NovelToon NovelToon
WARISAN PEMIKAT JANDA

WARISAN PEMIKAT JANDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Romansa Fantasi / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: StarBlues

Seorang pria miskin harus menelan pahitnya dikhianati dan ditinggalkan kekasihnya di saat yang sama. Sempat hancur dan hampir menyerah, dia akhirnya memilih bangkit demi membalas semuanya. Sampai suatu hari, dia menemukan liontin misterius warisan keluarga yang mulai mengubah hidupnya. Dengan cara yang tak biasa, dia perlahan membalikkan nasib lewat hubungan dengan para janda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon StarBlues, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14

Perjalanan pulang ke desa terasa jauh lebih ringan. Langkah Heri dan Tarjo tampak enteng seolah melayang, seakan dunia mendadak berubah menjadi tempat yang jauh lebih ramah. Gelak tawa pecah di sepanjang jalan; mereka sibuk mengulang-ulang kejadian semalam, saling menimpali dengan detail yang semakin dilebihkan setiap kali cerita itu terucap.

“Udah kayak raja semalam. Gila, gue baru pertama kali dapat pelayanan super kayak tadi malam,” seru Heri dengan seringai lebar yang tak kunjung hilang.

“Semua itu berkat Juan,” sahut Tarjo sembari merangkul bahu sahabatnya itu dengan bangga.

”Iyalah, kalau bukan karena Juan, mungkinn sampai kita masuk ke dalam tanah, nggak bakal bisa ngerasain goyangan dan servisan maut wanita penghibur kelas VIP itu... ” Cetus Heri yang menimpali sahutan Tarjo dan tentu menyelipkan pujian setinggi langit kepada sahabatnya, Juan.

”Benar itu, Juan ini memang sahabat yang selalu memberikan yang terbaik untuk teman-temannya yang selalu mengusahakan ini... ”

Juan hanya menanggapi dengan senyum tipis. Baginya, melihat kedua temannya bahagia sudah lebih dari cukup. Tak ada keinginan dalam dirinya untuk membalas pujian itu dengan kesombongan.

Setibanya di desa, langkah mereka otomatis mengarah ke kedai Teteh Ayu. Perut yang keroncongan sejak fajar menuntut untuk segera dimanjakan.

Kedai sederhana itu memang magnet bagi para pria di desa, bukan sekadar karena kelezatan masakannya, tapi karena sosok pemiliknya yang sudah jadi rahasia umum.

Teteh Ayu, janda muda dengan lekuk tubuh yang kerap membuat mata pria sulit berkedip, sudah berdiri manis di balik meja kasir.

Kaus yang dikenakannya tampak pas melekat, mempertegas bentuk tubuhnya yang padat berisi. Apalagi di bagian depan, dua bukit kembar hot yang selalu bergoyang-goyang dan menggoda.

Senyumannya yang khas selalu sanggup membuat para pelanggan betah berlama-lama hanya untuk menyeruput segelas kopi hitam.

“Wah, para pangeran kampung sudah kembali,” goda Teteh Ayu begitu melihat mereka melangkah masuk.

Heri langsung menyisir rambut dengan jemarinya, berlagak paling tampan. “Jangan panggil pangeran dong, Teh. Bilang saja calon suami.”

Teteh Ayu tertawa renyah, membuat pundaknya sedikit berguncang. “Calon suami mah sudah antre dari tahun kemarin, kamu barisan paling belakang!”

Tarjo tak mau kalah. “Tapi yang lain cuma modal janji, Teh. Kalau aku mah modal cinta.”

“Cinta doang nggak bisa beli beras, Jo,” potong Ayu sambil menepuk pelan kepala Tarjo.

“Benar itu, Teh! Tarjo mah modal congor doang. Mending sama aku, modal congor plus bacotan,” timpal yang lain, memicu tawa mereka meledak bersamaan.

Suasana hangat dan akrab inilah yang membuat kedai Ayu tak pernah sepi. Mereka makan dengan lahap; nasi hangat, sambal pedas, dan ayam goreng bumbu kuning itu memang tidak pernah gagal.

Matahari mulai merangkak ke puncak langit saat Heri dan Tarjo bangkit untuk merapikan baju. Mereka harus segera kembali ke ladang sebelum terik semakin menyengat.

“Juan, lo nggak ikut?” tanya Heri.

Juan menggeleng pelan. “Nanti saja. Gue mau ngopi dulu sebatang.”

“Baiklah,” jawab Tarjo seraya memberi isyarat. “Kalau ada apa-apa, panggil kita.” Juan hanya membalas dengan jempol mantap.

