Semua orang melihat Kenji Kazuma sebagai anak lemah dan penakut, tapi apa jadinya jika anak yang selalu dibully itu ternyata pewaris keluarga mafia paling berbahaya di Jepang.
Ketika masa lalu ayahnya muncul kembali lewat seorang siswa bernama Ren Hirano, Kenji terjebak di antara rahasia berdarah, dendam lama, dan perasaan yang tak seharusnya tumbuh.
Bisakah seseorang yang hidup dalam bayangan, benar-benar memilih menjadi manusia biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hime_Hikari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 - Awal Kecurigaan Sang Kazuma
Suasana sekolah Emerald keesokan harinya masih sama saja seperti hari-hari sebelumnya. Dentingan bel sebagai tanda istirahat berbunyi, para siswa pun berhamburan keluar kelas menuju kantin. Kenji masih duduk di bangkunya, ia membereskan buku-buku yang tadi dipakainya, ia tahu kalau keluar bersamaan dengan yang lain, kemungkinan besar ia akan menjadi sasaran bully kembali.
Sepertinya rencana untuk menunggu agak lama gagal, saat Kenji hendak keluar kelas ia sudah ditahan oleh tiga siswa dari kelasnya. Mereka sudah berdiri di depan pintu kelas sambil melipat tangan dengan senyuman mengejek.
“Lihat siapa yang masih duduk sendirian,” ejek salah satu dari mereka.
“Dasar sampah kelas. Ayo, cepat bawakan tas kami ke kantin.” Mereka pun melemparkan tas ke arah depan Kenji dengan kasar.
Kenji menunduk, seperti biasanya ia tidak melawan. Ia meraih salah satu tas dari mereka dan hendak berdiri, tetapi sebuah kaki menahan kakinya hingga membuat ia tersandung dan jatuh ke lantai, seketika suara tawa pun terdengar memenuhi ruangan.
“Wah, si Cupu jatuh lagi! Jangan-jangan jatuhnya biar bisa menjadi alasan ke guru nanti, ya?” Ledek salah satu dari pem-bully.
Kenji hanya bisa menggigit bibirnya, menahan emosi, Yuto yang sedari tadi duduk di bangku belakang sudah mengepalkan tangannya. Ia sudah siap untuk maju, tetapi Kenji hanya menggelengkan pelan memberi syarat untuk jangan ikut campur, karena ia tidak ingin Yuto dan Akira terkena imbasnya karena menolong dirinya.
Pada hari itu berlalu begitu lambat, saat bel pulang berbunyi, ketika semua siswa sudah keluar untuk pulang. Kenji keluar paling akhir, Yuto dan Akira sempat untuk menawarinya untuk pulang bersama, tetapi Kenji menolak dengan alasan ada urusan keluarga. Akhirnya Kenji melangkah sendirian melewati gerbang sekolah.
Mobil hitam mengkilap sudah menunggu di tempat yang agak tersembunyi, supir yang kemarin juga menatapnya cemas ketika melihat kondisi Kenji. Ada memar baru di daerah pelipisnya, dan seragamnya sedikit kusut.
“Ya ampun, Tuan Muda … lagi-lagi Anda pulang dengan luka, apakah yang terjadi kali ini?” tanya supir dengan suara gemetar.
“Saya tidak apa-apa, Pak. Aku hanya … terjadi di tangga sekolah.” Kenji hanya tersenyum hambar, dan mencoba untuk menutupi keadaan yang sebenarnya terjadi dengan dirinya.
Supir itu hanya bisa terdiam, sambil menatap Kenji seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi akhirnya ia hanya bisa menghela panjang dan membuka pintu mobil untuk Kenji, dan ia pun sempat ingin mengatakan semua yang terjadi dengan Tuan Mudanya ini kepada Tuan Besar tapi melihat Kenji yang memohon untuk tidak memberitahu papanya membuatnya untuk mengurungkan niatnya itu.
Rumah besar milik keluarga Kenji berdiri megah di tengah kota, dikelilingi dengan pagar tinggi dan penjagaan yang ketat. Begitu mobil memasuki halaman, beberapa orang berpakaian hitam langsung memberi hormat, Kenji turun sambil menunduk, ia mencoba untuk menghindari tatapan mereka.
Di ruang utama, tampak Kazuma sudah menunggunya, lelaki berusia sekitar empat puluh lima tahun itu duduk di kursi kulit besar, dengan wajah tenang tetapi sorotan matanya begitu tajam. Ia sosok yang ditakuti banyak orang di dunia bawah, meskipun di permukaan dikenal sebagai pengusaha sukses.
