Patah hati setelah memergoki kekasih yang begitu ia cintai berselingkuh di belakangnya, membuat Kanaya menyerah pada keadaan. Dengan hati yang masih terluka dan kecewa, ia akhirnya menerima perjodohan yang sejak lama telah direncanakan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pria bernama Rafael. Seorang pria tampan namun dingin, tenang, dan sulit di tebak.
Bagi Kanaya, pernikahan itu hanyalah jalan pelarian untuk mengubur rasa sakit hatinya. Namun, siapa sangka dibalik sikap Rafael yang kaku dan tak perduli, tersimpan ketulusan yang perlahan mampu membuat hati Kanaya kembali percaya pada cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noor.H.y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2. Kanaya Putri Wijaya
Kanaya Putri Wijaya, gadis cantik dan manis yang merupakan putri tunggal dari Harun Wijaya ‐ salah satu seorang pengusaha sukses yang di kenal berpengaruh di dunia bisnis. Kanaya juga salah satu mahasiswi yang pintar dari Fakultas Managemen Bisnis di universitas ternama. Meski lahir dari keluarga kaya dan selalu hidup berkecukupan, Kanaya tidak pernah memanfaatkan statusnya untuk meremehkan orang lain.
Sebagai putri tunggal, Kanaya tumbuh dengan limpahan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Hal itu membuatnya memiliki sifat manja, suka di perhatikan, dan terkadang keras kepala jika keinginannya tidak terturuti. Namun dibalik sikap manjanya, Kanaya adalah gadis yang hangat, ceria, dan mudah membuat orang lain nyaman saat berada di dekatnya. Senyumnya selalu berhasil mencuri perhatian, sementara tingkah polosnya sering kali membuat orang lain gemas sendiri.
Di kampus, di kenal sebagai mahasiswi yang aktif dan cerdas. Nilainya hampir selalu sempurna, membuat banyak dosen kagum padanya. Meski berasal dari keluarga berada, ia tetap berusaha membuktikan bahwa dirinya mampu berdiri dengan kemampuannya sendiri, bukan hanya karena nama besar sang ayah.
Hingga suatu ketika, hidup Kanaya berubah saat dirinya mengenal Raditya - seorang mahasiswa di fakultas yang sama dengannya. Berbeda dengan pria-pria lain yang mendekatinya karena latar belakang keluarganya, Raditya hadir dengan sikap hangat dan sederhana. Ia selalu bersikap baik, perhatian dan seolah memahami Kanaya lebih dari siapapun.
Sedikit demi sedikit Raditya berhasil mengisi ruang di hati Kanaya. Pria itu selalu ada saat Kanaya membutuhkannya, mendengarkan setiap cerita kecilnya, bahkan hafal hal-hal sederhana yang di sukai gadis itu. Sampai akhirnya Kanaya memutuskan untuk menerima Raditya sebagai kekasihnya. Hubungan mereka berjalan hingga hampir dua tahun lamanya.
Kanaya sempat percaya kalau Raditya itu sosok pria yang tepat untuk masa depannya. Bahkan disaat ayah dan ibunya tidak menyetujui hubungan mereka, Kanaya tetap mempertahankannya mati-matian. Ia menganggap bahwa kedua orang tuanya yang terlalu khawatir.
Namun ternyata... mungkin benar kata orang, firasat orang tua jarang sekali salah.
Dunia Kanaya runtuh tepat di hari kemarin.
Dengan mata kepalanya sendiri, Kanaya memergoki Raditya bercumbu dengan kekasih gelapnya di apartemen pribadi milik pria itu.
Saat itu, tubuh Kanaya terasa membeku. Dadanya sesak hingga sulit untuk bernapas. Ia tidak pernah membayangkan pria yang ia cintai dengan setulus hati justru menghancurkannya sedalam ini. Semua janji manis, perhatian, dan ucapan cinta yang selama ini Raditya berikan mendadak terasa seperti kebohongan yang menertawakannya.
