Ayunda Zhia Wijaya yang baru saja kehilangan calon suaminya, sedang mencoba untuk bangkit dari keterpurukan.
Kehilangan demi kehilangan yang dialami oleh Ayunda meninggalkan bekas trauma yang mendalam di diri gadis itu, hingga Ayunda selalu dilanda keraguan untuk menjalin sebuah hubungan.
Namun takdir malah mempertemukan Ayunda dengan Bennedic Rainer, seorang pemuda tanggung yang jiwa mudanya begitu berkobar.
Ben yang merupakan sepupu dari boss Ayunda di kantor, kerap menggoda Ayunda dan selalu kepo dengan hidup Ayunda.
Sekuat apapun Ayunda menghindari Ben, pemuda itu malah semakin mengejar Ayunda dengan gila.
Mampukah Ben yang juga masih labil menyembuhkan rasa trauma yang dialami oleh Ayunda dan memberikan kebahagiaan yang sesungguhnya untuk wanita yang usianya lebih tua dari Ben tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bundew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BEGAL
Acara malam ini di Rainer's Resto sudah berakhir.
Ben bersiul ringan seraya membukakan pintu mobil untuk Ayunda yang sejak tadi hanya diam. Wajah gadis dua pulub enam tahun tersebut juga terlihat murung.
Ada apa dengan Ayunda?
"Kau sakit?" Tanya Ben menyelidik seraya berjongkok di samoing Ayunda yang suadh masuk ke dalam mobil.
"Tidak!" Ayunda menggeleng dengan yakin.
"Wajahmu murung dan sedikit pucat," Ben sudah mengulurkan tangannya dan hendak mengusap wajah Ayunda yang kalau dilihat dari jarak sedekat ini ternyata begitu cantik.
Namun Ayunda menahan tangan Ben dengan cepat.
"Bisakah kau mengantarku pulang sekarang?" Ayunda menatap tegas pada Ben.
"Tentu saja, Nona Ayunda!" Ben kembali memasang senyuman aneh itu dan menutup pintu mobil. Pria itu kembali bersiul seraya memutari mobil dan masuk dari sisi lain.
Tak butuh waktu lama, dan mobil Ben sudah meluncur meninggalkan Rainer's Resto.
Hanya ada keheningan di sepanjang perjalanan, karena Ayunda tak sedikitpun buka suara. Ben yag biasanya cerewet juga tumben diam saja dan tak bertanya hal tak penting pada Ayunda.
Ah, biarkan saja!
Mobil berhenti di lampu merah dan suasana jalan juga lengang . Mungkin karena ini hampir tengah malam. Tiba-tiba ada dua motor dengan empat orang diatasnya memepet mobil Ben di bagian kanan dan kiri.
Ada apa ini?
"Ben!" Ayunda sudah mulai khawatir, karena motor-motor itu terlihat mencurigakan.
"Santai saja! Mereka tidak akan-"
Tuk tuk!
Salah satu pengendara motor mengetuk kaca mobil Ben seraya mengacungkan sebuah pisau, hingga membuat Ben kaget dan tak jadi melanjutkan kalimatnya.
Brengsek!
"Ben! Bagaimana ini?" Ayunda sudah mulai panik.
Ben segera melepaskan jasnya, lalu membalutkannya ke tubuh Ayunda. Pria itu tak berucap sepatah katapun dan matanya menatap awas ke luar kaca mobil.
"Buka!"
Para preman bermotor tadi mulai menggedor pintu mobil Ben dari dua arah. Terang saja, hal itu membuat Ayunda semakin ketakutan.
Ben masih diam di tempatnya dan sedang mengambil ancang-ancang untuk kabur. Sayangnya, para preman sialan itu ternyata bergerak lebih cepat ketimbang Ben.
Entah apa yang mereka lakukan pada ban mobil kesayangan Ben ini hingga Ben tak bisa tancap gas, dan kini mereka mulai memukuli bodi mobil dengan sebuah besi yang entah mereka dapat darimana.
"Buka!" Para preman sekaigis begal, berteriak marah pada Ben.
