mohon bijak 21+
cerita sederhana, tentang cinta yang butuh perjuangan, tentang wanita yang harus memilih antara cinta dan suaminya.
apa dia akan memilih cinta yang dia idamkan atau memilih cinta suaminya yang sudah bnyak memberinya luka, atau dia memilih jalan lain dari keduanya?
ini akan ada dua versi cerita, yang pertama Dila dan Andri, dan cerita kedua ada Diana dan Rusdy...
jadi simak ya gaes... karena ini tentang PIL yang di miliki oleh para wanita, meski tidak semua🤫🤫🤫
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meidina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
menjadi istri
setelah acara selapan, Dila pun sudah menjalankan kewajiban sebagai seorang isteri.
sudah seminggu ini Hendra libur dari pekerjaannya, dan Dila juga baru mengambil semua sertifikat dan juga ijazahnya.
Dila sedang menginap di rumahnya, terlebih dia akan ikut suaminya bekerja diluar kota.
terlebih Hendra tak ingin istrinya itu berniat ulah, Dila sudah berusaha sebisa mungkin.
"mas ini kopinya,"
"taruh di sana, oh ya besok kita berangkat pagi-pagi sekali, karena perjalanan cukup jauh, dan jangan terlalu banyak membawa baju, karena lebih baik kamu beli di sana," kata Hendra.
"tentu saja mas, dan saat di sana bolehkah aku bekerja karena aku tak ingin menunggu di rumah saat mas bekerja," lirih Dila cukup takut.
"terserah kamu saja, asal kamu bisa membagi waktu dan juga menjalankan tugas mu sebagai istri," kata Hendra dingin.
"iya mas,"
dila pun bersiap dengan semua yang ingin dia bawa, dan kebetulan besok Hendra akan membawa motor pemberian dari orang tua Dila.
ya itu adalah motor yang sengaja di belikan untuk Dila agar mudah saat di kota asing dan tidak selalu merepotkan suaminya.
malam itu, Hendra sudah tidur terlebih dahulu, dan Dila tak sengaja melihat ada pesan masuk.
ternyata pesan itu dari seorang wanita bernama Sinta, dan pesan itu sangat mesra.
"apa ini mantan kekasih mu itu, apa kamu tak bisa melupakannya, terus aku ini apa?" gumam Dila sedih.
dia pun menaruh ponsel Hendra, dan Dila memutuskan untuk pergi mencari cemilan karena tak bisa tidur.
sedang Hendra sebenarnya belum tidur sepenuhnya, dia pun merasa bersalah karena tetap berhubungan dengan Sinta.
Dila ke dapur dan menemukan gorengan yang tadi di beli oleh Arif, Dila pun duduk sambil menikmati gorengan itu.
"kamu belum tidur dek?" tegur Arif.
"uhuk .. uhuk ... ya tuhan mas," kesal Dila tersedak.
"kamu ini kebiasaan, jika tidak bisa tidur makan setiap malem, nanti gemuk loh, terus suamimu pasti tak suka jika kamu gemuk," ledek Arif.
"ledekin aja terus mas, lagi pula kadang-kadang ini," terang Dila tersenyum.
"iya iya, sudah tidur sana, kasihan suamimu yang pasti sendirian,"
"iya-iya cerewet ih, nanti jangan rindu ya kalau aku gak ada," kata Dila.
"itu tak mungkin dek, karena aku pasti akan merindukan mu yang nakal dan cerewet ini," kata Arif memeluk Dila dengan erat.
setelah itu Sola pun bergegas menuju ke kamarnya, ternyata Hendra sedang terbangun dan melihat ponselnya.
tanpa bicara Dila langsung tidur dan membelakangi Hendra, dia sadar jika semua salah tapi dia tak bisa melihat semuanya.
Hendra pun tidur sambil memeluk Dila, "sudah aku bilang jangan menyentuhku, selama mas belum mencintaiku,"
"kamu bilang apa, aku ini suamimu, jadi aku berhak melakukan segalanya terhadap mu," marah Hendra.
"tapi aku manusia biasa, dan jangan melakukan itu lagi, kamu jahat mas, jahat ...." tangis Dila.
"maafkan aku, aku tidak akan melukai mu lagi," jawab hendra yang menunjukkan pesannya.
Dila tak mengira jika Hendra meminta wanita itu berhenti menganggunya, dan memutuskan mem-blacklist nomor ponsel Sinta.
malam itu, Hendra menginginkan Dila, terlebih setelah kejadian itu dia terus tak bisa menahan nafsunya lagi.