* *
Sejak pulang kemarin malam, Kanaya memilih mengurung dirinya di dalam kamar. Pintu kamar mewah bernuansa krem itu tertutup rapat dari tadi malam, bahkan tak sekali pun gadis itu keluar. Tirai jendela masih tertutup, membuat kamar itu terasa suram meski hari sudah beranjak siang.
Diluar kamar, Harun dan Kirana berjalan menuju kamar putrinya. Mereka baru saja pulang dari Bandung untuk menghadiri sebuah acara. Namun sesampainya di rumah, ia merasa aneh karena keadaan rumah yang nampak sepi dan tak mendapati putri tunggalnya itu.
Saat mendengar kabar kalau Kanaya dari semalam tidak keluar kamar dari Mbok Sumi, salah satu Art yang dari kecil sudah berada di rumahnya bahkan dari Kanaya kecil.
Mereka langsung buru-buru naik ke atas, tidak sabar untuk menemui putrinya dan menanyakan keadaannya.
Kirana mengetuk pintu kamar Kanaya, "Sayang.. Mommy dan Daddy udah pulang nih, buka pintunya.." ucapnya lembut.
"Kanaya.. Buka pintunya. Ayo keluar, jangan berdiam di dalam. Daddy mau ngomong sama kamu." ucapan Harun yang cukup keras membuat Kirana menoleh ke arah suaminya, dengan mata yang sedikit melotot.
"Ih.. Kamu nih ya Mas, kan bisa pelan-pelan ngomongnya." lirih Kirana, sembari memukul lengan Harun.
Harun menghela napasnya pelan, "Begini nih hasilnya kalau kamu selalu belain dia. Lama-lama dia juga jadi seenaknya sendiri," kata Harun, merasa tak sejalan dengan istrinya.
Memang selama ini Kirana lah sebagai ibu yang selalu memanjakan Kanaya, kalau Harun bicara keras sedikit pasti langsung bela oleh Kirana.
"Ya sudah, kamu saja yang bujuk. Aku mau mandi dulu."
Harun berlalu, berjalan menuju kamarnya sendiri. Tak mau lagi membujuk putrinya, karena ia juga tahu kalau Kanaya sudah bosan dengan mode merajuknya juga bakalan keluar kamar dengan sendirinya.
"Hufft.." hela napas Kirana. Lalu mencoba untuk mengetuk pintu kamar putrinya kembali.
"Sayang.. Ayo cepat buka pintunya. Kata Mbok Sumi dari semalam kamu belum makan, ayo keluar kita makan dulu. Mommy temenin." seru Kirana lagi dari luar kamar.
Namun masih saja sunyi tak ada sahutan dari dalam kamar Kanaya.
Dari arah bawah, terlihat Keisya berjalan masuk ke dalam rumah Kanaya. Ia sempat menyapa Art lain di rumah itu sebentar, lalu sedikit berlari menaiki tangga menuju ke kamar Kanaya. Disana ia melihat Maya dan Mbok Sumi dengan wajah panik karena Kanaya tak kunjung keluar rumah.
Keisya langsung menghampiri mereka dengan napas sedikit terengah karena terburu-buru, setelah Maya menelponnya menanyakan apa yang baru saja terjadi pada Kanaya sampai dia bersikap seperti sekarang.
"Kanaya masih di dalam tante ?" tanyanya pada Maya cemas, sambil menoleh kearah pintu kamar yang tertutup rapat.
Maya mengangguk pelan, "Belum. Dari tadi tante udah panggil-panggil dia, tapi nggak menyahut sama sekali." Maya menoleh menatap Keisya. "Coba kamu yang bicara Key, siapa tahu Kanaya mau bukaan pintunya." lanjutnya pasrah.
Keisya Ayu Mahesa, gadis yang tak lain sahabat Kanaya sejak dari kecil sampai sekarang. Keisya dan Kanaya dari kecil tumbuh bersama, karena kedua keluarga mereka memang sudah dekat dari dulu.
