Selena Victoria, siswi SMA 16 tahun yang egois dan kadang menjengkelkan, tapi memiliki hati yang lembut. Hidupnya berubah drastis setelah insiden kopi tumpah ke jaket cowok paling ditakuti di sekolah. Dengan bantuan bestie-nya Rora, juara olimpiade sains dan matematika yang nyentrik, Selena harus menghadapi konsekuensi aksinya dan belajar tentang empati. 😐
baca yuk Novel aku "Noda Kopi di Jaket Abu"!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BOCCI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gang gledek
"Jadi mereka itu..." Rora menggantung kalimatnya, matanya melirik waspada ke arah gerombolan cowok yang baru saja masuk ke area kantin. Suasana yang tadinya bising mendadak berubah. Sebagian siswi berbisik histeris, sementara siswi lainnya mendadak jaim sambil pura-pura merapikan rambut.
"Namanya Thunder Gang. Isinya lima orang paling berpengaruh—sekaligus paling dihindari—di sekolah ini," bisik Rora sambil menggeser mangkuk mie pedas ke depan Selena.
Selena mengerutkan kening, menyuap mie pedasnya dengan santai. "Berpengaruh gimana? Jualan pulsa?"
Rora memutar bola matanya. "Bukan, Selena! Mereka itu paket lengkap. Kaya, pinter, ganteng, tapi liar. Yang paling ujung itu Axel, mukanya emang ganteng dan dia si raja gombal. Terus ada Nathan, mukanya manis tapi mulutnya pedas kalau ngomong. Terus yang badannya paling gede yg mukanya garang tapi ganteng itu Damon, dia atlet tinju sekolah. Nah, yang di tengah itu..."
Rora menjeda, menunjuk dengan dagunya ke arah cowok berwajah dingin yang hanya diam saat teman-temannya tertawa.
"Itu Leon. Wakil ketuanya cool banget udah ganteng tapi, Dia nggak pernah bicara kecuali penting banget. Muka datarnya itu loh, kayak tembok semen tapi versi ganteng. Dan yang di sebelahnya, yang karismanya paling kuat..."
Selena melihat sosok cowok dengan jaket kulit hitam yang disampirkan di bahu. Rambutnya agak berantakan, dan tatapan matanya tajam seperti elang.
"Zeus. Ketuanya yg gantengnya kaya karakter manhwa yg keluar dari dunia fiksi Jangan pernah berurusan sama dia kalau mau hidup lo tenang selama tiga tahun di sini. Dia nggak kenal ampun kalau ada yang berani nyenggol otoritasnya."
Selena mendengus, "Nama kok Zeus? Berasa di Gunung Olimpus apa ya. Lagian, selama gue nggak ganggu mereka, mereka juga nggak bakal ganggu gue, kan? Gue mau fokus makan, laper."
"Ya emang, tapi lo kan bar-bar, Sel. Gue takut lo nggak sengaja ngajak ribut mereka," gumam Rora khawatir.
--
Rora berpikir begini "memang dasar si Selena! Lagi di situasi genting malah sempat-sempatnya komedi."Rora rasanya ingin menghilang saja dari bumi saat itu juga.
Selena tertawa dan mulai makan mie pedasnya eh pas lagi asik makan mie pedasnya eh tiba-tiba..
"Uhuk! Uhuk-uhuk!"
Selena terbatuk-batuk hebat sampai mukanya merah padam. Mie pedas yang baru saja dia telan rasanya nyangkut di tenggorokan gara-gara kebanyakan ketawa ngatain nama "Thunder Gang".
"Mampus... keselek kan lo! Lagian dibilangin serius malah dijadiin stand-up comedy!" seru Rora panik sambil buru-buru menyodorkan air mineral. "Minum, Sel! Minum! Jangan mati dulu, dosa lo masih banyak!"
"Temen gk ada akhlak"sahut selena yg kepedasan.
Setelah meneguk air sampai setengah botol, Selena mengusap bibirnya kasar. "Gila... pedas banget nyampe hidung. Lagian lo sih, Ra, serius banget ceritanya. Thunder Gang... besok-besok ada Gang Gledek, Gang Kilat, lama-lama jadi PLN itu mereka!"
Rora cuma bisa mengelus dada. Dia sudah pasrah tingkat dewa. "Terserah lo deh, Sel. Gue udah peringatin ya, mereka itu bukan cuma modal tampang. Kalau mereka udah tandain orang, habis hidup lo."
"Halah, palingan cuma disuruh ngerjain tugas mereka atau beliin siomay. Biasa itu mah drama sekolah," sahut Selena enteng sambil berdiri. "Yuk ah, balik kelas. Gerah gue liat fans-fans mereka pada melotot ke kita."
"Eh masa?"ujar rora.
Dan benar ada sekumpulan cewek-cewek yg melotot merhatiin selena dan rora.
Tapi ternyata, "hukum alam" di sekolah itu bekerja lebih cepat dari yang Selena kira.
Pas istirahat kedua, Selena berniat ke toilet sebentar. Di koridor yang agak sepi, dia berpapasan lagi sama rombongan Thunder Gang. Kali ini Zeus nggak pake jaket, cuma kemeja seragam yang lengannya digulung sampai siku, kelihatan banget aura "penguasa"-nya.
Rora yang di sebelah Selena langsung nunduk dan narik tangan Selena buat minggir. Tapi dasar Selena, sifat bar-barnya kumat. Dia malah sengaja jalan tegak, nggak mau ngalah.
