Vika gadis ceria dan sedikit tomboy jatuh cinta pada Ihsan yang merupakan teman kecilnya.
Vika terpaksa harus memendam rasa sukanya pada Ihsan karena ada begitu banyak hal yang membuat mereka tak bisa bersama.
Penasaran ....
yuk simak kisah lengkapnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Maelani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
🌹SELAMAT MEMBACA
Tidak terasa seminggu berlalu Ihsan berada dikampung Dody, dengan sangat terpaksa mereka pun harus kembali ke kota Jakarta.
Semua barang sudah masuk kedalam mobil begitu pun dengan ketiga teman Ihsan yang sudah duduk.
Ihsan masih berdiri didepan pintu mobil dengan alasan mesin mobilnya masih belum panas padahal yang sebenarnya ia masih berharap bertemu dengan Vika.
Wajah Vika yang beberapa hari ini selalu menggusik pikiran Ihsan.
Ia yakin jika gadis itu adalah memang temannya.
Sepanjang perjalanan Ihsan hanya melamun pikiran nya terus saja pada Vika.
"*Lagi apa ya dia sekarang"
"Kenapa gw pengen liat dia terus sih*" batin Ihsan yang mulai kesal kepada dirinya sendiri.
"Ngapain juga gw mikirin dia terus sih" gumam Ihsan kesal.
Beberapa teman Ikhsan yang melihatnya hanya tersenyum sambil terus mengejek Ihsan.
"Ciee ada yang langsung jatuh cinta pada pandangan pertama nih" Dody terus saja menggoda Ihsan yang terlihat terus termenung.
"Ih..pada berisik banget sih loe" Ihsan yang kesal akhirnya berpura-pura memejamkan matanya.
Sementara itu di rumah Nene Dilla,Vika sudah terlihat sangat rapi hendak keluar bersama Ujang.
"Udah cantik,mau kemana cucu Nene?"
"Nene tau pasti mau jalan-jalan sama Ujang ya?"
"Seperti nya kalian sangat cocok" lanjut Nene Dilla sambil terus memperhatikan Vika yang sedang memakai sepatu.
"Jangan godain Vika terus dong Ne" sungut Vika sambil memajukan bibirnya.
"Udah sana cepat pergi nanti keburu ujan"
"Jangan malem-malem pulangnya ya" ucap Nene saat Vika berjalan keluar rumah menghampiri Ujang yang sudah menunggu nya sejak tadi.
"Iya Nek" teriak Vika.
Setelah pamit pada Nene Dilla mereka pun langsung pergi.
Dalam perjalanan Vika hanya diam saja entah kenapa hari ini ia sedikit grogi berdekatan dengan Ujang.
"Kenapa gw dek-dekan gini sih" batin Vika.
Ia berusaha menenangkan jantung nya yang dari tadi berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya.
Mereka berhenti di sebuah taman dan disana banyak yang jualan.
Mata Vika berbinar saat melihatnya.
"Wahhh aku udah lama gak ke tempat kaya gini Jang" ucap Vika bahagia.
Ujang yang mendengar perkataan Vika hanya tersenyum sambil menyimpan helm yang ia pakai.
"Aku seneng Vik kalo liat kamu senang" jawab Ujang sambil menatap Vika.
"Kamu boleh jajan apa aja yang kamu mau Vika,tapi maaf aku cuma mampu bawa kamu ketempat seperti ini" lanjut Ujang
"Ngomong apa sih kamu Jang,aku justru lebih suka ketempat kaya gini enak" ucap Vika sambil menepuk bahu Ujang.
Malam itu Vika begitu bahagia hingga ia tak memperdulikan hp nya yang dari tadi terus bergetar.
"Vika..." panggil Ujang
hemmm
"Aku mau ngomong sesuatu sama kamu"
"ngomong aja" jawab Vika sambil terus memakan es crime
"Kamu dengerin dong"
"Iya aku dengar kok Jang, ngomong aja" ucap Vika lagi.
Sesaat Ujang terdiam.
"Kok diem sih, katanya mau ngomong" ucap Vika lagi
"emmmm"
Ujang nampak ragu untuk mengungkapkan isi hatinya pada Vika.
"Gw harus ngomong sekarang" batin Ujang
"Vika..." panggil Ujang dengan suara sedikit serak.
" Kamu kenapa?" tanya Vika yang langsung melihat kearah Ujang.
Sesaat pandangan mata mereka bertemu dan saling mengunci.
Saat itu juga jantung Vika berdegup kencang dan tangannya menjadi dingin.