Karena Maya merasa sudah tidak tahu harus berbuat apalagi, ia akhirnya menghubungi Keisya. Karena Maya tahu, apa yang tidak di ketahui oleh dirinya itu pasti Keisya tahu.
"Ya sudah, lebih baik tante istirahat saja. Masalah Kanaya biar Keisya yang menangani." lirih Keisya.
Ia tak tega melihat Maya yang terlihat sangat letih karena baru saja pulang perjalanan jauh. Sampai rumah malah harus menghadapi putri tunggalnya yang tantrum.
Maya mengangguk, "Kalau gitu tante bersih-bersih dulu. Kalau ada apa-apa kamu bilang ya ke tante."
"Siap, tante.." ucap Keisya, dengan mengangkat jarinya membentuk lingkaran kecil, tanda bahwa semuanya baik-baik saja.
Keisya menoleh menatap Mbok Sumi, "Kamar Kanaya ada kunci cadangannya kan Mbok ?"
"Ada Non," Mbok Sumi berjalan menuju laci mengambil kunci cadangan lalu di berikan kepada Keisya.
"Apa non Kanaya nggak akan marah, kalau kamarnya di buka secara paksa gitu non ?" ucap Mbok Sumi sedikit ragu, sebelum Keisya membuka pintu kamar,
Keisya menggeleng pelan, "Mbok tenang aja. Lebih baik Mbok kembali ke dapur saja. Siapin makanan yang enak-enak buat kita nanti." kata Keisya sembari memamerkan gigi putihnya.
Mbok Sumi hanya mengangguk pelan, lalu berjalan turun meninggalkan Keisya.
Keisya membuka pintu dan masuk perlahan. Sedari tadi ia sudah membayangkan akan mendapati Kanaya yang sedang menangis sesegukan di atas ranjang sambil memeluk bantalnya. Namun kenyataan yang ia lihat justru jauh dari perkiraannya.
Bukannya menangis, Kanaya malah tidur meringkuk di atas ranjang dengan selimut menutupi hampir seluruh tubuhnya hingga hanya sedikit rambut yang terlihat.
Keisya menghela napas panjang sambil berkacak pinggang gemas.
"Ya ampun... aku kira lagi nangis bombay ternyata malah tidur kaya kepompong begini." gumamnya pelan.
Ia berjalan pelan lalu menarik selimut yang menutupi wajah Kanaya. Wajah gadis itu terlihat sembab, matanya sedikit bengkak karena menangis cukup lama sebelum akhirnya tertidur karena kelelahan.
Rasa gemas Keisya perlahan berubah menjadi iba.
"Diluar semua orang panik khawatir dengan keadaanya. Eh yang di khawatirkan malah lagi enak-enakan tidur di dalam." ucapnya lirih.
Keisya berjalan dengan mendekat ke tirai di samping ranjang Kanaya. Ia menyibak tirai tersebut pelan, namun cahaya terang yang masuk ke dalam kamarnya membuat Kanaya terusik lalu mencoba untuk menarik selimut menutup tubunya semakin rapat.
"Bangun.. Nay, udah siang ini." ucap Keisya, dengan menarik selimut yang menutup tubuh Kanaya.
"Apa sih key, masih ngantuk tau.. Ah," lirih Kanaya dengan suara seraknya khas orang bangun tidur.
"Nggak, sekarang bangun. Kamu sadar nggak sih, semua orang sekarang lagi khawatir sama kamu semua tau.."
Dengan gerakan malas, Kanaya menyibak selimutnya lalu duduk menatap Keisya yang sedang menyengir kuda memamerkan deretan giginya yang putih.
Namun, Keisya mengatupkan mulutnya kembali saat menatap wajah sahabatnya yang tiba-tina berubah sendu seperti ingin menangis.