Dila pun pasrah untuk melayani suaminya, meski dalam hubungan itu Hendra hanya memikirkan dirinya sendiri.
Dila dan Hendra pun tidur saling berpelukan, meski Dila tak merasakan apapun setelah hubungan itu.
keesokan harinya, mereka berdua pun bersiap untuk berangkat, tak hanya itu mereka berdua sudah berpamitan.
setelah sholat subuh mereka berangkat menuju ke kota yang akan menjadi tempatnya bekerja.
Dila juga sudah menyiapkan beberapa lamaran pekerjaan, tak hanya itu dia akan langsung mengirimkan lamaran itu sesampainya di kota itu.
mereka pun butuh setidaknya tiga jam untuk sampai di kota Gresik di daerah Manyar.
ternyata Hendra adalah seorang mandor di sebuah perusahaan produk makanan di sana.
mereka pun sampai di kos, Hendra langsung mengajak Dila untuk melapor pada RT setempat.
tak hanya itu Hendra juga mengantarkan istrinya itu menaruh lamaran, setelah itu keduanya memilih makan di warung pinggir jalan.
"kamu bisa makan di tempat seperti ini?"
"bisa saja, aku bukan tipe orang yang pilih-pilih makanan," jawab Dila yang mengikuti suaminya itu.
Hendra pun memilihkan beberapa lauk untuk istrinya, dan Dila memesan teh panas.
"setelah makan, bisakah mas mengantar untuk belanja kebutuhan kita di kos," kata Dila.
"baiklah, nanti kita belanja di pasar sore saja, sekalian kamu bisa beli baju yang kamu butuhkan," jawab Hendra.
"iya mas," jawab Dila.
tak terduga Dila menaruh lauk miliknya ke piring Hendra, "aku kebanyakan lauk, untuk mas saja,"
Hendra pun tak mengira ada gadis seperti ini, biasanya gadis seusia Dila akan memikirkan tentang gengsi.
bahkan dulu Hendra sering di ajak ke cafe hanya sekedar nongkrong dan makan bersama dengan mantan kekasihnya.
tapi ini berbeda seratus delapan puluh derajat, telebih Dila tak pernah protes tentang apapun kecuali perasaan.
setelah makan, kini mereka pun menuju ke pasar sore, Dila pertama-tama di bawa oleh Hendra mencari baju.
tak hanya baju biasa, bahkan beberapa gaun malam pilihan Hendra, dan juga baju yang akan di gunakan untuk bekerja.
setelah membeli semua kebutuhan Dila, Hendra mengajak Dila membeli beberapa peralatan dapur dan juga kebutuhan mereka.
Dila memilih semua bumbu bubuk dan juga beberapa bumbu yang di butuhkan.
setelah semua, mereka pun pulang dan saat sampai rumah, beberapa penghuni kos juga sudah pulang bekerja.
"eh mas Hendra, wah habis borong nih, siapa itu adiknya ya?" tanya seorang wanita yang terlihat berpenampilan cukup menor.
"ini istri saya bude, kalau begitu kami permisi dulu," pamit Hendra.
"idih kok mau sih istrinya sama pria seperti Hendra itu," gerutu ibu-ibu itu.
tapi Dila hanya diam dan memilih masuk ke kamar kos suaminya yang cukup besar.
Hendra memilih kos ini karena keamanannya cukup baik, bahkan tak perlu takut saat menaruh sepeda motor di luar rumah.
Dila pun merapikan semua bahan makanan yang baru di beli, bahkan Dila kaget saat di kos milik suaminya itu sudah ada kulkas juga.
"aku mandi duluan, karena harus keluar menemui teman ku, kamu di rumah sendiri tak apa-apa kan?"
"iya mas," jawab Dila yang masih sibuk.
Hendra masuk kedalam kamar mandi, dan lupa membawa handuk, "Dila tolong ambilkan handuk,aku lupa membawanya,"
Dila pun bergegas mengambilkan handuk dan memberikan handuk itu pada Hendra.
tapi tak di duga Hendra malah menariknya masuk kedalam kmr mandi dan langsung mencumbunya.
Dila pun harus melayani suaminya lagi dan lagi, tapi Hendra tetaplah pria yang mementingkan kepuasannya sendiri.
sukses
semangat
mksh
udah tahan nafas nih bacanya dr tadiiii
hamil gak yaa dia???
tp klo fatin uda lupa ingat.an bkalan susah.
mending mahi sam husna ajj.
kasian husna nya sdah tdak perawan di tnggl calon nya meninggal