"Tinggalkan putraku dan ambil ini! Ingat jangan kau injakkan kaki kotor mu itu di mansion keluarga Xie." Xie Lihua
"Baik Nyonya, saya akan pergi dari sini. Dan ini amplop dari anda, saya bukan seperti apa yang anda pikirkan." Lin Wu
"Shit! Beraninya dia pergi meninggalkanku, lihat saja aku akan menghukumnya dan membawanya kembali ke sisiku." Xie Yanshen
Dua insan yang terpaksa menikah karena sebuah scandal dan juga tuntutan dari Tuan Jin Hao, Ayah Yanshen. Pernikahan yang tak diinginkan itu membawa Lin Wu ke dalam neraka kehidupan. Lihua, Ibu Yanshen begitu membencinya hingga suatu hari dia sukses menyingkirkan Lin Wu.
Tanpa ada seorang pun tahu, bahwa Lin Wu pergi membawa rahasia besar. Dan kepergiannya membuat Yanshen murka.
Akankah Yanshen tahu rahasia besar Lin Wu? Dan berhasilkah Yanshen membawa kembali wanita yang masih sah menjadi istrinya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sagitarius28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MBSK 2
Saat ini Lin Wu sudah berada di dalam trem yang akan membawanya pulang ke rumahnya. Sepanjang perjalanan, Lin Wu tertunduk lesu mengingat kejadian yang telah menimpanya. Terlebih dia belum sempat berpamitan pada Yanshen, suaminya.
Lin Wu takut bila lelaki itu berpikiran negatif kembali karena seperti sebelumnya Yanshen sempat memandang rendah dirinya yang bekerja di club. Hingga takdir pun mempertemukan mereka yang tanpa sadar telah menciptakan skandal. Persatuan mereka pun dilandasi oleh tuntutan Tuan Jinhao, memaksa putranya untuk menikahi perempuan yang telah direnggut kesuciannya. Tak hanya itu, keduanya pun bersatu dimateraikan dengan perjanjian yang telah ditandatangani tepat di malam pertama untuk pernikahan selama enam bulan. Setelah itu, mereka pun bebas untuk berpisah.
Namun belum genap enam bulan pun, Mommy Lihua berhasil menyingkirkan Lin Wu dari kehidupan putranya. Wanita paruh baya itu tidak ingin jika Yanshen memiliki perasaan pada Lin Wu yang dianggapnya sebagai parasit. Mengingat akhir-akhir ini Mommy Lihua melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Yanshen sedikit berbeda dari sebelumnya.
Bergulirnya waktu, sikap Yanshen pun mulai menghangat pada Lin Wu. Hal itu terjadi bukan sekali atau dua kali, melainkan hampir setiap waktu putranya itu selalu memberikan perhatian meskipun tidak secara langsung. Firasat Mommy Lihua begitu kental sebagai sosok Ibu yang tentu tidak akan salah dalam menafsirkannya, membuat wanita paruh baya itu segera mengambil tindakan saat putranya sedang melakukan perjalanan bisnis keluar negeri.
Jauh dalam lubuk hati Lin Wu, perempuan itu sebenarnya ragu jika pulang kerumahnya, pasti akan membuat Ibunya sedih. Selama ini, yang ibunya tahu hanyalah hubungan Lin Wu dan Yanshen baik-baik saja. Hal itu terbukti saat Yanshen yang meluangkan waktunya untuk datang menjenguk Jiao ke rumah sakit usai operasi pasang ring. Keduanya terlihat harmonis, dimana Yanshen seperti aktor dengan kemampuannya yang begitu handal dalam memerankan perannya sebagai sosok suami di hadapan mertuanya. Begitu juga dengan Lin Wu yang dapat mengimbangi akting Yanshen saat itu.
"Semangat Lin Wu, mulai hari ini lupakan semua hal tentang keluarga konglomerat itu. Kau tidak pantas bersanding dengan putra mahkota dari keluarga Xie. Apalagi sampai berharap lebih, mustahil jika Yanshen memiliki perasaan yang sama denganmu," gumam Lin Wu dengan mata berkaca-kaca.
🥕🥕🥕
Setelah beberapa puluh menit kemudian, trem pun berhenti di penurunan trem area. Lin Wu pun segera turun dan berjalan menuju ke rumahnya, kebetulan jarak rumahnya tidak terlalu jauh dari penurunan trem area. Hingga dia pun memutuskan jalan kaki sampai ke rumahnya.
.
.
.
Terdengar hembusan napas dari bibir Lin Wu, pandangannya lurus menatap ke sebuah rumah yang menjadi kenangannya dengan orang tuanya. Seketika ingatannya pun kembali membawanya ke masa lalu, dimana dirinya yang selalu datang bersama dengan Yanshen. Meskipun dingin, entah kenapa lelaki itu begitu peduli dengan kehidupan Lin Wu. Terlebih saat Yanshen menemukan sebuah kebenaran, alasan mengenai Lin Wu yang bekerja sebagai pelayan club.
