PRIMUS ARISTOKRAT
Dikhianati tunangan.
Diremehkan keluarga.
Bahkan dibunuh demi harta warisan.
Semua orang mengira hidup Primus Valerian Aristokrat telah berakhir.
Mereka salah.
saat kembali dari ambang kematian, Primus membawa kemampuan yang membuat seluruh dunia terkejut.
Bisnis? Tak ada yang bisa mengalahkannya.
Bela diri? Musuh-musuhnya tumbang dalam hitungan detik.
Strategi? Bahkan para konglomerat dan bangsawan tua dipermainkan olehnya.
Ketika identitas aslinya perlahan terungkap, para petinggi dunia mulai gemetar.
Karena pria yang dulu mereka hina ternyata adalah kunci menuju kekayaan, kekuasaan, dan rahasia terbesar keluarga Aristokrat.
Mereka pernah menginjaknya saat jatuh.
Kini giliran Primus berdiri di puncak dan menentukan nasib mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elzio_yanuar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RAPAT KELUARGA
Malam merayap turun dengan lambat, menelan sisa-sisa semburat jingga di langit Kota Aurelia. Satu per satu, lampu-lampu kristal di sepanjang taman luas Mansion Aristokrat mulai menyala, memandikan bangunan bergaya klasik itu dengan cahaya keemasan yang megah sekaligus dingin. Dari luar, tempat ini tampak seperti istana dongeng, namun di dalamnya, ia tidak lebih dari sangkar emas bagi para predator yang saling mengintai.
Primus berjalan menyusuri koridor utama dengan langkah yang santai namun berirama tetap. Sepatu kulitnya mengetuk lantai marmer hitam berpelitur dengan bunyi yang bergema pelan. Di sepanjang dinding koridor, berjejer lukisan minyak para leluhur Keluarga Aristokrat yang menatapnya dengan pandangan angkuh dari dalam bingkai emas mereka.
Setiap kali berpapasan dengan beberapa pelayan senior atau pengawal dalam, mereka akan langsung menghentikan aktivitas dan menundukkan kepala dengan hormat. Namun, Primus bisa merasakan atmosfer di sekitarnya tidak pernah berubah. Tatapan yang mereka layangkan setelah ia lewat selalu sama: keraguan, pandangan meremehkan, dan beberapa yang sudah bekerja cukup lama di sana menatapnya dengan rasa iba yang menyedihkan.
Bagi seisi mansion, Primus hanyalah sekadar pewaris nama, seonggok daging yang menyandang nama besar tanpa memiliki taring kekuatan untuk mempertahankannya. Mereka mengira dia tidak tahu. Padahal, kenyataannya jauh lebih rumit dari yang bisa dicerna oleh otak para pelayan itu.
Saat langkahnya tiba di depan pintu ganda aula utama, dua penjaga berzirah ringan dengan lambang singa bersayap di dada mereka langsung menegakkan tubuh. Tanpa suara, mereka mendorong pintu kayu ek raksasa itu hingga terbuka lebar, membiarkan gelombang cahaya benderang dan atmosfer yang berat langsung menerpa wajah Primus.
Ruangan itu sangat luas, dengan langit-langit tinggi yang dihiasi lukisan dinding bertema mitologi perang. Di tengah-tengahnya, membentang sebuah meja kayu jati panjang kuno yang mampu menampung puluhan orang. Hampir seluruh kursi mewah berbalut beludru merah di sana sudah terisi oleh para petinggi dan anggota keluarga inti Aristokrat.
Begitu Primus melangkah masuk, seisi ruangan mendadak hening selama beberapa detik. Belasan pasang mata langsung tertuju kepadanya. Ada yang menatapnya dengan acuh tak acuh, ada yang memancarkan kilat sinis, dan beberapa sepupu jauhnya bahkan tidak repot-repot menyembunyikan senyum ejekan di wajah mereka.
"Ah, sang putra mahkota yang mulia akhirnya berkenan hadir," sebuah suara bariton yang sengaja dikeraskan terdengar dari ujung meja panjang.
Primus tidak perlu menebak siapa pemilik suara dengan nada sarkasme yang kental itu. Ia langsung menatap lurus ke arah Adrian Aristokrat, sepupu tirinya yang duduk dengan posisi menyilang kaki yang congkah.
