Adera mencintai Ezra selama dua tahun, tapi cintanya diremehkan dan ditolak mentah-mentah. Saat hatinya mati dan ia memilih fokus pada diri sendiri, Ezra justru menyesal dan panik.
Namun terlambat, karena kini hadir Damar pria yang jauh lebih sempurna yang ternyata adalah calon suaminya.
Akankah Damar mampu menghidupkan kembali rasa cinta Adera yang bertekad untuk tidak jatuh cinta lagi?
Simak kisah cinta mereka bertiga, di novel ini akan disuguhi komedi yang lucu agar tidak terlalu mengantuk ketika membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Jika kemarin Adera datang membawa paper bag berisi kopi hangat, hari ini gadis itu datang kembali dengan membawa dua paper bag besar yang terlihat penuh dengan makanan lezat.
“Dokter Ezra lagi operasi, Non,” ujar salah satu perawat yang sudah hafal betul dengan kebiasaan Adera.
“Gapapa. Aku tunggu,” jawab Adera santai.
“Tapi lama lho, Nona. Operasinya besar,” imbuh perawat itu dengan nada khawatir.
Adera hanya tertawa kecil, menampilkan senyum penuh semangat seolah waktu bukanlah masalah.
“Gak masalah kok. Namanya juga usaha, kan?”
Perawat itu hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum geli.
Selama berbulan-bulan, seluruh staf di rumah sakit ini sudah menjadi saksi bisu bagaimana kerasnya Adera memperjuangkan cinta Dokter Ezra. Mulai dari membawakan kopi setiap pagi, mengantar makan siang, hingga rela duduk menunggu berjam-jam hanya untuk sekadar melihat pria itu berlalu lalang selama lima menit.
Namun sayangnya… hati Dokter Ezra tetap sama dinginnya seperti es di kutub.
Sore harinya, lampu hijau di atas pintu ruang operasi akhirnya padam. Menandakan prosedur sudah selesai.
Adera yang sedari tadi duduk manis di kursi lorong langsung melompat berdiri dengan penuh antusias begitu melihat sosok tinggi itu keluar.
“Dokter Ezra!” panggilnya lantang, melambaikan tangan dengan riang.
Pria itu menoleh sekilas, wajahnya terlihat lelah namun tetap tampan dan tegas.
“Aku bawain makanan lagi,” ucap Adera sambil menyerahkan paper bag itu dengan mata berbinar-binar. “Kali ini aku masak sendiri lho! Spesial buat Dokter.”
Ezra menerimanya tanpa ekspresi sedikit pun. Wajahnya datar seperti biasanya.
“Terima kasih,” ucapnya singkat dan datar.
Meskipun nada bicaranya terdengar tanpa jiwa, Adera tetap merasa bahagia. Setidaknya… kali ini diterima, tidak ditolak mentah-mentah seperti hari-hari sebelumnya.
“Dimakan ya? Jangan dibuang atau dikasih orang lain,” pintanya penuh harap.
Ezra tidak menjawab. Pria itu hanya berbalik badan dan langsung berjalan cepat menuju ruangannya, meninggalkan Adera yang masih tersenyum sendiri.
Adera terlalu senang untuk memikirkan hal kecil itu. Baginya, selangkah maju itu sudah kemajuan besar.
Beberapa jam kemudian, hari mulai sore. Adera berniat pulang. Namun saat merogoh tasnya, dia sadar jika ponselnya tertinggal di kursi tunggu tadi.
“Duh, HP gue ketinggalan lagi…” gerutunya pelan sambil berlari kembali menuju lift.
Sesampainya di depan ruangan Dokter Ezra yang pintunya sedikit terbuka, langkah Adera tiba-tiba terhenti. Telinganya menangkap suara percakapan di dalam sana.
“Itu si Adera lagi ya?” tanya seorang dokter wanita, Dokter Jane, yang selama ini cukup ramah padanya.
“Aku kasihan sebenarnya,” lanjut Jane pelan. “Dia tulus banget suka sama kamu. Beneran bukti nyata cinta mati.”
Mendengar itu, tanpa sadar sudut bibir Adera terangkat membentuk senyum kecil. Akhirnya ada yang membenarkan usahanya.
Namun… senyum itu perlahan pudar, bahkan berganti dengan rasa dingin yang menjalar ke seluruh tubuh saat suara berat Ezra terdengar menggantikannya.
