Pernikahan seharusnya menjadi awal kebahagiaan, tetapi bagi Dara Sarasvati, tapi justru menjadi akhir dari mimpi-mimpi mudanya. Rutinitas rumah tangga dan keterbatasan hidup membuatnya mempertanyakan semua pilihan yang pernah ia buat.
Satu malam, pertengkaran dengan suaminya, Aldi Laksamana, mengubah segalanya.
Dara pergi—dan terbangun kembali di masa SMA, di tahun 2005.
Di hadapan kesempatan kedua ini, Dara dihadapkan pada dilema yang tak terbayangkan:
mengubah masa lalu demi dirinya sendiri, atau mempertahankan masa depan yang kelak menghadirkan anak yang sangat ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nunna Zhy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nama yang Seharusnya Tak Muncul Lagi
Keesokan hari, Dara ke sekolah pagi-pagi sekali. Gadis itu terlalu senang dengan hidupnya yang baru.
"Lo kudu manfaatin waktu yang diberikan lagi ini dengan sepenuh jiwa. Kejar mimpi dan cita-citamu, Dara Sarasvati." Monolog gadis yang kini duduk di bangkunya sambil memutar pulpen, matanya sesekali melirik pintu kelas. Dan Dara baru sadar satu hal penting pagi ini.
Aldi Laksamana belum muncul.
Dan itu membuatnya lega—terlalu lega.
Tidak ada wajah yang dikenalnya dari masa depan itu. Tidak ada laki-laki dengan tatapan lelah dan bahu menunduk.
Ini dunia tanpa Aldi Laksamana.
Atau setidaknya, dunia sebelum semuanya salah.
“Lo bengong mulu,” Rere menyenggol lengan Dara pelan. “Kenapa?”
Dara tersentak, langsung menggeleng cepat. “Ng—nggak. Cuma kepikiran tugas. Loh, kapan lo nyampe sini?” Dara balik bertanya, menoleh ke kiri dan kanan. “Kok gue nggak lihat?”
“Dih,” Rere mendecak. “Udah dari tadi kali. Lo aja yang ngelamun kayak orang stres.”
“Apaan sih?” Dara nyengir. “Siapa juga yang stres. Gue nggak punya beban hidup, ya. Ngapain cosplay jadi orang stres.”
Kalimat itu bohong besar.
Rere tertawa kecil. “Iya, iya. Beban hidup lo cuma mikirin jajanan kantin.”
Dara hendak membalas ketika bel masuk berbunyi, memotong percakapan mereka. Suaranya nyaring, memantul di seluruh lorong sekolah, menandakan dimulainya pelajaran pertama.
Bahasa Indonesia.
Dara langsung tersenyum kecil.
Bu Rita masuk beberapa menit kemudian dengan langkah tenang seperti biasa. Guru favorit Dara sejak dulu—bukan karena pelajarannya mudah, tapi karena suara Bu Rita selalu terdengar lembut dan sopan, bahkan saat sedang menegur murid.
“Selamat pagi, anak-anak,” sapa Bu Rita.
“Pagi, Bu,” jawab sekelas hampir serempak, meski ada beberapa suara yang masih terdengar setengah menguap.
Bu Rita tersenyum tipis. “Kelihatannya masih banyak yang belum bangun sepenuhnya, ya?”
Beberapa murid tertawa kecil.
Dara duduk tegak. Ia menyukai kelas ini. Tidak ada tekanan. Tidak ada teriakan. Tidak ada tuntutan hidup yang membuat napasnya terasa berat.
“Baik,” lanjut Bu Rita sambil menulis di papan tulis, “hari ini kita akan membahas cerpen.”
Rere langsung menyenggol Dara lagi. “Nah, cocok. Cerita hidup lo juga kayak cerpen. Pendek, tapi penuh drama.”
Dara menahan tawa. “Berisik, nanti lo disuruh baca cerpen di depan kelas.”
Seolah mendengar doa buruk itu, Bu Rita menoleh. “Rere?”
Rere refleks duduk tegak. “I—iya, Bu?”
“Bisa tolong bacakan paragraf pertama di buku halaman dua puluh?”
Kelas langsung ramai oleh cekikikan kecil. Rere menoleh ke Dara dengan tatapan menyalahkan.
Dara menutup mulut, bahunya bergetar menahan tawa. "Ups... sorry."
Saat Rere mulai membaca dengan suara lirih, Dara menyandarkan punggungnya ke kursi. Untuk pertama kalinya sejak kembali ke tahun 2005, ia benar-benar merasa… ringan.
"Akan gue rubah takdir hidup gue mulai dari sini."
Dara tersenyum kecil. Hingga bel istirahat berbunyi.
“Ah, indahnya hidup,” gumam Dara sambil membereskan buku-bukunya. “Cuma mikirin nilai bagus dan jajan apa hari ini.”
“Mau jajan apa, Ra?” Rere sudah berdiri dengan mata berbinar. “Di kantin Mang Udin yuk?”
Dara langsung menggeleng keras. “Enggak!”
Saking cepatnya, pensil di tangannya sampai jatuh ke lantai.
Rere mengerling. “Kenapa? Bakso Mang Udin enak, loh.”
