NovelToon NovelToon
KUTUKAN KUYANG

KUTUKAN KUYANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Kutukan / Tumbal
Popularitas:12.3k
Nilai: 5
Nama Author: Siti H

Teror yang mengguncang Desa Keramat sudah melahirkan kondisi yang mencekam bagi warga.

Dimana ada banyak anak-anak yang menghilang, wanita hamil, dan bahkan orang dewasa tak luput dari serangan tersebut.

Siapakah penerornya?

Ikuti kisah selanjutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dayang Sari

Mantra telah selesai di baca. Tetapi wajah Damang tidak tenang. Justru semakin keruh dan tegang. Ia menyiratkan kecemasan akan sesuatu hal yang lebih besar, dan juga bahaya.

Di dalam hatinya dia bergumam. "Ini bukan bala. Ini adalah bau Kuyang. Bau darah dan bayi yang sedang mengincar tumbal,"

Suaranya terdengar begetar, tetapi ia mencoba untuk tenang.

Keringat dingin mengalir dari pelipisnya, dan ia merasa ada kekuatan yang cukup besar datang menderu.

Saat delapan puluh tahun yang lalu, ia masih sangat kecil saat terakhir kali melihat tanda ini. Neneknya yang bercerita. Sekarang tanda itu sudah balik lagi. Desa kini dalam ancaman dan bahaya yang mengintai.

Tetapi ia tidak berani mengatakannya. Karena belum dapat memastikannya.

Sementara itu, di ujung kampung, suasana sangar berbeda.

Sebuah mesin perahu motor bersandar. Seorang gadis turun membawa koper. Rambutnya panjang diikat. Wajahnya sangat cantik, dengan mata sedikit sipit, dan kulitnya putih bersih. Ia memakai kemeja putih lengan panjang dan juga celana yang terbuat dari kain katun.

Di lehernya melingkar syal tenun Dayak warna merah marun. Motifnya burung enggang.

Meski cuaca panas dan lembab, syal itu tidak dilepas sama sekali, ia sepertinya sangat terikat dengan syal tersebut.

Gadis itu adalah Dayang Sari. Usianya dua puluh empat tahun. Ia merupakan cucu Damang Jaya.

Dayang Sari baru saja pulang dari kota Banjarmasin setelah empat tahun menempuh pendidikan kuliah jurusan Pendidikan Guru TK.

Dayang adalah seorang gadis yang baik dan juga menyayangi anak-anak. Sebab itu ia memilih jurusan yang berkaitan dengan anak-anak.

Di desanya masih sangat jarang yang memilih pekerjaan sebagai seorang guru sebab gaji yang sangat minim.

Sementara itu, dari arah balai desa, Damang Jaya melangkah menuju rumah panggung berukuran besar yang sudah lama kosong, sebab itu milik puteranya yang sudah meninggal, dan di wariskan kepada cucunya.

Ia menapaki anak tangga, dan menghampiri gadis cantik tersebut.

"Akhirnya pulang juga, Cu." Damang yang mendapat kabar langsung menyusul ke sini. Dia memeluk cucunya erat. Tubuh Dayang terlihat sangat kurus, tetapi cukup sangat hangat.

"Kangen kampung, Tok." Dayang tersenyum. Tapi senyumnya terlihat kaku. Tampaknya ia kelelahan selama di dalam perjalanan.

Dayang Sari bahkan tidak melihat keramaian di balai desa yang tak jauh dari rumahnya. Ia juga tidak mendengar tangisan Ibu Anto yang meraung dan meratapi kepergian anaknya. Semua tersamarkan oleh rasa lelah yang menderanya.

Perlahan Dayang memejamkan kedua matanya. Jemari tangannya yang memegang koper mencengkram dengan kuat. Ia meremas syalnya dengan erat-erat. Ada rasa panas yang menjalar, dan ia memilih untuk tenang.

"Maaf, Atok. Ulun capek di jalan. Mau istirahat dulu ya." ia berpamitan. Rasanya ia ingin segera masuk ke dalam kamarnya saat ini juga.

