Sejak SMP, ia mencintainya dalam diam.Namun bagi pria itu, kehadirannya hanyalah gangguan yang ingin ia hindari.Tahun demi tahun berlalu, perasaan itu tidak pernah padam—meski balasannya hanya tatapan dingin dan kata-kata yang menyakitkan.Tapi takdir mempertemukan mereka kembali, saat keduanya kini telah tumbuh menjadi dewasa.Luka lama kembali terbuka.Rasa yang seharusnya mati, justru tumbuh semakin dalam.Apakah cinta yang bertahan sendirian mampu berubah menjadi sesuatu yang layak diperjuangkan?Atau ia hanya sedang menghancurkan dirinya sendiri demi seseorang yang tidak pernah ingin melihatnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sea.night~, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tuntutan
" ayah! hentikan! sakit! hiks!"
Teriak Winda memohon agar ayah nya berhenti memukul nya dengan ikat pinggang itu.
" KAU ANAK YANG TAK BERGUNA! ANAK TAK TAU TERIMA KASIH!" Teriak pria jangkung dengan kulit gelap bernama Arman wijaya yang tak lain adalah ayah dari Winda wulandari. Suaranya menggelegar , memenuhi satu ruangan . Tangan nya yang besar masih memegang ikat pinggang dengan marah , siap mengibaskan ikat pinggang itu lagi. Urat urat di leher nya menonjol dan rahang nya yang terkatup rapat. Saat pria itu hendak mengibaskan tali pinggang itu lagi ke tubuh Winda , seorang wanita mendorong Arman dengan kuat.
" HENTIKAN! APA KAU GILA ?! MEMUKUL ANAK PEREMPUAN MU SEPERTI ITU!" Teriak wanita itu yang tak lain adalah Ibu Winda yang bernama Priska.
Winda segera bersembunyi di belakang Priska "mama ... hiks..." suara gemetar memanggil Priska dengan ketakutan memohon pertolongan.
" mama disini... ssh.. diam " Priska memeluk erat putrinya yang ketakutan dan membisikkan hal-hal yang menenagkan.
" Nikahkan saja anak itu dengan pria kaya! dan ambil mahar nya! setidaknya dia bisa menghasilkan uang " ucap Arman dengan kasar.
" Kau gila, Arman! ini putri mu! dan kau mengatakan itu dengan enteng! apa kau fikir anak untuk di jual dan menghasilkan uang?!kamu memperlakukan anakmu sendiri seperti barang dagangan! DIMANA LETAK OTAK MU?!" Teriak Priska marah sementara air matanya terus mengalir.
" Dia anak Pertama , dan itu kewajibannya untuk menghasilkan uang untuk kita, kita sudah membiayai hidupnya apa salahnya aku ingin menikahkan nya dengan pria kaya? aku hanya ambil uang mahar nya, setelah itu dia juga akan bahagia hidup dengan orang kaya . kita sama sama dapat keuntungan kan?" ucap Arman dengan mudah tanpa rasa bersalah.
" KAU GILA ARMAN! INI PUTRI MU! SADAR! KAU MALAS MALASAN BEKERJA DAN SEKARANG KAU MAU MENGORBANKAN ANAK MU SENDIRI?!" Teriak Priska . Sementara Winda masih menangis pelan di pelukan Priska.
" aku tak mau tau. aku mau anak itu menghasilkan uang yang banyak untuk kita. setelah dia tamat sekolah nanti jika dia tak bisa mendapat pekerjaan dengan gaji yang lumayan aku akan menikahkan nya dengan pria kaya. " Ucap Arman sebelum berbaik untuk pergi dan membanting pintu dengan kesal di belakang nya. Priska ditinggalkan di kamar dengan Winda yang masih di pelukan nya
" Jangan dengarkan kata ayah.... mama akan menjaga Winda.." Ucap Priska lembut dan menenagkan tepat di telinga Winda.
" Tapi Winda takut ma... Kenapa tidak adik saja?.. kenapa harus Winda... Ayah ga sayang sama Winda... Ayah benci sama Winda..." Ucap Winda gemetar dan terbata-bata di sela-sela menangis.
" sssh.. mama disini , mama sayang sama Winda. Ayah gila. jangan dengarkan apa kata ayah, okay?" Priska mengelus lembut punggung Winda, tak henti hentinya mencoba menenangkan putrinya itu.
Sejak Winda menginjak usia 14 tahun Arman selalu menuntut nya banyak hal, dan sering melampiaskan amarahnya kepada Winda dengan cara memukul nya. Priska memperhatikan putrinya mulai sering mengurung diri di kamar dan saat keluar kamar wajahnya terlihat bengkak karena menangis. Meski Priska tak melihat nya menangis tapi sebagai seorang ibu ia tau apa yang dialami putrinya sendiri. sadar putrinya tertekan batin oleh semua ucapan dan tuntutan Arman.
Winda terus menangis pelan. hatinya sakit mengingat semua yang di katakan ayah nya. Setiap tuntutan, ucapan bahkan pukulan. Winda tak pernah lupa itu. Dan hal yang paling dituntut adalah menghasilkan uang. Tapi hari ini.. mendengar pria itu mengatakan ingin menikahkan nya dengan pria kaya membuat hatinya hancur berkeping keping. Seolah olah dia akan di jual.
dalem bnggt sehhh
Winda muka tembok ga sih ini