NovelToon NovelToon
Secercah Cahaya

Secercah Cahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:709
Nilai: 5
Nama Author: HAMZAHikhsan

Dibuang oleh keluarga sendiri dan bertahan hidup sendirian di kamar kos sempit adalah kenyataan pahit Danu. Fisiknya yang tambun membuatnya menjadi sasaran bullying parah sepanjang SD hingga SMP. Bagi Danu, dia ditakdirkan untuk tidak punya teman dan selalu tak kasatmata.

Namun, hari pertama masuk SMA mendadak jungkir balik.
Satu kelas dibuat geger saat Rio—sosok murid baru yang sangat tampan, karismatik, dan mendadak populer se-sekolah—justru berjalan ke pojokan. Demi menghindari sorotan dan perhatian orang-orang, Rio sengaja memilih untuk duduk di sebelah Danu!

Danu jelas dibuat jantungan dan melongo setengah mati. Kenapa cowok se-populer Rio malah milih duduk bersanding dengan anak yang paling dihindari satu sekolah? Akankah ini jadi awal dari hadirnya "secercah cahaya" di hidup Danu, atau justru membawa masalah baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: Aku? Temanmu?

Waktu berlalu sangat cepat.

​Bel istirahat baru saja berbunyi, membuat Rio mendadak bersemangat.

​"Mantap! Yuk, kita ke kantin!"

​"Eh—sekarang?" jawab Danu dengan nada lemas.

​"Iya, yuk!"

​"Ehh, tunggu kalian berdua. Aku boleh ikut, gak?" tanya seorang gadis yang tiba-tiba muncul di belakang mereka.

​"Hmm, lu siapa?" tanya Rio.

​"Aku Zahra Clarissa, panggil aja Zahra."

​"Aku Danu."

​"Gue Rio, salken ya."

​"Iya. Omong-omong, kalian mau ke mana?"

​"Kita mau ke kantin," jawab Danu.

​"Ikut, dong!"

​"Oke."

​Mereka bertiga mulai berjalan bersama menelusuri koridor yang dipenuhi berbagai aktivitas siswa—mulai dari canda tawa, saling membagikan tugas, hingga kejahilan-kejahilan kecil.

​Di perjalanan menuju kantin itu, hati Danu rasanya meletupkan kebahagiaan untuk pertama kalinya. Ternyata, masih ada orang yang mau berteman dengannya, meskipun ia memiliki tubuh yang tambun.

​Begitu sampai di kantin, Danu sempat bingung memilih jajanan. Tepat saat ia kebingungan, Rio mendadak menyodorkan sebuah camilan ke hadapannya.

​"Nih, coba ini, Danu. Pasti lu suka."

​"Oke... tapi keliatannya permen ini asem."

​"Gak asem, kok!"

​Danu merobek bungkus camilan itu dan mulai memasukkannya ke dalam mulut. Namun, begitu permen menyentuh lidahnya, wajah Danu langsung mengkerut menahan rasa asam yang luar biasa. Ia pun menatap Rio dengan kejengkolan kecil.

​"Apa sih, ini asem!"

​"Hahaha! Gitu, dong, jangan murung terus!" tawa Rio pecah.

​Danu menghela napas, lalu tersenyum tipis. "Hihi, makasih ya, Rio."

​"Makasih kenapa?"

​"Karena udah peduli sama aku."

​"Ya gak apa-apa, Bro. Kita kan teman!"

​"Aku?... Temanmu?"

​"Ya, terus apa lagi?"

​Air mata Danu mendadak menetes begitu saja. Kata "teman" itu terasa begitu asing sekaligus membahagiakan, mengingat rentetan pengalaman pahit bullying yang harus ia panggung sepanjang masa SD hingga SMP.

​"Ehh, kenapa kamu nangis, Danu?" tanya Zahra dengan raut khawatir.

​"Ahh, maaf... maaf..." Danu terburu-buru mengusap air matanya, tetapi lelehan hangat itu seolah enggan berhenti.