"Permisi, numpang lewat. Jalannya lebar, nggak usah maruk,"celetuk Selena dengan wajah tanpa dosa tepat di depan Zeus.
Langkah kaki anggota Thunder Gang terhenti. Axel langsung nahan tawa, "Busret, berani bener nih bocah kelas satu."
Zeus menatap Selena datar, tapi tatapannya itu loh, tajam banget kayak silet. Dia bukannya marah, malah maju satu langkah mendekati Selena.
"Nama lo?" tanya Zeus dengan suara berat yang bikin bulu kuduk Rora merinding.
"Selena Victoria. Kenapa? Mau minta tanda tangan?" jawab Selena ketus, padahal di dalam hati dia sudah deg-degan parah.
Zeus tersenyum tipis—lebih ke arah seringai licik. "Tanda tangan nggak butuh. Tapi keberanian lo menarik juga. Jarang ada orang yang berani ngatain nama gang gue jadi 'perusahaan listrik'."
"Gawat, dia denger omongan gue di kantin tadi!" batin Selena menjerit.
Setelah ngomong gitu, Zeus jalan ngelewatin Selena gitu aja, diikuti anggota lainnya. Leon, si wakil ketua yang pendiam itu, sempat melirik Selena sekilas dengan tatapan *'lo-cari-masalah-besar'*.
Rora langsung lemas, hampir merosot ke lantai koridor. "Sel... gue bilang juga apa. Lo resmi jadi target operasi Zeus!"
Selena cuma bisa melongo. "Eh, bentar... dia tau dari mana gue nyebut mereka perusahaan listrik?! Emang telinga dia ada antenanya?!"
"Emang aneh temanku yg satu ini"batin rora
Kring...
Bel bunyi
Selena masuk ke kelas 1A dengan langkah yang dihentak-hentakkan ke lantai. Mukanya sudah kayak kepiting rebus, antara marah dan malu.
"Sel, lo beneran cari mati ya," bisik Rora sambil duduk di sebelah Selena. "lo udah berani ngatain ketuanya Thunder Gang sebagai 'perusahaan listrik'. Lo nggak liat muka si Leon tadi? Dia kayak udah mau masukin nama lo ke daftar hitam."
Selena membanting tasnya ke meja. "Ya lagian mereka sok penguasa banget, Ra! Emang ini sekolah punya nenek moyang mereka? Jalannya lebar gitu masa kita harus mepet ke tembok kayak cicak?"
"Tapi mereka itu Zeus dan kawan-kawan, Selena! Lo itu cuma butiran debu di mata mereka," balas Rora gemas.
"Butiran debu yang bakal bikin mata mereka kelilipan kalau berani macem-macem sama gue!" sahut Selena egois, khas remaja yang nggak mau kalah.
Selama pelajaran sisa hari itu, Selena nggak fokus. Dia cuma kepikiran tatapan tajam Zeus. Ada rasa takut sedikit, tapi egonya yang tinggi jauh lebih mendominasi.
---
**Skip Pulang Sekolah**
Bel berbunyi nyaring. Selena langsung menggendong tasnya. "Ra, gue balik duluan ya! Mau buru-buru makan semur jengkol, mamah gue udah janji mau masak itu!"
"Yee, urusan perut gercep lo! Hati-hati di jalan, jangan sampai nabrak tiang listrik—atau 'perusahaan listrik' lagi!" ledek Rora.
Selena cuma melambaikan tangan tanpa menoleh. Dia berlari menuju gerbang sekolah, naik gojek, dan sampai di depan rumahnya yang asri.
"ASSALAMUALAIKUM! MAMAH! SELENA PULANG!" teriaknya sambil membuka pintu rumah.
"Waalaikumsalam! Jangan teriak-teriak, Selena! Mamah nggak tuli," sahut suara dari dapur.
Selena langsung lari ke dapur dan memeluk mamanya dari belakang. Mamanya, wanita paruh baya yang tetap cantik dan sabar itu, hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Mah, tadi di sekolah ada cowok rese banget! Masa dia ngerasa yang punya jalanan, terus namanya Zeus, sok-sokan kayak dewa," curhat Selena sambil mengambil potongan jengkol dari piring.
"Makan dulu, baru cerita. Cuci tangan sana," ucap Mamahnya lembut. "Siapapun dia, kamu jangan cari ribut. Kamu itu cewek, harus bisa jaga sikap. Jangan bar-bar terus."
"Ih, mamah mah... mereka duluan yang mulai," gerutu Selena sambil mencuci tangan.
Sore itu, Selena makan dengan lahap, melupakan sejenak masalahnya di sekolah.
Malamnya, Selena sedang tiduran di kamar sambil chattingan sama Rora.
**Selena:** *Ra, besok temenin gue lewat jalur belakang aja ya kalau ke kantin. Males gue liat muka si Zeus.*
**Rora:** *Takut lo ya? HAHAHA.*
**Selena:** *Gue nggak takut! Gue cuma males liat muka temboknya si Leon sama muka sok gantengnya si Zeus. Bikin nafsu makan ilang!*
**Rora:** *Halah, awas lo kualat. Biasanya yang paling dibenci itu yang paling nempel.*
**Selena:** *NAJIS! Gak akan!*
Selena melempar HP-nya ke kasur. Dia menatap langit-langit kamar, lalu mulai tertidur.
Bersambung.
Maaf kalau gk terlalu menarik tapi aku udah berusaha
Kalau boleh gk juga gpp minta dukungan nya ya biar aku semangat up nya😊