"Jika cinta dapat mengubah segala hal, mengapa perlu ada yang namanya memperjuangkan? Kamu tahu kenapa? Karena untuk mendapatkan sesuatu butuh usaha,dan sekarang aku tengah memperjuangkanmu dengan usaha yang sungguh-sungguh."
~Davier Galuh Pramono~
"Meski hatiku memilihmu namun apakah aku mampu untuk mempertahankanmu selamanya agar selalu bersamaku?"
~Aira Anandia Maheswari~
Aira Anandia Maheswari merupakan Mahasiswi yang terkenal pintar di fakultasnya. Bahkan hampir seluruh kampus mengenal dirinya. Masa mudanya harus berakhir dengan di jodohkan oleh orang tuanya. Dijodohkan dengan Davier Galuh Pramono yang tak lain adalah dosennya ssndiri.
Keduanya sering merasakan perasaan aneh yang terselimut di dalam dirinya. Hingga Davierlah yang menyadari lebih dulu perasaannya itu. Lalu apakah Aira akan menyadari perasaannya atau ia akan terus menepis perasaan itu dari hatinya? Akankah mereka bisa bersatu dengan hati yang tulus? Apakab mereka bisa melewati semua lika-liku yang menghalagi kebahagiaan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tia Oktavianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
~MTLY 11~ Jangan Formal Bisa?
~Keluarga Maheswari~
Sejak pukul 06.00 tadi Ai sudah bangun. Sekitar 15 menit ia telah selesai mandi.Ai sudah selesai mandi. Ia tengah duduk dan bersiap didepan meeja riasnya.
Ia menyisir rambutnya, tiba-tiba ia mendapati rambutnya rontok. Ia begitu panik. Ia pun langsung membuang rambut yang rontok tersebut ke tong sampah.
Notifikasi pesan di handphone Ai berbunyi. Ai langsung mengambil handphonenya yang berada di atas nakas dan membuka pesan yang muncul di layar bar.
0821xxxxxxxx
Aku otw ke rumah kamu
sekarang, siap-siap
Me
Siapa?
0821xxxxxxxx
Aku, Davier, cepat bersiap
Me
Dapat Whatapps saya
dari siapa Pak?
0821xxxxxxxx
Cepat bersiap aku udah
mau nyampe rumah kamu
Me
Aku?Kamu?
Bapak ga salah ngetik kan?
Seperti yang Davier katakan di chatnya bahwa ia sudah hampir sampai di rumah Ai. Kini mobilnya sudah memasuki halaman rumah Ai. Ia turun dan memencet bel sambil mengucap salam.
Ting..Ting..Ting
"Assalamu'alaikum" ucap Davier.
"Wa'alaikumussalam, eh den Vier silahkan masuk den." ucap Bi Imah.
"Siapa Bi? Eh Davier, ayo sini masuk kita sarapan bareng." ucap Surraya lembut.
"Iya Bun, terimakasih." ucap Davier sopan.
Davier pun duduk di meja makan sendirkan. Anggota keluarga Maheswari yang lain masih bersiap. Lain halnya dengan Arya yang sejak pagi tadi sudah berangkat ke Pabrik, untuk mengecek perkembangan usaha rotinya disana.
Arsyad diikuti oleh Arrayn menuruni tangga dengan pakaian yang sudah rapi. Namun belum ada tanda-tanda Ai turun menuju meja makan. Davier berpikir apakah Ai masih belum siap.
"Selamat pagi semua." ucap kedua putra Surraya.
"Selamat Pagi." balas Surraya dan Davier bersamaan.
"Loh, si tengil mana Bun, belum bangun." sembari menarik kursi lalu duduk di hadapan Davier.
"Sudah bangun kok, lagi siap-siap mungkin." balas Surraya.
"Kenapa sih pagi-pagi gini lo udah mau melayangkan bendera perang Rayn. Ga bisa damai dulu gitu berapa hari." ucap Arsyad yang duduk di sebelah Arrayn.
"Gue ga mau cari ribut Aa, gue cuma nanyain si tengil doang." balas Arrayn.
"Udah jangan pada berantem. Rayn panggil Ai turun buat sarapan gih." perintah Bunda.
"Bunda ga salah minta Rayn yang panggil Ai?" tanya Arrayn memastikan.
"Iya udah buruan sana!" perintah Bunda. Arrayn pun berdiri dan berjalan menaiki tangga.
