NovelToon NovelToon
TUMBAL PESUGIHAN LANANG SEWU

TUMBAL PESUGIHAN LANANG SEWU

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Iblis / Tumbal / Misteri
Popularitas:400
Nilai: 5
Nama Author: Towang Risawang

Dihimpit hutang dan keputusasaan, Agus, seorang pria penuh ambisi yang gagal, meyakinkan istrinya, Endang, untuk melakukan pesugihan Lanang Sewu, meskipun ritualnya menuntut pengorbanan keintiman yang sakral. Untuk mempertahankan kehormatan istrinya, Agus merencanakan penipuan tingkat tinggi: menyewa Sari, seorang wanita yang memiliki kemiripan fisik dengan Endang, dan menyamarkannya secara spiritual menggunakan sihir. Penipuan ini berhasil. Mereka hidup dalam kemewahan sementara waktu, menikmati hadiah dari Raden Titi Kusumo, entitas pesugihan yang karismatik tapi terluka secara emosional. Namun, kecerdasan spiritual Titi Kusumo perlahan mencium kepalsuan itu. Ketika penyamaran terbongkar, semua kekayaan lenyap, dan Titi Kusumo memulai pembalasan keji, menargetkan tidak hanya nyawa Agus dan Endang, tetapi juga orang-orang tak bersalah di sekitar mereka, memaksa pasangan itu menghadapi kebenaran pahit bahwa penebusan sejati tidak dapat dibeli.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sosok Sang Raden

Agus merangkak mundur, menjauhi Endang dan tubuh Sari. Ia mencari-cari sisa-sisa rasionalitasnya.

“Raden, dengarkan aku,” suara Agus tercekat. “Aku mengaku salah! Aku menipu Anda. Aku menipu Endang. Saya akan membayar kerugian Anda! Berapa pun. Saya akan jual semua yang saya miliki, saya akan bekerja seumur hidup untuk melunasi hutang spiritual ini!”

Titi Kusumo tertawa, tawa yang tidak menyenangkan, penuh ironi. “Kau masih bicara tentang hutang, Manusia? Kekayaan yang kau dapatkan tadi hanyalah ilusi yang kusebarkan ke alammu. Kau pikir aku butuh uangmu yang kotor itu?”

Titi Kusumo mengangkat tangan, dan tiba-tiba, sebuah suara berdesing keras terdengar dari luar kamar.

“Coba lihat, Agus,” perintah Titi Kusumo.

Agus ragu-ragu, tetapi dorongan tak tertahankan memaksanya menuju jendela. Ia melihat ke luar. Di halaman depan, mobil sport mewah yang baru ia beli dua minggu lalu, mobil yang menjadi simbol kebangkitan finansialnya, tiba-tiba terlihat kusam, catnya mengelupas, dan jendelanya retak, seolah-olah waktu seribu tahun telah menimpanya dalam sekejap.

“Apa ini?!” teriak Agus. “Kau tidak bisa melakukan ini!”

“Aku sudah melakukannya,” jawab Titi Kusumo dingin. “Periksa rekening bankmu, periksa emas batangan yang kau sembunyikan. Semuanya sudah kembali ke asalnya. Kau kembali ke titik nol, Agus. Kecuali, sekarang kau membawa beban darah seorang tumbal di tanganmu.”

Agus menjatuhkan diri, tangannya menutupi kepalanya. Kekayaan itu hilang. Segalanya lenyap. Ia benar-benar kembali miskin.

Endang, yang kini berhasil melepaskan diri dari tubuh Sari, menatap Agus dengan mata kosong.

“Dia benar, Gus,” bisik Endang. “Kita tidak punya apa-apa lagi. Kita bahkan tidak punya kehormatan untuk kehilangan.”

Titi Kusumo menoleh pada Endang. “Oh, kau salah, Endang yang asli. Kehormatan adalah hal yang paling berharga untuk diambil dari manusia pengecut seperti suamimu.”

“Ambil aku, Raden!” seru Endang, bangkit berdiri, meskipun tubuhnya gemetar. “Ambil aku! Aku adalah Endang. Aku yang harusnya menjadi tumbal Anda. Jangan salahkan Agus sepenuhnya. Dia hanya terperangkap oleh keputusasaan.”

