Xiao Lin seorang pemuda murid pelayan di sebuah sekte di bagian timur kekaisaran Angin Surgawi. terkenal sebagai sampah dan selalu di bully oleh murid lain.
Hingga suatu hari saat ia melihat teman nya hampir terbunuh. tiba tiba ia kalap mata dan membunuh murid luar tersebut. namun ia tak menyadari hal apa yang sudah terjadi.
nasib apakah yang di tanggung Xiao Lin di sekte setelah pembunuhan terjadi? mampu kah ia keluar dari masalah itu?
saksikan perjalan hidup Xiao Lin untuk menjadi kuat. membantai setiap musuh yang menghalangi jalan kultivasi nya. hanya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tawaki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Batas Kesabaran
Matahari sudah condong ke barat saat Xiao Lin berjalan terseok-seok kembali ke area barak pelayan. Tubuhnya terasa remuk. Selain memar di perut akibat tendangan Wang Hu, jemari tangan kanannya membiru dan membengkak. Karena tidak bisa mengantarkan kayu bakar dalam jumlah yang cukup ke dapur luar, Pengawas Liu benar-benar melampiaskan amarahnya. Tiga cambukan rotan mendarat di punggung Xiao Lin, robekannya menyisakan perih yang membakar setiap kali dia menghela napas.
"Xiao Lin! Ya ampun, apa yang terjadi padamu?!"
Suara cemas itu datang dari seorang pemuda sebaya yang langsung berlari menghampiri Xiao Lin. Namanya Ah Gou. Dia adalah satu-satunya sahabat sejati Xiao Lin di tempat terkutuk ini.
Ah Gou memiliki tubuh yang sedikit kurus, tetapi matanya selalu bersinar ramah. Mereka berdua tumbuh bersama sebagai murid pelayan, saling berbagi jatah roti keras dan saling mengobati luka setelah seharian ditindas.
"Aku tidak apa-apa, Ah Gou. Hanya sedikit kurang hati-hati saat membawa kayu tadi," jawab Xiao Lin dengan senyum tulus yang dipaksakan.
Dia tidak ingin membuat sahabatnya itu khawatir.
"Kurang hati-hati bagaimana?! Punggungmu berdarah, Xiao Lin! Dan tanganmu..." Ah Gou menahan napas saat melihat jemari Xiao Lin yang bengkak. Matanya memerah menahan amarah yang campur aduk dengan kesedihan.
"Ini pasti ulah anjing-anjing dari halaman luar itu lagi, kan?"
"Kenapa mereka selalu memperlakukan kita seperti binatang?!"
"Sudahlah, Ah Gou. Jangan keras-keras. Jika pengawas mendengar, kita bisa mendapat masalah lebih besar," bisik Xiao Lin lembut sambil menepuk pundak Ah Gou dengan tangan kirinya yang sehat.
"Yang penting kita masih hidup. Ayo masuk, aku punya sedikit sisa roti dari kemarin."
Di dalam kamar barak yang sempit dan berbau lembap, Ah Gou dengan telaten membersihkan luka di punggung Xiao Lin menggunakan air dingin dan ramuan tanaman obat liar yang dia petik di hutan. Meskipun rasanya sangat perih hingga membuat tubuh Xiao Lin gemetar, pemuda polos itu tidak mengeluh sedikit pun. Dia justru terus tersenyum, menghibur Ah Gou yang matanya berkaca-kaca.
"Xiao Lin, kau terlalu baik."
"Dunia ini tidak ramah pada orang baik," gumam Ah Gou pelan saat membalut punggung Xiao Lin dengan kain usang.
"Guru tua yang dulu mengajari kita membaca pernah berkata, kebaikan adalah fondasi jiwa. Jika kita membalas kejahatan dengan kejahatan, apa bedanya kita dengan mereka?" jawab Xiao Lin dengan pandangan jernih penuh keyakinan.
"Aku hanya perlu berlatih lebih keras. Suatu hari, saat aku kuat, aku akan melindungi kita semua tanpa harus menyakiti orang lain jika tidak terpaksa."
