Taniza dan Tania.
Saudara kembar yang terpisah sejak kecil.
Taniza dan Tania merupakan kembar identik, hanya saja sifat mereka bertolak belakang.
Taniza adalah sosok anak yang lemah lembut, baik hati, tidak pernah menyakiti siapapun, ia gadis yang sangat penurut.
sedangkan Tania , ia gadis yang lebih liar, tidak mau di atur, suka seenaknya,dan lebih suka hidup semaunya..
namun di balik sifat keduanya yang sangat bertolak belakang, mereka sama-sama saling menyayangi, namun takdir berkata lain, mereka mengalami kecelakaan dan membuat nya terpisah,namun sebelum kecelakaan itu terjadi, mereka iseng-iseng bertukar nama, tapi ternyata pertukaran identitas itu terbawa sampai dewasa.
Bismillahirrahmanirrahim....
Yuk ikuti kisahnya....
kawal mereka sampai tuntas...
jangan lupa beri dukungan ya ...
salam sehat semua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Malam makin larut. Suasana di koridor lantai dua Mansion Hasanuddin terasa begitu hening dan dingin. Di dalam kamarnya, Tania yang asli sedang berdiri di dekat jendela, menatap pendar lampu taman di bawah sana sembari mengusap jemarinya yang bebas dari rasa takut.
Ceklek....
Pintu kamar mendadak terbuka pelan tanpa ketukan terlebih dahulu. Sosok Chana melangkah masuk dengan raut wajah yang dipasang sangat prihatin dan penuh kepedulian. Ia mengunci pintu dari dalam, lalu berjalan tergesa-gesa mendekati Tania.
"Tania sayang..." panggil Chana dengan suara bergetar yang sarat akan drama buatan, meraih kedua telapak tangan Tania dan menggenggamnya erat-erat.
Tania yang asli menahan rasa mual yang mendadak menyeruak di dadanya. Sentuhan wanita ini terasa bagaikan kulit ular yang beracun. Namun, dengan keahlian aktingnya yang mumpuni, Tania tetap memasang raut wajah bingung dan polos.l meski matanya tak bisa bohong.
"Ada apa, Tante Chana? Kenapa Tante masuk malam-malam begini?" bisik Tania dengan nada suara yang lembut dan rapuh.
Chana menghela napas panjang, memasang wajah seolah-olah ia adalah seorang ibu yang sedang mengkhawatirkan masa depan anaknya.
"Tante tidak bisa tidur memikirkan nasibmu, Nak..." sahut Chana dengan mata yang berkaca-kaca buatan. "Soal pernikahan besok pagi... Tante sarankan kamu bicara pada Kakek dan Ameer untuk membatalkannya atau setidaknya menundanya."
Tania mengerutkan dahinya tipis. "Membatalkannya? Tapi Kakek dan Kak Ameer yang meminta ini demi kebaikanku, Tante..."
"Kamu tidak tahu hal yang sebenarnya, Tania!" potong Chana cepat, menatap sekeliling seolah takut ada yang mendengar. "Ameer itu... sebenarnya sudah punya kekasih! Namanya Venera. Dia wanita yang sangat cantik, wanita salehah, tutur bahasanya sangat santun, dan dia sangat pandai ilmu agama! Ameer bahkan sudah berencana mengenalkannya pada keluarga besar kita, meskipun Kakek memang sempat agak menentang hubungan mereka...dan yang lebih parahnya, Ameer sangat mencintai Venera"
Mendengar penuturan Chana, Tania yang asli berpura-pura terperanjat hebat. Matanya membelalak pelan, tangannya yang berada dalam genggaman Chana ditarik sedikit dengan gerakan refleks shock yang meyakinkan...Tapi memang dalam hati nya Tania juga terkejut, ia mengira laki-laki seperti Ameer tidak memiliki kekasih karena terlihat Alim.
"Kak Ameer... sudah punya kekasih?" cicit Tania, menunduk dengan napas yang tertahan.
"Iya, Tania! Ameer menikahimu besok itu cuma karena rasa kasihan dan bersalah karena kamu diculik saat dia tidak ada!" lanjut Chana makin gencar memprovokasi, tersenyum picik di dalam hatinya karena mengira usahanya berhasil. "Kamu mau hidup bersama pria yang menikahimu cuma karena rasa kasihan? Kasihan wanita salehah itu, Tania... Hubungan mereka bisa hancur gara-gara pernikahan ini, Mereka saling mencintai. Kamu kan anak yang baik, tidak mungkin tega merusak kebahagiaan orang lain, kan?"
Mendengar drama Chana yang begitu dramatis dan sok suci, batin Tania yang asli justru tertawa terbahak-bahak. Rasa mual di dadanya seketika berganti dengan rasa geli yang amat sangat.
"Wanita salehah? Pandai ilmu agama?" jerit Tania dalam hatinya sambil menahan diri agar tidak tertawa terbahak-bahak di depan wajah Chana.
"Aduh, Tante Chana... Kalau benar-benar wanita salehah dan paham agama, tidak mungkin dia mau pacaran berduaan dengan laki-laki yang bukan muhrimnya! Drama macam apa ini?!" gumamnya dalam hati.