Adrian adalah representasi sempurna dari apa yang dunia sebut sebagai pewaris kaya. Rambut pirangnya tertata rapi tanpa cela, mengenakan setelan jas pesanan khusus dari penjahit terbaik di distrik pusat, dan selalu memasang senyuman ramah yang sebetulnya menyimpan duri beracun di balik bibirnya.
Jika Primus adalah perwujudan dari air yang tenang dan menghanyutkan, maka Adrian adalah api yang berkobar dan haus akan pengakuan. Adrian suka menjadi pusat semesta, menyukai konflik untuk menunjukkan dominasinya, dan yang paling krusial adalah pria pirang itu adalah orang yang paling berambisi untuk menendang Primus dari silsilah keluarga.
Primus menarik kursi kosong di bagian tengah meja yang agak jauh dari pusat perhatian, lalu duduk dengan gerakan yang teramat tenang. "Aku datang tepat waktu, Adrian. Rapatnya bahkan belum dimulai."
Adrian tersenyum tipis, mengetuk-ngetuk jemarinya yang mengenakan cincin batu safir ke atas meja. "Tentu saja, Primus. Tepat waktu dan tidak terlambat adalah satu-satunya keahlian darimu yang masih bisa kuakui sampai detik ini."
Beberapa paman dan bibi di sekitar Adrian langsung tertawa kecil, menganggap kalimat itu sebagai lelucon segar untuk menyudutkan Primus. Namun, target ejekan mereka hanya menghela napas pelan, wajahnya sedatar air di dalam gelas. Primus terlalu malas untuk meladeni provokasi murahan seperti itu.
Melihat reaksi Primus yang sama sekali tidak terganggu, senyum di wajah Adrian perlahan memudar, digantikan oleh kedutan kesal di sudut matanya. Sejak mereka masih anak-anak, Primus selalu seperti ini. Sifatnya yang sedingin es membuat pria itu sulit dipancing emosinya, mustahil untuk dipermalukan di depan umum. Sikap acuh tak acuh Primus seolah mengirimkan pesan bahwa semua hinaan Adrian tidak lebih dari sekadar gonggongan anjing di tepi jalan, dan hal itu selalu membuat Adrian merasa tidak pernah benar-benar menang darinya.
Keheningan total mendadak menyelimuti aula saat pintu samping terbuka. Seluruh anggota keluarga yang tadinya berbisik-bisik langsung berdiri dari kursi masing-masing dengan gerakan serentak dan penuh hormat.
Sang kepala keluarga, sang penguasa mutlak, telah datang.
Valerius Aristokrat berjalan masuk. Pria tua yang usianya telah menginjak hampir tujuh puluh tahun itu melangkah dengan punggung yang tegak lurus, memancarkan aura dominasi yang begitu pekat hingga membuat pasokan udara di dalam ruangan terasa bergetar berat. Tatapan matanya setajam elang, seolah mampu menembus isi kepala setiap orang yang berani menatapnya langsung. Meskipun rambutnya telah memutih sepenuhnya, wibawa sang singa tua tetap membuat seluruh predator muda di ruangan itu menundukkan kepala.
"Duduk," satu kata keluar dari mulut Valerius, berat dan penuh penekanan.
Tanpa suara, semua orang kembali ke kursi masing-masing. Valerius berdiri di ujung meja tertinggi, kedua tangannya bertumpu pada tongkat kepala singa emasnya. Matanya menyapu seisi ruangan sebelum akhirnya berbicara kembali.
"Aku tidak suka membuang waktu dengan basa-basi yang tidak berguna. Karena itu, aku akan langsung menyampaikan agenda utama mengapa kalian semua dikumpulkan di Aula Merah malam ini." Valerius menjeda kalimatnya, sengaja membiarkan ketegangan merayap di dada para penerusnya. Bahkan Adrian yang biasanya bersikap santai kini menegakkan posisi duduknya dengan raut wajah serius.
Valerius melanjutkan, "Tepat enam bulan dari sekarang, dewan tetua dan aku akan memilih secara resmi siapa penerus takhta tertinggi untuk generasi berikutnya dari Keluarga Aristokrat."