Lin Wu merupakan anak tunggal, Ayahnya telah lama meninggal sejak dia duduk di bangku kelas satu SMA. Sejak saat itu lah Lin Wu bekerja paruh waktu untuk membantu Ibunya, juga membiayai kebutuhan sekolahnya. Usai lulus sekolah dia ingin sekali melanjutkan studinya ke luar negeri, kebetulan waktu itu Lin Wu mendapatkan bea siswa di Oxford University. Tapi, hal itu dia urungkan begitu saja mengingat sang Ibu yang kondisinya tidak memungkinkan. Ditambah dirinya tidak mungkin meninggalkan sang Ibu sendirian di kota Shanghai, hingga akhirnya Lin Wu memutuskan untuk bekerja sebagai tulang punggung keluarga.
Lama terdiam, hingga akhirnya datanglah seorang wanita paruh baya dengan membawa sekantong belanjaan. Wanita itu berjalan menuju ke rumah yang saat ini menjadi tujuan Lin Wu. Ya, dia adalah Lin Jiao yang merupakan Ibu kandung Lin Wu. Saat itu, Jiao baru saja pulang dari toko yang tidak jauh dari rumahnya. Namun alangkah terkejutnya wanita paruh baya itu, tidak ada angin tidak ada hujan anaknya pulang membawa koper.
"Lin Wu ...," lirih Jiao mengernyitkan dahinya dalam.
"Ibu." Lin Wu memutar tubuhnya, menoleh ke asal sumber suara. Kemudian menghambur memeluk erat tubuh Jiao.
"Ayo kita masuk dulu, Nak." Dengan lembut Jiao pun mengusap punggung anaknya, sebelum akhirnya keduanya pun mengurai pelukan. Tanpa banyak bertanya apapun, Jiao segera mengajak anaknya masuk, mencoba memahami kondisi Lin Wu.
"Iya, Bu." Lin Wu mengangguk berusaha menampilkan senyum manisnya, meskipun saat ini dirinya sedang tidak baik-baik saja.
"Ibu darimana?" tanya Lin Wu sembari melangkah menuju pintu rumah.
"Oh, ini Ibu habis belanja keperluan dapur." Jiao mengangkat kantong belanjaannya menunjukkan pada Lin Wu bahwa memang dia baru pulang dari toko di ujung jalan yang tidak jauh dari rumahnya.
Ceklek ....
Pintu pun sudah terbuka lebar, keduanya masuk ke dalam rumah yang minimalis.
"Kamu sudah makan, Nak? Kebetulan hari ini Ibu masak makanan kesukaan kamu," ujar Jiao sembari meletakkan barang belanjaannya ke dapur.
Disinilah Lin Wu berada, perempuan itu duduk di sebuah kursi tepatnya di ruang makan. Ruangan itu begitu sederhana tidak seperti di keluarga Xie yang berukuran besar nan mewah.
"Sudah Bu," jawab Lin Wu lirih yang hanya menundukkan kepala menatap meja makan.
Mendengar jawaban Lin Wu seketika Jiao pun menghentikan kegiatannya saat ini. Dia berjalan mendekati Lin Wu yang masih duduk di ruang makan. Terlihat jelas raut wajah Lin Wu begitu sendu seolah tersimpan banyak ribuan beban yang ada di dalam isi kepalanya.
"Lin Wu, ceritakan pada Ibu apa yang sebenarnya terjadi?" Jiao menarik kursi lalu segera duduk di samping anaknya yang masih bergeming menunduk.
"Kemana Yanshen? Kenapa dia tidak ikut? Biasanya juga dia mengantarmu kesini," tanya Jiao menatap lekat anaknya.
"Yanshen ke Amerika, Bu. Dia sedang ada urusan bisnis disana," jawab Lin Wu yang belum berani berkata sejujurnya.
Perlahan Jiao menyentuh punggung tangan Lin Wu, tak hentinya wanita paruh baya itu terus memperhatikan wajah anaknya yang terlihat berbeda dari sebelumnya. Terlebih saat ini Lin Wu pulang dengan membawa koper tanpa ada Yanshen yang mengantarnya.
"Ibu tahu bagaimana kamu, Nak. Ibu yakin pasti ada suatu hal yang terjadi, dan kamu berusaha menyembunyikannya dari Ibu. Benar bukan?" Kembali Jiao menatap Lin Wu dan kali ini tatapannya penuh intimidasi.
"Bukan kebiasaan kamu yang tiba-tiba pulang tanpa memberi kabar pada Ibu. Kamu bawa koper lagi, Ibu kan jadi bingung." Lanjutnya yang langsung to the point bertanya.
"Apa benar Ibu tidak akan marah kalau Lin Wu bicara yang sebenarnya?" Perempuan itu mendongakkan kepalanya membalas tatapan sang Ibu.
Jiao pun mengangguk sebagai tanda jawabannya.
"Ibu janji tidak akan marah sama kamu, Nak. Ayo, bicaralah ...."
.
.
.
🥕Bersambung🥕
Visual Membawa Benih Suami Kontrakku
Lin Wu
Xie Yanshen
Ran Xi Wei
Fen Ang
Xie Lihua
Apabila visualnya tidak sesuai, bisa dibayangkan sendiri ya dengan imajinasi kalian masing-masing 😊🙏🙏