"Ay!" Ben akhirnya buka suara dan meraih tangan Ayunda yang dingin gemetaran.
"Tetap berada di dekatku, dan jangan jauh-jauh!" Pesan Ben seraya menatap pada Ayunda yang wajahnya terliaht ketakutan sekali.
Ayunda hanya mengangguk, dan mengeratkan genggaman tangan Ben.
Ben akhirnya membuka pintu mobil, dan para begal sialan itu langsung menggeledahnya. Mereka mengambil semua barang betharga milik Ben.
"Jangan menyentuhnya!" Bentak Ben galak saat para preman hendak menggeledah Ayunda.
Ayunda dengan takut-takut, memilih memberikan tasnya pada begal lalu langsung berlari ke balik punggung Ben.
"Kesini, kau!" Salah satu preman hendak menarik Ayunda agar menjauh dari Ben, namun Ben tetap sigap melindungi gadis itu.
"Jangan menyentuhnya!" Gertak Ben sekali lagi.
"Berisik, kamu!"
Sebuah bogem mentah melayang ke wajah Ben, namun bisa ditangkis dengan cepat oleh Ben. Terang saja hal itu langsung membuat para begal meradang dan mereka semua langsung mengeroyok Ben.
Empat lawan satu, tentu saja tidak adil. Tapi Ben terus memberikan perlawanan meskipun pria itu terlihat kewalahan.
Ayunda yang kini berada di dekat motor salah atu begal, melihat kunci motor yang masih tergantung di atas motor. Mendadak Ayunda punya ide untuk kabur saja memakai motor begal sialan ini.
Segera Ayunda menyingkpa gaunnya dan membuang sepatu highheels-nya.
"Ben!" Panggil Ayunda pada Ben yang sudah kewalahan dan hampir tumbang. Ayunda sidah bersiap di atas motor salah satu begal dan Ben pangsung paham dengan ide dari Ayunda.
Ben berusaha untuk naik ke atas motor Ayunda, namu para begal masih mengejar Ben dan terus menghalangi Ben yang hendak kabur. Susah payah Ben menumbangkan mereka semua, hingga tiba-tiba saat Ben hampir naik ke jok belakang motor, seorang begal mengayunkan pisau kecilnya ke arah Ben dan mengenai lengan Ben hingga mengucurkan darah segar.
Sial!
"Cepat pergi!" Ben menepuk pundak Ayunda dan menyuruh gadis itu untuk segera tancap gas.
Ben mengabaikan tangannya yang terasa sakit sekali dan darah yang terus mengucur keluar. Sesekali Ben masih menengok ke belakang dan memeriksa apa para begal sialan tadi masih mengikutinya atau tidak. Dan sialnya, ada satu motor yang mereka masih mengikuti Ben dan Ayunda.
Dasar brengsek!
"Ay! Lebih cepat!" Lirih Ben seraya melingkarkan lengannya di pinggang Ayunda karena kini kepala Ben terasa berkunang-kunang.
"Ben! Jangan pingsan!" Ayunda semakin panik dan terus menarik gas motor yang ia kendarai. Tidak tahu lagi Ayunda sekarang mengendarai motor dengan kecepatan berapa, karena Ayunda meraa dirinya sedang terbang bersama Ben.
Motor hampir sampai di panti asuhan, dan para begal tadi sudah tak terlihat batang hidungnya.
"Ben!" Ayunda mengusap-usap tangan Ben yang masih melingkar di pinggangnya.
Tidak ada jawaban dari Ben.
"Ben! Bangun!" Ayunda ganti mengguncang lengan Ben yang sudah berlumuran darah. Namun hanya ada respon lemah dari lengan Ben.
Pagar panti asuhan sudah terlihat, Ayunda menghentikan motor di depan pagar, dan segera turun dengan cepat. Gaun Ayunda sudah terkena noda darah dari tangan Ben.
"Ben!" Ayunda membantu Ben untuk turun dengan hati-hati dari atas motor. Pria itu masih sadar, hanya saja jalannya sedikit sempoyongan.