​Melihat temannya yang sedang emosional, Zahra berinisiatif mengeluarkan sesuatu dari sakunya dan menyodorkannya pada Danu.

​"Nih, buat usap air mata sama ingusmu."

​"Makasih... Nanti aku cuci pas pulang sekolah."

​"Gak apa-apa, gak usah dikembaliin."

​"Serius?"

​"Iya."

Angin saat itu sangat sejuk, membawa perasaan hangat sekaligus senang. Angin itu seolah-olah membawa dorongan untuk lebih percaya diri dari yang seharusnya.

​Selesai makan, mereka membawa sampah ke tempat sampah. Begitu selesai membuang sampah, mereka mulai berjalan ke kelas untuk memulai pelajaran ketiga.

​Di sepanjang koridor itu, mereka mengobrol dengan banyak kelucuan dan kejahilan yang sesekali membuat Danu bersemangat.

​Saat sampai di kelas, guru datang dengan membawa tugas Bahasa Indonesia. Para murid diminta untuk membuat cerita yang menyayat hati.

​Begitu guru memberitahukan pembagian kelompoknya, kini mereka bertiga—Zahra, Rio, dan Danu—mulai merencanakan judul ceritanya.

​"Hmm, enaknya cerita apa, ya?" tanya Rio.

​"Danu, lu punya ide gak?" menyikut Rio pada Danu.

​"Ehh, aku... gak punya, maaf."

​"Hmm, kalau gitu gimana kalau judulnya 'Perubahan Itu Ada'?" usul Zahra.

​"Wah, bagus tuh! Terus ceritanya gimana?" tanya Rio.

​"Mengisahkan seorang pria tambun yang depresi karena kehidupannya tidak bahagia seperti yang lain. Sampai akhirnya ada seseorang yang mengulurkan tangan padanya dan berkata, 'Ayo bangkit!'"

​Zahra melanjutkan penjelasannya. "'Bangkit apa? Aku gak bisa lakukan apa-apa,' jawabnya. Terus dibalas lagi, 'Makanya bangkit! Dengan bangkit, kamu bisa lakukan apa pun tanpa tuntutan.' Berkat perkataan itu, dia akhirnya bangkit dan menebas musuh-musuh besar yang dihadapinya. Meski hanya dijadikan tank, dia senang karena masih ada yang memperlakukan dia seperti manusia."

​"Wah, itu sedih sih. Yuk, kita bikin!" seru Rio.

​"Yuk," jawab Danu dan Zahra serempak.

​Selesai membuat naskah, mereka pun mulai berakting di depan guru setelah giliran kelompok mereka tiba.

​Akting pun berjalan dengan narator Zahra yang sedang menarasikan flashback tokoh utamanya. Tokoh itu tidak bahagia karena dunia terlalu keras padanya, apalagi dengan tubuh tambunnya itu. Namun saat tokoh utama itu duduk dan menekuk lututnya, ada seseorang yang mengulurkan tangan padanya.

​"Ayo bangkit!" Rio mengulurkan tangannya.

​"Kenapa? Aku tidak berguna. Aku cuma berbadan gemuk dan tidak bisa lakukan apa-apa," jawab Danu lemas sembari menundukkan kepalanya.

​"Makanya bangkit! Dengan bangkit, kamu bisa lakukan apa pun tanpa tuntutan!"

​"Benarkah?"

​"Iya!"

​Tokoh utama itu bangkit dan menemukan cahayanya sekali lagi. Dengan begitu, dunianya yang kini suram perlahan terlihat berwarna kembali.

​"Wah, keren banget!" ucap Pak Guru kagum.

​PROK! PROK! PROK!

​"Bapak beri nilai 100!"

​"100?!" kaget mereka serempak.

​"100, Guys!" seru Rio bersemangat.

​"Iya, hahaha!" jawab Danu dengan ekspresi senyum yang begitu lebar.