Pintu kamar Ai sedikit terbuka. Arrayn mengetuk pintu namun tak ada jawaban. Ia mengetuk kembali pintu, namun juga tak ada jawaban. Ia pun masuk dan menemukan Ai sedang menelpon dengan seseorang di balkon.
"Iya nanti sehabis kuliah Ai ke rumah sakit." ~Ai~
"Jangan sampai ga dateng ya, nanti mereka kecewa." ~Nayla~
"Siap kak, sekalian Ai juga ada perlu sama Kak Nay." ~Ai~
"Oke, udah dulu yaa Ai, aku mau ke rumah sakit." ~Nayla~
Tut...Tut...Tut
Ai selesai menelpon ketika ia berbalik ia dikagetakan dengan kehadiran Arrayn di kamarnya. Entah sejak kapan kakanya yang selalu menguji kesabarannya ada di kamarnya.
"Aa Rayn sejak kapan ada di kamar aku?" tanya Ai.
"Baru aja. Tadi kamu nelpon siapa?" tanya Arrayn.
"Kepo deh." jawab Ai, sambil berjalan keluar dari kamar. Arrayn mengikuti lagkah sang adik.
"Eh tengil, jawab dulu pertanyaam gue, loh nelpon siapa? Lo nelpon Kak Nay? Lo ngapain nelpon Nay? Lo masih sakit? Kalo masih sakit ga usah kuliah dulu." ucap Arrayn panjang lebar. Namun Ai terus berjalan tanpa memperdulikan ucapan sang kakak.
Arsyad, dan Surraya hanya bisa menatap rutinitas pagi di keluarga mereka. Arrayn memang sangat kepo terhadap apa saja yang dilakukan Aira.
"Aa berisik tau, ngapain sih jangan ngusik Ai dong, Ai lagi malas buat berantem ama Aa." tegas Ai sambil menuruni tangga.
"Rayn bisa ga sih lo jangan gangguin Ai. Gue capek liatnya." ucap Arsyad.
"Tau nih Aa Rayn kelamaan ngejomblo jadi suka kepo sama Ai." ledek Ai.
"Udah jangan pada ribut, lanjut sarapan, nanti kalian telat. Dan kamu Ai, buruan nanti gara-gara kamu Davier telat." ucap Bunda.
"Dosen telat mah ga papa, kalo Ai telat iya malah dapet masalah." bela Ai.
"Hahahah, lucu banget dek ngelawaknya." ledek
"Ih ngeselin banget dah." ucap Ai.
"Ai kita berangkat kalo kamu udah kelar." ucap Davier yang sedari tadi diam.
"Iya udah nih Pak. Yuk berangkat." ajak Ai.
"Ya udah, Bun Davier berangkat sama Ai dulu." ucap Ai.
"Kalian hati-hati, jangan ngebut bawa mobil ya Vier." nasihat Surraya.
Di dalam mobil hanya ada keheningan diantara mereka. Ai yang merasa di cuekin memilih mengutak-atik handphonenya. Davier tak memperdulikanna. Tak lama handphone kantor Ai berbunyi. Ia segera mengangkat telepon yang bertuliskan nama Andin.
Andin is Calling
"Halo"
"....."
"Kamu atur meeting hari Kamis nanti ya Ndin."
"....."
"Oke, nanti sepulang dari rumah sakit aku ke kantor."
"....."
Tut..Tut...Tut...
"Kamu mau ngapain ke rumah sakit?" tanya Davier.
"Ada urusan." balas Ai singkat.
"Kamu bisa ga kurangin aktivitas kamu sampai kondisi kamu pulih seutuhnya." pinta Davier.
"Ga bisa Pak, ini rutinitas saya yang wajib. Dan saya ingatkan sebelum Bapak datang saya uda ditemani oleh rutinitas ini." ucap Ai.
Davier menghela nafas lembut dan menatap Ai sembari mengulas senyum.
"Dih bapak kenapa sih natap saay senyum-senyum gitu?" tanya Ai.
"Kamu lucu tau ga. Saya bilang sementara sampai kamu benar-benar pulih." ucap Davier.
"Saya orangnya ga bisa diem lama-lama Pak." ucap Ai.
"Aira saya boleh minta sesuatu?" pinta Davier sambil tetap fokus menyetir.
"Apaan Pak? Jangan yang aneh-aneh." ucap Ai.
"Mulai hari ini kita berhenti menggunakan bahasa formal ketika berdua." pinta Davier lembut.
