NovelToon NovelToon
Menikahi Pria Yang Mencintai Adik Tirinya

Menikahi Pria Yang Mencintai Adik Tirinya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Perjodohan
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Yellow Sunshine

Pada ulang tahun pernikahannya yang pertama, Hazel Frost menemukan suaminya, Mason Roux mencium wanita lain dengan kedua matanya. Dan yang lebih menghancurkan lagi, bahwa wanita itu adalah adik tiri suaminya, Jennifer.
Pernikahan yang seharusnya menjadi kebahagiaan pun perlahan berubah menjadi rahasia yang menyakitkan. Meski tahu hatinya tidak pernah benar-benar dimiliki, Hazel tetap bertahan. Ia mencoba membuat Mason melihatnya sebagai seorang istri, bukan sekadar wanita yang terpaksa harus dinikahi.
Namun semakin lama, Hazel mulai menyadari satu hal, bahwa tidak semua cinta bisa diperjuangkan sendirian. Lalu ketika ia akhirnya memilih berhenti dan pergi, Mason justru mulai menyadari perasaannya yang sebenarnya.
Tapi apakah semuanya sudah terlambat? Apakah Hazel masih bersedia kembali pada pria yang pernah menghancurkan hatinya? Atau justru Mason Roux yang akan menyesal seumur hidup karena kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yellow Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 16

(Flashback H-10 sebelum pernikahan)

Pagi ini rumahku terasa jauh lebih hidup dibanding biasanya. Sejak tadi para pelayan hilir mudik membawa kotak-kotak bunga, gaun, dan berbagai perlengkapan lain yang bahkan membuat kepalaku sedikit pusing hanya dengan melihatnya. Suara langkah kaki terdengar bersahutan di sepanjang lorong rumah, bercampur dengan suara Ibu yang sesekali memberi instruksi pada seseorang di luar kamar. Namun di tengah semua kesibukan itu, aku justru duduk diam di depan meja rias dengan perasaan yang sulit dijelaskan.

Gaun pertunanganku tergantung di dekat jendela besar kamar. Kain berwarna merah muda lembut itu tampak indah saat terkena cahaya matahari pagi. Dulu, aku pernah membayangkan hari seperti ini berkali-kali. Hari di mana aku akan mengenakan gaun cantik, berdiri di samping pria yang kucintai, lalu tersenyum bahagia tanpa keraguan sedikit pun. Namun sekarang, saat hari itu benar-benar datang, perasaanku justru terasa begitu rumit.

Ponselku masih berada di atas meja sejak tadi malam—layarnya kosong. Tidak ada pesan dari Mason. Tidak ada ucapan apa pun darinya tentang hari ini. Dan entah mengapa, meski aku sudah mencoba mempersiapkan diriku untuk itu, dadaku tetap terasa sedikit sesak saat menyadarinya.

Aku menghela napas pelan tepat ketika pintu kamarku terbuka. Ibu masuk dengan senyum lembut di wajahnya. Ia berjalan mendekat sambil membawa kotak perhiasan kecil di tangannya, lalu berdiri di belakangku di depan cermin. Tangannya bergerak hati-hati memasangkan anting di telingaku. Kami terdiam cukup lama sampai akhirnya ia menatapku lewat pantulan cermin.

“Kau bahagia?” tanyanya pelan.

Pertanyaan itu membuatku terpaku beberapa detik. Aku menatap diriku sendiri di cermin. Riasan di wajahku tampak sempurna, rambutku sudah ditata rapi, dan semua orang di rumah ini mungkin berpikir aku adalah gadis paling beruntung hari ini.

Mungkin mereka benar. Karena aku memang bahagia. Aku bahagia akhirnya bisa berdiri lebih dekat dengan Mason daripada sebelumnya. Bahagia karena setelah semua penolakan dan rasa sakit itu, ia tetap memilih untuk menjalani pertunangan ini bersamaku.

Namun di saat yang sama, ada sesuatu dalam diriku yang terasa begitu sedih. Sebab aku tahu, bahwa keputusan ini mungkin bukan lahir dari cinta. Dan aku tidak tahu apakah seseorang bisa benar-benar bahagia saat menyadari pria yang akan bertunangan dengannya belum mampu membuka hatinya.

Aku akhirnya tersenyum kecil pada Ibu. “Tentu saja,” jawabku pelan. Jawaban itu bukan sepenuhnya bohong. Hanya saja. bukan seluruh kebenaran.

Ibu memandangku beberapa saat sebelum akhirnya membelai pelan rambutku. “Apa pun yang terjadi nanti,” katanya lembut, “jangan sampai kau kehilangan dirimu sendiri, Hazel.”

Dadaku menghangat mendengar itu. Aku mengangguk kecil, meski aku sendiri tidak tahu apakah aku masih benar-benar mengenali diriku sendiri akhir-akhir ini.

