NovelToon NovelToon
Tilang Aku Dong, Pak Polisi

Tilang Aku Dong, Pak Polisi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mumu.ai

Sarah pikir dengan melarikan diri ke tempat terpencil akan membuatnya aman dari orang-orang di masa lalunya. Tapi siapa sangka, pelarian aman itu hanya berlaku untuk beberapa tahun saja.

"Kamu sudah menikah?" tanya pria itu dingin.

"Belum," jawab Sarah tenang.

Pria itu lalu menarik napas dalam sebelum kembali bertanya.

"Lalu... apa kamu punya pacar?"

"Tidak," jawab Sarah lagi.

Raut wajah pria itu seketika berubah. Tidak ada wajah dingin dan intimidasi lagi. Kini ia tersenyum lebar dan tertawa pelan.

"Baguslah," katanya sambil menepuk pelan pundak Sarah. "Sekarang hadapi mereka dulu."

****

Ikuti author di sosmed
Ig : @tulisanmumu
Fb : Mumu Author

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Setelah berhasil membujuk Ali untuk kembali bersekolah, Sarah dan Tini berjalan kembali ke tempat motor matic mereka yang diparkir di depan pasar. Suasana pasar yang tadinya terasa sangat menegangkan bagi Sarah, kini terasa jauh lebih santai. Beban berat di pundaknya sebagai wali kelas seolah terangkat sebagian setelah melihat senyuman di wajah Ali.

Keduanya memasang helm masing-masing ke kepala mereka. Sarah naik ke atas jok kemudi, sementara Tini perlahan naik ke kursi penumpang di belakangnya. Kali ini, Sarah tidak lagi memacu motornya ugal-ugalan seperti saat mereka berangkat tadi. Ia menarik gas dengan sangat santai, membiarkan motor maticnya berjalan lambat membelah jalanan aspal yang lengang di daerah terpencil tersebut.

Di tengah perjalanan yang tenang itu, Tini tiba-tiba menggeser posisi duduknya. Ia memegangi perut bagian bawahnya sembari meringis kecil.

“Aduh, Sar… pelan-pelan juga dong lewat jalan yang berlubang itu. Ngilu banget ini,” keluh Tini dengan suara agak merintih.

Sarah melirik dari kaca spion motornya. “Kenapa lagi sih, Tin? Ini udah pelan banget lho. Perasaan jalannya juga nggak seberapa rusak dibanding pas berangkat tadi.”

“Jahitan bekas secarku, Sar. Ngilu banget rasanya sekarang karena tadi kamu bawa motornya kayak kesurupan pas berangkat,” sahut Tini sambil terus memegangi perutnya.

Sarah berdecak pelan sambil menggelengkan kepalanya di balik kaca helm. “Lebay banget, padahal kan udah tujuh bulan juga semenjak kamu melahirkan.”

Tini langsung menepuk pundak Sarah agak keras, membuat Sarah sedikit terkejut di atas motor.

“Heh, sembarangan kamu kalau ngomong! Makanya cepat nikah, terus hamil, terus melahirkan, biar kamu tahu sendiri gimana rasanya perut diiris-iris! Mau udah tujuh bulan juga kadang masih suka kerasa ngilu tahu!” omel Tini tidak terima.

Sarah mendengus geli mendengar omelan sahabatnya itu.

“Enteng banget itu mulut nyuruh orang nikah. Memangnya aku mau nikah sama siapa? Calonnya aja belum kelihatan batang hidungnya.”

“Ya makanya dicari, jangan ditungguin aja,” balas Tini dari belakang. “Lagian sebenarnya aku tuh heran banget sama kamu, Sar. Aku yang wajahnya pas-pasan dan biasa aja gini bisa dapat jodoh cepat. Nah, kamu yang mukanya bening, kulit putih, pintar lagi, kok lama amat dapat jodohnya? Umur udah dua puluh sembilan tahun tapi belum juga nikah. Kamu pasti banyak milih ya?”

“Enak aja!” jawab Sarah dengan nada tinggi, menolak tuduhan Tini. “Aku nggak banyak milih, ya. Belum dapat yang pas aja di hati.”

Tini tertawa kecil di balik helmnya. “Milih baju kali, Sar, harus dipaskan dulu ke badan baru dibeli.”

Mendengar analogi Tini, Sarah langsung memasang wajah serius. Walaupun matanya tetap fokus ke jalanan di depan, nadanya beralih menjadi lebih mendalam.