Ah Gou hanya bisa menghela napas panjang. Dia mengagumi tekad baja dan kemurnian hati Xiao Lin, tetapi dia juga takut sifat polos sahabatnya itu suatu hari nanti akan membunuhnya.
Keesokan harinya, takdir buruk yang ditakutkan itu datang lebih cepat dari perkiraan.
Sore itu, Xiao Lin baru saja selesai membersihkan halaman aula utama sekte ketika dia mendengar suara keributan di dekat gerbang sektor pelayan. Firasat buruk langsung menyergap dadanya. Dengan langkah tergesa-gesa, dia berlari menuju sumber suara.
Di sana, di tengah lapangan tanah yang berdebu, Ah Gou sudah terkapar di tanah. Mulutnya mengeluarkan darah, dan jubah abu-abunya robek berantakan. Di atasnya, berdiri seorang pemuda ber-jubah putih dengan seringai kejam di wajahnya.
Itu adalah Wang Hu, murid luar yang kemarin menginjak tangan Xiao Lin. Di samping Wang Hu, ada beberapa murid luar lainnya yang menonton sambil tertawa.
"Berani sekali sampah pelayan sepertimu menyenggolku saat berjalan?!"
"Apa matamu sudah buta, hah?!"
"kalau kau bosan Hidup biar ku buang nyawa mu yang tak berharga itu"
bentak Wang Hu sambil menginjak dada Ah Gou hingga sahabat Xiao Lin itu terbatuk darah lagi.
Sebenarnya, Ah Gou tidak sengaja berpapasan dengan Wang Hu saat membawa ember air. Wang Hu yang sedang kesal karena gagal dalam latihan hari itu sengaja menabrakkan dirinya dan mencari-cari kesalahan untuk meluapkan emosi.
"S-senior Wang..."
"Maaf... saya benar-benar tidak sengaja..." Ah Gou memohon dengan suara parau, kedua tangannya gemetar menahan kaki Wang Hu yang menekan dadanya.
"Maaf katamu?"
"Maaf tidak ada gunanya! Hari ini aku akan mematahkan kakimu agar kau tahu diri!"
Wang Hu mengangkat kakinya tinggi-tinggi, siap menghantam lutut Ah Gou dengan kekuatan penuh yang dilapisi Qi tingkat 2. Jika tendangan itu mendarat, Ah Gou dipastikan akan lumpuh seumur hidup.
"HENTIKAN!"
Sebuah teriakan nyaring memecah ketegangan. Xiao Lin berlari kencang dan langsung menerjang ke depan, memeluk tubuh Ah Gou untuk melindunginya.
DUAK!
Tendangan Wang Hu mendarat telak di punggung Xiao Lin. Luka cambukan yang baru mulai mengering kemarin langsung pecah kembali. Xiao Lin memuntahkan seteguk darah segar, tubuhnya terjerembab ke tanah bersama Ah Gou. Rasa sakit yang luar biasa membuat pandangannya sempat menggelap sekejap.
"Xiao Lin!"
"Kenapa kau bodoh sekali?! kenapa kau kemari, Cepat Menjauh, Sana lari!"
isak Ah Gou dengan air mata mengalir, mencoba mendorong tubuh sahabatnya menjauh.
"Tidak... aku tidak akan membiarkan mereka menyakitimu, Ah Gou..." bisik Xiao Lin dengan napas terengah-engah. Dengan sisa tenaganya, dia merangkak berdiri dan merentangkan kedua tangannya di depan Ah Gou, mencoba menjadi perisai hidup.
Tubuhnya bergetar hebat, tetapi sorot matanya yang polos masih menyiratkan permohonan.
"Senior Wang, tolong... hukumlah saya saja. Jangan sakiti Ah Gou. Saya mohon..." melas Linxiao sementara wajah nya terlihat manahan sakit.
"Oh, si pahlawan kesiangan datang lagi," Wang Hu mengejek, matanya berkilat penuh kekejaman yang sadis.
"Bagus sekali. Kemarin aku belum puas menghajarmu. Hari ini, karena kau merusak suasana hatiku, aku tidak hanya akan mematahkan kaki temanmu, tapi aku juga akan memastikan kau merangkak seperti anjing seumur hidupmu!"