Beberapa jam kemudian, kami tiba di venue pertunangan. Tempat itu tampak begitu indah hingga hampir terasa seperti lukisan. Lampu-lampu kristal menggantung di langit-langit tinggi ruangan, sementara bunga-bunga putih memenuhi hampir setiap sudut. Musik mengalun lembut di udara, bercampur dengan suara para tamu yang datang silih berganti.

Semua orang tersenyum hari ini. Semua orang terlihat bahagia. Dan anehnya, justru itu yang membuatku semakin gugup.

Aku melangkah masuk bersama Ayah dan Ibu, mencoba membalas setiap sapaan yang diberikan orang-orang di sekitar kami. Namun seperti biasa, mataku tetap mencari satu sosok di antara keramaian itu. Dan tidak butuh waktu lama sampai akhirnya aku menemukannya.

Mason berdiri tidak jauh dari tengah ruangan, mengenakan setelan hitam yang membuatnya tampak begitu tenang dan sulit dijangkau. Beberapa orang berbicara dengannya, namun ia hanya menjawab seperlunya. Sikapnya masih sama seperti biasanya—tenang, datar, dan seolah menjaga jarak dari semua hal.

Lalu, tatapan kami bertemu. Dan kali ini, ia tidak memalingkan wajahnya. Aku tidak tahu kenapa hal sekecil itu mampu membuat jantungku berdetak lebih cepat. Ia hanya menatapku beberapa detik tanpa bicara apa pun. Namun untuk seseorang seperti Mason, bahkan diamnya terkadang terasa terlalu berarti.

“Hmm, gaun yang indah.”

Suara itu membuatku menoleh. Jennifer berdiri di samping Mason dengan senyum manis di wajahnya. Ia berjalan mendekat ke arahku sambil memandangku dari atas sampai bawah.

“Terima kasih,” jawabku pelan.

Jennifer tampak begitu cantik hari ini dengan gaun berwarna gelap yang elegan. Dan seperti biasanya, ia berdiri terlalu dekat dengan Mason tanpa terlihat aneh sedikit pun. Tangannya bergerak ringan membetulkan ujung dasi Mason, sementara Mason membiarkannya begitu saja tanpa keberatan.

Gerakan kecil itu seharusnya biasa saja. Namun entah mengapa, aku tetap merasa sedikit asing saat melihatnya. Jennifer selalu terlihat memahami Mason tanpa perlu bertanya apa pun. Sementara aku, bahkan sampai hari ini masih terus mencoba mencari cara agar pria itu tidak menjauh dariku.

Acara pertunangan akhirnya dimulai tidak lama kemudian. Semua orang mulai berkumpul di tengah ruangan saat Rowan berdiri memberikan sambutan. Sarah duduk di dekatnya dengan wajah yang tampak jauh lebih sehat dibanding beberapa hari lalu. Sesekali ia tersenyum ke arahku, dan aku bisa melihat kebahagiaan yang begitu jelas di matanya.

“Hari ini adalah awal dari sesuatu yang indah,” ucap Rowan di depan semua orang.

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun entah mengapa, dadaku terasa sedikit nyeri mendengarnya. Karena aku tidak tahu apakah yang sedang dimulai ini benar-benar indah untuk kami berdua, atau hanya indah untuk semua orang selain Mason.

Beberapa saat kemudian, kotak cincin dibawa ke tengah ruangan. Napasku langsung terasa lebih pelan saat menyadari semua orang kini memperhatikan kami. Aku melangkah mendekat ke arah Mason, lalu perlahan mengangkat tanganku. Dan aku baru sadar bahwa jemariku sedikit gemetar.

Mason menatap tanganku beberapa detik. Tatapannya turun pelan, seolah menyadari kegugupanku. Lalu tanpa mengatakan apa pun, ia menahan jemariku sebentar sebelum memasangkan cincin itu di jariku.

Sentuhannya tenang, lembut, dan tidak tergesa. Bukan sesuatu yang romantis. Bahkan mungkin tidak berarti apa-apa baginya. Namun tetap saja, dadaku terasa sesak karenanya.

Ia tidak lagi sedingin dulu. Dan perubahan kecil itu justru jauh lebih berbahaya untuk hatiku.

Aku mengangkat wajah perlahan dan mendapati Mason masih menatapku dari jarak yang begitu dekat. Kali ini, ia tidak terlihat ingin segera menjauh seperti biasanya. Ia tetap diam, namun bukan diam yang dingin, melainkan hanya tenang.

Sekarang giliranku memasangkan cincin di jari Mason. Namun tanganku masih sedikit gemetar saat mencoba melakukannya.