Seketika, ruangan yang tadinya hening langsung berdengung oleh bisikan-bisikan tertahan. Beberapa paman paruh baya tampak terkejut karena keputusan ini diambil lebih cepat dari perkiraan, sementara para penerus muda justru memperlihatkan binar mata yang haus akan kekuasaan. Topik suksesi yang selama bertahun-tahun menjadi perang dingin di bawah meja akhirnya resmi dideklarasikan.
Di tengah riuhnya spekulasi tersebut, Primus tetap mempertahankan posisi duduknya yang tenang, matanya mengamati setiap ekspresi orang di sana layaknya seorang penonton teater. Di ujung sana, ia bisa melihat Adrian sedang menahan diri sekuat tenaga agar tidak tersenyum lebar.
Valerius mengangkat tangan kanannya sedikit, dan dalam sekejap, ruangan kembali sunyi senyap. "Selama enam bulan ke depan, kalian semua bebas menunjukkan kemampuan terbaik kalian tanpa batas. Bisnis, manajemen krisis, diplomasi politik, kepemimpinan, atau taktik apa pun yang bisa membuktikan bahwa darah yang mengalir di tubuh kalian layak untuk memimpin dinasti ini."
Tatapan pria tua itu perlahan bergerak, berhenti selama beberapa detik tepat di manik mata abu-abu Primus, sebelum akhirnya berpindah ke arah Adrian. "Khusus untuk kalian berdua, sebagai garis keturunan langsung yang paling dekat, persaingan di antara kalian akan diawasi secara ketat oleh dewan militer keluarga."
Senyuman Adrian akhirnya pecah, tidak bisa ditahan lagi. Ini adalah momen yang telah ia rancang dan tunggu-tunggu selama hidupnya. Selama ini, faksi-faksi kolot di dalam dewan tetua masih menganggap Primus memiliki hak istimewa untuk menjadi pewaris utama hanya karena statusnya sebagai anak dari istri pertama mendiang ayah mereka. Namun, kompetisi terbuka selama enam bulan ke depan akan meruntuhkan hak istimewa tersebut. Adrian akan membuktikan pada dunia siapa yang merupakan singa asli dan siapa yang hanya rubah penakut. Setelah kompetisi ini selesai, ia akan memastikan Primus tidak akan memiliki apa-apa lagi di kota ini.
"Ada pertanyaan?" tanya Valerius, suaranya menggema di langit-langit aula.
Seorang pria paruh baya yang merupakan kepala divisi keuangan keluarga mengangkat tangannya. "Yang Mulia Kepala Keluarga, apakah ada aturan spesifik atau batasan dalam kompetisi ini?"
Valerius mengangguk pelan. "Ada. Setiap kandidat utama akan diberikan satu proyek cabang keluarga yang saat ini sedang berada dalam kondisi kritis. Siapa pun yang mampu membalikkan keadaan dan memberikan profit serta pengaruh politik terbesar di akhir bulan keenam, dialah yang akan mendapatkan poin tertinggi dari dewan tetua."
Aula kembali riuh oleh gumaman para petinggi. Primus mulai memiringkan kepalanya sedikit, menganalisis situasi. Ini jauh lebih agresif dari yang ia duga. Ini bukan sekadar formalitas internal untuk menyenangkan publik, melainkan sebuah kompetisi eliminasi yang kejam. Salah sedikit melangkah, taruhannya bukan cuma kehilangan hak waris, tapi bisa saja nyawa mereka.
Adrian tiba-tiba memutar tubuhnya, menatap langsung ke arah Primus dengan pandangan menantang yang kentara. "Primus, sepupuku yang tercinta. Aku sangat berharap kau tidak akan menyerah atau menangis meminta belas kasihan di tengah jalan nanti. Itu akan sangat membosankan."
Beberapa orang di sekitar Adrian terkekeh, bersiap menyaksikan Primus menundukkan kepala seperti biasanya. Namun, yang terjadi selanjutnya justru membuat tawa mereka tersangkut di tenggorokan.
Primus menatap balik Adrian, bibirnya melengkung membentuk senyuman santai yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. "Aku juga mengharapkan hal yang sama persis untukmu, Adrian. Jaga kesehatanmu dengan baik selama enam bulan ke depan."