Wang Hu tidak membuang waktu. Dia melangkah maju dengan cepat. Menggunakan teknik dasar sekte, Pukulan Pemecah Batu, tangannya yang diselimuti energi kuning samar menghantam dada Xiao Lin.
TRAK!
Suara tulang dada yang retak terdengar jelas. Tubuh Xiao Lin terpental beberapa meter ke belakang, menghantam pilar batu sebelum akhirnya jatuh tak berdaya di tanah. Darah segar mengalir deras dari mulutnya, membasahi tanah kering.
"Xiao Lin!!!" teriak Ah Gou histeris.
Dia mencoba merangkak mendekat, tetapi salah satu teman Wang Hu menginjak punggungnya hingga dia tidak bisa bergerak.
Xiao Lin terbaring di tanah. Pandangannya mulai buram. Suara tangisan Ah Gou perlahan terdengar menjauh. Dadanya terasa sangat sesak, detak jantungnya melemah dengan cepat. Di ambang kematian ini, rasa putus asa yang teramat sangat menyelimuti jiwa polosnya.
Kenapa? Kenapa dunia ini begitu kejam? Aku hanya ingin hidup damai... aku hanya ingin melindungi sahabatku... kenapa kebaikan selalu dibalas dengan injakan?
Pertanyaan-pertanyaan itu bergaung di dalam ruang gelap kesadaran Xiao Lin. Air mata mengalir di sudut matanya, bercampur dengan debu dan darah.
Tiba-tiba, di dalam kegelapan jiwanya yang paling dalam, sebuah segel kuno bergetar hebat. Retakan-retakan emas muncul pada segel tersebut, melepaskan aura hitam pekat yang luar biasa dingin dan kuno.
"Jiwa yang lemah... kepolosan yang tidak berguna..." sebuah suara berat, dingin, dan penuh keagungan terdengar bergema di dalam kepala Xiao Lin.
"Serahkan tubuh ini padaku. Biarkan aku mengajari serangga-serangga ini... arti dari keputusasaan yang sesungguhnya."
Di dunia nyata, tubuh Xiao Lin yang tadinya sekarat tiba-tiba berhenti gemetar.
Wang Hu yang sedang berjalan mendekat dengan seringai kemenangan tiba-tiba menghentikan langkahnya. Instingnya sebagai kultivator—meskipun baru tingkat rendah—mendadak menjeritkan bahaya yang teramat sangat. Bulu kuduknya berdiri tegak. Udara di sekitar lapangan mendadak turun drastis hingga menjadi sangat dingin.
Perlahan, Xiao Lin mulai bangkit berdiri.
Gerakannya tidak lagi tampak seperti orang yang terluka parah. Tubuhnya tegak lurus dengan keanggunan yang tidak wajar. Kepala pemuda itu terangkat, memperlihatkan wajahnya yang berlumuran darah.
Namun, yang membuat semua orang di lapangan itu membeku adalah matanya.
Mata jernih dan polos milik Xiao Lin telah hilang sepenuhnya. Kini, sepasang mata itu berwarna hitam pekat tanpa putih mata, memancarkan aura dingin sedingin es kutub dan kejam layaknya dewa kematian yang turun dari langit kesembilan.
Sebuah senyum tipis yang sangat dingin dan penuh penghinaan terukir di sudut bibir "Xiao Lin".
bossss
🐉🐉🐉🐉💪💪💪💪
wuss
🐉🐉🐉🐉🐉🐉🐉🐉
👻👻👻👻👻👻
jedug
🐉🐉🐉🐉🐉
🐉🐉🐉🐉🐉
fgjkitrcv
🐉
🐉🐉
🐉🐉🐉
uh
kejam
kejam
7
🐉🐉🐉
pitu
bantai
🐉🐉🐉🐉
🐉🐉🐉🐉🐉🐉🐉🐉
wolu
🐉👻🐉👻🐉
10
🐉
11
hukum Konoha
👻👻🐉🐉
9
🐉👻
8
🐉
12
🐉