Perasaan cinta nggak bisa di tafsirkan oleh keadaan. Kemaren gue benci sama lo, Sekarang gue falling in love sama lo. Kemaren lo baik sama gue, Sekarang lo malah nyakitin gue.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BadBaby_grils, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Zeva mendengus pelan. Saat ini, ia sudah berada di ruang tamu rumah Zidan bersama buku-buku yang berserakan di atas meja. Baru beberapa menit ia mendengar penjelasan dari Zidan, kepalanya sudah terasa berat.
" Nyerah gue." Ucap Zeva, meletakan pulpennya di atas buku. Mata gue langsung belekan tiap liat soal matematika."
" Dibiasain, ntar juga kebiasaan." ucap Zidan, masi fokus mengerjakan soal-soal dalam buku Contoh Soal Ujian Nasional. Beberapa saat kemudian, ia pun mengalihkan pandangannya kepada Zeva yang terlihat murung.
" Kerjain aja, kalau ada yang nggak ngerti, baru tanya ke gue." ucap Zidan sambil menyelipkan pulpen di sela jari-jari Zeva.
" Apanya yang mau di kerjain? Dari isi buku ini, nggak ada yang aku gue ngerti." keluh Zeva sembari meremas rambutnya pelan.
" Astaga," Zidan mengambil alih buku Zeva. " Nomor satu pernah belajar pas SD kelas 6. Nomor dua pas kelas 3 SMP. Nomor tiga baru aja minggu lalu di jelasin ama Bu Tutik."
" Ya, mana gue tahu!!! Pelajaran SD yang nempel di otak gue cuma 1+1\=2, Selebihnya lupa ingatan." Otak Zeva memang tidak bisa menampung materi terlalu lama. Paling tahan paling cuma setengah hiri, itu pun kalau materi yang masuk tidak jauh-jauh dari bilangan.
" Makanya kalau guru lagi jelasin materi , di perhatikan jangan malah tidur di pojokan." sindir Zidan.
Zeva menoleh tidak suka akan ucapan Zidan barusan. " Iya, tahu. Kalau guru jelasin materi gue perhatiin kok. Cuma ya, gitu. Materi yang masuk di otak gue, kalau masuk kanan, eh puter balik keluar ke kanan jadi, mending tidur kalau gitu."
" Itu sih emang dasarnya lo yang nggak minat belajar."
" yang sarapannya Coco crunch, mah emang beda otaknya. Apalah daya ku yang sarapan paginya nasi goreng, itu pun nasi bekas sisa semalem." ucap Zeva mendramatisir. Kalau saja mamah Rena mendengar ucapannya, sudah pasti di marahi habis-habisan.
" Serah lo, dah!!!" ucap Zidan yang sudah males debat dengan Zeva. " Sekarang lo perhatiin." ia mengetuk-ngetuk buku paket itu dengan pulpen di tangannya.
Zeva menaruh sebalah tangannya di atas meja. Lalu menjadikannya sebagai sandaran, Kepalanya berbalik menghadap ke Zidan. Sambil masang wajah serius, mata Zeva terus memperhatikan Zidan.
Zidan yang merasa ada yang terus memperhatikan, Zidan melirik Zeva dari ujung matanya. " Ngapain?" ucapnya.
" Merhatiin lo." ujarnya
Alis Zidan bertaut," Kok, gue?" ucapnya terheran-heran.
" Kan kata lo tadi, kalau ada yang menjelaskan harus di perhatikan. Jadi, gue lagi merhatiin." Zeva berucap santai.
TUK!!!
Zidan menyentil kening Zeva. Lumayan keras sehingga menimbulkan bunyi nyaring dan membuat Zeva memekik. " AWWWW!!!!!!"
" Maksud gue, yang di perhatiin materi yang di jelasin, bukan orangnya, Zeva."kata Zidan, geleng-geleng kepala. Heran, Zeva benar-benar definisi 'Malas pangkal Bodoh.'
Zidan menuntun perhatian Zeva kembali fokus ke buku paket pelan, ia menjelaskan materi pelajaran SD itu kepada Zeva. Gadis itu tampak menyimak dengan seksama. Kepalanya sesekali mengangguk mendengar penjelasan Zidan, entah itu tanda-tanda mengerti atau tidak.
" Udah ngerti?" Tanya Zidan.
Zeva tersenyum manis. " Belum. HEHEHEHE... "
" Terus ngapain tadi lo ngangguk-ngangguk?" tanya Zidan yang mulai frustasi.
" LAh, emang salah kalau gue ngangguk-ngangguk?"
Zidan menyugar rambutnya ke belakang. " Lo, pasti lapar kan?" tanyanya, di balas anggukan oleh Zeva. " Sekarang lo ganti baju , abis itu gue ngerjain tugas lo kita cari makan. Lo rese, kalau lagi lapar pengen gue buang ke rawa-rawa jadinya."
sehat selalu y thor