" Vika ..aku sebenarnya udah lama suka sama kamu"
"Malam ini aku mau kamu jadi pacar aku" ucap Ujang
Jantung Vika semakin berdebar-debar tak karuan saat mendengar ucapan Ujang.
Uhukkkk
Entah kenapa tiba-tiba saja ia tersedak.
"Vika...." Ujang langsung menepuk-nepuk punggung Vika.
"Aku gak apa-apa Jang" ucap Vika setelah bisa mengendalikan dirinya.
"Kamu gak perlu jawab sekarang Vika"
"Seandainya kamu gak mau juga aku gak apa-apa,aku cuma mau kamu tau aja kalau selama ini aku sudah jatuh cinta sama kamu" tutur Ujang.
"Aku..." mulut Vika seakan terkunci dan tak dapat berkata-kata.
"Aku minta waktu buat jawabnya Jang" ucap Vika pelan.
"Iya.."
"Kamu bisa jawab kapanpun kamu mau Vika,aku gak maksa" lanjut Ujang.
Setelah berhasil mengungkapkan perasaannya Ujang pun mengajak Vika pulang.
Hari semakin malam saat mereka tiba di rumah Vika.
"Jang terima kasih ya buat malam ini" ucap Vika.
"Sama-sama Vik, aku pulang dulu ya"
"Met malem"
Setelah pamit Ujang pun langsung kembali kerumah nya yang memang tak jauh dari rumah Nene Dilla.
Setelah membersihkan diri Vika pun langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur.
Masih terbayang saat Ujang menyatakan perasaannya.
"Aduh gimana ini,aku aja gak tau gimana perasaan aku sama dia" gumam Vika sambil membuka balikan tubuh nya.
Malam itu Vika tidak dapat tidur dengan nyenyak.
Ia terus saja memikirkan perkataan Ujang.
Sementara itu di kediaman Vika.
"Mah..kak Vika kenapa sih gak jawab telpon Pian" adu Pian pada Mama Iren
"Aku mau kerumah Nene mah mau liat Kaka sekalian mau ketemu sama Kaka"
"Ya sudah Sabtu sore kita kesana"
Setelah mendengar perkataan mama Iren Pian nampak begitu senang, ia pun meninggalkan Mama Iren yang masih duduk dimeja makan.
"Mah..Pian mau keluar ya sama temen" teriak Pian dari ruang depan dan tak lama kemudian terdengar suara pintu pagar dibuka.
Hari terus berganti hubungan Ihsan dan Rany semakin jauh.
Ada saja alasan Ihsan saat Rany meminta nya untuk mengantarnya.
Pikiran Ihsan masih saja pada gadis yang ia temui belum lama ini.
Entah kenapa bayangan wajah Vika terus saja membayanginya.
"Gw harus kesana lagi hari Sabtu ini"
"Bisa gila kalo kaya gini terus " gumam Ihsan sambil memandangi foto Vika yang ia ambil.waktu Vika bermain Voly.
Ihsan sengaja duduk depan rumahnya sambil menunggu Pian datang.
Tak berapa lama Pian pun sampai.
"Pian..." panggil Ihsan sambil membuka pintu pagar rumah nya.
"Ih tumben amat nih manusia sombong manggil gw" batin Pian sambil menoleh ke arah Ihsan.
"Iya ada apa?"jawab Pian
"Kayanya udah lama gw gak liat Kaka loe, kemana si Vika?" tanya Ihsan berpura-pura.
"Lah ni orang kesamber apa,Kaka gw udah bertahun-tahun baru nanyain sekarang" batin Pian.
"Oh..kk Vika kuliah di luar kota" jawab Pian
"Dimana Ya?" selidik Ihsan.
"Di daerah Kalimatan" jawab Pian ngasal.
"Jauh banget Pian"
"Sengaja dia mau ngejauh dari loe" jawab Pian jujur.
"Astaga kok loe ngomong gitu Pian" Ihsan pura-pura terkejut dengan jawaban Pian.
"Dah ah gw mau mandi" Pian pun langsung meninggalkan Ihsan yang masih tertegun didepan rumahnya.
"Masa Iya di Kalimantan,terus itu siapa dong kok bisa mirip banget sih" batin Ihsan
"Aih...bisa beneran gila gw kalo kaya gini terus" Ihsan pun memaki dirinya sendiri.
Ia juga tidak tahu kenapa ia begitu tertarik dengan gadis itu.
Hallo semua dah up lagi ni.
Tetap kasih dukungan buat Author ya.
👉Like
👉Rate
👉 Favorit
👉 Komen nya Author tunggu
Salam Maniss
Amellajj/Author