"Hati-hati!" Ayunda memapah tubuh tinggi Ben masuk ke dalam halaman panti asuhan, dan meninggalkan motor begal sialan tadi di luar pagar.
Dengan tertatih-tatih, Ayunda akhirnya berhasil membawa Ben sampai ke teras dan mendudukkan pria itu di kursi teras.
"Maaf, permisi," Ayunda melepas dasi yang masih melekat di leher Ben dengan hati-hati dan memakai benda tersebut untuk mengikat lengan Ben dan menghentikan pendarahan sementara.
Ben masih duduk terkulai di kursi teras dan sesekali memejamkan matanya.
"Ben, apa kepalamu pusing?" Tanya Ayunda yang kini sudah bersimpuh di depan Ben.
"Sedikit." Jawab Ben lirih.
"Ayo ke dalam dan aku akan mrngobati lukamu. Kau masih bisa berjalan?" Tanya Ayunda khawatir.
"Ya! Aku rasa masih bisa," jawab Ben tak terlalu yakin.
"Bisakah kau memapahku lagi?" Tanya Ben selanjutnya yang kembali berpura-pura hampir pingsan.
Ayunda hanya mengangguk dan segera membantu Ben untuk bangkit berdiri. Ayunda memapah Ben sekali lagi masuk ke dalam panti asuhan, lalu mendudukkan pria itu di atas kursi panjang yang ada di ruang tamu.
Ayunda pergi sebentar mengambil kotak P3K dan sebaskom air hangat, lalu kembali lagi ke ruang tamu dan menghampiri Ben.
"Aduh!" Ben meringis lebay, saat Ayunda membuka kancing di ,engan kemejanya, dan menggulung kengan itu dengan hati-hati agar ia mudah mengobati luka di tangan Ben.
Kelihatannya tidak terlalu parah dan lukanya juga tidak dalam. Lalu kenapa Ben terlihat hampir pingsan dan terkulai lemah begini?
Padahal tadi pas baku hantam dengan para begal, Ben terlihat tahan banting.
Aneh sekali!
"Pelan-pelan, Ay! Sakit," keluh Ben yang meringis dengan lebay.
Ayunda hanya memutar bola matanya karena kini gadis itu paham kalau Ben hanya akting dan mencari perhatian Ayunda sekarang.
Bisa saja Ayunda mengomeli pria ini, namun melihat perjuangan Ben saat melindungi dirinya tadi, membuat Ayunda tak sampai hati untuk meninggalkan Ben dan mengabaikan luka di tangan serta beberapa lebam di sajah pria itu. Ayunda akan mengobati semuanya dulu sebelum meninggalkan Ben.
"Masih pusing?" Tanya Ayunda yang sudah selesai membebat luka di tangan Ben.
"Masih. Aku boleh numpang istirahat disini malam ini?" Ben memasang wajah melas pada Ayunda.
"Iya, boleh! Bahaya juga kalau kamu pulang dan dihadang begal lagi," jawab Ayunda cepat yang langsung membuat hati Ben bersorak gembira.
Ayunda mencelupkan washlap ke air hangat, memerasnya, lalu mengusapkannya ddngan lembut ke wajah Ben yang lebam di beberapa bagian.
Tangan Ayunda menyusuri lekuk demi lekuk wajah Ben dengan kain washlap, saat ingatan gadis itu tiba-tiba melayang pada korban kecelakaan yang pernah ia tolong bersama Gabrian di luar kota beberapa tahun silam.
Ayunda sempat meraba-raba wajah pemuda yang menjadi korban kecelakaan kala itu, demi memeriksa lukanya, karena Ayunda masih kehilangan penglihatannya. Dan tidak tahu mengapa, lekuk wajah pemuda itu masih melekat jelas di ingatan Ayunda.
Dan lekukan wajah Ben, kenapa terasa serupa dengan wajah pemuda korban kecelakaan itu?
Ayunda menatap lekat-lekat wajah Ben, saat tiba-tiba sebuah teguran membuat Ayunda dan Ben sama-sama kaget.
"Ay, Ben kenapa?"
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.
biar agak hangat, suhu AC dinaikkan.