NovelToon NovelToon
Salah Lamar

Salah Lamar

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Dijodohkan Orang Tua / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:957k
Nilai: 4.7
Nama Author: Kak Farida

Ramzi mencintai seorang gadis, dia salah satu anak Kiai Amar. Kiai Amar mempunyai 3 putri, putri pertama sudah menikah. Ramzi menyukai salah satu putri Kiai Amar yang belum menikah.
Niat untuk melamar diutarakan kepada sang Abi yaitu Kiai Afnan, mereka langsung menyegerakan niat baik Ramzi tersebut. Tapi sang Abi salah melamar, yang Ramzi cintai Ning Delisha, tapi sang Abi melamar Ning Inayah.

Apakah pernikahan mereka akan bahagia dengan diawali tanpa cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak Farida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Epilepsi

Inayah melajukan mobilnya, dia membelah kota Cirebon di sore hari. Ia memberhentikan mobilnya dipasar tradisional. Seorang Dokter dan Ning tidak enggan untuk melanglahkan kakinya di pasar tradisional.

Sebelum memasuki pasar, Inayah menelepon Ummi.

Inayah \= ["Assalamu'alaikum Ummi sayang."]

Ummi \= ["Wa'alaikum Bu Dokter pribadi Ummi hehehe."]

Inayah \= ["Hehe Ummi bisa aja, Ummi mau makan malam apa hari ini. Ina lagi di pasar nih Ummi, mau belanja."]

Ummi \= ["Apa aja, kalau kamu yang masak pasti enak pol rasanya, tapi suami kamu suka empal gentong."]

Inayah \= ["Aku belum pernah masak empal gentong Ummi."]

Ummi \= ["Kamu beli aja bahan-bahannya, nanti Ummi ajarkan cara membuat empal gentong. Ummi WA yah untuk bahan-bahannya."]

Inayah \= ["Baik Ummi, aku tutup teleponnya yah Ummi. Assalamu'alaikum."]

Ummi \= ["Wa'alaikumsalam."]

Tidak lama setelah bertelepon, Inayah mendapat pesan masuk dari Ummi untuk bahan-bahan membuat empal gentong.

" Daging sapi, santan, kunyit, jahe, cabai merah , bawang putih, bawang merah, kemiri, lada, ketumbar, pala, cengkeh, daun kucai, daun salam, daun jeruk, sereh, kunyit, jahe, kemiri, ketumbar," Inayah membaca pesan singkat Ummi, bahan-bahan yang akan dia beli.

Inayah membeli bahan-bahan yang diperlukan untuk memasak. Ia juga tidak lupa membeli buah- buahan. Selesai sudah Inayah berbelanja, bahan-bahan yang dibutuhkan sudah ia dapatkan semua. Ketika dia mau pulang, banyak kerumunan orang. Mereka sedang menontoni sesorang yang sudah tergeletak di lantai pasar.

Inayah mencoba menghampiri kerumunan tersebut.

'Astagfirullah, epilepsi. Ini orang-orang hanya mengerumuni dan lihat orang kesakitan aja, bukannya bawa ke rumah sakit,' batin Inayah.

"Permisi...saya Dokter, kenapa kalian hanya melihat Ibu ini saja? kenapa tidak ada yang menolong?" teriak Inayah

"Ibu tersebut tiba-tiba jatuh, lalu kejang-kejang seperti itu. Kami takut dan bingung harus melakukan apa. Jika kamu dokter tolong bantu Ibu itu," Ucap anak muda yang berada di pasar.

Inayah mulai memeriksa Ibu yang sedang kejang, karena epilepsinya kambuh, ia hitung waktu kejang dari awal hingga akhir. Ia longgarkan pakaian ibu itu di sekitar lehernya. Membuka kaca mata yang Ibu itu kenakan.

"Para Bapak dan Ibu tolong mundur jangan mengerumuni seperti ini, Ibu ini perlu ruang." ucap Inayah berinstruksikan pengunjung pasar yang sedang menonton dan membuat kerumunan manusia.

