[[ TAMAT ]]
IG : @rumaika_sally
Menikahi temen sebangku semasa SMA. Bagaimana rasanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rumaika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka Lama Mayang
Hari-hari di sekolah terasa lebih menyenangkan. Mayang tak lagi mengekor Bima kemanapun. Ia punya geng cewek-cewek yang mengajaknya makan di kantin, bergosip saat jam kosong dan semua hal seru lainnya.
Bima adalah penyendiri. Dia asyik sendiri. Seminggu ini jam istirahatnya dihabiskan di ruang seni. Pas Sastro memintanya membantu mengurus dan menyeting alat-alat di studio musik sekolah yang baru aja selesai dibangun. Tentu saja itu atas rekomendasi Pak Kepala Sekolah. Beliau ingat, Mama Bima pernah bilang kalau Bima sangat tertarik dnegan musik. Bima tentu saja dengan senang hati melakukannya. Pak Sastro sangat merasa terbantu. Bima lebih paham soal alat-alat modern itu, jauh lebih paham dibandingkan Pak Sastro. Bima menguasai hampir semua alat musik. Tak mengherankan, di rumahnya alat-alat semacam itu adalah mainannya sehari-hari. Eskul musik mungkin sudah bisa aktif mulai semester depan. Pak Sastro menyayangkan Bima lulus sebentar lagi. Tapi Bima berjanji untuk membantu sebisanya dan meminta agar Pak Sastro tak sungkan meminta bantuannya.
Jam istirahat siang itu Bima mengajaknya makan soto ke warung soto Pak Slamet. Mayang mengiyakan. Sudah lama dia tak makan soto.
"Susi, aku nggak ikut ke kantin ya. Mau makan soto sama Mas Bima," Mayang berkata sembari menggandeng tangan Bima.
Bima sempat protes beberapa kali karena semenjak sore itu, Mayang terus-terusan memanggilnya Mas Bima. Katanya sekarang lebih nyaman begitu. Akhirnya lama kelamaan Bima menerimanya. Tapi teman-teman sekelasnya mengartikan lain. Anak remaja seusianya suka bergosip. Mereka mengira Bima dan Mayang berpacaran.
"Kita naik motor ya?"
"Nggak jalan kaki aja?"
"Panas. Biar cepet. Kasihan nanti kamu meleleh kena panas," Bima mulai menggodanya.
Mayang memukul punggung Bima. Bercandaan semacam itu sudah mulai biasa mereka lakukan tanpa mereka sadari. Yang tentunya diartikan lain oleh teman-temannya.
Mayang mulai suka naik motor. Menurutnya seru, dan rambutnya berkibar-kibar kena angin. Bima hanya tertawa-tawa mendengarkan celotehan Mayang di boncengan belakangnya.
Tepat saat jam pulang, Bima mendapat telepon dari Mamanya. Kakinya belum pulih benar. Mamanya bilang nanti pulangnya sekalian antar Mayang naik motor. Tak lupa berpesan agar pelan-pelan dan hati-hati.
Mayang mengecek ponselnya. Ayahnya mengirim pesan via whatsapp sejam yang lalu. Dia bilang ada teknisi dari luar kota yang datang. Papanya tak bisa meninggalkan pekerjaan. Ada rapat penting selepasnya. Mayang menerima telepon setelahnya. Papanya meminta maaf dan minta tolong Tante Asti. Yang ia lupa, Tante Asti Belum pulih benar kakinya dan belum bisa menyetir.
Mayang meminta Papanya agar tidak tidak perlu khawatir. Ia akan berkendara dengan aman. Daia juga minta izin pulang ke rumah Bima dulu. Mayang bilang mau belajar motret. Papanya setuju.
Bima menunggunya di pintu kelas. Meledeknya dengan usil, "Mayang mau main ke studio Bima? Emang dibolehin sama Bima?"
Mayang memonyongkan bibirnya dengan kesal. "Yaudah kalau nggak boleh."
"Gitu aja marah sih." Bima mengikuti langkah Mayang yang tergesa-gesa. Anak itu berlagak marah. Bima tahu dan ia tertawa. Dia juga bercanda tadi. Anak ini.
Jarak dari rumah ke sekolah memang agak jauh. Bima berhenti di sebuah ruko pinggir jalan.
"Kok berhenti di sini?" Mayang nampak bingung tapi turun juga dari motor.
Bima melepas helmnya. "Iya mau ambil helm. Mayang tunggu sini.
Beberapa saat kemudian Bima keluar dari pintu transparan penuh stiker itu. Rupanya tempat ini menjual aneka pernak-pernik juga suku cadang motor.
Di tangannya Bima menenteng helm mungil berwarna cokelat. Bentuknya lucu, di sampingnya ada stiker personil The Beatles. "Nih," diserahkannya helm itu pada Mayang.
"Buat Mayang?" Mayang terlihat senang sekaligus bingung. Lalu bergegas mencobanya. Pas.
"Mas Bima tahu ukuran Mayang?" Tanyanya sembari mengaitkan pengunci helmnya di bawah dagu.
"Tahu lah. Kepala kamu kan kecil. Ini khusus dibikin. Kamu kan manusia langka."
