Arzya Geovanka Razeta, yang kerap disapa Arzya atau zaza ini merupakan gadis yang sangat terkenal dengan sikapnya yang pendiam. Bahkan ia sempat dijuluki sebagai patung berjalan karena wajahnya yang selalu terlihat datar. Arzya memang selalu bersikap seperti itu pada orang-orang yang baru ia kenali.
Di dalam diamnya Arzya menyimpan begitu banyak rahasia yang ia simpan dengan rapat, bahkan hatinya yang rapuh pun hanya dia yang tahu. Terlebih lagi
Arzya sangat pandai menutupi sifat asli yang ceria, cerewet, gokil dan apa adanya.
Tanpa sengaja ia bertemu dengan seseorang yang memberikan dia sesuatu yang selama ini tidak ia rasakan. Ya Arzya mendapatkan kasih sayang dari sang ketua osis disekolagnya. Dia mampu meluluhkan hati Arzya yang dingin itu.
Seperti kata orang, apa yang kita dengar belum tentu yang sebenarnya, kata itu selalu terngiang dibenak Arzan.
Follow IG : eh.han28
....
INI MURNI KARYA AUTHOR JIKA ADA KESAMAAN NAMA ATAU TEMPAT ITU HAL YANG WAJAR KARENA INI HANYA FITIF BELAKA! DAN MOHON JANGAN ADA PENIRU ATAUPUN PLAGIATISME KARENA ADA HUKUM YANG BERLAKU BAGI YANG MELAKUKAN PLAGIATISME!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aku masih menunggu mu!, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bekas Arzan
Sekolah sudah mulai sepi hanya tersisa beberapa siswa yang sedang mengikuti kelas tambahan. Arzya melangkahkan kakinya dengan malas menyusuri koridor sekolah. Tangannya sibuk menaikan permainan ular didalam ponselnya.
Bruk!
Tanpa sengaja Arzya menabrak sesorang hingga ponselnya pun ikut terjatuh, Arzya menatap malas orang didepannya ini.
Lalu ia menunduk untuk mengambil ponselnya dan siapa sangka orang itu juga melakukan hal yang sama dengan Arzya sehingga tanpa sadar tangan mereka saling bersentuhan seolah ada efek slow-motion dalam adegan itu.
"Ehem!" deheman dari seseorang itu membuat kedua tangan itu terlepas.
"Jangan shooting sinetron disini, gue kan juga mau!" katanya yang tak lain Alvin.
"Lo sama temen lo itu sama, pengganggu!" cibir yang ditabrak Arzya.
"Heh Ham, lo ngomong apa barusan gak salah?" bentak Alvin tidak terima.
"Yang gue bilang bener kan?" ucap Ilham sambil tersenyum sinis.
"Bukannya lo ya, yang selalu gangguin cewek yang deket sama gue atau Arzan?" ucap Alvin tidak terima.
Ilham yang tidak terima dengan ucapan Alvin langsung mencengkram erat kerah Alvin, begitu juga dengan Alvin. Hingga terjadilah baku hantam diantara mereka berdua, entahlah sejak kelas sepuluh memang mereka berdua tidak pernah akur. Hanya dihadapan paru guru dan saat kegiatan saja mereka terlihat baik-baik saja.
Alvin yang menyadari jika Arzya tidak disana langsung melepaskan Ilham yang sudah tersungkur di lantai.
"Awas aja, lain kali lo habis sama gue!" kesalnya sambil berlalu pergi.
Sedangkan Ilham masih terduduk dilantai, tanggannya memegang sudut bibirnya yang mengeluarkan dara segar.
"Ssshhhh!" keluh Ilham saat tanpa sengaja jarinya menyentuh luka itu.
Disisih lain Arzya berusaha keras untuk melepaskan cekalannya dari seseorang yang sangat kuat. Arzya sangat heran kenapa jika bertemu dengan dirinya selalu saja ditarik dengan kasar.
"Gue bukan tali tambang yang terus lo tarik!" kesal Arzya membuat Arzan berhenti dan menoleh kebelakang.
Sudut bibirnya terangkat keatas menampakkan senyum manisnya.
"Tumben panjang," kata Arzan tidak percaya.
"...."
"Kenapa diem lagi, mau saingan sama patung depan sekolah?" canda Arzan.
Arzya tidak menjawab ia memilih pergi dari hadapan Arzan.
"Eh, mau kemana? Udah ditolongin bukannya bilang makasih main pergi aja!" Arzan menarik kerah baju Arzya.
"Pulang, lepasin!" kesal Arzya sambil berontak.
"Gue gak izinin!" bisik Arzan saat sudah menarik kerah seragam Arzya agar mendekat.
"Lo siapa?" tanya Arzya ketus.
"Gue?" tanya Arzan, "Calon suami lo!" lanjutnya lagi.
"Mimpi!" bentak Arzya.
"Iya memang awalnya dari mimpi yang akan jadi kenyataan!" jawab Arzan percaya diri.
"Gila!" ketus Arzya.
Arzya melangkah menuju parkiran yang sudah tidak jauh dari tempatnya berada, ia sangat risih ketika Arzan terus saja mengikutinya.
Bahkan gerakan apapun yang dilakukan Arzya selalu diikuti oleh Arzan. Dengan cepat Arzya menuju motornya dan menyalakan mesin, begitu Arzan mendekatinya Arzya langsung tancap gas membuat Arzan tertawa.
