NovelToon NovelToon
Antara Dua Dunia

Antara Dua Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Transmigrasi ke Dalam Novel
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ai_Li

​"Wajahnya identik dengan Ali, pacar LDR-ku yang lembut. Tapi pria di depanku ini adalah Alistair, Pangeran Agung yang siap memenggal kepalaku jika aku berani kabur lagi!"

​Lia terbangun di tubuh Aurellia, istri Pangeran Agung Ivalice yang dikenal kejam dan obsesif. Di novel aslinya, Aurellia tewas mengenaskan setelah mengkhianati Alistair demi Pangeran Yovan yang licik. Demi menghindari maut, Lia harus mengubah alur. Ia pun nekat mendekati Nenek Suri yang disegani dan mendadak jadi istri "penurut" yang membuat Alistair curiga sekaligus salah tingkah. Akankah strategi Lia menjinakkan sang tiran berhasil? Ataukah ia justru terjebak dalam obsesi gelap pria yang wajahnya terus mengingatkannya pada sang kekasih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Pelukan Spontan dan Sayap Hitam Ivalice

​Lia masih mematung. Aliran energi yang mengikatnya perlahan memudar seiring dengan mendekatnya kursi roda itu. Begitu sosok pria itu berada tepat di depannya, pertahanan diri Lia runtuh. Wajah itu, rahang itu, bahkan aroma yang menguar dari tubuh sang pangeran, semuanya terlalu mirip dengan Ali.

​Tanpa aba-aba, Lia menghambur memeluk leher Alistair. Ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher pria itu, menghirup dalam-dalam aroma maskulin yang menenangkan.

​"Ali... aku kangen banget," bisik Lia tanpa sadar.

Air matanya hampir luruh. Ia lupa dunia, lupa zirah pengawal, bahkan lupa kalau ia sedang berada di pinggir jurang dalam tubuh orang lain.

​Alistair membeku. Tangan yang tadinya hendak mencengkeram lengan Aurellia untuk menyeretnya pulang, kini tertahan di udara.

Istrinya, yang biasanya memandangnya dengan jijik dan penuh kebencian, kini justru memeluknya seolah ia adalah satu-satunya tumpuan hidup. Antara kaget dan curiga, jantung Alistair berdegup tidak karuan.

​Plak!

​Lia tiba-tiba melepaskan pelukannya dan menepuk jidatnya sendiri dengan pelan.

Ya ampun, Lia! Sadar! Ini Alistair si pangeran psycho, bukan Ali pacar lo! batinnya merutuk.

​Lia tersenyum canggung, mundur beberapa langkah sambil mencoba menutupi kegugupannya. Namun, ingatannya tentang novel tiba-tiba muncul. Di bab ini, Aurellia asli seharusnya melompat untuk bunuh diri, lalu Alistair melakukan aksi penyelamatan heroik.

​Kalau gue lompat, bakal seromantis di buku nggak ya? Pikirnya nekat.

Antara ingin mengetes teori novel dan rasa penasaran yang tinggi, Lia memejamkan mata dan... Wush! Ia benar-benar melompat ke jurang.

​"AURELLIA!" teriak Alistair. Suaranya menggelegar penuh kemarahan dan ketakutan.

​Tanpa ragu, Alistair memacu kursi rodanya meluncur ke bibir tebing. Ia ikut terjun bebas! Di tengah gravitasi yang menarik mereka ke dasar, kursi roda kayu hitam itu tiba-tiba berdenting mekanis. Sepasang sayap lebar berwarna perak metalik muncul dari sisi kursi roda, menahan laju jatuh mereka.

​Alistair menyambar tubuh Lia, menariknya dengan protektif ke atas pangkuannya. Lia terbelalak. Wajah Alistair yang sangat dekat, dengan rambut yang berantakan tertiup angin, terlihat berkali-kali lipat lebih tampan.

