Mengetahui suaminya berselingkuh, Raina memilih tidak menangis. Baginya, pengkhianatan harus dibalas dengan cara yang sama.
Nyawa bayar nyawa. Selingkuh balas selingkuh.
Target balas dendamnya adalah Hadiraksa Gautama... suami dari Monica, wanita yang merebut rumah tangganya.
Raina mendekati Hadi yang selama ini dianggap pria gagal oleh istrinya sendiri: miskin, tak punya masa depan, dan hidup dari belas kasihan keluarga. Namun siapa sangka, di balik penampilan sederhananya, Hadi menyimpan identitas sebagai pengusaha muda kaya raya yang sengaja menyembunyikan status demi menguji cinta Monica.
Saat permainan balas dendam dimulai, perasaan ikut berubah.
Robby mulai menyesali perselingkuhannya. Monica panik setelah mengetahui pria yang ia buang ternyata jauh lebih berharga dari yang ia kejar.
Mereka ingin kembali pada pasangan masing-masing.
Tapi terlambat...
Karena dua hati yang awalnya dipersatukan oleh luka, perlahan berubah menjadi candu dan saling cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu juta rupiah
Raina bangun pukul lima.
Bukan karena alarm, ia memang tidak tidur dengan benar. Sepanjang malam ia hanya berpindah-pindah antara berbaring dengan mata terbuka dan setengah terkantuk yang tidak bisa disebut tidur. Tapi ketika subuh masuk dari celah jendela, ia bangkit seperti biasa, ke kamar mandi seperti biasa, lalu ke dapur seperti biasa.
Karena itulah yang harus ia lakukan sekarang.
Seperti biasa.
Ia menanak nasi, menggoreng telur, merebus air untuk kopi. Tangannya bergerak dengan hafalan yang sudah tertanam bertahun-tahun.
Raina meletakkan cangkir kopi di meja makan tepat ketika Robby muncul dari lorong kamar.
Ia duduk di kursi seberang, menyendok telur ke piringnya sendiri, dan menatap Robby dengan wajah yang sudah ia latih sejak subuh tadi... wajah biasa, wajah pagi hari, wajah perempuan yang semalam tidur nyenyak dan tidak tahu apa-apa.
Robby duduk, menarik cangkir kopinya, menyeruput sekali, lalu mengeluarkan ponselnya dan meletakkannya di samping piring.
Raina makan.
Robby minum kopi sambil menatap layar ponselnya. Jempolnya bergerak, menggulir sesuatu. Lalu... senyum. Bukan senyum kecil yang samar, tapi senyum yang naik sampai ke sudut matanya, senyum yang keluar tanpa sadar dari seseorang yang sedang membaca sesuatu yang menyenangkan.
Raina menatapnya tiga detik.
Lalu menunduk kembali ke piringnya.
Di dalam dadanya ada sesuatu yang mengencang, seperti tali yang diputar terlalu kencang, satu putaran lagi dan ia akan putus. Tapi tangannya tetap memegang sendok dengan tenang. Kunyahan pertama, kedua, ketiga.
Kemudian ia mendongak dan berkata dengan nada yang ringan, nada perempuan yang sekadar penasaran:
"Lagi lihat apa? Dari tadi senyum-senyum."
Robby mendongak.
Setengah detik, hanya setengah detik tapi Raina melihatnya. Ada sesuatu yang bergerak di wajah Robby, sesuatu yang cepat dan tidak sempat disembunyikan. Rahangnya sedikit mengencang. Matanya berkedip sekali lebih banyak dari biasanya.
Kemudian senyum itu kembali, tapi kali ini bentuknya berbeda. lebih sadar, lebih diatur.
"Video lucu," kata Robby. Ia memutar layarnya sebentar ke arah Raina, sebuah klip pendek, orang jatuh dari sepeda, suara tawa di latar belakang. "Dikirim si Dicky. Receh banget."
"Oh." Raina mengangguk. Tersenyum tipis. "Kirim ke aku dong."
"Nanti."
Robby memutar layarnya kembali. Jempolnya bergerak lagi, tapi kali ini lebih berhati-hati... lebih terkontrol, tidak lagi membiarkan senyum naik ke permukaannya.
Raina meneruskan sarapannya.
Tidak ada video lucu yang membuat orang senyum seperti itu di pagi hari. Senyum seperti itu bentuknya berbeda... lebih hangat, lebih dalam, seperti seseorang yang baru saja menerima sesuatu yang ingin ia simpan sendiri.