Inayah secara perlahan, membaringkan si ibu tersebut dalam posisi miring secepat mungkin, iya melipat jaket yang ia kenakan dan menaruh jaketnya sebagai bantal di bawah kepala si ibu, dan ia buka rahang si ibu untuk membuka jalur pernapasan yang lebih baik sekaligus mencegah tersedak air liur atau muntah. Walaupun seseorang tidak bisa menelan lidah, tapi lidah bisa terdorong ke belakang dan menyebabkan terhalangnya jalur napas.

Inayah terus melakukan komunikasi kepada si ibu, dia memperhatikan respon si ibu, sampai ia melihat si ibu sudah mulai tersadar.

"Ibu...Bu...istigfar, dengarkan saya yah, astagfirullah...astagfirullah..." ucap Inayah.

Perlahan tapi pasti, si ibu yang tubuhnya kejang- kejang, mulai berhenti dan sadar. Ia masih bingung dengan situasi di pasar, orang-orang melihat si ibu dengan tatapan iba. Inayah mengusap bahu si ibu, dan membantu dia untuk duduk. Inayah menunggu kondisi si ibu sampai kesadarannya kembali sepenuhnya.

"Ibu, bagaimana sekarang perasaan ibu?" tanya Inayah.

Ibu itu tampak kebingungan melihat sekelilingnya.

"Maaf para Bapak dan Ibu agar membubarkan kerumunan, agar si ibu tidak kebingungan," pinta Inayah.

Kerumunan mulai bubar, kini hanya si ibu dan Inayah. Inayah memberikan air mineral agar si ibu tersebut bisa lebih tenang.

"Saya seorang dokter Bu, nama saya Inayah. Ibu namanya siapa? dan tinggal di mana?" tanya Inayah.

"Ndok, matur nuwun sudah menolong Ibu. Nama Ibu, Ratna, Ibu tinggal di jalan pulasaren," jawab Ibu Ratna.

"Sama-sama Bu, kebetulan 1 arah dengan saya. Saya antar yuk Bu," ajak Inayah.

"Ndak usah Ndok, Ibu bisa sendiri," ucap Ibu Ratna.

"Ndak boleh nolak loh Bu, rezeki dari Allah ada seseorang yang mau antar Ibu. Saya 'Kan bukan orang jahat," ucap Inayah dengan sangat lembut dan sopan.

"Yah sudah, Ibu ikut kamu," ucap Ibu Ratna.

Inayah mengajak Bu Ratna ke dalam mobilnya. Ia akan mengantarkan Bu Ratna terlebih dahulu, setelah itu barulah ia akan pulang ke pesantren Kiai Afnan.

"Bu, saran saya jika Ibu pergi kemana-mana ditemani yah. Jangan sendirian seperti di pasar," ucap Inayah.

"Iya Ndok, terima kasih. Ibu sangat bersyukur bisa ketemu dengan Dokter Inayah. Jika tidak entahlah," ucap Ibu Ratna.

"Pasti ketemu saya Bu, karena Allah sudah mencatat bahwa Ibu ketemu saya hehe," ucap Inayah sambil tertawa kecil.

"Ndok, praktik kerja di rumah sakit mana?" tanya Ibu Ratna.

"Itu Bu, rumah sakit yang tidak jauh dari pasar," jawab Inayah.

"Oh iya Ibu tahu. Ndok, Ibu turun di sini aja," pinta Bu Ratna.

"Aku antar sampai rumah Ibu aja," ucap Inayah.

"Jangan khawatir, rumah ibu dekat, jalan 3 menit dari jalan ini sampai," ucap Ibu Ratna.

"Ya sudah, aku tepikan mobil dulu," ucap Inayah.

Sebelum Ibu Ratna ke luar dari mobil Inayah, ia berkata, "Nanti Ibu datang ke rumah sakit tempat Ndok praktik yah. Untuk check up penyakit Ibu."

"Monggo Bu, Assalamu'alaikum," Inayah memberi salam.

Inayah langsung melajukan kembali mobilnya, ia berpikir Ummi Laila pasti sudah menunggu dirinya. 15 menit perjalanan sejak Inayah menurunkan Ibu Ratna, kini ia sudah sampai di pesantren Kiai Afnan.

"Assalamu'alaikum," salam Inayah.

"Waalaikumsalam," Ummi jawab salam Inayah.

"Ummi, maaf aku telat. Ummi maafkan Ina 'kan. Tadi Ina menolong seorang Ibu di pasar. Jadi maaf Ina jadi telat pulangnya," ucap Inayah.