“Eh, Tin, nikah itu sekali aja seumur hidup. Tentu kita harus cari yang pas, satu visi, dan sepaham biar nanti nggak kawin cerai di tengah jalan. Memangnya kamu mau kalau rumah tangga hancur cuma karena kita terburu-buru nikah tanpa mikirin kecocokan?” kata Sarah membela prinsip hidupnya.

Tini menghela napas panjang, tampaknya malas jika harus berdebat soal filosofi pernikahan dengan Sarah yang terkenal idealis.

“Eh, udah, udah. Terserah kamu deh, Sar. Kita harus cepat balik ke sekolah sekarang. Jam kelima aku ada kelas soalnya, jangan sampai anak-anak terlantar karena gurunya telat masuk,” kata Tini yang tiba-tiba panik mengingat jam dinding digital yang sempat ia lihat di pasar tadi.

Sarah menggerutu kesal. “Tadi katanya suruh pelan-pelan karena perutnya ngilu, sekarang malah minta ngebut. Mau kamu apa sih, Tin?”

“Ya pelan tapi jangan kayak bebek jalan juga dong, Sar! Udah, cepetan ditarik itu gasnya. Pantesan aja kamu jomblo, lambat banget mutusin sesuatu!” ejek Tini sambil tertawa puas.

“Diem, ah! Bawel amat jadi orang!” ketus Sarah. Namun ia tetap menuruti permintaan Tini dengan menambah sedikit kecepatan motor maticnya.

Mereka kembali menyusuri jalanan lurus yang dikelilingi oleh pepohonan rindang. Jarak antara pasar dan sekolah mereka memang agak jauh, melewati batas wilayah kecamatan yang sepi. Namun, saat motor mereka hampir mencapai sebuah pertigaan besar yang menuju ke arah sekolah, Sarah memperlambat laju kendaraannya.

Dari kejauhan, nampak di ujung jalan ada rombongan polisi yang sedang berdiri di tepi jalan. Beberapa motor juga terlihat sedang diberhentikan di bahu jalan.

Melihat kerumunan aparat berseragam cokelat tersebut, Tini langsung menyenggol pinggang Sarah dengan bersemangat.

“Eh, Sar, lihat tuh di depan! Kali aja jodoh kamu salah satu polisi yang ada di situ,” goda Tini dengan nada bercanda.

Sarah melirik sekilas ke kerumunan polisi di depan lalu memutar bola matanya malas.

“Tin, jangan asal deh kalau ngomong. Mana tahu mereka semua itu udah pada punya istri atau minimal punya pacar. Tega apa kamu ngelihat sahabatmu ini dipanggil pelakor sama orang-orang?”

“Ya kali aja dari sekian banyak polisi itu, ada satu yang masih jomblo dan lagi nyari spek bu guru kayak kamu,” jawab Tini sambil terkekeh geli.

Namun tawa Tini mendadak terhenti ketika motor mereka semakin dekat dengan pertigaan. Ia menyipitkan matanya untuk memperjelas pandangan. Di sana terdapat papan plang berwarna merah yang diletakkan di tengah jalan.

“Eh, tunggu dulu, Sar… itu kok kayak lagi razia, ya?” tanya Tini dengan nada suara yang tiba-kira berubah cemas.

Sarah ikut mengamati situasi di depan dengan saksama. “Eh, iya, Tin. Lagi ada razia kendaraan kayaknya.”

Tini langsung mencondongkan tubuhnya ke depan, mendekat ke telinga Sarah.

“Surat-surat kendaraan kamu lengkap, kan, Sar? STNK sama SIM aman?”

Suasana di atas motor mendadak menjadi hening sesaat. Sarah tidak langsung menjawab pertanyaan Tini. Tangannya yang memegang stang motor tiba-tiba terasa dingin, dan laju motornya semakin melambat secara drastis.

“Sar?” tegur Tini yang mulai menangkap gelagat aneh dari sahabatnya. “Kok kamu diam aja sih?”

“Aku… aku nggak punya SIM, Tin,” jawab Sarah dengan suara yang sangat pelan, hampir menyerupai bisikan.

Mata Tini langsung membelalak sempurna di belakang Sarah. “Mampus! Bisa-bisanya kamu punya motor tapi nggak punya SIM, Sarah Aini!”