Sepeninggal kedua temannya, kedai berangsur sepi. Desa di siang bolong selalu membawa ketenangan, kebanyakan orang sibuk di sawah, menyisakan kesunyian yang hanya ditemani embusan angin pembawa aroma tanah.

Juan duduk bersandar, menikmati kopinya saat sebuah suara lembut yang sedikit serak memanggil dari balik dapur.

“Juan! Sini sebentar.”

Teteh Ayu melongokkan kepala. Rambutnya diikat asal, memperlihatkan tengkuknya yang putih dan sedikit lembap oleh keringat. Juan bangkit tanpa curiga dan menghampirinya.

“Ada apa, Teh?” tanya Juan.

“Gas habis. Bisa bantu pasang yang baru? Tangan Teteh lagi licin habis pegang bumbu.”

Juan mengangguk dan melangkah masuk ke dapur yang pengap namun harum aroma masakan. Ia segera jongkok di sudut, melepaskan regulator lama, dan memasang tabung yang baru.

Saat ia sedang sibuk berkutat dengan selang gas, ia tak menyadari Teteh Ayu berdiri tepat di belakangnya, mengamati punggung bidang Juan dengan tatapan yang berbeda, lebih dalam, penuh rasa ingin tahu, dan sedikit berani.

“Juan,” panggilnya pelan, suaranya terdengar lebih rendah dari biasanya.

“Ya?” jawab Juan singkat tanpa menoleh.

“Kamu berubah.”

Gerakan tangan Juan terhenti sejenak. “Maksudnya?”

Teteh Ayu tersenyum simpul, matanya terus terkunci pada gerak-gerik Juan. “Dulu kamu selalu murung. Sekarang… kamu kelihatan seperti orang yang baru menemukan hidupnya lagi.”

Juan tak menyahut. Ia menyelesaikan pekerjaannya, memastikan regulator terpasang kencang, lalu berdiri.

“Kamu tahu,” lanjut Teteh Ayu dengan suara yang kian lirih, ia melangkah maju hingga jarak di antara mereka mengikis, “banyak laki-laki datang kemari cuma buat liatin aku. Banyak yang melamar juga. Tapi entah kenapa… aku nggak pernah merasa tertarik.”

Juan mengangkat alis, masih berusaha bersikap biasa. “Lalu kenapa ngomong itu ke aku?” tanyanya tanpa menoleh.

Tiba-tiba, sebuah pelukan hangat melingkar erat di pinggang Juan dari arah belakang. Juan tersentak, seluruh sarafnya menegang saat merasakan dua bukit kenyal yang padat dan hangat menekan keras ke punggungnya.

Aroma sabun dan keringat tipis dari tubuh Teteh Ayu merayap masuk ke indra penciumannya, memicu gejolak yang tak terduga.

“Karena kamu lain dari mereka,” bisik Ayu tepat di telinga Juan.

Keheningan yang mencekam sekaligus panas menyelimuti dapur itu. Juan membalikkan tubuhnya perlahan, bermaksud melepaskan diri, namun ia justru dibuat terpaku.

Teteh Ayu berdiri sangat dekat, seolah tak memberikan celah udara di antara mereka. Dada mereka bersentuhan, membuat "melon hot" milik Ayu yang empuk dan penuh itu menekan telak ke dada bidang Juan.

“Teh…,” ujar Juan pelan, suaranya mendadak serak.

“Juan, ada hal penting yang harus kamu urus juga…” Tangan Ayu merambat naik, mengalung manja di leher Juan, menarik tubuh pria itu agar semakin merapat hingga tak ada lagi jarak yang tersisa.

Belum sempat Juan mencerna keadaan, Ayu dengan berani mendorong tubuh Juan ke dinding kayu dapur. Ia menghimpit Juan dengan seluruh beban tubuhnya, membiarkan setiap lekuk tubuhnya yang aduhai bergesekan dengan tubuh pria itu.

“Teh, jangan seperti ini… nanti kalau ada orang yang datang bagaimana?” Juan berusaha melepaskan diri, namun setiap kali ia bergerak, ia justru semakin merasakan kekenyalan yang menghimpit dadanya.

Akal sehat Juan beradu dengan gairah yang mulai membara. Ia sadar betul, jika warga kampung sampai memergoki mereka di dapur ini, ia akan diarak keliling desa, menjadi bahan cemoohan yang memalukan dalam waktu yang lama.

“Teh, tolong berhenti… Kita bisa diarak dan dapat sanksi dari warga dan tertua adat…!” protes Juan lagi, meski napasnya mulai memburu karena godaan fisik yang begitu nyata di hadapannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!