"Bahasa Formal gimana Pak?" tanya Ai bingung.
"Nah seperti yang kamu ucapkan barusan. Ubah kata saya jadi aku, dan ubah kata Bapak jadi kamu. Sekarang kamu paham? Jika sudah kita mulai dari sekarang hingga seterusnya." jelas Davier.
"Haa? Tapi Pak?" bantah Ai.
"Kamu bukan Pak!" perintah Davier.
"Baiklah aku bakal coba." ucap Ai.
"Bagus, itu kamu sudah memulai." balas Davier.
"Eh Davier stop di sini aja. Aku turun di sini aja ya." ucap Ai.
Tiba-tiba mobil Davier berhenti di depan halte kampus. Saat Ai akan menbuka pintu mobil pergelangan tangannya di cekal oleh Davier.
"Tunggu dulu, kenapa mau berhenti disini?" tanya Davier.
"Ga enak ntar diliat sama yang lain karena aku keluar dari mobil kamu." ucap Ai.
"Kenapa ga enak Ai, kamu akan menjadi istri saya. Cepat atau lambat mereka juga akan mengetahuinya kan." tukas Davier menyakinkan Ai.
"Jangan dulu. Ga papa saya jalan kaki dari sini sampai gedung fakultas, aku turun dulu ya." ucap Ai sambil melepaskan cekalan tangan Davier dan membuka pintu mobil. Davier hanya diam dan membalas dengan anggukan saja.
Davier pun kembali melajukan mobilnya pelan memasuki gerbang kampus dan melajukannya memasuki gedung fakultas. Davier terdiam sejenak di dalam mobil. Ia menunggu Ai sampai di area gedung fakultas.
Beberapa menit kemudian ia melihat Ai telah sampai dengan nafas yang terengah-engah. Ia tidak tega, ia membuka pintu dan hendak mengampiri Ai, namun langkahnya terhenti ketika Fira datang menghampiri Ai.
"Ai, kok lo masih di sini sih, ngos-ngosan lagi." ucap Fira.
"Ga papa abis jalan kaki dari halte kampus ke sini." balasnya sembari mengatur nafas.
"Jalan kaki? Mobil lo dimana?" tanya Fira.
"Ada, cuma hari ini gue berangkatnya nebeng. Karena Bunda khawatir sama gue. Gue kan kemarin masuk rumah sakit Fir." jelas Ai.
"APA? Lo kenapa lagi Ai? Duh lo demen banget sih berteman dengan rumah sakit. Seingat gue baru 3 minggu lalu lo masuk rumah sakit." tukas Fira.
Ternyata dari jarak yang tidak jauh Davier menguping pembicaraan dua wanita itu. Betapa terkejutnya ia mendengar Ai yang sebelumnya juga sempat masuk rumah sakit.
"Fira sayang, lo itu kayak baru kenal aja sama gue. Udah ga perlu khawatir berlebihan yaa. Gue baik-baik aja kok." ucap Ai meyakinkan Fira.
"Lo selalu ngeluarin kata-kata andalan lo itu, tapi buktinya beda. Ga tau deh gimaana nasihatin lo Ai." ucap Fira.
"Hahahahaha... Bawel amat sih. Eh btw ini sekarang mata kuliah siapa?" ucap Ai.
"Ya ampun Ai, gara-gara keasyikan ngobrol ama lo nih. Udah ayo masuk sekarang jam kuliahnya Pak Davier. Mampus telat nih kita." ucap Fira sambil menarik tangan Ai.
"Apaa?" teriak Ai yang tangannya telah di tarik oleh Fira.
"Ya ampun, gue bakal ngeliat wajah dia lagi sih. Ya elah tau gini gue bolos aja dari tadi ga usab repot lari dari halte kampus ke gedung fakultas." gerutu Ai dalam hati.
Davier pun keluar dari persembunyiannya. Ia memikirkan kata-kata Fira mengenai Ai. Dia benar-benar tak habjs pikir mengapa Ai begitu ceroboh dengan kesehatannya sendiri.
"Kenapa dia begitu menganggap remeh kesehatannya, dan lebih memprioritaskan orang lain dari pada dirinya?" gerutu Davier. Kemudian ia mengambil nafas panjang dan mulai memasuki gedung fakultas.
------------------Next Update---------------
Rabu, 10 Juni 2020
Salam Hangat
Author Halu