Jalan Cinta Menuju Ridha Ilahi adalah kisah Alya, seorang gadis yang lembut dan taat, yang harus menerima takdir dijodohkan dengan Zidan (seorang pemuda yang dikenal bebas dan jauh dari nilai-nilai agama). Tapi di tengah perbedaan itu, Alya berusaha menjalani semuanya dengan sabar dan tetap berpegang pada prinsipnya. Sementara itu, tanpa disadari, kehadiran Alya perlahan mengubah Zidan menjadi dekat dengan Agama.
Novel ini mengisahkan bahwa cinta sejati bukan hanya tentang perasaan, tetapi tentang proses saling memperbaiki, mendekat kepada Allah, dan menerima takdir dengan penuh keikhlasan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Radia Adawiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2. Hati yang belum tenang
Setelah keluarga Zidan pamit pulang, rumah kembali menjadi sunyi. Namun, bagi Alya, suasana itu justru terasa berbeda, terasa lebih berat dari sebelumnya.
Ia melangkah pelan menuju kamarnya, menutup pintu dengan hati-hati, lalu duduk di tepi ranjang. Tangannya yang sejak tadi dia gengam terasa masih dingin, seolah kejadian tadi masih berputar didalam pikirannya. Bahkan kata
" Lamaran " ,yaitu satu kata yang tak pernah ia bayangkan akan datang secepat itu dalam hidupnya. Apalagi dia lamaran dengan seorang pria yang baru dikenalnya hari ini.
Alya menunduk.
“ Apakah ini benar-benar keputusan yang tepat…? ” gumamnya pelan.
Ia memeluk lututnya, mencoba menenangkan dirinya. Hatinya belum sepenuhnya tenang. Meski lisannya telah menerima, ada banyak hal yang masih ia pikirkan, tentang masa depannya, tentang sosok Zidan, dan tentang dirinya sendiri.
" Zidan…" Nama itu kembali terlintas di benaknya.
Pemuda yang terlihat begitu santai, bahkan cenderung acuh. Sangat berbeda dengan bayangan Alya tentang seorang pendamping hidup.
Alya menghela napas panjang.
“Ya Allah… jika ini memang takdir mu, kuatkanlah hatiku, ikhlaskan lah hatiku menerima keputusan ini ” bisiknya lirih.
Air mata perlahan jatuh tanpa bisa ia tahan. Bukan karena ia menolak, tetapi karena ia takut , takut kalau dia tidak mampu menjalani semua ini dengan baik.
Tak lama, kemudian terdengar ketukan pelan di pintu.
“ Alya… ”
Suara itu milik Abi dan Uminya.
“ Masuk, Abi....Umi… ” jawab Alya, cepat-cepat mengusap air matanya.
Pintu terbuka perlahan. Umi dan abinya masuk bersamaan, lalu duduk di samping Alya. Mereka saling berpandangan sejenak, seolah sama-sama memahami keadaan hati putri mereka.
“Alya…” panggil abinya dengan suara lembut.
Alya menunduk, tak mampu menyembunyikan matanya yang masih basah.
“ Kamu menangis ya, Nak? ” tanya Uminya pelan.
Alya menggeleng kecil.
“ Alya hanya… belum siap saja, ABi… UMi… ” suaranya lirih.
Abinya menghela napas pelan, lalu berkata dengan tenang,
“ Tidak apa-apa Nak merasa takut. Itu wajar. ”
Uminya menggenggam tangan Alya dengan hangat.
“ Tapi ingat, Nak… selama kita melibatkan Allah dalam setiap langkah, insyaAllah semuanya akan dimudahkan. ” ujarnya lembut.
Alya terdiam, meresapi setiap kata yang diucapkan kedua orang tuanya.
“ Alya tidak ingin mengecewakan Abi dan Umi… ” ucapnya pelan.
Abinya tersenyum tipis.
“ Kami tidak memaksamu Nak. Jika kamu tidak mau dan tidak bahagia dengan keputusan tadi kamu bisa menolaknya Nak, tapi tadi… kami melihat kamu menerimanya dengan ikhlas,” katanya Abi-nya.
Alya menarik napas perlahan.
“ Alya ingin mencoba… menjalani ini dengan baik Bi ” jawabnya pelan.
Uminya tersenyum, lalu mengusap kepala Alya dengan penuh kasih sayang.
“ Itu sudah cukup, Nak. ”
Alya menunduk. Hatinya perlahan terasa lebih tenang, meski masih ada sisa kegelisahan yang belum sepenuhnya hilang.
“ABi… UMi…” panggil Alya pelan.
Kedua orang tuanya menatapnya dengan penuh perhatian.
“Apakah… Alya bisa menjalaninya dengan baik?” tanyanya lirih.
Abinya tersenyum lembut.
“Selama kamu melibatkan Allah dalam setiap langkahmu, insyaAllah kamu akan mampu, Nak,” jawabnya tenang.
Uminya mengangguk.
“Tidak ada rumah tangga yang langsung sempurna Nak. Semua butuh proses. Yang penting, kamu punya niat yang baik dan hati yang sabar.”
Alya menghela napas perlahan. Kata-kata itu seperti menenangkan hatinya sedikit demi sedikit.
“ Dan tentang Zidan… ” lanjut abinya,
“ Setiap orang punya kekurangan. Tugas kita bukan mencari yang sempurna, tapi belajar saling melengkapi. ”
Alya terdiam. Ia mencoba menerima kalimat itu dalam hatinya.
“ Apalagi tadi kamu sudah menyampaikan syaratmu,” ujar Uminya lembut.
“ Itu sudah sangat baik. Umi bangga kamu tetap menjaga prinsipmu dan prinsip yang Umi dan Abi ajarkan Nak.”
Alya menunduk, sedikit tersipu.
“Doakan Alya ya, Abi… Umi…” ucapnya pelan.
Abinya tersenyum, lalu mengangkat tangan.
“ Semoga Allah mudahkan langkahmu, menjaga hatimu, dan menjadikan ini jalan kebaikan untukmu Nak. ”
“ Dan semoga Allah menjadikan kalian saling mendekatkan kepada-Nya. Aamiin ya rabbal 'Alamiin.... ” sambung Uminya.
Alya mengaminkan dalam hati.
Dan ini untuk pertama kalinya sejak kejadian tadi, hatinya terasa sedikit lebih ringan. Namun jauh di dalam dirinya, ia tahu…....perjalanan ini tidak akan mudah.