Raina tahu. Ia hanya tidak mengatakan apa-apa.
Ia menunggu sampai Robby selesai makan dan meletakkan sendoknya sebelum bicara lagi.
"Rob, beras kita habis."
Robby tidak langsung menjawab. Ia menyeruput sisa kopinya. "Beli aja."
"Iya, makanya minta uang."
"Uang belanjaan bulan ini kan sudah aku kasih."
Raina meletakkan sendoknya pelan. "Itu sudah habis."
Robby akhirnya meletakkan ponselnya tidak senang. Karena merasa terganggu. "Habis buat apa? Baru tanggal dua belas."
"Buat makan, Rob. Buat sabun, buat listrik, buat..."
"Segitu aja nggak cukup?"
Raina menatapnya. "Satu juta rupiah untuk satu bulan. Kamu rasa cukup?"
"Orang lain bisa." jawab Robby santai, bahkan terlalu santai untuk ukuran seorang pria yang sudah memiliki istri.
"Orang lain dengan berapa orang di rumah? Dengan harga beras sekarang? Dengan..."
"Raina." Suara Robby turun satu nada... bukan keras, tapi menggeram seperti amarah yang tertahan. "Aku lagi nggak punya uang lebih sekarang. Kondisi lagi nggak bagus."
Raina menghitung di kepalanya. Gaji Robby enam juta sebulan. Ia tahu, karena dulu sebelum semua ini mereka masih bicara terbuka soal keuangan.
"Gaji kamu enam juta, Rob." suara Raina sedikit ia naikkan. Bukan sengaja, tapi karena rasa terkejut.
"Banyak pengeluaran." jawab Robby mengeluarkan alasan klasik yang Raina anggap basi.
"Pengeluaran apa?"
Robby mendorong kursinya mundur dan berdiri. "Kamu nggak perlu tahu detail keuangan aku."
"Aku istri kamu." Raina mulai memperjelas atau mungkin mengingat statusnya di rumah ini.
"Dan ini uang aku." Nada suaranya naik sekarang. "Sudah aku kasih jatah, masih kurang terus. Masalahnya bukan di uangnya, masalahnya di kamu yang nggak bisa atur!"
Raina tidak bergerak dari kursinya. Amarahnya langsung terpancing dengan mudah. "Satu juta untuk satu bulan itu bukan soal bisa atau nggak bisa atur, Rob. Itu memang tidak cukup."
"Tuh!" Robby menunjuk ke arah jendela... ke arah jalanan di luar, ke arah yang Raina tahu persis ke mana ujungnya. "Lihat Monica! Suaminya kerja serabutan, penghasilan nggak jelas, tapi istrinya bisa tampil cantik, rapi, keliatan terawat! Kamu? Mana pernah dandan, mana pernah keliatan usaha!"
Kata-kata itu mendarat seperti tamparan terbuka yang membekas.
Raina duduk diam selama dua detik penuh.
Kemudian, dengan suara yang lebih pelan dari yang ia sangka bisa ia keluarkan, ia menjawab.
"Bagaimana aku bisa tampil cantik, Rob, kalau uang yang kamu kasih bahkan tidak cukup untuk beli beras sampai akhir bulan?"
"Alasan!" sahut suaminya dengan ekspresi jijik saat melihat tubuhnya yang ada dibalut dengan daster sederhana.
"Itu bukan alasan. Itu matematika sederhana." Raina membantah.
"Perempuan lain bisa!" lagi, ia dibandingkan dengan istri lain.
"Perempuan lain dapat uang berapa dari suaminya?" Raina akhirnya berdiri juga, bukan hanya karena marah, tapi karena duduk terasa seperti menyerah. "Kamu tahu Monica dapat uang dari mana untuk tampil seperti itu? Kamu yakin itu dari gaji Hadi yang kerjanya serabutan?"
Sesuatu bergerak lagi di wajah Robby... cepat, tidak sempat ditangkap kalau tidak tahu harus mencarinya.
"Maksud kamu apa?" Robby mulai ahli dalam mengembalikan ekspresi wajahnya yang sempat terkejut beberapa detik.
"Tidak ada." Raina menarik napas, lelah. Karena amarah yang tidak berarti apa-apa. "Aku cuma bilang, jangan bandingkan kondisi orang kalau kamu tidak tahu kondisinya yang sebenarnya."
Robby menatapnya beberapa detik. Rahangnya mengencang. Kemudian ia mengambil kunci mobil dari meja, meraih tasnya dari sandaran kursi, dan berjalan ke pintu.
