Aurel, gadis sederhana dari desa Kembang, datang ke Jakarta demi menggantikan ibunya yang sakit. Hidupnya berubah saat ia bekerja di rumah keluarga kaya dan tanpa sengaja terlibat dalam kehidupan Arvano—pria dingin yang tak peduli wanita selain ibunya.
Perasaan yang seharusnya tidak ada— justru tumbuh di antara mereka.
Namun perbedaan status menjadi tembok besar yang memisahkan. Penolakan, penghinaan, dan masa lalu yang tersembunyi mulai menguji hubungan mereka.
Saat semuanya perlahan membaik dan kebahagiaan hampir tergenggam— sesuatu yang tak terduga terjadi.
Aurel menghilang.
Diculik oleh seseorang yang ingin menghancurkan hidupnya.
Dalam keputusan dan waktu yang terus berjalan, Arvano harus memilih—
Menyelamatkan wanita yang ia cintai?
atau kehilangan segalanya untuk kedua kalinya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bila Official, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2. Pergi ke Jakarta
Langit masih berwarna pucat, matahari bahkan belum sepenuhnya muncul, tapi Aurel sudah berdiri di depan rumahnya dengan tas kecil di tangan. Tas itu tidak besar, hanya cukup untuk beberapa baju, sandal, dan barang sederhana lainnya.
Hidupnya selama ini juga sederhana.
Dan mungkin, hari ini adalah awal dari sesuatu yang tidak sederhana lagi.
Freya keluar dengan langkah yang masih sedikit goyah. “Aurel… sudah siap berangkat?” suaranya lembut, tapi terdengar berat.
Aurel menoleh dan langsung tersenyum, meski matanya tidak bisa menyembunyikan rasa haru. “Sudah, Bu.”
Freya mendekat, membawa selembar kertas yang dilipat rapi. “Ini alamatnya, rumah majikan Ibu dan nama mereka,” katanya sambil menyerahkan kertas itu.
Aurel menerimanya dengan hati-hati, seolah itu benda paling berharga di dunia.
“Semalam Ibu sudah telepon Bu Indah, Ibu bilang kamu yang akan gantikan Ibu.” Aurel mengangguk pelan.
“Dia… marah nggak, Bu?” Freya menggeleng.
“Enggak. Dia baik, makanya Ibu berani titip kamu.” ucapannya itu sedikit menenangkan, tapi tetap saja hati Aurel berdebar.
Ini pertama kalinya Aurel pergi sejauh itu. Ke Jakarta. Kota yang selama ini hanya dia lihat dari televisi.
Sebelum berangkat, Aurel memeluk ibunya erat.
“Bu, jaga kesehatan ya, jangan dipaksain kerja lagi kalau belum sembuh.”
Freya tersenyum, tapi matanya mulai berkaca-kaca. “Kamu juga, di sana jaga diri baik-baik ya, nak.”
“Iya, Bu.” Pelukan itu terasa lebih lama dari biasanya.
Seolah keduanya tahu. Setelah ini, semuanya tidak akan sama lagi.
Tak lama, Surya sudah siap dengan motor tuanya.
“Ayo, Nak. Nanti ketinggalan busnya.”
Aurel mengangguk, lalu sekali lagi menatap rumah kecil itu. Tempat dia tumbuh, tempat dimana semua kenangannya berada, dan tempat yang kini harus di tinggalkan.
Perjalanan menuju terminal terasa sunyi.
Angin pagi menerpa wajah Aurel, tapi pikirannya jauh melayang. Ia tidak banyak bicara, begitu juga dengan Surya. Kadang, keheningan justru lebih penuh arti.
Setelah sekitar satu jam, mereka sampai di terminal. Suasana langsung berubah ramai.
Suara klakson, teriakan penjual, dan hiruk-pikuk orang yang berlalu-lalang membuat Aurel sedikit kaget. Ini saja sudah terasa ramai. Bagaimana dengan Jakarta nanti?
Surya membantu menurunkan tas Aurel.
“Ini uang tambahannya, simpan dengan baik-baik ya,” katanya sambil menyelipkan beberapa lembar uang ke tangan Aurel.
Aurel terdiam. “Pak, ini kebanyakan.”
“Engga banyak, buat jaga-jaga aja itu.” sahut Surya.
Aurel menggenggam uang itu erat. “Iya, Pak. Terima kasih.”
Beberapa detik, mereka hanya saling menatap. Terus Aurel memeluk ayahnya.
“Bapak jaga kesehatan ya,”
Surya menepuk punggungnya pelan. “Kamu yang hati-hati di sana.”
Panggilan bus mulai terdengar. Waktunya berpisah. Aurel naik ke dalam bus, duduk di dekat jendela.
Saat bus mulai berjalan, Aurel melihat ayahnya yang masih berdiri di tempat, melambaikan tangan.
Aurel membalas lambaian itu.
Sampai akhirnya, sosok itu semakin kecil dan menghilang.
Perjalanan panjang terasa melelahkan, tapi juga penuh pikiran. Aurel lebih banyak diam. Sesekali melihat ke luar jendela. Sawah berubah jadi jalan raya. Rumah yang sederhana berubah jadi bangunan tinggi.
Dan akhirnya, sudah sampai dijakarta.
Begitu turun dari bus, Aurel langsung terpaku dengan matanya membesar.
Gedung-gedung tinggi menjulang, kendaraan berlalu-lalang tanpa henti, dan suara kota yang tidak pernah benar-benar diam.
“Ini, Jakarta.” gumamnya pelan. Ada rasa kagum, tapi juga sedikit takut.
Aurel menarik napas dalam, kemudian mengeluarkan kertas dari tasnya. Melihat alamat itu.
