Jin Fei fan harus menerima pemegang takdir sang penjaga berikutnya. Dia harus berjuang lebih keras untuk pantas menjadi sang penjaga dan agar dapat berjumpa dengan kedua orang tuanya yang dia ketahui berada di dimensi berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neneng selfia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Taruhan
Wei Yan keluar dari batu dimensi lalu segera merebahkan tubuhnya. Baru akan memejamkan matanya dia mendengar di luar cukup bising.
"Apakah kalian bersenang-senang tanpaku?" tanya Wei Yan melihat beberapa orang tertawa.
"Oh, bukankah kau ingin beristirahat pangeran putra mahkota?" tanya Yang ruo.
"Aku ingin kalian tidak memanggil aku dengan gelar putra mahkota selama kita berada di luar kerajaan. Cukup panggil namaku agar tidak membuat orang lain tertarik dengan status aku." ucap Wei Yan.
"Bagaimana kalau kami memanggil tuan muda saja? Kami tidak terbiasa dan tidak nyaman memanggil nama anda langsung." saran seorang pemuda.
"Itu jauh lebih baik." saut Yuan li.
"Baiklah, aku setuju dengan itu. Maka kalian bisa memanggil saudariku dengan nona muda." ucap Wei Yan.
"Baik tuan muda." saut semuanya.
"Apa yang membuat kalian semua begitu bersemangat?" tanya Wei Yan.
"Kami hanya taruhan memancing ikan karena tidak tahu akan melakukan apa." jawab Huang si.
"Oh, apa taruhannya?" tanya Wei Yan.
"Siapa yang berhasil mendapatkan ikan paling besar dia akan menjadi bos selama sehari dan yang mendapat ikan paling sedikit akan menjadi juru masak hingga nanti malam." jawab Huang hu.
"Siapa yang ikut bertaruh?" tanya Wei Yan.
"Kami berempat." jawab Yuan li.
"Lalu, jika yang memancing hanya kalian berempat, mengapa semua orang ikut bersemangat?" tanya Wei Yan.
"Mereka semua ikut bertaruh namun dalam konteks yang berbeda." jawab Yang ruo.
"Mereka bertaruh dengan koin emas siapa yang mereka pegang sebagai pemenang. Yah seperti perjudian pada umumnya." jelas Huang si melihat Wei Yan tidak mengerti.
"Baiklah, kalau begitu aku akan menjadi bandar untuk kalian. Silahkan pasang taruhan. Jika yang kalian dukung menang maka hadiahnya akan menjadi 10 kali lipat." ucap Wei Yan.
"Apakah kau meninggalkan isi kepalamu di istana sebelum berangkat adikku sayang?" tiba-tiba Fei fan datang menyela.
"Aku ini anak jenius Fei, tidak mungkin aku ketinggalan isi kepala." bantah Wei Yan.
"Kalau taruhannya akan menjadi 1 bading 10, maka jika mereka bertaruh satu koin untuk setiap peserta, mereka tetap akan memenangkan 7 koin. Aku sebagai peserta akan ikut bertaruh. Siapa yang akan menyia-nyiakan kesempatan mendapatkan banyak koin emas dari putra mahkota dengan percuma?" ucap Huang hu.
"Ha ha ha ha ha ha. Bahkan Huang hu saja tahu kalau kau itu bandar yang tidak kompeten." ucap Fei fan.
"Bukankah ini hanya untuk bersenang-senang? Aku tidak akan jadi miskin hanya karena beberapa ribu keping emas saja." ucap Wei Yan.
"Kalau begitu ayo kita mulai." ucap Yang ruo.
"Ayo...." seru yang lainnya penuh semangat.
Mereka berempat mulai memancing di atas kapal. Semua orang yang ikut tidak ada yang tidak ikut bertaruh karena hasil taruhan yang sudah pasti menang.
"Wah, kalian sungguh ingin menguras keping emas milikku hari ini." ucap Wei Yan karena semua orang bertaruh dengan semua koin yang mereka miliki.
"Kita mendapatkan untung ganda." ucap salah satu dari juru masak.
"Ya, selain sudah pasti mendapat untung dari pertaruhan, tugas kita akan digantikan oleh orang yang kalah dalam sehari ini." saut yang lainnya.
"Ha ha ha ha ha." Fei fan hanya tertawa mendengar ucapan mereka.