Bagi Tania yang biasa hidup realistis di desa, alasan moral murahan seperti ini sama sekali tidak mempan. Selama janur kuning belum melengkung di atas pelaminan, Ameer adalah pria bebas yang berhak menentukan pilihannya sendiri. Dan lagipula, pernikahan besok pagi adalah tiket emasnya untuk mengunci posisinya di Mansion Hasanuddin demi meremukkan Chana dan Filio sampai ke akar-akarnya!
Tania perlahan mengangkat kepalanya. Air mata buatan yang dipaksakannya menggenang di sudut mata, memberikan efek dramatis yang sempurna di hadapan Chana.
"Tapi Tante..." bisik Tania dengan suara yang sangat pelan, bergetar penuh kepasrahan yang licik. "Kalau Tania menolak pernikahan besok... Kakek dan Kak Ameer pasti akan sangat marah pada Tania. Tania takut..."
Tania menatap lurus ke dalam manik mata Chana yang kini dihiasi kebingungan.
"Tania tidak punya pilihan, Tante... biarlah Tania menderita.." paut Tania dengan senyum amat tipis yang begitu polos namun terasa sangat mendinginkan darah Chana. "Tania akan tetap menikah dengan Kak Ameer besok pagi. Biarlah... kalau memang Kak Ameer cuma kasihan, selamanya Tania hanya menjadi pajangan saja, Tania ikhlas, sebagai bentuk pengabdian Tania di keluarga ini karena telah menampung Tania dari kecil.."
Chana seketika membeku. Senyum kepuasan yang baru saja hendak mekar di wajahnya langsung runtuh berkeping-keping.
Ia menatap Tania dengan pandangan tak percaya. Gadis yang biasanya sangat mudah dibodohi, sangat penurut, dan selalu mengalah jika membawa-bawa perasaan orang lain... kali ini secara halus menolak mentah-mentah bujuk rayunya!
"T-Tania... kamu..." ucap Chana, suaranya tercekat di tenggorokan.
"Sudah malam, Tante..." potong Tania lembut seraya melepaskan genggaman tangan Chana secara penuh, lalu berjalan perlahan menuju tempat tidurnya. "Tania harus istirahat agar besok tidak terlihat pucat di hadapan penghulu dan Kak Ameer. Selamat malam, Tante Chana..."
Chana berdiri mematung di tengah kamar dengan dada naik turun menahan amarah dan ketakutan yang kian membakar jiwanya. Ia menyadari satu hal yang amat mengerikan, gadis di depannya ini bukan lagi Tania yang bisa ia setir sesuai kemauannya.
"ah masa bodoh, dasar gadis bodoh ya tetap saja bodoh, akan ku bawa kekasih Ameer kesini, biar batinmu tambah tersiksa nanti" batin Chana menatap tajam Tania saat Tania melihat ke arah lain.
Pintu kamar bernuansa kemewahan itu kembali tertutup rapat setelah Chana keluar dengan langkah kekalahan dan wajah gusar.
Tania yang asli langsung mengembuskan napas panjang. Ia mengusap lengannya bekas genggaman Chana dengan raut jijik, lalu segera meraih ponsel pintar di atas nakas. Jemari lentiknya menekan nomor yang sama dengan leluasa.
Di sebuah rumah sederhana berinding kayu di kaki gunung, suasana malam terasa amat tenang dan dingin. Suara jangkrik bersahut-sahutan dari luar jendela yang terbuka sedikit.
Taniza baru saja meminum beberapa butir obat pereda nyeri yang diresepkan dokter klinik. Luka bakar akibat setrika di punggungnya serta beberapa lebam di tubuhnya masih terasa perih menyengat setiap kali ia bergerak terlalu cepat. Dengan perlahan, ia menyandarkan tubuhnya pada bantal kapuk yang empuk di atas ranjang kayu milik kembarannya.
Aroma wangi lavender di kamar itu benar-benar menenangkan jiwanya yang selama berbulan-bulan selalu dihantui rasa takut.
Tiba-tiba, ponsel Tania di atas mejanya bergetar. Melihat nama pemanggilnya, Taniza segera menggeser tombol hijau.
"Assalamu’alaikum, Tania..." panggil Taniza lembut.
"Wa'alaikumsalam, Taniza," suara Tania asli terdengar santai namun menyimpan intonasi yang ingin tahu. "Kamu sedang apa? Obatmu sudah diminum, kan?"
"Sudah, Tania... Baru saja," sahut Taniza dengan senyum tipis. "Luka di punggungku masih agak perih kalau tersenggol kain, tapi obat dari dokter sangat membantu. Di sini sepi dan tenang sekali... Aku benar-benar merasa aman."....
sebentar lagii, Ameer dan Tania akan Sah menjadi pasangan suami isteri, mungkin ya..kmu akan menghadirkan sosok Venera dihari yg sakral ini, tapiiii semua itu tidak akan membuat Ameer dan Tania goyah akan keputusan mutlak dr sesepuh Hasanuddin 😁 gaskuyyyy kakk, up lagiii yaaa.. krn kemarin aku tunggu dan bolak balik kesini ga ada muncul² 😆