Titi Kusumo mencondongkan tubuhnya ke depan, auranya terasa menindas.

“Pengorbanan yang tulus,” kata Titi Kusumo, tersenyum kecil. “Menarik. Kau menawarkan dirimu untuk suamimu yang telah mengkhianatimu dan menipu diriku. Tapi pengorbanan harus datang dari keikhlasan, Nyonya. Bukan dari rasa bersalah atau keputusasaan.”

Ia menggeleng. “Tidak, Endang. Aku tidak tertarik pada pengorbananmu yang sekarang. Itu sudah terkontaminasi oleh kebohongan dan darah Sari. Aku hanya akan mengambil apa yang benar-benar rapuh dan tidak berharga dari kalian berdua.”

Titi Kusumo melayang sedikit di atas lantai, zirah peraknya berdecit.

“Agus,” katanya, suaranya kini menusuk. “Aku akan mengambil jiwamu yang paling rapuh—kemampuanmu untuk percaya pada dirimu sendiri, ambisimu yang tidak realistis. Aku akan membuatmu menyaksikan bagaimana hidupmu menjadi lelucon.”

Ia lalu menatap Endang, matanya meredup, menyisakan jejak kesedihan kuno.

“Dan kau, Endang,” lanjut Titi Kusumo, “Kau mengizinkan penipuan ini demi uang, meskipun kau tahu konsekuensinya. Kau kehilangan koneksi suci yang seharusnya kau miliki. Aku akan mengambil kehormatanmu, Endang. Aku akan mengambil orang-orang yang kau cintai, satu per satu, sampai kau tidak punya lagi alasan untuk hidup selain rasa bersalah.”

Agus merasa darahnya mengering. “Maksudmu… kau akan membunuh kami?”

“Kematian adalah hadiah, Manusia,” Titi Kusumo mencibir. “Kematian adalah akhir dari penderitaan. Aku akan memberimu penderitaan tanpa akhir. Aku akan membuat hidupmu menjadi neraka yang abadi.”

Tiba-tiba, Titi Kusumo menoleh ke arah tubuh Sari. Ia mengayunkan tangan. Tubuh Sari terangkat, melayang di udara, dan kemudian, dengan kecepatan yang mengerikan, tubuh itu menghilang. Bukan lenyap, tetapi seolah-olah dirobek dari dimensi ini.

“Aku telah mengambil tumbal yang kau berikan kepadaku,” kata Titi Kusumo, menatap Agus. “Sekarang, pergilah dan nikmati malam pertamamu sebagai orang miskin, pembunuh, dan pengkhianat.”

Ia mulai berbalik, berjalan menuju pintu.

“Raden, tunggu!” teriak Agus, putus asa. “Kau tidak bisa pergi begitu saja! Bagaimana dengan keluarganya? Aku janji padanya!”

Titi Kusumo berhenti di ambang pintu, siluetnya memotong cahaya rembulan yang samar.

“Keluarga Sari sudah kuberikan kompensasi yang layak, sebelum aku menarik kembali ilusi kekayaanmu,” kata Titi Kusumo. “Mereka akan kaya, Agus. Mereka akan mendapatkan apa yang Sari janjikan. Itu adalah satu-satunya tindakan ketulusan yang kuakui malam ini—pengorbanan Sari yang dipaksakan, yang berharga seribu kali lipat dari kebohonganmu.”

Titi Kusumo menoleh, matanya menatap Agus untuk terakhir kalinya.

“Aku akan mengirimkan hadiah pertamaku besok, Agus. Hadiah yang akan membuatmu sadar bahwa kemarahanku bukan hanya tentang uang. Ini tentang darah. Dan kehormatan yang terhina.”

Kemudian, Titi Kusumo melangkah keluar dari kamar. Bau melati yang tajam menghilang secepat ia datang, digantikan oleh bau debu dan darah yang menusuk hidung.

Agus dan Endang ditinggalkan sendirian di kamar yang hancur, terpisah oleh trauma dan kekosongan.

Agus berlari ke sudut ruangan, mencari ponselnya yang ia matikan. Ia menyalakannya dengan tangan gemetar. Ia harus menghubungi Kuskandar. Ia harus menghubungi bank. Ia harus tahu seberapa banyak yang hilang.