“Aku pulang Papa.” Kenji berjalan pelan ke hadapannya, lalu memberi salam sopan.
Tatapan Kazuma langsung tertuju pada memar di wajah Kenji, seketika dahi lelaki itu mengerut, dan ia berdiri mendekati anaknya.
“Kenji … lagi-lagi kamu pulang dengan luka.” papanya langsung memeriksa apakah apakah ada memar di bagian tubuh yang lain.
“A-ah, aku tidak apa-apa Pa, tadi aku hanya … terjatuh.” Kenji mundur setengah langkah mencoba untuk sedikit menjauh dari Kazuma.
“Apa kamu bilang, terjatuh?” kata papanya dengan nada tinggi.
Tangan Kazuma Kenji terulur, sambil memegang dagu Kenji untuk melihat lebih jelas luka yang ada di wajah anak kesayangannya itu. “Jangan bohongi Papa, Papa tahu luka ini bukan karena jatuh”.
Kenji hanya menunduk, tidak berani menatap mata ayahnya. Jantungnya berdegup kencang, kalau ia jujur pasti Kazuma akan marah dan teman-teman yang mem-bully-nya akan celaka dan ia tidak mau itu terjadi.
“Aku benar-benar hanya terpeleset, Pa. Jangan khawatir.” Suara Kenji terdengar lirih, dan hampir bergetar.
Kazuma terdiam lama, sorot matanya tajam, seakan ingin menembus semua kebohongan yang Kenji coba bangun. Tapi akhirnya ia hanya bisa menghela nafas panjang, dan lalu melepaskan dagu Kenji.
“Baiklah, kalau itu jawabanmu, tapi ingat Kenji … Papa selalu bisa mengetahui kebenaran, cepat atau lambat, sudah sebaiknya sekarang kamu beres-beres dan istirahat,” kata Kazuma dan ia pun ke kamarnya.
Kenji mengangguk patuh, meskipun dalam hatinya ia merasa bersalah, ia ingin sekali berkata jujur kepada sang Papa, tetapi ia tidak sanggup. Setelah perbincangan itu Kenji pergi ke kamarnya untuk istirahat.
Malam itu Kazuma berdiri di balkon rumahnya sambil menyalakan sebatang rokok, tiba-tiba seorang pria berjas hitam mendekatinya, ternyata ia adalah salah satu tangan yang paling setia.
“Bos, apakah saya perlu menindaklanjuti siapa yang membuat Tuan Muda terluka?” tanyanya dengan nada serius
Kazuma menggeleng pelan.”Belum saatnya, Kenji tidak mau kita ikut campur, tapi saya tidak bisa tinggal diam melihat anakku diperlakukan seperti itu, dimana setiap kali pulang sekolah selalu terluka.”
Asap rokok mengepul di udara malam, mata Kazuma menyipit, menatap jauh ke arah gerbang sekolah yang hanya terlihat samar-samar dari kejauhan. Kazuma pun membalikan badannya dan menatap ke arah tangan kanannya.
“Mulai besok, awasi Kenji, jangan sampai ia menyadari keberadaanmu. Saya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi selama ia belajar di sekolah itu, dan jika ada yang menyakitinya lagi … pastikan mereka menyesal karena sudah terlahir di dunia ini,” kata Kazuma dengan suara yang rendah dan datar.
“Baik, Bos. Perintah akan segera saya jalankan.” Pria berjas hitam itu menunduk hormat dan meninggalkan Kazuma sendiri.
Melihat tangan kanannya telah pergi, Kazuma melanjutkan menghisap rokoknya sekali lagi, lalu menghela nafas panjang dan menatap ke arah langit malam yang dingin. Ada kekhawatiran yang ia tidak pernah bisa tunjukan ke orang lain, apalagi itu menyangkut anak semata wayangnya.
“Kenji … kau begitu sangat baik, tapi sayangnya di dunia ini tidak akan membalas semua kebaikan yang telah kamu lakukan,” gumamnya pelan.
***
Keesokan harinya, Kenji bangun lebih awal, ia berpikir hari ini akan berjalan sama seperti sebelumnya yaitu pem-bully- an.Dan saat pulang ia akan kembali berbohong dengan bermacam-macam alasan\, setelah semua sudah rapi Kenji pun berpamitan dengan Kazuma dan langsung pergi ke sekolah\, dan tanpa Kenji sadari dari kejauhan tampak sepasang mata dingin yang sudah siap mengawasinya\, dan mengikuti setiap langkah kecilnya.