Mayang mendelik dan mengetuk helm yang dipakai Bima. Bima berpura-pura mengaduh, padahal tidak sakit.
"Makasih ya Mas Bima."
"Hmm," Bima membalas cuek. Mayang mengaitkan pegangan pada pinggang Bima lebih erat.
Mayang tahu Bima juga tersenyum. Terlihat dari kaca spion.
"Bima tahu kalau Mayang suka naik motor waktu itu. Pasti nanti minta naik motor lagi. Makannya Bima beliin helm. Biar aman. Ya, itung-itung buat hadiah ulang tahun Mayang. Kata Mama bulan depan Mayang ulang tahun."
Ulang tahun Mayang tak pernah dirayakan semenjak Bibi Emily tiada. Dulu, saat Papanya kerja, Bibi Emily diam-diam membuat kue dan membeli lilin kecil-kecil. Mayang tahu perihal ulang tahun dari teman-teman sebayanya yang ulang tahun. Ia selalu mendapat undangan. Bibi Emily menemaninya. Ia selalu iri melihat temannya meniup lilin ditemani orangtuanya. Mereka mendapat kado-kado. Balon warna-warni dimana-mana, kudapan manis beraneka ragam, juga gaun cantik.
Bibi Emily mahir membuat kue. Dia akan membuat kue berukuran mini untuk mereka makan berdua. Bibi Emily mengajari Mayang untuk membuat permohonan saat ulang tahun. Mengajarinya untuk merasa bersyukur dan berterima kasih atas nikmat Tuhan yang diterimanya dari tahun ke tahun.
Kue mini itu mereka makan tanpa sisa, menghilangkan jejak dari Papa Mayang. Sisa lilin-lilin itu dibuang setelah dibungkus kertas sebelumnya. Disamarkan bersama dengan sampah-sampah lainnya.
Papa Mayang selalu sedih saat hari itu tiba. Pria itu akan termenung sendirian di kamar. Dan esok harinya kembali bekerja tanpa menengok Mayang yang sedang sarapan di meja makan. Tanpa pernah mengucapkan ulang tahun untuk putrinya.
Bagaimanapun momen kelahiran dan kematian datang bersamaan. Ia kehilangan, sekaligus menerima kehidupan baru setelahnya. Tahun-tahun setelahnya, saat hubungannya dengan Mayang menghangat kembali, ulang tahun tak pernah dirayakan.
Mayang tahu, perayaan bertambah umurnya bersamaan dengan usia kematian Mamanya. Setelah sekian tahun, ia masih merasa kehilangan. Papa bilang Mama suka sekali dengan alam. Mama suka pohon. Mamanya pasti suka tempat ini, pikir Mayang. Ada pohon kapuk di halaman rumah barunya. Ulang tahunnya nanti, bertepatan 15 tahun sepeninggal Mamanya. Dia akan menabur bunga mawar di sekeliling akar-akar pohonnya.
Pun halnya ulang tahun Papanya. Tak ada yang istimewa. Papa bilang tanggal kelahirannya adalah rekayasa. Ia besar di panti asuhan lalu dipungut keluarga berada, dirawat dan disekolahkan. Merekalah yang memberi Papa tanggal lahir. Tahun ketika Papanya menyelesaikan studinya di Nagoya, bertepatan dengan pertemuan dengan Mamanya Mayang. Juga bertepatan dengan kerusuhan Mei 98. Banyak keluarga dari etnis Tionghoa dibantai. Peristiwa mengguncangkan. Papa bilang Mayang bisa cari di buku sejarah atau google. Ia sedang kuliah di Jepang saat peristiwa itu. Seluruh keluarga angkatnya habis tak tersisa. Tempat usaha keluarga mereka habis dibakar. Papa kembali tak punya siapa-siapa. Tapi waktu itu Papa punya Mama. Sampai akhirnya Mama kembali diambil Tuhan saat melahirkannya.
Tak terasa Mayang meneteskan air mata. Papa juga punya luka. Semua orang punya lukanya masing-masing. Masa kecil Papanya juga penuh luka. Papa kehilangan berkali-kali. Kini satu-satunya yang ia takutkan adalah kehilangan Mayang. Mayang tahu Papanya masih sering menangis. Ia pura-pura tidur saat Papa membenarkan selimutnya saat pulang larut dari kantor. Papa merasa bersalah. Teramat menyesal. Papanya begitu takut suatu saat Mayang membencinya.
Bima merasa salah bicara. Ulang tahun adalah hal sensitif. Tanggal ulang tahun Mayang berarti tanggal kematian Ibunya. Bima terlambat menyadarinya beberapa kilometer setelahnya. Dirasakannya punggung kemeja seragamnya basah air mata. Dipegangnya tangan Mayang di pinggangnya dengan tangan kirinya yang tak memegang kemudi motornya. Digenggamnya lembut. Mayang balas menggenggam.
Apapun karya mu bagus thor,,Aku salut sgn perjuangannya Bima 👍🏻👍🏻👍🏻⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️🌺🌺🌺🌺🌺🌹🌹🌹🌹