​Ganteng banget... Ali gue versi premium ini mah, batin Lia terpesona.

Terbawa suasana romantis di atas awan, wajah Lia perlahan mendekat, hampir mencium bibir Alistair.

​Alistair yang mengira Lia akan menyerangnya atau memakinya, justru terkejut melihat istrinya tampak "haus" seperti itu. Tak ingin mengambil risiko, Alistair dengan cepat menotok titik syaraf di tengkuk Lia.

​Deg.

Pandangan Lia langsung gelap. Ia pingsan dalam dekapan hangat sang Pangeran Agung saat mereka terbang rendah menuju kediaman.

​Begitu sampai di kamar utama, Alistair membaringkan tubuh Lia di atas ranjang sutra dengan sangat lembut. Ia menyelimuti istrinya hingga sebatas dada, jemarinya sempat membelai helai rambut Lia yang berantakan.

​"Kenapa kamu terus seperti ini, Aurellia?" gumam Alistair dingin, meski tatapannya menyiratkan luka.

"Aku tidak ingin bersikap kasar, tapi kamu terus memaksaku melakukannya."

​Ia meraih tangan Lia, mengecup punggung tangannya dengan posesif.

"Kamu harus tahu... apapun yang menjadi milikku, tidak akan pernah bisa menjadi milik orang lain. Bahkan maut sekalipun tidak boleh mengambilmu dariku."

​Setelah itu, ia memutar kursi rodanya keluar. Di depan pintu, Lyra tangan kanan kepercayaannya, sudah menunggu dengan wajah serius.

​"Lapor Pangeran. Ada kasus penculikan anak-anak di Desa Lambohan, bagian Utara kerajaan. Pelakunya telah ditangkap. Para menteri keadilan meminta Anda untuk memimpin pengadilan segera," lapor Lyra.

​Alistair mengangguk singkat. Aura lembut yang tadi sempat ia tunjukkan pada Lia menguap seketika, digantikan oleh hawa dingin yang mematikan.

​Ruang Pengadilan Tertinggi Ivalice

​Suasana ruang pengadilan sangat mencekam. Tiga pria paruh baya yang menjadi pelaku penculikan bersimpuh dengan tubuh gemetar di tengah ruangan. Para menteri keadilan melaporkan bukti-bukti berupa rantai dan botol obat bius yang digunakan pelaku untuk menjual anak-anak tersebut ke luar perbatasan.

​Alistair duduk di kursi rodanya yang kini berada di posisi tertinggi ruangan. Ia menatap para pelaku seolah mereka adalah tumpukan sampah.

​"Penculikan anak bukan sekadar pencurian," suara Alistair bergema rendah, membuat para menteri terdiam.

"Kalian telah mencuri masa depan Ivalice dan menghancurkan akar dari sebuah keluarga."

​Salah satu pelaku mencoba memohon,

"Ampun, Yang Mulia Agung! Kami hanya terdesak ekonomi,"

​"Ekonomi tidak memberikan hak bagi kalian untuk memperdagangkan nyawa manusia," potong Alistair tajam.

Ia mengangkat tangannya, memberikan perintah mutlak.

​"Berdasarkan Hukum Besi Ivalice, Siapa pun yang merenggut kemerdekaan anak-anak, maka kemerdekaannya dan seluruh asetnya akan dicabut. Hukum mereka dengan kerja paksa seumur hidup di tambang kristal bawah tanah tanpa pernah melihat sinar matahari lagi. Seluruh harta mereka disita untuk membiayai pemulihan trauma para korban. Dan bagi siapa pun yang menjadi kaki tangan mereka... potong lidah mereka agar tidak bisa lagi melakukan negosiasi kotor."

​Para menteri tertunduk patuh. Tidak ada yang berani membantah keputusan dingin sang Pangeran Agung. Alistair memutar kursi rodanya, pikirannya kembali pada wanita yang sedang tertidur di kamarnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!