IG @Amisari
Muchamad Mahadam, seorang Dokter bedah saraf yang tampan nan sukses,
selama 4 tahun Aam biasa dia di panggil, hanya mampu mencintai dalam doa seorang Dokter Ais, kisah cinta yang bermula dari pandangan pertama nya pada gadis manis berlesung pipi itu di sebuah kegiatan amal
Namun cinta nya harus dia tahan dalam diam, karena wanita itu telah di jodohkan dari kecil oleh orang tua nya.
Apa kah Allah mengijabah doa Aam yang meminta Ais jadi jodoh nya ?
Bagaimana cara aam meluluhkan hati ais yang mengalami trauma?
Bagaimana pesantren abi menjadi saksi perjuangan Aam?
semua akan terjawab di sini
happy reading
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amisari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jalan beriringan
..." Mungkin dihadapan mu aku bersembunyi dan malu...
...namun dihadapan-Nya , aku akan dengan jelas meminta kamu sebagai jodoh ku"...
"Assalamualaikum sus," sapa Aam pada perawat di meja admistrasi.
"Walaikumsalam dok, sudah mau pulang ya?" tanya nya sambil tersenyum ramah.
"Ya sus, udah jam pulang ini," Aam melihat jam di pergelangan tangan nya,
"Kalau begitu saya permisi dulu."
"Silahkan dokter, dan hati-hati dijalan ya,"
Aam melangkah santai, laki-laki berwajah tampang itu dengan tinggi 185 cm sudah membuka jas putih nya, jika di lihat dia lebih cocok menjadi seorang model, dengan kulit kuning langsat, mata nya yang berwarna coklat, hidung mancung, alis mata tebal dan bulu mata lentik, tidak heran jika banyak suster atau bahkan dokter wanita selalu mencari perhatian nya.
"Dokter Ais, sudah mau pulang ya ?" terdengar suara ibu tua memanggil seseorang.
Mendengar itu Aam segera menoleh ke arah belakang di mana datangnya suara.
Terlihat gadis yang di panggil ibu tadi keluar dari ruangan " POLIKLINIK SPESIALIS KANDUNGAN DAN GINEKOLOGI "
Gadis berjilbab ungu itu terdengar menjawab
"Ya nih bu, sudah jam pulang, ibu dari mana?"
"Dari kantin dokter, ini membelikan roti untuk anak saya,"
" Dia sedang menyusui jadi sering lapar."
"Wah pantesan banyak beli nya, buat stok ya bu," Gadis itu tersenyum lebar kepada ibu di depan nya.
"Ya dokter kalau tengah malam lapar kan tinggal makan,"
"Kalau begitu saya permisi dulu ya dok."
"Baik bu silahkan," Ais terus melihat ibu itu berjalan sampai memasuki ruangan rawat inap nya, baru lah dia melanjutkan langkah nya.
Aam yang dari tadi terus memperhatikan gerak wanita cantik itu, langsung mengecilkan langkahnya, berharap bisa tersusul oleh Ais, sesekali dia berhenti sejenak agar bisa semakin dekat dengan gadis itu.
Senyum tipisnya tercipta kala melihat gadis manis itu berada sejajar dengan nya, segera dia menyesuaikan langkah nya agar bisa berjalan beriringan.
" Ais,"
" Hari ini kita jalan beriringan dengan jarak yang memisahkan, kamu di kiri tembok dan aku di kanan tembok."
" Tapi...,"
" Kamu tenang saja, aku akan lebih banyak meminta kepada sang maha kuasa agar menghapus jarak ini untuk kita," ucap Aam dalam hati sambil mengulum senyum dan tatapan tetap melihat ke depan.
" Agar aku bisa menggenggam tangan mu erat saat berjalan,"
" Setelah kita di satukan Allah dalam ikatan pernikahan,"
Walau pun bekerja dalam satu rumah sakit yang sama, Aam memang tidak pernah menyapa atau mendekati Ais, dia lebih memilih menjadi seseorang yang tak terlihat, selain karena status Ais yang membuat Aam harus mengatur jarak aman, juga karena agar jantungnya bisa bekerja dengan normal, Aam tidak mengerti mengapa jantung nya selalu mengajaknya disko kalau berada di dekat Ais.
Ketika telah mendekati pintu keluar, Aam sengaja menghentikan langkah kakinya, supaya Ais bisa keluar dahulu dari pintu itu, Mata nya melihat sudah ada mobil yang menunggu Ais.
"Apakah itu tunangannya?"
"Tapi tidak mungkin Ais mau berduaan di dalam mobil bersama orang yang bukan mahram nya," batin Aam.
Pria itu terus memperhatikan mobil berwarna hitam yang telah melaju menjauh.
Lamunannya berhenti ketika dia di kejutkan oleh suara seseorang.
" Assalamu'alaikum... hai bro ngapain disini?
" Nunggu siapa?"
" Mobil kamu mana?" tanya seseorang itu
" Walaikusalam... Ya Allah bal, coba kalau nanya itu satu-satu kan saya jadi bingung mau jawab yang mana," jawab nya pada seseorang yang berdiri di samping nya.
Dia adalah Iqbal, sahabat sejak masa kuliahnya Aam dan sekarang mereka menjadi rekan kerja.
" Oke .. oke.. oke bapak ketua yayasan,"
" Jadi kamu bawa mobil gak? kalau gak biar saya antar bro," jawab Iqbal sambil menahan tawa.
" Bawa kok,"
" Saya bawa mobil, ada itu di parkiran,"
" Yuk ke sana," Aam merangkul bahu sahabat nya sambil menunjuk ke arah parkiran.
" Harus buruan pergi nih," batinnya.
" Bahaya kalau Iqbal nanya lagi, bisa- bisa dia curiga soal Ais,"
" Kalau anak satu itu sampai tahu, bakalan sampai berita nya ke umi dan abi nanti."
.
.
.
Note : Assalamualaikum
Jangan lupa di like ya dan komen nya... Biar aqu nya lebih semangat lagi
♥️♥️♥️♥️♥️
happy reading
tp jgn d kasih sndri" bingung jdnya