"Seru juga jailin dia!" kata Arzan.
Sesekali Arzya menengok pada kaca spionnya, ia takut jika Arzan akan mengikutinya. Arzya membelokkan motornya ke arah Cafe yang kemarin ia datangi bersama Diva.
Setelah memesan makanan, Arzya lalu memilih tempat duduk yang dirasa sangat nyaman untuknya. Ia duduk sambil mengeluarkan laptopnya dari dalam tas, ia berniat menonton drama favoritnya yang sudah tayang beberapa episode.
Harusnya ia segera pulang kerumahnya tapi entah kenapa rasanya begitu malas jika berada dirumah. Terlebih lagi ia malas dengan orang-orang yang hanya terlihat baik diluarnya saja.
Semuanya terasa berat untuk gadis seusinya, ketika teman yang lain mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari kedua orang tuanya. Terkadang Arzya iri akan hal itu tapi ia bisa apa, hanya menerima dan menjalani semua takdir yang harus ia lalui.
"Haaahh!" helaan nafas itu seolah terasa sangat berat, bahkan niatnya untuk menonton drama pun diurungkan karena mengingat semuanya yang begitu menyesakkan dadanya.
Sesekali ia mendongak keatas untuk menahan air matanya agar tidak tumpah, Ya, matanya sudah memanas sejak tadi, bahkan kelopak matanya sudah terasa basah.
Hingga suara seseorang membuatnya terhenyak kaget.
"Lo kenapa?" tanyanya, suara itu sangat Arzya kenali dan ia tahu siapa pemilik suara itu.
Arzya hanya diam sambil memalingkan wajahnya menatap jendela yang berapada disisi kirinya. Arzya tidak mau ada orang yang melihatnya rapuh seperti ini, karena ia tidak mau dikasihani.
"Lo nangis?" tanyanya lagi sambil mencoba melihat wajah Arzya.
Dengan cepat Arzya menatap orang dihadapannya ini dengan tatapan yang tidak bisa diartikan, mata itu terlihat memerah dan ada bekas air disana.
"Berisik!" bentak Arzya.
"Gue kan cuma nanya, salah?" tanyanya yang tak lain adalah Arzan.
Arzan memang sering ke Cafe ini sehingga tidak heran jika ia terlihat disana, sedangkan siapa ini Arzya dia terlihat duduk termenung di pojokan membuat Arzan ingin mendekatinya dan menanyakan apa yang membuat Arzya bersedih.
"Salah!" ketus Arzya.
"Maaf deh," ucap Arzan sambil meminum ice coffe yang belum Arzya sentuh sejak tadi.
"Punya gue!" Arzya merebut kembali ice coffe miliknya.
"Minta dikit aja, haus," kata Arzan sambil terkekeh.
"Bekas lo!" Arzya kembali menyodorkan segelas ice itu kemudian ia beranjak untuk pesan lagi yang sama persis.
"Bekas orang ganteng ini masa gak mau?" teriak Arzan yang membuat orang-orang sekitar melihatnya aneh.
Arzya kembali dengan segelas ice coffe miliknya, ia mengabaikan semua ocehan Arzan. Namun sesekali ia menahan tawanya dengan cerita Arzan yang absrud itu.
Arzan tahu jika Arzya sedang memiliki masalah sehingga ia berusaha untuk membuat Arzya tersenyum atau setidaknya melupakan sesuatu yang membuatmya bersedih.
"Lo gak pulang?" tanya Arzan.
"Nanti," jawab Arzya yang masih fokus pada laptopnya.
Arzan memanggil pelayan agar menghidangkan makanan yang ia pesan tak lupa ia memesankan untuk Arzya.
Tak butuh waktu lama pelayan itu datang dengan dua piring nasi goreng spesial, juga tempe mendoan lengkap dengan sambal kecapnya.
"Makan!" kata Arzan menyodorkan piring nasi goreng itu agar dekat dengan Arzya.
"Gue gak pesen," kata Arzya.
"Gue traktir sebagai ganti ice lo yang gue minum!" jelas Arzan.
Arzan memulai menyuapkan nasi gorengnya sambil melihat Arzya yang tidak menyentuh sama sekali nasi gorengnya.
"Dimakan, mubazir kalau gak dimakan... diluar sana banyak loh orang yang gak bisa makan, jadi kalau ada makanan jangan samapi dibuang-buang!" nasehat Arzan.
Dengan terpaksa Arzya mulai menikmati nasi goreng spesial itu bersama Arzan, karena Arzya malas mendengar mulut Arzan yang sangat cerewet melebihi ibu-ibu.
Arzan tersenyum tipis melihat gadis yang ada didepannya ini, meski ia tidak berbicara banyak tapi Arzan tau Arzya sedang butuh seseorang disampingnya walaupun hanya sekedar menemaninya seperti saat ini.
......................
"Kamu tidak akan pernah tau bagaimana seseorang itu menjalani hidupnya hingga ia terlihat kuat!" ~Arzya Geovanka~
...----------------...
Maaf author merubah judul dan revisi sedikit dibagian 3 bab awal. Thanks!
jan bikin pembully jaya dong thor.cepet kasih pelajaran buat si pembully