Layar ponsel menyala. Agus membuka aplikasi perbankan. Ia melihat saldo rekening utama, yang seharusnya berisi puluhan miliar.

Angka itu berkedip: Rp0,00.

Jantung Agus berhenti berdetak. Ia memeriksa rekening investasi. Rp0,00.

“Tidak mungkin!” Agus berteriak, melemparkan ponselnya.

Endang hanya menatapnya, air matanya kering. “Aku sudah bilang, Gus. Kekayaan itu ilusi.”

Agus menjambak rambutnya, frustrasi yang mendalam bercampur dengan ketakutan. “Kita hancur! Kita kembali ke neraka yang sama!”

“Bukan neraka yang sama, Gus,” kata Endang, suaranya dingin. “Neraka ini lebih buruk. Neraka ini datang dengan harga nyawa Sari.”

Tiba-tiba, ponsel Agus yang terlempar di lantai bergetar lagi, menghasilkan suara dering nyaring yang memecah keheningan. Bukan Kuskandar. Itu adalah nomor rumah lama mereka, nomor yang hanya diketahui oleh keluarga dekat Endang.

Agus mengambil ponsel itu, tangannya gemetar.

“Halo?”

Suara di seberang sana terdengar parau dan menangis. Itu adalah suara Bibi Siti, bibi Endang.

“Agus! Endang! Kalian di mana saja?” teriak Bibi Siti, suaranya dipenuhi histeria. “Rina… Rina ditemukan, Gus! Dia…”

Agus merasakan darahnya membeku. Rina, sepupu Endang yang paling baik, orang yang sering membantu mereka saat mereka kesulitan.

“Rina kenapa, Bi?” tanya Agus, suaranya serak.

“Rina… dia ditemukan tewas di kamarnya, Gus! Dokter bilang tidak ada tanda kekerasan, tapi… tetapi dia terlihat seperti seluruh energinya ditarik keluar dari tubuhnya! Kalian harus cepat pulang, Gus! Ini mengerikan!”

Agus menjatuhkan ponselnya. Ia menoleh ke Endang, matanya melebar karena teror yang baru, yang jauh lebih nyata daripada kegagalan finansial.

“Ndang,” bisik Agus, suaranya nyaris tak terdengar. “Rina…”

Endang menatapnya, wajahnya pucat pasi. Ia tidak perlu mendengar kelanjutan kalimat itu. Ia tahu.

Hadiah pertama telah tiba.

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar di luar rumah. Langkah kaki yang menyeret, lambat, seolah-olah seseorang mengenakan sepatu bot kuno yang berat. Langkah itu bukan menuju pintu depan. Langkah itu mengelilingi rumah.

Agus dan Endang saling pandang. Mereka tahu itu bukan Titi Kusumo yang melayang elegan. Ini adalah sesuatu yang lebih rendah, lebih kejam.

Krak! Krak!

Suara itu adalah suara kerikil yang diinjak, diulang di setiap sudut rumah.

Endang menunjuk ke jendela. “Dia mengirim pengawal khodamnya, Gus. Dia tidak akan membiarkan kita pergi.”

Agus merasakan ketakutan yang dingin merayap di punggungnya, lebih buruk daripada saat ia melihat saldo nol. Ia tahu ini adalah awal dari teror fisik yang dijanjikan.

“Mereka sudah mengepung kita, Ndang,” bisik Agus. “Apa yang harus kita lakukan?”

Suara langkah kaki itu berhenti tepat di belakang dinding kamar tidur mereka.

Tiba-tiba, terdengar suara gesekan logam yang mengerikan, seolah-olah senjata kuno sedang diasah di batu. Lalu, suara raungan rendah, lebih mirip desisan ular raksasa daripada suara manusia.

BRAK!

Dinding kamar mereka, dinding bata yang tebal, tiba-tiba retak. Retakan itu memanjang, dan dari celah itu, sebilah keris kuno yang gelap dan berkarat menembus masuk. Keris itu memancarkan aura dingin yang mematikan, dan tertancap dengan kuat di dinding, hanya beberapa senti dari kepala Endang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!