Jeviza tidak menyangka, persetujuannya mengikuti Keandra-sang mantan kekasih berkunjung ke rumah eyangnya di suatu kota membuatnya semakin terjebak lebih serius dan intim dengan Keandra.
Setelah dipertemukan dan tinggal satu atap dengan mantan kekasih, sekarang justru lebih serius, nama Jeviza dan Keandra tercatat dalam buku pernikahan.
Sama-sama masih memiliki rasa, tetapi gengsi dan ego masih saja membumbui rumah tangga dadakan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riria Raffasya Alfharizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menginap
Jeviza tidak menyangka, eyang begitu hangat menyambut kedatangannya. Membuat rasa sungkan Jeviza mulai mengikis seiring dengan kedekatan mereka.
Sekarang, Jeviza sedang naik delman bersama dengan eyang untuk berkeliling desa. Dan karena eyang mengajaknya tadi, tentu saja Jeviza tidak mungkin menolak, itu juga salah satu yang ingin Jeviza lakukan, melihat ke sekeliling desa.
"Gimana? Masih satu kota tapi beda kan udaranya?"
Jeviza mengangguk membenarkan. Memang benar udara di tempat eyang lebih sejuk dari tempat tinggalnya di rumah Arlo, mungkin karena masih banyak pohon liar dan juga pemukiman yang tidak begitu padat.
"Adem di sini eyang," ujar Jeviza jujur.
Eyang mengangguk, lalu menyuruh sang kusir untuk berhenti di depan rumah dengan pagar bambu di depannya.
"Berhenti di depan sebentar pak," ujar eyang.
Saat eyang mulai turun, Jeviza lebih dulu turun dan membantu beliau, reflek saja melakukannya tanpa diminta terlebih dahulu. Lalu eyang menarik tangan Jeviza untuk ikut beliau ke rumah dengan cat coklat.
"Sebentar ya pak," ujar eyang diangguki bapak kusir.
Jeviza menurut saja, mau bertanya juga masih sungkan, ia lebih memilih mengikuti eyang yang kebetulan masih menggandeng tangannya.
"Ini rumah temen eyang," ujar beliau dibalas Jeviza dengan anggukan kepala.
Rumah itu lebih sederhana dan tidak seluas rumah eyang, tetapi tetap saja halamannya luas dan dipenuhi dengan pohon buah-buahan. Lebih asri karena pagarnya saja masih menggunakan bambu.
"Mau ikut masuk tidak?" tanya eyang membuat Jeviza menggeleng.
"Saya tunggu di sini saja eyang," tolak Jeviza sopan.
Jika Jeviza ikut masuk ia takut akan semakin lama di rumah itu, mengingat sekarang saja sudah pukul 4 sore lebih. Rencananya ia dan Keandra akan pulang dipukul 6 petang nanti, setelah maghrib.
Benar saja, eyang kembali muncul dengan seorang wanita yang sebaya dengan beliau. Lalu pamit untuk pergi. Namun sebelum meninggalkan rumah itu, teman eyang itu sempat melirik ke arah Jeviza, memberi anggukan dan seulas senyum. Begitu juga dengan Jeviza yang melakukan hal sama seperti teman eyang itu.
"Ini namanya jenang, mamanya Kean itu sangat suka sekali dulu sebelum diboyong ke jakarta sama papanya Kean," beritahu beliau.
"Kamu juga tinggal di rumah Puspa kan?" tanya beliau diangguki Jeviza.
"Iya, eyang."
"Nanti setelah pulang kasih ini untuk Puspa ya? Dia suka sekali makan jenang buatan teman eyang," beritahu eyang kembali diangguki Jeviza.
"Kamu pengen apa? Mumpung masih di sini?" tanya eyang membuat Jeviza menggeleng.
"Enggak eyang, saya sudah kenyang makan di rumah eyang tadi, maaf malah ngrepoti eyang sama mbok Nah."
"Enggak ngrepoti, eyang malah seneng kamu ikut Kean ke sini, dia itu paling susah diajak ke sini, mentoknya ya di rumah Arlo, mulai sibuk sama pekerjaannya." Jeviza mengangguk membenarkan.
Keandra memang selalu terlihat sibuk, bahkan tadi ketika ditinggal oleh Jeviza dan eyang untuk berkeliling menggunakan delman saja, Keandra sudah mulai membuka laptopnya, perjalanan ke rumah eyang tidak serta merta membuatnya terbebas dari pekerjaan.
Sampai di rumah eyang sudah hampir setengah 6. Jeviza menatap halaman luas tersebut yang kini sudah dipenuhi oleh beberapa motor dan juga terdapat satu mobil tambahan selain mobil Arlo yang Keandra bawa tadi.
"Sudah pada datang rupanya," ujar eyang seketika membuat Jeviza menoleh pada eyang.
Ingin bertanya, tetapi tidak enak, Jeviza cukup sadar diri meski eyang sebaik itu dengannya.
Tidak lama mbok Nah datang menghampiri, mengambil belanjaan di tangan eyang dan Jeviza.
Selain berkeliling, beliau tadi juga sempat mampir ke rumah makan yang mereka lewati di perjalanan.
"Ayo, nggak usah malu, yang datang itu adik eyang dan anak-anaknya."
Jeviza mengangguk, meski dalam hatinya sudah mengumpati Keandra. Tidak ada obrolan tentang kedatangan keluarga besarnya di Jogja.