“Pelan saja.” ucapnya. Suara Mason terdengar rendah dan pelan di depanku. Hanya dua kata. Namun entah mengapa, aku hampir membencinya karena perhatian sekecil itu masih mampu membuatku berharap terlalu jauh.

Tepuk tangan mulai terdengar memenuhi ruangan begitu cincin itu terpasang di jari kami. Semua orang tampak bahagia. Sarah bahkan terlihat hampir menangis saat memelukku beberapa saat setelahnya.

“Kalian terlihat sangat serasi,” katanya lembut. Aku tersenyum kecil, meski ada bagian dalam diriku yang terasa begitu rapuh.

Kami menghabiskan cukup banyak waktu untuk berfoto setelah acara resmi selesai. Di depan kamera, kami tampak seperti pasangan yang sempurna. Mason berdiri di sampingku tanpa penolakan. Sesekali ia menatap kamera, sesekali menoleh padaku saat fotografer meminta kami mendekat.

Namun begitu lampu kamera berhenti menyala, jarak itu perlahan kembali terasa. Aku akhirnya keluar ke balkon untuk mencari udara segar. Malam di luar terasa jauh lebih tenang dibanding keramaian di dalam sana. Aku berdiri di dekat pagar balkon sambil menatap lampu kota yang menyala di kejauhan.

Beberapa detik kemudian, aku mendengar langkah kaki mendekat. Dan tanpa perlu menoleh, aku tahu siapa itu.

“Aku masih sulit percaya ini benar-benar terjadi,” kataku pelan.

Mason berdiri di sampingku, menatap lurus ke depan. “Aku juga.”

Aku tersenyum kecil mendengar jawabannya. Hening beberapa saat menyelimuti kami sebelum akhirnya aku memberanikan diri bertanya.

“Apa kau menyesal?”

Ia tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap lurus ke depan cukup lama sampai akhirnya ia menghela napas pelan.

“…aku tidak tahu.”

Jawaban itu seharusnya menyakitkan. Namun anehnya, aku justru merasa sedikit lega. Karena untuk pertama kalinya, ia tidak memberiku jawaban dingin hanya untuk mendorongku menjauh.

Ia hanya berkata jujur. Dan entah mengapa, itu terasa lebih berarti daripada kebohongan manis apa pun.

Aku menunduk sebentar sebelum akhirnya tersenyum kecil. “Kalau begitu…” suaraku pelan, “…aku akan berusaha membuatmu tidak menyesal.”

Mason tidak menjawab. Namun kali ini, ia juga tidak pergi. Dan untuk saat ini, rasanya itu sudah cukup bagiku.

Saat acara akhirnya selesai dan aku masuk ke dalam mobil untuk pulang bersama keluargaku, suasana malam terasa jauh lebih sunyi dibanding sebelumnya. Aku menyandarkan tubuhku pelan ke kursi, lalu menatap cincin yang kini melingkar di jariku.

Cincin itu terasa nyata, semua ini terasa nyata. Pertunangan kami, keputusan Mason, dan fakta bahwa malam ini ia benar-benar tetap berdiri di sampingku.

Aku memejamkan mata pelan, namun bayangan Jennifer kembali muncul begitu saja di pikiranku. Cara ia berdiri dekat dengan Mason. Cara mereka berbicara tanpa banyak kata. Dan cara Mason terlihat jauh lebih hidup saat bersamanya.

Aku tidak tahu mengapa hal itu terus menggangguku. Karena sejauh yang kutahu, Jennifer hanyalah adik tirinya. Dan sikapnya selama ini pun terlihat seperti seseorang yang hanya terlalu melindungi kakaknya. Namun tetap saja, ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh perasaanku sendiri setiap kali melihat mereka bersama.

Aku menggenggam jemariku perlahan. “Mungkin aku hanya terlalu memikirkannya,” bisikku pelan.

Namun kalimat itu bahkan tidak terdengar meyakinkan untuk diriku sendiri.

1
Dew666
👄
Hatnah Batulicin
aku kalau bca novel yg menyebutkan dirinya "aku" maaf tidak lanjut lgi 🙏🙏🙏
partini
aku menebak Endingnya bersatu lagi secara tergila gila Banggt sama suaminya,,aku baru baca Ampe Ina inu suaminya sama mantannya ending bersatu lagi 🤣
Yellow Sunshine: Tebakan yang menarik. Stay tuned ya! Kita lihat, apakah kisah Mason-Hazel akan happy atau sad ending 🤗
total 1 replies
partini
Thor ini flashback ke -01 kah
Yellow Sunshine: Cerita flashback dimulai dari Chapter 3 ya 🤗
total 1 replies
partini
hemmm wanita di mana" itu cinta buta di sakiti darah" pun ga terasa masih bertahan demi cinta weleh
Yellow Sunshine: Sakit sih 💔💔💔
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!