"Ummi tidak marah dengan putri Ummi yang cantik, yah sudah kamu letakan barang-barangmu di kamar. Lalu nanti kita mulai masak, sambil kamu menceritakan kejadian di pasar tadi,"

Inayah tersenyum kepada Ummi, lalu ia meminta izin ke dalam kamar untuk meletakan tas praktiknya. Di dalam kamar sudah ada Ramzi, ternyata dia menunggu Inayah pulang.

"Kenapa lama sekali, hanya ke pasar aja kamu lama. Padahal 20 menit juga sampai, jalanan gak macet. Kenapa bisa 1 jam lebih baru sampai pesantren?" tanya Ramzi.

"Gus tunggu aku pulang?" tanya Inayah.

"Siapa yang menunggu kamu pulang? aku gak nunggu dokter sableng," ucap Ramzi.

"Kenapa Gus seperti suami posesif banget sama istrinya?" tanya Inayah.

"Apa suami posesif sama Dokter sableng?" ucap Ramzi.

"Dasar Gus gendeng, gak mau akuin posesif sama istrinya. Kamu sudah suka aku yah? ngaku ayo? takut kehilangan istri yang cantik seperti aku?" ucap Inayah, menyipitkan matanya.

"Gak bakal suka sama Dokter sableng, jauh sama perempuan yang aku cintai," ucap Ramzi.

Deg

Lagi-lagi Ramzi menyebutkan mencintai gadis lain, dan membandingkan dirinya dengan perempuan itu. Seketika wajah Inayah berubah, dia langsung keluar kamar setelah meletakkan tas kerjanya, tapi tangan Inayah di tarik.

"Suamimu sedang bertanya, jangan main pergi saja. Kamu kemana pulang telat!" tanya Ramzi.

Inayah langsungsung menghentakkan tangan Ramzi agar terlepas.

"Apa pedulinya kamu? aku bukan perempuan yang kamu cintai, jadi jangan pedulikan aku. Maaf Ummi sudah menunggu aku di dapur. Cukup aku yang sakit hati karena tahu kamu mencintai perempuan lain, jangan sampai Ummi juga sakit hati karena tahu putra kesayangannya tidak mencintai istrinya, permisi," ucap Inayah tegas.

Bersambung

***

Hai pembaca tersayang, terima kasih sudah membaca. jangan lupa bantuan like, vote, love, komen follow aku juga yah.

Cek novelku yang berjudul 5 tahun menikah tanpa cinta. Tidak kalah seru loh...

Love you semua

1
Jolanda Lengkey
suka deh sama ceritanya/Grimace/
Jolanda Lengkey
baca dong
PrettyDuck: Halo pembaca setia Noveltoon 🤗
Aku baru merilis cerita berjudul : "In Between" ✨️
Kalau berkenan silahkan berkunjung dan nikmati ceritanya 💕

Mila tidak pernah menyangka kalau 'penghancur' masa remajanya akan kembali lagi jadi bosnya di kantor. Ini bukan cuma soal benci, tapi soal luka yang dipaksa sembuh saat pelakunya ada di depan mata.
total 1 replies
Jolanda Lengkey
/Cry//Cry//Cry/
Jolanda Lengkey
kacian si jomblo
Jolanda Lengkey
/Wilt//Wilt//Wilt/
Jolanda Lengkey
jangan pergi do g inayah/Grimace/
Jolanda Lengkey
manten baru/Tongue//Grin/
Rahimab Ima
Luar biasa
Rahimab Ima
masih disini
Rahimab Ima
jejek
Jetva
itulah cinta...kadang buta kadang terang benderang...cemburu tanpa penjelasan akan merugikan diri sendiri...
Naira Zidni
😭😭deg deg kan,terharu.cqmpur aduk pokoknya thor
Yani
Mampir ah....
Teten Suryani
typo Thor, tulang bukan tukang🤣🤣
xia~xiaoling
KuraNg seru thor..maaf ya thor...kurang greget.
xia~xiaoling
buat pisah aja ..harus e thor
Nurhayati Nia
ya alohh kamu salah paham inayahh
Nurhayati Nia
mampir thorr
Alsava Delina
Lumayan
Afnina Helmi
Luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!