SINOPSIS
Gretta Alesia Nobara, 18 tahun, pindah ke SMA Binara 2 untuk melarikan diri dari trauma perundungan di sekolah lama. Ia mengubah penampilannya agar lebih percaya diri dan bertekad memulai hidup baru dengan fokus pada pelajaran.
.
Gian Leminzo cowok pemalas di kelas bahkan sering tidur saat guru menerangkan, di snagat tampan dan di sukai banyak cewe tapi dia selalu menghiraukan cewek-cewek yang mendekatinya.
Namun pertemuan Gretta dengan Gian menjadi sebuah hal yang tidak terduga di antara keduanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rienza27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 MENCARI KEADILAN YANG DI HIRAUKAN
Keheningan yang Pecah Dua hari telah berlalu sejak kejadian itu, namun bagi Alesia, waktu seolah berhenti berputar.
"Sebenarnya apa yang sudah terjadi padamu, Nak?" ujar mama Alesia. Suara cemas Dengan jemari yang gemetar namun penuh kehati-hatian, sang mama mengoleskan salep tipis-tipis ke lengan dan bahu Alesia yang lebam keunguan. Setiap sentuhan membuat hati seorang ibu itu teriris pelan.
Alesia tak menjawab. Bibirnya mengatup rapat, matanya bahkan tidak berkedip saat rasa perih dari salep itu menyentuh kulitnya yang terluka. Dia hanya diam, tenggelam dalam trauma yang teramat dalam, tanpa mempedulikan pertanyaan mamanya.
Mama Alesia menghela napas panjang, mencoba meredam badai amarah dan kesedihan di dalam kepalanya. Ia meletakkan tube salep di atas nakas, lalu menggenggam tangan dingin putrinya. "Jika kamu tidak ingin bercerita sekarang, tidak apa-apa.
Mama tidak akan memaksa. Mama tahu kamu terluka..." Ia menjeda kalimatnya, menatap wajah putrinya yang pucat.
"Tapi beritahu mama, siapa... siapa yang melakukan ini padamu, Nak?"
Keheningan malam mencekik ruangan itu selama beberapa detik, sebelum akhirnya sebuah bisikan tipis dari bibir Alesia yang pecah. "Ema..." ucap Alesia dingin. Matanya yang sayu kini beralih, menatap lirih ke dalam mata mamanya.
"Ema?" Sang mama tertegun. Ingatannya langsung berputar pada nama yang sering disebut-sebut sebagai ikon di sekolah putrinya. "Anak yang punya pengaruh besar di sekolah itu?" tanya sang mama memastikan.
Alesia hanya memberikan anggukan lemah sebelum kembali menunduk. Dalam batin ibunya, amarah seketika berkobar bak api yang disiram bensin.
Mentang-mentang dia anak orang kaya, dia bisa berbuat keji begini pada anakku? Melihat pertahanan putrinya mulai runtuh, mama Alesia memeluk putrinya dengan sangat lembut. Sambil membujuk pelan dan mengusap punggungnya, ia berbisik, "Cerita pada Mama, Sayang. Jangan dipendam sendiri."
Tumpahlah segala bendungan air mata yang ditahan Alesia selama dua hari ini. Dengan hati yang lirih dan isak tangis yang begitu pedih hingga menyesakkan dada, Alesia menceritakan semua intimidasi, makian, dan pukulan yang ia terima, bahkansetiap hari dia dijadikan babu oleh Ema. Setiap kata yang keluar dari mulut Alesia bagai belati yang menusuk jantung ibunya. Sang mama hanya bisa mendekapnya semakin erat, ikut menangis bersamanya di bawah remang lampu kamar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, di lingkungan sekolah yang megah,
atmosfer terasa begitu kontras. Di area kantin yang ramai, Ema duduk dengan santai sambil menikmati minumannya, dikelilingi oleh dua temannya yang selalu mengekor ke mana pun ia pergi.