“Enggak. Pokoknya enggak.” Dara meraih pensilnya. Itu kantin biasa si Aldi nongkrong, lanjutnya dalam hati.
Rere menyipitkan mata. “Lah, sejak kapan lo anti bakso?”
“Sejak… sejak gue sadar bakso bisa bikin masa depan kelam,” jawab Dara asal.
Rere mendengus. “Ngaco.”
Mereka akhirnya berbelok ke arah kantin lain—yang jaraknya sedikit lebih jauh dan, menurut Dara, lebih aman dari takdir sial bernama Aldi Laksamana.
Sayangnya, takdir tidak setuju.
Saat Dara sedang sibuk membuka bungkus es mambo, seseorang tanpa sengaja menabraknya.
Pluk.
Es mambo itu jatuh ke lantai.
Dara menatapnya nanar. Lama. Hening.
“Itu… es gue,” ucapnya datar.
“Eh—maaf, maaf,” suara laki-laki itu terdengar panik.
Dara mendongak.
Dan betapa kagetnya dia melihat siapa yang kini berdiri di hadapannya.
Aldi Laksamana. Versi SMA. Masih ganteng. Masih membuat kupu-kupu diperut para gadis berterbangan.
“Lo nggak apa-apa?” tanya Aldi canggung.
“Gue nggak,” jawab Dara cepat dan pedas. “Tapi es gue iya.”
Rere refleks menutup mulut, bahunya bergetar menahan tawa.
Aldi baru benar-benar memperhatikan siapa yang ia tabrak. Sekilas ada ekspresi kaget di wajahnya, tapi cepat ia tutupi. Tangannya merogoh saku celana, mengeluarkan selembar uang lima ribuan.
“Sorry, ya. Nih gue ganti.”
Dara langsung menepis tangannya. “Gak usah.”
Aldi terdiam, tangannya menggantung canggung di udara.
“Es mambo doang,” lanjut Dara datar. “Hidup gue udah cukup ribet tanpa tambahan hutang es.”
Rere tersedak. “Khe—”
Dara langsung menyikutnya.
“Hah?” Aldi mengernyit.
“Bercanda,” potong Dara cepat, lalu menatap Aldi singkat. “Tapi tetap… lain kali liat-liat kalau jalan. Pakai mata lo—”
“Iya,” potong Aldi cepat.
Tanpa menunggu balasan, Aldi langsung berbalik. Langkahnya tergesa, seolah takut percakapan itu berlanjut lebih lama. Beberapa detik kemudian, punggungnya sudah menghilang di balik kerumunan siswa.
Dara mengembuskan napas panjang.
“Jauh-jauh deh lo sama gue, Al,” gumamnya pelan. “Hus… hus…”
Rere menatapnya dengan ekspresi penuh selidik. “Sejak kapan lo jutek ke cowok cakep gitu?”
“Sejak gue sadar hidup gue damai tanpa drama,” jawab Dara cepat.
......................
Pulang sekolah, Dara sudah hampir lupa kejadian itu.
Hampir.
“Ra,” kata Rere sambil berjalan di sampingnya, suaranya terdengar terlalu ceria untuk ukuran murid pulang sekolah. “Temenin gue, ya.”
“Temenin ke mana?”
“Ketemuan sama orang.”
Dara berhenti melangkah. “Orang siapa?”
“Temen chat gue,” jawab Rere santai. “Kenal dari Yahoo Messenger.”
Langkah Dara langsung kaku.
“Yahoo… apa?”
“Messenger,” ulang Rere, bangga. “Udah lama kita chatting. Orangnya baik kok. Cuma mau ketemu bentar.”
Dara menatap sahabatnya lama. Terlalu lama.
“Rere,” ucapnya pelan, “tolong bilang ini bercanda.”
Rere menggeleng mantap. “Nggak. Lo temenin, ya. Gue takut.”
Dara membuka mulut untuk menolak, tapi tatapan memohon Rere membuat kata-katanya tersangkut di tenggorokan.
“Cuma nemenin,” lanjut Rere merengek. “Gue nggak bakal kenapa-napa, kan ada lo.”
Dara menghela napas panjang.
“Oke-oke,” katanya akhirnya. “Karena lo besti gue, jadi gue temenin.”
"Apa? Besti?"
"Ah, maksud gue sohib."
Dara baru sadar, di jaman ini belum ada istilah besti.
......................
Mereka akhirnya sampai di tempat yang dijanjikan. Sebuah cafe yang terletak di pinggir danau. Cafe itu sepi, hanya ada dua laki-laki di dalam sana.
Dara melangkah masuk lebih dulu—lalu berhenti di meja pojok.
Dua orang duduk membelakangi mereka.
"Hai." sapa Rere sok akrab.
Kedua laki-laki itu langsung menoleh bersamaan.
Boom.
Salah satunya adalah Aldi Laksamana.
Dara membeku.
Napasnya tercekat, kakinya terasa tak lagi miliknya.
Dari semua tempat.
Dari semua waktu.
Kenapa harus di sini?
Dan saat Aldi mengangkat pandangan—tatapan mereka bertemu.
Dara sadar satu hal yang membuat dadanya terasa dingin:
Ia tidak bisa kabur dari takdir sialan ini.
Bersambung....