Semua orang bersorak memberikan semangat membuat 4 orang yang memancing menjadi kesal.
"Kalian pikir kami sedang adu kekuatan sehingga harus diberikan semangat? Mana ada ikan yang didapat jika kalian terlalu berisik." ucap Huang hu.
"Maaf tuan." ucap beberapa orang lalu suasana menjadi hening.
"Hwaaa ikan memakan umpanku." seru Huang hu lalu berdiri berusaha untuk menarik ikan keluar dari air.
"Wah ikan yang besar sekali. Kita akan makan ikan besar hari ini." seru Wei Yan saat ikan berhasil ditarik ke atas kapal oleh Huang hu.
"Kau hebat kak Huang hu." ucap Fei fan.
"Aku memang memiliki banyak keberuntungan." ucap Huang hu.
"Jangan senang dulu, ini masih belum selesai. aku pasti bisa mengalahkan mu." ucap Huang si.
"Ya ya ya, kau buktikan saja dulu jangan hanya bisa bicara saja." ucap Huang hu sambil kembali melemparkan kail pancingnya.
"Wei mana kalung yang diberikan paman Liu yu?" tanya Fei fan.
"Ini." ucap Wei Yan sambil memberikan kalung yang dimaksud saudari kembarnya itu.
"Aku kembali ke ruangan ku saja." ucap Fei fan lalu pergi ke ruangan miliknya.
Pertandingan memancing berlangsung cukup seru membuat semuanya bersemangat. Setelah beberapa jam, akhirnya Yuan li lah yang menjadi pemenangnya dan Huang hu yang menjadi orang paling sedikit mendapatkan ikan.
"Sepertinya keberuntungan milikmu hanya sebentar saja kak Huang hu. Kau hanya menang di awal dan menjadi orang yang kalah di akhir." ucap Wei Yan.
"Itulah akibatnya kalau terlalu senang sebelum hasil akhir keluar." ucap Huang si.
"Kau bukanlah pemenangnya saudaraku sayang. Tidak perlu mengejek kembaran mu yang tampan ini." ucap Huang hu.
"Setidaknya aku bukan orang yang akan menjadi juru masak. Sebaiknya kau segera ke dapur karena waktu makan siang akan segera tiba." ucap Huang si.
Huang hu akhirnya patuh menuju dapur untuk mengolah ikan yang berhasil mereka pancing. Tentunya dengan bantuan juru masak yang asli agar menu makan mereka tidak berubah menjadi bencana.
Semua orang bersorak riang dan tersenyum bahagia kecuali Huang hu. Walaupun mengeluarkan lebih dari 10 ribu keping emas, Wei Yan merasa senang karena suasana kapal menjadi seru.
"Isi kantong mu sungguh cukup banyak terkuras tuan muda." ucap Yang ruo melihat Wei Yan membagikan hadiah untuk menang taruhan.
"Itu yang terakhir. Cukup banyak juga taruhan kalian semua. Hanya 20 orang saja aku mengeluarkan 10 ribu lebih keping emas." ucap Wei Yan.
Setelah berbincang beberapa hal, Wei Yan kembali ke kamarnya. Yang lainnya kembali pada tugasnya lagi.
"Hei bocah." panggil roh pedang.
"Ada apa kakek tua?" tanya Wei Yan.
"Mengapa kau memanggilku kakek tua hah?" tanya roh pedang ketus.
"Bukankah kau sudah hidup jutaan tahun? Jika tidak memanggil mu kakek tua lalu apa harus aku panggil nenek moyang?" tanya balik Wei Yan.
"......."
"Ada apa kau memanggilku nenek moyang?" tanya Wei Yan.
".........."
"Hei aku bertanya kau kenapa diam saja?" tanya Wei Yan lagi.
"Oh kau marah? Ya sudah." ucap Wei Yan lalu duduk di tempat tidur ingin merebahkan tubuhnya.
"Kau jangan panggil nenek moyang. Aku bukan wanita tua." ucap roh pedang membuat Wei Yan tidak jadi merebahkan tubuhnya.
"Lalu, apa yang ingin kau katakan padaku?" tanya Wei Yan.
"Aku merasakan aura benda pusaka berharga tidak jauh dari sini." ucap roh pedang.
terhura aq thor.....