"Boros dan nggak tahu terima kasih," katanya tanpa menoleh. "Itu masalah kamu."
Pintu ditutup pelan, tapi rasanya seperti lebih keras dari bantingan.
Raina berdiri di dapur, menatap meja makan yang masih berantakan, cangkir kopi Robby yang masih ada sisa di dasarnya, piring yang belum dicuci.
Ia kehabisan kata-kata.
Bukan karena tidak punya yang ingin dikatakan... terlalu banyak yang ingin ia katakan, justru itu masalahnya. Semuanya berdesakan di kerongkongannya sampai tidak ada satu pun yang bisa keluar dengan benar.
Ia duduk kembali di kursinya.
Menatap meja.
Diam.
---
Sepuluh menit kemudian, Raina mulai mengingat potongan ingatan semalam.
Sebelum tidur... Raina ingat ia sempat melihat sekilas notifikasi di layar ponsel Robby yang menyala sendiri ketika diletakkan di kasur. Ia tidak sempat membacanya dengan jelas. Hanya sekilas, hanya sepotong.
Notifikasi dari aplikasi perbankan.
Ia meletakkan piring terakhir di rak pengering, mengeringkan tangannya, dan berjalan ke kamar tidur.
Lemari pakaian Robby selalu sedikit berantakan di laci bawah... ia tahu itu, karena ia yang membereskannya setiap minggu. Tapi ada satu laci yang Robby sering kunci dengan gembok kecil, laci paling bawah, yang katanya berisi dokumen pekerjaan yang tidak boleh sembarangan dibuka.
Raina tidak pernah membukanya.
Sampai sekarang ia menyadari bahwa gembok kecil itu sudah tidak tergantung di tempatnya... mungkin lupa dikunci tadi pagi, mungkin memang tidak terkunci, mungkin Robby sedang tergesa-gesa.
Ia menarik laci itu.
Di dalam ada beberapa amplop, satu map plastik biru, dan di bawah tumpukan kertas... selembar bukti transfer yang tertekuk di sudutnya, seperti seseorang yang menyembunyikannya dengan terburu-buru.
Raina mengambilnya.
Kertas itu tipis, jenis yang keluar dari mesin ATM atau dicetak dari aplikasi perbankan. Tanggalnya dua minggu lalu.
Transfer Berhasil
Nominal: Rp 10.000.000
Kepada: Monica Andita
Catatan: ...
Raina membaca angka itu tiga kali.
Sepuluh juta rupiah.
Dua minggu lalu.
Di bulan yang sama Robby bilang kondisi keuangan sedang tidak bagus. Di bulan yang sama Raina diberi satu juta rupiah untuk bertahan selama tiga puluh hari. Di bulan yang sama beras mereka habis sebelum tanggal lima belas dan Robby baru saja berdiri di dapur ini, menunjuk ke arah rumah Monica, dan mengatakan bahwa Raina tidak tahu cara mengatur uang.
Sepuluh juta rupiah.
Untuk Monica Andita.
Istri Hadi yang kerjanya serabutan, yang entah dari mana bisa membeli tas mahal dan merawat kulitnya seperti perempuan di iklan televisi.
Raina melipat bukti transfer itu.
Dan untuk pertama kalinya sejak kemarin pagi... sejak struk hotel itu jatuh ke telapak tangannya, ada sesuatu yang bergerak di dalam dadanya. Bukan sedih. Bukan lagi rasa tertampar yang pelan dan dingin seperti semalam.
Ini berbeda.
Ini panas.
Raina berdiri di depan lemari Robby, menatap laci yang sudah tertutup kembali, dan merasakan sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan... sesuatu yang terasa seperti api kecil yang baru saja diberi bahan bakar yang cukup untuk tidak padam dalam waktu dekat.
Untuk istrinya satu juta rupiah, dan itu pun masih dianggap boros.
Untuk perempuan di seberang jalan sepuluh juta rupiah, dan itu rupanya masih belum cukup untuk disebut pengeluaran.
Raina menarik napas panjang, dalam, pelan, terkontrol.
Kemudian ia keluar dari kamar, kembali ke dapur, dan mulai menyapu lantai.
Karena itulah yang harus ia lakukan sekarang.
Bergerak. Berpikir. Menyusun.
Sambil tersenyum, sampai waktunya tiba untuk berhenti atau membalas dendam.
Robby dan Monica mungkin akan kacau, karena Monika tahunya hanya menahan uang