiarkan perasaan kehilangan meruntuhkan semangatnya.
Dengan penuh keyakinan, Elly kembali ke rutinitas belajarnya. Ia mulai menata waktu lebih baik, mengatur jadwal untuk menyelesaikan ujian dan tugas-tugas sekolah, serta memperdalam pemahaman mengenai dunia medis. Elly menyadari bahwa jika ia ingin mencapai tujuannya—untuk menjadi dokter seperti Zack—ia harus tetap berusaha dengan lebih keras lagi. Tak ada lagi waktu untuk meratapi kepergian seseorang, meskipun rasa kehilangan itu tidak akan mudah hilang.
---
Koneksi yang Tak Terputus
Meski jarak memisahkan, Elly tetap merasa terhubung dengan Zack. Suatu hari, ketika ia sedang beristirahat setelah ujian, Elly memutuskan untuk mengirim pesan singkat pada Zack. Tidak ada harapan besar, hanya sekadar ungkapan perasaan yang tertahan selama ini.
"Zack, aku tahu kamu akan pergi ke Jepang, dan aku cuma ingin bilang terima kasih. Kamu sudah banyak mengajarku, dan aku harap suatu saat nanti aku bisa jadi dokter yang kamu banggakan."
Beberapa saat setelah mengirim pesan itu, Elly merasa cemas. Namun, tidak lama kemudian, ponselnya bergetar. Pesan balasan dari Zack muncul di layar.
"Elly, aku yakin kamu akan mencapai tujuanmu. Jangan pernah ragu untuk terus belajar dan berusaha keras. Kita semua punya perjalanan yang berbeda, tapi semangat kita akan selalu terhubung, bahkan meskipun jarak memisahkan."
Elly tersenyum membaca pesan itu. Meskipun Zack tidak lagi berada di dekatnya, kata-katanya tetap memberikan semangat yang besar. Kehilangan itu mungkin menyakitkan, tetapi ia tahu bahwa perjalanannya untuk menjadi seorang dokter tetap berlanjut.
Dengan tekad yang lebih kuat, Elly melanjutkan perjalanan pendidikannya. Ia tahu bahwa dunia medis adalah tempat di mana ia bisa berkontribusi besar, dan jika suatu hari nanti jalan mereka bertemu lagi, ia ingin menjadi seorang dokter yang bisa berdiri sejajar dengan Zack. Sehingga, ia bisa terus menghargai semua pembelajaran dan bimbingan yang telah diberikan Zack selama ini.
---
Melangkah Maju
Waktu terus berjalan, dan meskipun Zack berada jauh di Jepang, Elly tetap berusaha mencapai tujuannya. Setiap ujian yang ia hadapi, setiap malam yang ia habiskan untuk belajar, membuatnya semakin dekat dengan mimpinya. Kepergian Zack, meskipun berat, justru menguatkan semangat Elly untuk lebih fokus pada cita-citanya. Ia tahu bahwa dunia medis adalah panggilan hidupnya, dan jika suatu hari ia bisa kembali bertemu dengan Zack, ia ingin menunjukkan bagaimana ia telah tumbuh dan berkembang menjadi seorang dokter yang penuh dedikasi.
Semangat itu tidak pernah padam, dan dengan setiap langkah, Elly semakin yakin bahwa ia sedang menuju ke jalan yang benar.
Bersambung...