Usianya baru menginjak 20 tahun, dia masih kuliah semester empat. Kania Gabriela, gadis yang ceria dan manja itu bersahabat dengan Bella Anastasya yang memiliki seorang paman bernama Axel Niel Pradita Winata.
Laki-laki blesteran Jerman Jawa itu adalah seorang duda beranak satu. Kania mengenal Axel dari sahabatnya Bella yang juga blesteran Jerman Jawa dari mamanya.
Karena iseng sering mengobrol dengan Axel om dari sahabatnya, Kania justru mengajak laki-laki itu menikah.
"Om, nikah yuk?"
"Eh, bocah. Kuliah yang benar, jangan mikir nikah."
Begitulah ketengilan Kania pada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummi asya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
02. Usia Om Axel
Kania masih merebahkan tubuhnya di ranjang Bella, tiba-tiba matanya terpejam karena mengantuk. Sejak semalam dia tidak bisa tidur dan matanya terpejam setelah subuh.
Baru saja terlelap, Kania terkejut dengan panggilan seseorang di depan pintu dengan suara ketukan pintu yang cukup keras.
"Bella, kamu di dalam? Om masuk ya," teriak seseorang di depan pintu.
Mata Kania terbuka, sedikit kesal karena tidurnya terganggu.
"Bella! Om masuk nih!"
Kembali teriakan di depan pintu, Kania menoleh ke arah pintu. Bangkit dari rebahannya lalu duduk sejenak, mendengus kasar lalu melangkah menuju pintu.
Tepat di depan pintu, pintu terbuka lebar membuat Kania terbentur daun pintu dengan keras.
"Aaw!"
Suara kaget dari seseorang di depan pintu menatap Kania heran.
"Kamu siapa?" tanya orang di depan pintu dengan terkejut.
"Ish, hati-hati dong. Kenapa sih main dorong-dorong aja," ucap Kania kesal sambil tangannya mengusap kepalanya, dia tidak tahu orang di depannya itu.
"Mana Bella?"
"Kok malah tanya Bella sih bukannya minta maa...f," ucapan Kania melemah ketika wajahnya mendongak menatap laki-laki di depannya.
Sejenak dia terpaku dengan laki-laki yang berdiri menatapnya lalu melihat sekeliling kamar.
"Oh, om Axel ya?" tanya Kania tiba-tiba dengan wajah sumringah dan sedikit meleyot tubuhnya.
Laki-laki bernama Axel itu pun mengerutkan dahinya, heran kenapa dengan gadis di depannya itu. Dia menggeleng kepala lalu berbalik meninggalkan Kania yang masih terpesona dengan ketampanan Axel.
"Ih om Axel! Tunggu!"
Kania keluar dari kamar Bella dan mengejar Axel, saat menuruni anak tangga Bella pun naik melihat sahabatnya mengejar Axel.
"Bella, di panggil tuh sama mamamu. Kemana saja sih kamu?" tanya Axel pada Bella.
"Eh om, aku tadi ke dapur ambil makanan," jawab Bella.
"Cepat sana ke mamamu. Ngga ada kerjaan aku harus panggil kamu sampai di kamarmu, tahu-tahu ada mahluk asing." ucap Axel melirik ke belakang pada Kania.
Dia pergi turun ke bawah dan meninggalkan keponakannya yang bingung dengan ucapannya, tapi kemudian dia menoleh pada Kania yang menuruni tangga juga.
"Ih, om Axel kenapa sinis begitu sih sama gue. Gue kan mau kenalan sama om Axel," ucap Kania.
Bella menghampiri Kania dan menariknya menaiki tangga lagi dan membawa gadis itu kembali ke kamarnya
"Sudah, jangan pikirkan. Nanti aja Lo kenalan sama omku, dia lagi ngga baik hatinya," ucap Bella.
"Emang kenapa? Dia kurang tidur?"
"Udah masuk ke kamar lagi, gue mau ke mama dulu. Nanti gue di marahin lagi, om Axel itu kalau laporan selalu di luar realita." ucap Bella.
Dia keluar dari kamarnya lagi setelah memberikan kantong kresek berisi makanan untuk Kania. Gadis itu pun hanya menarik napas panjang setelah Bella keluar dari kamar tersebut.
_
Acara keluarga Bella sudah selesai, entah apa yang di bicarakan Kania tidak peduli. Namun dia penasaran dengan Axel omnya Bella itu.
"Kania, Lo tidur ya?"
Bella masuk ke dalam kamarnya mencari Kania, dan gadis itu baru keluar dari kamar mandi.
"Lo mencret?" tanya Bella.
"Ish, gue cuma buang air kecil. Acara udah selesai? Om Axel udah pulang?" tanya Kania mendekati Bella.
"Ck, ngapain Lo tanya om Axel. Dia masih punya istri," kata Bella.
"Ish, kan sebentar lagi dia duda," ucap Kania membuat Bella menatapnya tajam.
"Lo doain om gue cerai?" tanya Bella.
"Heheh, kalau cerai kan gue bisa ngejar om Lo."
"Ish. Lo ganjen banget jadi cewek."
"Gue ngga ganjen, tapi kalau ada cowok ganteng. Kenapa ngga."
Bella masih menatap kesal, dia meletakan piring berisi makanan yang di minta Kania di meja. Gadis itu pun merapikan ranjangnya yang berantakan, Kania memperhatikan apa yang di lakukan Bella, dia mendekati meja dan mengambil piring berisi makanan, melahapnya pelan sesekali melihat Bella yang sibuk.
"Emm, Bel. Emang ada masalah apa sih om Axel sama istrinya?" tanya Kania.
"Ngga ada masalah, Lo jangan pancing gue buat cerita ya. Gue males," ucap Bella berbalik dan menghampiri Kania.
"Gue cuma tanya, kenapa Lo sewot. Lagian kan om Axel belum tentu nolak gue," kata Kania mengunyah makanannya.
"Lo lupa tadi di tangga? Lo di tinggalin sama om gue, dia malah jijik sama Lo. Lagi pula usia om gue jauh dari Lo Kania," tutur Bella lagi.
"Emang umur om Axel berapa?" tanya Kania.
"Jangan kepo deh."
"Lha, kan Lo sendiri yang buat gue kepo."
Bella kembali menatap Kania, kali ini dengan tatapan sinis.
"Bel, kalau om Lo sama gue ya. Ini misalkan, gue akan jaga ok Axel dengan baik. Lagian pasti istrinya selingkuh."
Bella masih diam, dia mendengus pelan.
"Gue ngga tahu masalahnya, mungkin karena om gue udah tua jadi istrinya kurang suka," kata Bella.
"Tua? Yang bener aja, om Axel masih ganteng begitu kok. Gue juga mau."
"Ck, kalau Tante Salsa tahu Lo begitu udah pasti kena semprot. Murah banget jadi cewek."
"Mama akan setuju dengan pilihan anaknya, udah jangan pikirin mama gue. Coba jawab, berapa umur om Axel?"
"Om Axel ngga tua-tua amat sih menurut gue, usianya paling sekitar..., emm..,"
Bela tampak berpikir, Kania menunggu jawaban dari sahabatnya itu dengan sabar. Namun Bella belum juga menjawab, Kania mendorong pundaknya pelan agar sahabatnya segera menjawab.
"Berapa Bel?"
"39 tahun."
"39?!"
_
_
*****