Seketika, atmosfer di sekitar meja panjang itu mendadak drop menjadi sangat dingin. Tawa di ruangan langsung terhenti total. Adrian menyipitkan matanya, kilat amarah kilat melintas di manik matanya. Untuk pertama kalinya dalam sejarah pertemuan mereka, Primus membalas serangannya di depan umum. Meskipun hanya berupa kalimat sederhana yang diucapkan dengan nada tenang, kalimat itu mengandung tekanan tak kasatmata yang cukup untuk membuat ego Adrian tercoreng.
Valerius Aristokrat memperhatikan interaksi singkat itu tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Namun, tatapan mata sang singa tua itu justru terlihat jauh lebih dalam dan intens dari biasanya saat mengamati Primus. Ada kilatan kepuasan yang tersembunyi di balik kerutan wajahnya, sesuatu yang tidak disadari oleh siapa pun di ruangan itu.
Rapat krusial itu akhirnya berakhir hampir satu jam kemudian setelah pembagian wilayah proyek selesai dibacakan. Satu per satu anggota keluarga mulai meninggalkan aula dengan wajah yang dipenuhi rencana licik masing-masing. Primus melangkah keluar sendirian, membiarkan jubah tipisnya tersampir santai di bahu. Namun baru beberapa meter ia berjalan menjauhi pintu aula, sebuah suara familiar memanggil namanya dari balik bayangan pilar.
"Primus."
Primus menghentikan langkahnya dan menoleh. Di dekat pilar marmer besar yang temaram, Vanessa Laurent berdiri dengan anggun. Rambut cokelatnya bergoyang sedikit saat ia melangkah mendekat, matanya yang hijau emerald memancarkan kecemasan yang tidak biasa.
"Kau baik-baik saja?" tanya Vanessa dengan suara rendah, memastikan tidak ada orang lain yang mendengar.
Primus mengangguk samar. "Tentu saja. Kenapa aku harus tidak baik-baik saja?"
"Aku hanya... aku tidak menyangka dewan tetua akan mempercepat kompetisi ini," Vanessa menjeda kalimatnya sejenak, matanya menatap tajam ke arah koridor tempat Adrian baru saja lewat bersama faksinya. Posisinya bergeser lebih dekat ke arah Primus sebelum berbisik, "Hati-hati dengan Adrian. Pria itu tidak akan bermain bersih, Primus. Aku tahu apa yang dilakukan faksinya di distrik barat."
Primus sedikit terkejut melihat intensitas kekhawatiran di wajah tunangannya. "Maksudmu, dia akan menggunakan cara-cara di luar bisnis?"
Vanessa terlihat ragu, bibirnya mengatup rapat seolah ada rahasia besar yang hampir saja lolos dari lidahnya. Namun, setelah beberapa detik ketegangan, ia akhirnya menggelengkan kepala dan mundur satu langkah. "Lupakan saja. Mungkin aku hanya terlalu mengkhawatirkan posisi aliansi keluarga kita. Aku pergi dulu."
Primus hanya menatap punggung Vanessa yang berjalan menjauh hingga menghilang di belokan koridor. Meskipun wajahnya tetap tenang, intuisi tajam Primus kembali berdenting. Perasaan aneh yang muncul sejak sore tadi kini bermutasi menjadi sebuah kepastian. Ada roda penggerak yang jauh lebih besar dan gelap yang sedang berputar secara rahasia di balik kompetisi suksesi ini. Sesuatu yang belum menampakkan wujudnya ke permukaan, menunggu saat yang tepat untuk menerkam.
Dan tanpa diketahui oleh Primus maupun Vanessa...
Dari balkon lantai dua yang gelap di atas koridor, sesosok pria paruh baya sedang berdiri sembari memegang sebuah gelas kristal berisi anggur merah darah. Matanya menatap tajam ke arah sosok Primus yang berdiri sendirian di bawah sana, lalu menyunggingkan senyum licik yang mengerikan.
"Nikmati sisa waktu tenangmu, Primus Valerian..." bisik pria itu sebelum menyesap anggurnya. "Sebab dalam enam bulan lagi, seluruh sisa kejayaan ibumu dan semua hal yang kau miliki saat ini... akan jatuh sepenuhnya ke dalam genggamanku."
"BERSAMBUNG"