"Baiklah, Cu. Masuk dan beristirahatlah." ucap Damang.

Dayang menganggukkan kepalanya, lalu melangkah masuk ke dalam kamar. Begitu pintu kamar ditutup, Dayang langsung duduk di lantai kayu ulin. Napasnya masih tersengal.

Jemari tangannya meraba syalnya. Ada terasa panas di sana, dan membut wajah Dayang memucat. Ia merasakan tubuhnya bergetar.

Dayang menangis tanpa suara. "Jangan... Tolong aku tidak mau..." gumamnya dalam hati.

Sedangkan di luar sana, bulan mulai naik. Purnama terlihat penuh, dan cahayanya yang terang benderang

Dayang meringkukan tubuhnya. Ia tampak menggigil, menahan semua penderitaan yang ia alami.

Damang Jaya turun dari rumah cucunya. Ia berdiri lama di bawah , dan di halaman yang dipenuhi rerumputan basah karena sudah lama tidak di bersihkan.

Damang Jaya memejamkan kedua matanya. Hatinya merasakan degupan yang cukup kuat. Aroma bencana mengusik hatinya.

"Apakah hanya firasatku saja?" gumamnya dengan nada pelan. Ia menoleh ke arah pintu rumah yang sudah tertutup. Lalu menghela nafasnya dengan berat.

Dengan langkah ragu, ia kembali ke balai desa. Sebab tadi beralasan dengan warga ingin buang air, tetapi kenyataannya ia sedang menemui cucunya yang baru saja sampai.

Langkah Damang Jaya menembus kegelapan malam, dan cukup cepat. Sangat tidak normal untuk orang seusianya. Tetapi ia begitu gesit, dan dalam sekejap saja, menghilang ditelan gelapnya malam.

Sementara itu, di tempat yang berbeda. Arkan Ananta menutup laptopnya dengan kasar.

Usianya sudah memasuki dua puluh tujuh tahun. Ia adalah seorang jurnalis investigasi dari Jakarta. Dikirim redaksi karena tiga bulan terakhir ada kasus tujuh anak hilang di desa-desa pinggiran sungai Mahakam. Polisi mengatakan jika itu adalah kasus tenggelam atau dimakan buaya. Tetapi tidak ada bukti yang nyata.

Awalnya Arkan bersikap skeptis. "Paling juga perdagangan anak," ucapnya ke editor tiga bulan yang lau saat berada di ruang redaksi.

Tetapi setelah mengobrol dengan warga sore tadi, dan lihat mata Pak Damang yang ketakutan... dia mulai ragu. Dan pendapatnya mulai goyah.

Ia beranjak berdiri, membuka jendela kamarnya dari rumah panggung. Tepian sungai Mahakam gelap gulita. Terlihat lampu-lampu dari rumah warga di seberang sungai yang mirip seperti kunang-kunang.

Suasana sangat sepi, hanya suara jangkrik dan sesekali suara mesin perahu yang melintas lalu lalang.

Tiba-tiba saja.

"Ki... kikikik..."

Suara tawa terdengar menyeramkan. Dan itu suara tawa perempuan. Dari arah atap seng rumah singgah yang sedang ia tempati.

Arkan langsung mengambil senter dan bergegas untuk keluar. ia mengarahkan lampu senternya, mencari sumber suara, tetapi tampak kosong. Hanya atap, tiang, dan dan juga bulan purnama yang sudah penuh.

"Siapa di sana!" teriaknya.

Tidak ada jawaban. Sahutan jangkrik yang terus berdendang.

Akan tetapi, saat ia masuk lagi, tubuhnya membeku. Di kaca jendela bagian luar, ada bekas empat jari tangan tangan yang basah oleh embun.

Sedangkan rumah singgah ini merupakan rumah panggung, dan tingginya tiga meter dari tanah.

Arkan mengusap wajahnya dengan kasar. "Oke... ini bukan penculikan biasa."