"Key.... Pelukkk.." lirih Kanaya, merentangkan tangannya kedepan minta di peluk Keisya.
Melihat sahabatnya dengan mode manja seperti ini membuat Keisya tak bisa menahannya, ia pun maju lalu memeluk Kanaya erat.
"Huuwaaaa..." tangis Kanaya pecah kembali saat berada di pelukan Keisya.
"Cup.. Cup.. Cup... Sayangnya aku, udah jangan nangis lagi ya." lirih Keisya sembari menepuk punggung Kanaya pelan.
"Udah... Laki-laki seperti dia nggak pantas mendapat berlian kaya kamu. Makanya, Tuhan kasih kamu petunjuk yang memang dia itu bukan orang yang tepat buat kamu." kata-kata Keisya itu membuat Kanaya melepas pelukannya, lalu mengusap air matanya.
"Tapi kenapa baru sekarang.. Pas aku lagi sayang-sayangnya coba, huuuwaaa..." ucap Kanaya, masih sesenggukan.
Keisya menghela napasnya pelan, "Masih mending ketahuan sekarang belangnya, dari pada nanti-nanti."
"Percaya deh sama aku, Tuhan lagi menyiapkan seseorang yang jauh-jauh lebih baik dari pada si Raditya itu." ucapnya meyakinkan Kanaya dengan kedua tangannya memegang bahu sahabatnya erat. Sedangkan Kanaya hanya membalasnya dengan anggukan pelan.
"Udah, sekarang lebih baik kamu mandi. Terus kita turun ke bawah, Mbok Sumi sudah masak makanan kesukaan kamu di bawah." Keisya menarik Kanaya, lalu membawanya masuk ke dalam kamar mandi.
* *
Di sebuah kursi single, Theodore Dirgantara atau yang kerap di sapa Opa Theo, duduk tenang menghadap jendela kaca besar yang menampilkan gemerlap langit malam.
Sorot matanya terlihat tajam namun penuh ketenangan, sementara jemarinya bertaut di atas tongkat kayu hitam yang selalu menemaninya.
Pantulan cahaya kota membuat sosok pria tua itu tampak semakin berwibawa, menghadirkan aura seorang penguasa yang telah lama berdiri di puncak kejayaan.
Tok.. Tok...
"Permisi Tuan, Den Rafael sudah datang." seru suara sang ajudan pribadinya.
"Masuk." jawabnya datar.
Ajudan pribadi Opa Theo yang bernama Omar mempersilahkan Rafael untuk masuk ke dalam.
Langkah kaki Rafael terdengar pelan menyusuri lorong rumah besar bernuansa klasik itu. Jas hitam yang masih melekat di tubuhnya menandakan betapa padat urusan yang ia selesaikan hari ini. Wajahnya nampak lelah, tetapi sorot matanya tetap tenang seperti biasa.
Opa Theo yang masih duduk di kursi singlenya, berbalik menoleh menatap Rafael yang berdiri tepat di depannya.
"Ck.. Kamu memang sudah tidak sayang pada Opa mu ini." suara berat Opa Theo, terdengar tenang namun tetap memiliki tekanan yang membuat siapa pun segan.
"Maaf Opa, tadi ada meeting mendadak yang tidak bisa aku tinggalkan." lirih Rafael.
"Duduk. Ada yang ingin Opa sampaikan."
Tanpa menunggu, Rafael duduk di sofa samping kursi Opa Theo.
"Rafa, Opa tidak akan lagi berbasi-basi denganmu. Menikahlah, dan kembali kerumah besar ini."
* * * *
skrng psah kmar,tar lma2 jg dia dtng sndri.....🤭🤭🤭...
yg ngsih btas spa,yg lmpar bntal spa...
tp gengsi buat ngaku sih.....
Aku udh mmpir....slm knal....
btw,gmna nih mlm prtmanya???
bkln perang atw sling adu punggung???atw yg 1 tdr d rnjang,yg 1 d sofa....🤣🤣🤣