​Setelah itu, Danu merangkul mereka berdua sembari tersenyum bahagia, dengan air mata yang kembali mengalir di pipinya.

Selesai mengerjakan tugas Bahasa Indonesia, beberapa senior ekstrakurikuler datang membawa selembar demi selembar kertas pengumuman.

​"Hai, Adik-Adik! Sebelum kalian istirahat, ada selembaran ekstrakurikuler, nih. Siapa tahu ada yang berminat," ucap salah satu senior.

​Para pengurus ekstrakurikuler itu mulai menyusuri setiap baris tempat duduk sembari membagikan selembaran tersebut.

​"Terima kasih atas waktunya, kami pamit dulu ya."

​Melihat para senior itu pergi, Danu menatap selembaran di tangannya dari jarak dekat.

​[DAFTAR EKSTRAKURIKULER SMA NEGERI GARUDA]

​Olahraga: Basket, Futsal, Badminton, Karate

​Seni & Kreatif: Seni Rupa/Gambar, Musik, Drama/Teater

​Akademik & Sains: Karya Ilmiah Remaja (KIR), Klub Bahasa (Jepang/Anime)

​Keorganisasian: Paskibra, Pramuka, PMR

​"Hmm? Lu tertarik?" tanya Rio.

​"Emm... sebenarnya enggak. Kalau kamu, Rio?"

​"Ya pastinya olahraga! Buat kesehatan pastinya," jawab Rio mantap.

​"Ohh..."

​"Lu gak ikut? Buatlah keinginanmu sendiri," sahut Rio lagi memberi dorongan.

​"Hmm, keinginan ya... Yaudah, aku masuk Seni & Kreatif."

​"Wah, mantap! Ini juga bisa melatih tulisan lu," puji Rio.

​"Iya," angguk Danu.

​Tepat saat Danu mengakhiri obrolan itu, terdengar suara notifikasi dari ponselnya. Sebuah pesan pengumuman masuk:

​[PENGUMUMAN KOMPETISI PROPOSAL KLUB BARU]

​Diberitahukan kepada seluruh siswa-siswi SMA Negeri Garuda.

​Pihak sekolah memiliki satu ruangan kosong yang tidak terpakai di area koridor atas. Daripada terbengkalai, sekolah memutuskan untuk membuka Kompetisi Pembuatan Klub Baru.

​Siapa pun siswa yang ingin membuat klub sendiri dibebaskan untuk mengajukan Proposal Kegiatan. Jika proposal kalian disetujui oleh tim penilai dan Kepala Sekolah, maka ruangan tersebut resmi menjadi milik klub kalian!

​Kompetisi ini berlangsung selama 7 hari. Pemenang akan diumumkan secara resmi di podium lapangan sekolah.

​"Widih, ada kompetisi! Kita ikutan, yuk!" seru Rio bersemangat.

​"Ehh, ikutan?!" panik Danu.

​"Iya, seru tahu!"

​"Oke..."

Danu hanya bisa menghela napas pasrah melihat cengiran bersemangat dari Rio, sementara Zahra di sebelah mereka menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum kecil. Ada kepanikan yang mendadak meletup di dada Danu, tapi di saat yang sama, ada juga letupan rasa hangat yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama berada dalam bayang-bayang trauma, Danu tidak lagi merasa takut menyambut hari esok. Karena kini, ia tahu ia tak lagi sendirian melangkah.

1
Tio Buki
Semangat ya
Tio Buki
Hadiah untukmu thor🙏🙏
Tio Buki
Semangat thor
Tio Buki
Baru satu orang ya
Tio Buki
Cari dimana
Tio Buki
Ngak
Tio Buki
Kan karena kan
Tio Buki
Bernafas lega
Tio Buki
Siapa
Tio Buki
Yang sabar
Tio Buki
Merasa apa ya
Tio Buki
Kaget aku
Tio Buki
Pukul ya
Tio Buki
Mana aku tau
Tio Buki
Cermin ya
Tio Buki
Bayangan ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!