Ia duduk lagi. Kemudian membuka catatan. Menulis dengan teliti. Korban ketiga. Anak laki-laki berusi tujuh tahun. Hilang di tepian sungai saat maghrib. Saksi tiga orang anak. Ada suara tawa perempuan.

Tangannya berhenti menulis. Menatap lama pada catatan tangannya.

Sementara itu, tanpa mereka sadari, tiga rumah darinya...

Di kamar Dayang, lampu kamar sudah padam.

Syal tenun di leher yang selama ini tidak pernah si lepaskan sedetik pun, kini terjatuh ke lantai dengan sendirinya.

Saat bersamaan. Suara lolongan anjing kembali bersahutan dan panjang.

Ayam-ayam terdengar ribut, dan dan ternak lainnya tampak gaduh.

****

"Anto, Bah, Anto...." suara Aminah memecah keheningan malam. Ia masih belum dapat tidur, dan meratapi kepergian puteranya.

Andai saja sore tadi ia mengurung puteranya di rumah, maka kejadian ini tidak akan terjadi.

"Ulun tidak terima, Bah.. Abah harus cari jasad Anto besok. Anak kita harus ketemu," ucapnya dengan nada bergetar.

"Iya, Uma... Tenanglah. Kita berdoa, semoga Anto segera timbul besok," Salim mencoba menenangkan sang istri, meskipun hatinya sangat gundah.

Suara tangisan Aminah tersamar oleh angin malam yang bertiup dengan kencang.

1
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
lha jadi ini knp coba
siapa bila ai itu
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
lha iki piye ya
serba salah kan
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
lha atok ini siapa knp melarang dayang sari keluar rumah
apa tau KLO daymg kuyang tersebut
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
jadi karna harus cantik dia jadi kuyang gitu hadeh apa sih
V3
Apakah Arkan bisa berkumpul dengan ibunya lg ❓❓
V3
semoga Sari TDK melanggar perintah dr Atok Guro
V3
ibu nya Arkan sdh punya firasat ttg anaknya ,,, apakah Doa sang Ibu bisa memutuskan perjanjian Arkan dg Penjaga Batoq Tenevang ❓🤔
tati st🌼🌼
kabulkan doa ibunya arka
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
jadi kuyang siapa ini KK
kok kek nya ada indukan juga
apa dayang sari hanya korban apa gmn
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ : ogah KK soalnya g ada tulang sumsum sapi di depan q jadi apa yg mau di sesapi
masa iya mau nyusu sapi KK Siti 🤣🤣🤣weeekkk 🤣🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️
total 2 replies
neni nuraeni
semoga kamu bisa kmbli pada ibumu Arkan kasian dia menunggumu,,, sekalian bawa calon mantu untuk ibumu biar dia ada teman hidup selain drimu,,, lnjuttt
neni nuraeni: 💪💪💪 kak
total 2 replies
FiaNasa
tak bisakah Arkan Kembali ke pangkuan ibunya...bukankah doa ibu menembus langit
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨: Aamiin... semoga
total 1 replies
V3
Yaa Allah sungguh benar-benar mulia perjuangan Mbah Giyo ,,, rela mengorbankan nyawa nya Demi menyelamatkan yg lain nya 😔😔😔
V3
ancaman sepenuhnya kembali ke ......
kemana kak ❓🤔
V3
Apakah Arkan bisa menolong mereka semuanya ❓🤔
V3
siapa sih Dukun Tua Jahat itu ❓🤔
V3
mati jg si pilot 😔🤦
V3
smg Arkan dpt membantu mereka
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
lha kuyang nya bisa ya jadi menyerupai seseorang gitu weeeehh ati2
lho
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ : waduh kudu hati2 ini bisa2 jelma jd siapa saja makan korban lagi
total 2 replies
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
welah dalah terus piye jal
spo kui kuyang e SMG cpet ketemu deh
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
apakah dayang sari atau kuyang yg lebih tua vgitu
ahhh e Tah lah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!