ALVINA ....
Itu namaku. Gadis berumur 17tahun baru lulus SMA. Aku yatim piatu yang diasuh oleh seorang wanita berhati mulia bernama Ardhina Devi. Wanita yang rela menghabiskan seluruh hidupnya untuk membesarkanku, mengorbankan kebahagiaannya demi merawatku dan merelakan cintanya untuk menyayangiku.
Hidupku berubah setelah kepergiannya, ditinggal untuk selamanya oleh satu-satunya orang yang aku sayangi, membuatku seperti kehilangan sebagian diriku.
Ini bukan kisah tentang anak angkat yang mencari siapa dan darimana dia sebenarnya. Tapi ini tentang diriku dan cintaku.
Maaf, jika ada kesamaan nama, karakter dan penggambaran tokoh yang aku ambil. Semua hanya buat pelengkap saja. Semoga suka dan menarik kalian baca sampai akhir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sita Azzaky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
•Gelap•
Mobil Fathir masih terparkir di halaman rumah. Berarti Fathir masih di rumah. Dia pasti marah, aku nggak menghiraukan panggilan ataupun pesan darinya.
"Assalamualaikum ...." Bibirku tersenyum manis. Kedua tanganku penuh dengan belanjaan. Aku berusaha menahan beratnya. Belanja mingguanku banyak banget.
"Waalaikumsalam ...." Kak Dhina, Fathir dan seorang cewek tinggi bongsor berkulit sawo matang dan rambut hitam panjang lurus menjawab salamku kompak. Cewek itu pasti Lilin. Fathir berdiri dari duduknya menghampiriku.
"Sini aku bantu!" Dia ambil semua belanjaan dari tanganku. Eh, pasti ada maunya, tapi kali ini aku enggan berdebat dengannya. Aku mengikutinya masuk ke dalam rumah.
"Taruh sini?" Dia letakkan belanjaan dia atas meja dapur.
"Iya di situ saja, naruhnya pelan-pelan, takut telornya pecah." Aku ambil beberapa kotak makan plastik buat nyimpen daging atau ikan.
"Sengaja?" Suaranya terdengar datar. Dugaanku nggak salah, dia bantuin aku bawa masuk belanjaan buat ini. Dia mau menghakimiku.
"Bantuin aku ya, naruh belanjaan di lemari es ... Pisahin daging sama ikannya, aku masukin ke kotak dulu ...." cerocosku. Aku dengar hembusan nafas kasar Fathir, aku nggak berani bahkan untuk melirik ke arahnya.
"Biar Lilin yang beresin, kamu ikut aku!" Aku menoleh ke Fathir. Lilin sudah berdiri di belakangnya, kapan dia panggil Lilin. Perasaan tadi cuma berdua.
"Dia baru datang, bahkan aku belum beri dia minum." Aku mencari alasan untuk menolaknya. Aku buka lemari es, aku keluarkan tiga teh botol dan menyodorkan ke arah Fathir dan Lilin.
Fathir menyahutnya dengan kasar. Dia marah.
"Makasih Mbak ...." Suara Lilin membuat alisku gabung.
"Kok Mbak sich? Panggil Alvi saja. Umurku baru tujuh belas tahun, mungkin lebih banyak umurmu."
Lilin tersenyum mendengar protesku.
"Kasih tahu Lilin apa yang harus dia lakukan."
"Masukin belanjaan nya ke kulkas. Itu box daging sama ikannya, taruh di freezer ya. Tahu ma tempenya taruh di bawah. Kotak bumbunya ada di bawah juga." Aku mikir ngomong apa lagi ya? Aku melirik ke arah Fathir, wajahnya terlihat kesal.
"Kamu ngerti kan apa yang dia maksud?" tukas Fathir. Lilin ngangguk.
"Kerjakan! Sendiri bisa kan?" Fathir datar. Lagi-lagi Lilin ngangguk.
Tanpa basa-basi lagi, Fathir genggam erat tanganku dan menarikku masuk ke kamar belakang yang berfungsi sebagai gudang.
'Brakkk!'
Dia banting pintunya.
Ya Allah gelap!
Mendadak tubuhku gemetar dan berkeringat. Selalu seperti ini, aku phobia pada kegelapan.
"Kamu sengaja ya Al?" Dia lepas genggaman erat tangannya dari tanganku. Namun, spontan aku justru memeluknya erat. Aku sembunyikan wajahku di dadanya, teh botol di tanganku sengaja aku jatuhkan.
"Kamu kenapa? Al, kamu kenapa?" Fathir cemas. Dia balas pelukanku lebih erat.
"Gelap." Cuma itu yang bisa keluar dari mulutku. Nafasku mulai sesak. Tubuhku melemas.
Fathir pindahkan tanganku ke lehernya. Dengan cepat aku naikkan tubuhku dan melingkarkankan kakiku di pinggangnya. Aku benamkan wajahku di tekuk lehernya.
Aku benar-benar takut, ini kelemahanku, aku nggak bisa mengendalikan diri jika di kegelapan.
"Buka matamu!" Fathir mendudukkanku di atas meja. Aku pindahkan kedua tanganku menutup wajahku. Nafasku masih tidak beraturan.
"Sekarang buka matamu!" serunya. Fathir tepiskan kedua tanganku.
"Jangan takut, aku disini." ucapnya lagi.
Fathir angkat daguku lalu ....
Mataku terbuka lebar saat bibirnya menyentuh bibirku. Dia mengecapnya. Tubuhku yang lemas tiba-tiba seperti tersengat listrik dan mendapat kekuatan super. Aku dorong tubuh Fathir sebelum kecupannya berubah menjadi ******* dan gigitan di bibirku.
"Apa ...."
"Apa?" Pekik Fathir membuatku tidak meneruskan protesku. "Tadinya aku mau marah, tapi melihatmu seperti tadi aku malah jadi ngerasa bersalah."
"Dan sekarang aku yang harus marah, kamu pikir ini apa? Ini bibirku bukan lollipop, seenaknya tanpa permisi kamu *mut."
"Itu hukuman, eh bukan itu imbalan, karena aku udah membawamu dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang."
Imbalan? Lalu hukumannya? Hukuman untuk apa?
HBD 😘😘🎉🎉🎂🎂🎁🎁🦀♋🦀♋🌷🌷💜💜😂😂
Welcome Cancer ♋🦀♋HBD Author 🎉🎉🎉🎂🎂🎂🎁🎁🎁🎂🎂🎂🎉🎉🎁🎁🎁
HBD 🎂🎂🎂🎂🎂🎁🎁🎁🎁♋♋♋♋♥️♥️♥️♥️🦀🦀🦀🦀💜💜💜💜🌷🌷🌷🌷🎂🎂🎂🎂🎁🎁🎁🎉🎉🎉🎉
HBD
🎂🎂🎂💜💜💜♋♋♋🦀🦀🦀
🎂🎂🎂♥️♥️♥️🎁🎁🎁🌷🌷🌷
HBD ♋♋♋💜💜💜🎁🎁🎁♥️♥️♥️