Saat tiba di ruang tamu, Jeviza tertegun, sudah banyak sekali orang di sana yang sedang mengobrol, Jeviza mengikuti langkah eyang. Ia seperti anak itik yang takut ditinggal ibunya.
Dari semua orang yang berada di sana, tak ada sosok yang kini Jeviza cari.
Kak Kean dimana sih?
Batin Jeviza mencari keberadaan Keandra. Meski terkadang ucapan Kean terdengar ambigu, tetap saja Jeviza butuh Kean sekarang.
Sementara senyumnya tetap tersungging disaat eyang memperkenalkan satu persatu keluargnya yang ternyata juga masih tinggal di sekitaran kampung itu.
"Eyang, saya mau ke belakang dulu," pamit Jeviza diangguki beliau.
"Sudah tahu letak toiletnya kan?" tanya beliau diangguki Jeviza.
Padahal Jeviza lupa dimana letak kamar mandi yang tadi sempat ia gunakan sekali. Berada di sana membuat Jeviza sangat hati-hati sekali.
Ia tidak benar-benar ingin ke kamar mandi, tetapi ia ingin mencari keberadaan Keandra. Setelah jauh dari orang-orang, Jeviza mengambil benda pipih di sakunya. Ia mencoba menghubungi Keandra untuk menanyakan keberadaannya.
"Kak Kean dimana?" tanyanya dengan nada sedikit kesal.
Udah pulang?
Bukan jawaban yang Jeviza dapatkan, tetapi pertanyaan yang membuatnya berdecak sebal.
"Udah dari tadi, gue malu tahu, banyak banget keluarga eyang yang datang."
Terdengar tawa ringan dari sebrang telepon, sebelum akhirnya suara Keandra kembali terdengar.
Mau ke sini?
Gue di gazebo belakang
Tanpa menunggu lebih lama lagi. Jeviza langsung mematikan sambungan telepon, ia kembali ke ruang tamu dan pamit pada eyang untuk menghampiri Keandra.
Jarak ruang tamu ke tempat Keandra cukup jauh. Ia berhenti sebentar saat melihat cahaya dari layar laptop yang berada di sebuah gazebo taman belakang. Lampu-lampu mulai menyala di sekitar, tetapi masih tetap memberi kesan cahaya remang.
Hanya ada laptop yang menyala, tanpa adanya sosok yang dicarinya.
"Dimana?" gumam Jeviza mencari keberadaan Keandra.
"Di sini."
Seketika tubuh Jeviza merinding mendapati napas hangat Keandra di belakangnya. Ia menoleh dan mendapati wajah Keandra begitu dekat dengan wajahnya.
"Kayaknya, kita nggak bisa pulang malam ini," ujar Keandra membawa Jeviza menuju gazebo.
Kita?
Kata itu rasanya menggelitik relung jiwa Jeviza.
"Gue nggak bawa baju ganti," ujar Jeviza menolak dengan alasan.
"Ada bajunya eyang," balas Keandra seketika membuat Jeviza mendelik.
Keandra terkekeh, lalu menyerahkan minuman dengan warna hijau di tangannya.
"Nyogok biar gue mau nginep?" tanya Jeviza tetap menerima minuman kesukaannya.
"Anggap aja gitu," ujar Keandra mematikan laptopnya, lalu menutupnya sebelum menaruh di samping mereka.
Jeviza menikmati minuman tersebut, entah Keandra mendapatkannya dari mana, yang jelas itu seperti obat ditengah rasa gugupnya sedari tadi, lebih menangkan dan juga melegakan.
"Je," lirih Keandra mengamati gerak-gerik Jeviza sedari tadi.
"Jangan maksa kak, gue takut kena omel kak Puspa," ujarnya langsung membuat Keandra terkekeh.
"Karena...itu?" tanya Keandra membuat Jeviza langsung beralih menatap Keandra.
Ah, sial
Kenapa angin di pedesaan membuat sosok Keandra terlihat lebih tampan sih?
Apa karena udara yang begitu sejuk membuat aura Keandra lebih terpancar?
"Liat," ujar Keandra memperlihatkan layar ponselnya.
Kening Jeviza mengernyit mendapati pesan yang Puspa kirimkan.
Ke, nginep aja di rumah eyang
Gue malah nggak tenang kalau lo maksa buat nyetir lagi
Titip Jevi ya? Sorry kalau bikin lo repot
Jeviza mendesah pelan. Sudah tidak ada alasan lagi untuknya menolak. Singa betina yang paling ditakutinya di rumah justru yang menyuruh untuk menginap.
"Serius, Je. Gue lumayan capek kalau harus nyetir lagi."
"Terus?" tanya Jeviza dengan wajah frustasi karena menyerah.
Bukannya kasihan melihat wajah memelas Jeviza, Keandra justru merasa puas, lebih gilanya lagi terbesit pikiran liar tentangnya dan Jeviza. Apa lagi mereka berada di tempat yang sangat mendukung sekali perbuatan bejat yang bisa saja Keandra lakukan.
"Kita, pulang besok," ujarnya mengalihkan tatapannya.
Tangannya terkepal bersama dengan saliva yang mengumpul di tenggorokan.
pake nanya mau ngapain
MANDI sonoo🤣🤣🤣
bahaya ikii
calon " ulet bulu nih pasti 🤣