Aurel menghampiri sebuah taksi. “Pak, bisa ke sini?” tanyanya sambil menunjukkan kertas.
Sopir mengangguk. “Bisa, Mbak. Naik saja.”
Aurel masuk ke dalam taksi.
Sepanjang perjalanan, dia tidak berhenti melihat keluar jendela. Semua terasa asing, tapi juga menarik.
Di dalam taksi, Aurel membuka ponselnya.
Aurel mengetik cepat. “Ra, aku sudah di Jakarta.”
Balasan datang hampir seketika. “SERIUS?! Kamu dimana sekarang?!”
Aurel tersenyum kecil. “Di taksi, mau langsung ke rumah majikan.”
Beberapa detik, Balasan Tara langsung muncul lagi.
“Hah?! Kamu nggak ke aku dulu?”
Aurel menatap layar sebentar. “Nggak dulu ya, Aku nggak enak kalau telat, ini kan pertama kalinya.”
Tara membalas cepat. “Ya ampun, kamu hati-hati ya! Kalau kenapa-kenapa langsung hubungi aku!”
Aurel mengetik singkat. “Iya, makasih ya.”
Aurel menatap layar beberapa detik, lalu mematikannya. Hatinya kembali berdebar.
Taksi akhirnya berhenti. “Sudah sampai, Mbak.”
Aurel turun dan langsung terdiam.
Rumah itu, Bukan sekadar rumah, tapi seperti istana.
Gerbang tinggi berdiri kokoh, dengan halaman luas dan taman yang tertata rapi.
Aurel menelan ludah. “Ini rumah majikan ibu, besar banget?”
Aurel melangkah pelan mendekat, menuju Seorang satpam berdiri di pos depan.
Aurel sedikit gugup. “Permisi, Pak saya Aurel. gantikan Ibu saya kerja di sini.”
Satpam itu menatapnya sebentar, kemudian tersenyum ramah. “Oh, dari Freya ya?”
Aurel mengangguk cepat. “Iya, Pak.”
“Saya Satrio. Sudah dikasih tahu semalam. Ayo, saya antar masuk.”
Nama itu terasa asing, tapi sikapnya membuat Aurel sedikit tenang.
Gerbang dibuka. Dan Aurel masuk ke dunia yang benar-benar berbeda.
Di dalam rumah, Aurel semakin terpukau. Lantai mengkilap, furniture mewah. Semuanya seperti di film.
Satrio mengantarnya sampai ke ruang tengah.
Seorang wanita elegan lagi duduk di sana. Itu pasti majikannya.
“Bu, ini Aurel. Anak Freya,” kata Satrio.
Wanita itu tersenyum lembut. Indah seorang punya bisnis fashion terbaik. “Oh, kamu Aurel? Sini, Nak.”
Aurel langsung menunduk sopan. “Iya, Bu.”
Indah menatapnya dengan lembut. “Kamu yang gantikan ibunya?”
“Iya, Bu. Soalnya Ibu lagi sakit, saya tidak tega, jadi saya gantikannya."
Indah mengangguk pelan. “Ibu kamu sudah cerita. Kamu masih muda tapi berani juga ya.” Aurel hanya tersenyum canggung.
Saat itu, seorang wanita lain datang.
“Ini Feni. Dia juga kerja di sini,” kata Indah.
Feni tersenyum ramah. “Halo, Aurel.”
“Halo, Bi” sahut Aurel dengan balas senyum dengan ramah juga. Suasana terasa lebih hangat.
Tiba-tiba, Perut Aurel berbunyi.
“Krrrkkk…”
Aurel langsung panik, dengan wajahnya memerah.
Feni menahan senyum.
Indah malah tertawa kecil. “Kamu belum makan ya?”
Aurel mengangguk malu. “Iya, Bu.”
“Sudah, makan dulu sana pas istirahat, besok sudah mulai bekerja. Feni, tolong antarkan.” ucap Indah.
"Iyaa, Bu." sahut Feni.
“Iya, Bu. Terimakasih.” ucap Aurel. Indah mengangguknya terus tersenyum.
Di ruang makan, Aurel kembali terdiam. Meja besar itu penuh makanan yang banyak sekali dan semuanya terlihat enak. Aurel menelan ludah.
"Ayo, silahkan dimakan." Ucap Feni. Aurel mengangguk dengan pelan.
Dia duduk pelan lalu memulai makan. "Bi, Kok gak ikut makan," Kata Aurel.
"Endak, Sudah makan dari tadi." Sahut Feni Sambil Tersenyum.
Awalnya pelan tapi lama-lama semakin cepat, sangat cepat. Seperti orang yang sudah lama tidak makan enak.
Feni memperhatikan dari samping. Tersenyum kecil. “Pelan-pelan, nanti tersedak,” katanya.
Aurel berhenti sebentar, terus tersenyum malu. “Hehe… maaf, Bi.”
Di tengah makan itu, Aurel sadar sesuatu. Hidupnya benar-benar berubah. Dari dapur kecil di desa ke rumah mewah di Jakarta, dari masakan sederhana ke makanan berlimpah seperti ini. Tapi apakah Aurel benar-benar siap?
Setelah makan, Feni mengantarnya ke kamar. “Kamu istirahat dulu ya, sudah mulai kerja.” Aurel mengangguk.
Aurel masuk ke kamar. Bersih dan nyaman. Lebih dari yang dia bayangkan. Setelah merapikan, Aurel duduk di kasur. Menatap sekeliling dengan Pelan-pelan kemudian tersenyum.
“Aku, benar-benar di Jakarta sekarang.”
Kemudian Aurel Tidur.