"Di mana si cupu itu? Kenapa dia tidak masuk sekolah sudah dua hari? Apa dia sudah mati?" ujar Ema, lalu tertawa renyah, seolah-olah penderitaan orang lain adalah lelucon.
Shasa, salah temannya, langsung menimpali dengan nada menjilat, "Mungkin dia ketakutan setengah mati padamu, Bos! Sekali gertak langsung sembunyi di ketiak ibunya."
Ema tersenyum tipis, penuh kemenangan. Di kepalanya, ia adalah penguasa mutlak sekolah ini. Tidak ada yang boleh menentangnya, termasuk gadis miskin beasiswa seperti Alesia.
Namun, keangkuhan itu tidak bertahan lama. Keesokan harinya, gerbang sekolah dikejutkan oleh kedatangan dua sosok yang berjalan dengan langkah pasti. Mama Alesia datang mendampingi putrinya. Hari itu, Alesia tidak memakai seragam sekolah, melainkan baju biasa.
Penampilannya mengundang perhatian semua orang; matanya masih ditutupi perban putih, begitu pula dengan kepalanya yang sempat terbentur keras.
Bisik-bisik miring langsung berdengung di sepanjang koridor. Murid-murid berhamburan ke jendela dan koridor, menatap ngeri sekaligus penasaran pada kondisi Alesia.
Di antara kerumunan itu, Denis yang dulunya cukup dekat dengan Alesia, Terpaku melihat keadaan Alesia yang dimana mata yang ditutup perban dan kepala yang di perban membuat dia sok. Ia telah menjauhi Alesia hanya karena tidak ingin ikut menjadi sasaran perundungan Ema yang kejam.
Tanpa memedulikan tatapan menghakimi di sekitar mereka, mama Alesia menggandeng erat tangan putrinya, melangkah lurus menuju ruang kepala sekolah.
Begitu pintu terbuka, tanpa basa-basi, mama Alesia melangkah maju dan—PRAKK!—ia menggebrak meja kerja kepala sekolah dengan sangat keras hingga vas bunga di atasnya bergetar.
Kepala sekolah yang sedang membaca dokumen tersentak kaget dan langsung berdiri dari kursinya. "Maaf, Bu... ini ada apa? Kenapa tiba-tiba datang dan mengamuk?" tanya kepala sekolah dengan wajah bingung bercampur kesal.
"Saya ingin buat perhitungan dengan anak yang bernama Ema! Dia sudah membuat anak saya menjadi seperti ini!" ujar mama Alesia berteriak lantang, jarinya menunjuk lurus ke arah Kepala sekolah.
Kepala sekolah mengalihkan pandangannya kepada Alesia yang berdiri gemetar di belakang ibunya. Begitu melihat perban di kepala, mata, serta bekas-bekas luka yang menyembul dari balik pakaian baju biasa Alesia, sang kepala sekolah sontak terkejut.
Ema melakukan ini? Ada apa dengannya sampai senekat ini? batin kepala sekolah panik.
Satu rahasia umum yang tidak diketahui banyak orang: kepala sekolah itu adalah paman kandung Ema. Ia tahu betul watak keponakannya yang manja dan keras kepala, namun ia tidak menyangka Ema akan bertindak sejauh ini hingga menyebabkan luka fisik yang parah.
Sementara itu, situasi di luar ruangan semakin tidak terkendali. Murid-murid mulai berkerumun di depan kaca dan pintu ruang kepala sekolah yang setengah terbuka, ingin melihat drama apa yang sedang terjadi.
"Cepat panggil anak itu ke sini!" bentak mama Alesia, matanya menyala penuh amarah yang tak tertahankan.
Kepala sekolah yang mulai berkeringat dingin segera memanggil salah satu murid yang mengintip di luar. "Kamu! Cepat panggil Ema sekarang juga untuk menghadap saya!" perintahnya dengan suara tegas yang.