“Adera masih anak-anak,” kata Ezra dengan nada meremehkan.
Langkah Adera membeku sempurna di balik pintu.
“Dia terlalu berisik, terlalu ceroboh, dan kelakuannya memang belum dewasa,” imbuh pria itu dengan santai, seolah membicarakan barang yang tidak berguna.
Dokter Jane menghela napas panjang.
“Tapi dia baik kok, Za. Gadis itu begitu tulus. Bahkan rela repot-repot masak dan datang sendiri mengantar makanan padahal dia bisa saja menyuruh asisten atau kurir.”
“Aku tidak bilang dia orang jahat,” sahut Ezra datar.
“Terus kenapa gak pernah kasih kesempatan sedikit aja? Padahal dia se-effort itu lho ngejar kamu,” tanya Jane penasaran.
Suasana hening sejenak, membuat jantung Adera berdegup kencang menanti jawaban. Lalu… Ezra bicara lagi, dan kalimat itu terasa seperti pisau yang mengiris perlahan.
“Aku tidak suka wanita seperti Adera,” ungkap Ezra dengan jelas, tegas, dan tanpa keraguan sedikit pun.
Kalimat itu menghantam dada Adera begitu keras hingga gadis itu harus menopang tubuhnya agar tidak jatuh.
“Aku lebih suka wanita yang tenang, dewasa, dan bisa diajak berpikir serius,” lanjut Ezra.
Jane pun terdiam, seolah tak percaya dengan ketulusan hati Adera yang ternyata dinilai seperti itu.
Tapi Ezra belum selesai.
“Kalau dibandingkan dengan Adera… Stella jauh lebih dewasa, elegan, dan tidak membuat malu.”
" Gila ya, ternyata kamu malah menyukai sepupunya. Stella memang cantik, elegan sih tapi aku tetap Adera, lebih tulus" kata dokter Jane.
Napas Adera tercekat di tenggorokan. Stella. Sepupu yang tinggal serumah dengannya sejak orang tuanya meninggal.
Gadis yang lembut, pendiam, pintar, dan selalu menjadi kesayangan semua orang. Berbanding terbalik dengan Adera yang ceria, ramai, dan sering dianggap kekanak-kanakan.
“Aku nyaman bicara dengan Stella,” lanjut Ezra tanpa sadar bahwa ada hati yang sedang hancur di balik pintu itu. “Dia tahu bagaimana cara bersikap yang benar di depan umum.”
Adera menunduk perlahan, kepalanya terasa berat. Tiba-tiba dia merasa sangat malu. Sangat, sangat malu.
Selama ini dia mengejar pria itu tanpa peduli apa kata orang. Datang setiap hari, dibuat orang tertawa, memohon perhatian, berharap cintanya dibalas dengan tulus.
Padahal kenyataannya…. Ezra bahkan tidak pernah melihatnya sebagai seorang wanita. Dia hanya dianggap sebagai anak kecil yang merepotkan.
Air mata mulai menggenang, memburamkan pandangan.
Namun yang paling menyakitkan bukan sekadar penolakan itu.
Melainkan kenyataan bahwa pria yang dicintainya ternyata mengagumi Stella—orang yang setiap hari ada di dekatnya, tidur satu atap dengannya.
“Adera terlalu melelahkan, Jane. Jadi jangan paksa aku untuk menerimanya,” suara Ezra terdengar lagi, kali ini lebih dingin. “Jujur saja… dia bukan tipe wanita pujaanku.”
" Oke, kalau suatu saat Adera berhenti ngejar kamu. Gimana?" tanya Dokter Jane.
" Itu lebih baik, selama ini aku terganggu akan kehadirannya. Kalau saja dia bukan adik Denial, aku pasti mengusir dengan kasar karena dia terlalu menyebalkan" jawab Ezra.
Kalimat terakhir itu menjadi pukulan telak. Air mata Adera jatuh menetes membasahi pipi, tanpa suara, tanpa isak tangis. Hanya rasa perih yang luar biasa di dada.
Dengan tangan gemetar, gadis itu mundur perlahan menjauhi pintu ruangan itu sebelum siapa pun menyadari keberadaannya.
Untuk pertama kalinya dalam dua tahun terakhir… Adera merasa lelah.
Dan untuk pertama kalinya juga… Adera benar-benar ingin berhenti mencintai dokter Ezra.