“Ya kan waktu di kota asal, aku jarang banget bawa motor sendiri, Tin! Biasanya naik angkutan umum atau ojek online. Pas pindah tugas ke sini baru beli motor matic ini,” bela Sarah yang suaranya terdengar panik.

“Lagian aku nggak tahu kalau di daerah terpencil kayak gini bakalan ada razia juga. Aneh banget, kota kecil gini masih juga ada razia polisi.”

“Razia itu ada di mana-mana juga, Sarah! Nggak mandang kota besar atau daerah terpencil!” keluh Tini dengan frustrasi. “Aduh, gimana ini? Mau putar balik juga udah nggak bisa, di belakang kita banyak kendaraan lain. Pasti langsung dicurigai sama polisi di depan.”

“Terus kita harus gimana, Tin?” tanya Sarah yang mulai berkeringat dingin. Jantungnya berdegup kencang seiring jarak mereka yang hanya tinggal belasan meter dari garis razia.

“Udah, berdoa aja sekarang supaya kita nggak diberhentiin sama mereka. Pasang muka yang tenang, jangan tegang kayak orang bersalah! Anggap aja kita ini warga lokal yang cuma mau lewat,” instruksi Tini, berusaha memberikan strategi instan.

Sarah mencoba menarik napas dalam-dalam. Ia menegakkan punggungnya dan mencoba tersenyum sealami mungkin, berpura-pura tidak memiliki beban dosa apa pun terkait kelengkapan berkendara.

Namun, takdir tampaknya sedang tidak berpihak pada kedua ibu guru ini. Belum sempat mereka melewati barisan polisi pertama, seorang petugas berbadan tegap yang berdiri di tengah jalan mendadak menoleh ke arah mereka. Pandangan polisi itu mengunci pergerakan motor matic Sarah.

Priiiiiiit!

Suara peluit yang melengking nyaring seketika memecah keheningan di antara mereka. Polisi tersebut mengacungkan tangan kanannya, memberikan isyarat tegas agar Sarah mengarahkan motornya ke tepi jalan.

Sarah langsung lemas, sementara Tini di belakang hanya bisa menepuk jidatnya dengan pasrah.

1
Esther
Koq jadi Ardhana yg disalahin Sar, kan kamu yg gengsi mengakui kalau masih suka.
Panas....cemburu melanda😂
Esther
Nanti kalau Ardhana jalan sama cewek lain, baru deh Sarah kelimpungan. Jangan gengsi Sar kalau emang suka😄
Esther
Sabar Ar....kalau jodoh tak lari.kemana
mumu: kalau kata Afgan, Jodoh Pasti Bertemu... 🎶🎶
total 1 replies
bidadari
hai ka.. kenalan dong
mumu: halo, kak.. salam kenal ya ☺️
total 1 replies
Esther
ya udah....pasrah banget sih Sarah😂😂.
Esther
Gak ketemu Ardhana koq malah galau Saras😂
Esther: *Sarah* mksdnya😁
total 1 replies
Esther
Sikap tenang Sarah membuat Ardhana malah kepikiran😁
Esther
ternyata seperti itu ceritanya.
Esther
selalu suka dengan semua ceritanya
mumu: terima kasih, kakak selalu dukung author 🥰🥰
total 1 replies
Esther
double up dong thor
Ani
jawab Ardhana jang cuman diam membeku kayak patung..

kalau aku jadi sarah juga bakalan marah..😤😤😤😤
Esther
Aluna koq nyasar kesini thor😄
mumu: lah lagi mikirin si Aluna ini soalnya 🤭🤣🤣
total 1 replies
Ani
dengerin dulu Sar, penjelasan Ardhana siapa tau setelah itu harimu jauh lebih mantap dan tenang dalam mengambil keputusan dikemudian hari
Esther
Lanjut
Ani
ceritanya bagus, penulisan nya juga rapi..
Ani
pantesan kalau sarah ampe trauma begitu..
Ani
kira kira ini daerah mana ya kak.. kok jadi penasaran aku nya 😄😄😄😄
Ani: waduh..
total 2 replies
Esther
semangat ya Saras
Esther
waduh koq sampai gitu thor, sengaja nabrak othor.
Semoga selalu dalam lindungan Tuhan ya thor
Esther: ngeri ya thor lawan psikopat
total 2 replies
falea sezi
lanjut banyak q kirim hadiah
mumu: maaf lama up, nya 🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!