Dewangga tak menyangka di usianya yang menginjak 42 tahun, dia harus menikahi sahabat putrinya karena kesalahan pahaman. Pernikahan mereka pun harus dirahasiakan dari sang putri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Escendol94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2. Tiba-tiba Sah!
Sah!
Suara warga menggema setelah Dewangga mengucap ijab kabul atas nama Riri Fatihah. Setelah tadi diarak keliling kampung, kini keduanya dinikahkan.
Riri masih syok dengan apa yang menimpanya. Menikah dadakan dengan Ayah sahabatnya tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Dia menatap uang lima ratus ribu yang diberikan Dewangga sebagai mahar. Pria itu hanya membawa uang cash sebesar itu, saat ingin mengambil uang di ATM, warga tidak mengizinkan.
Riri menghela napas berat, menatap nanar uang mahar di tangan. Ini bukan yang diinginkan. Dia masih ingin menikmati masa mudanya. Menikah masih jauh dari angan.
Apalagi usia mereka terpaut sangat jauh. Dia baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-20 tahun, dan Dewangga sudah 42 tahun.
'Ya Tuhan. Ujian apalagi ini? Kenapa aku harus menikah dengan duda tua ini?' batin Riri nelangsa.
Dewangga menghela napas pelan. Menikah dengan sahabat putrinya tidak pernah terbayangkan. Sempat terlintas untuk menikah, tapi dengan wanita sebaya, atau paling tidak usianya yang sudah 35 tahunan. Tapi kini, dia malah menikahi gadis seusia putrinya.
Usai warga bubar, Dewangga dan Riri pamitan pada Pak Kades serta Pak ustadz. Dan kini keduanya dalam perjalanan menuju Bandara.
Di dalam mobil, keduanya saling diam. Mereka hanyut dalam pikiran masing-masing hingga sampai di Bandara.
Dewangga memesan ulang tiket pesawat karena sudah ketinggalan pesawat. Tujuan mereka Bali di mana Nura menunggu di sana.
Beberapa jam kemudian, keduanya sudah sampai di villa milik Dewangga yang ada di Bali.
"Masuklah," kata Dewangga.
Riri mengangguk sedikit canggung, dia sedikit melirik suami barunya tersebut. Dan segera memutus lirikannya saat Dewangga juga menatapnya.
"Setelah menemui Nura. Segera temui saya di ruang kerja."
Riri mengangguk pelan lalu segera naik ke lantai dua di mana kamar Nura berada. Nura pernah mengajaknya dua kali ke villa ini.
Saat tiba di kamar sahabatnya itu, Riri terdiam. Di dalam tidak ada siapapun. Dia melihat jam di pergelangan tangan. "Sudah jam sebelas. Ke mana Nura?“ Dia berjalan masuk.
Riri meletakkan ranselnya di sofa kemudian berjalan ke arah tempat tidur. Dia mengambil secarik kertas.
Ri, aku ikut Mama ke Singapura. Tolong bilangin ke Papa. Tadi aku hubungi kalian, tapi ponsel kalian tidak aktif.
Love sekebon... Nura
“Tau gitu aku gak usah ikut ke sini!" gumamnya sedikit kesal. Dia segera ke luar kamar untuk memberitahu Dewangga jika Nura ikut ibunya ke Singapura.
Sampai di lantai bawah, dia melihat penjaga villa beserta beberapa orang terlihat sedang menyiapkan makanan. Di atas meja ada kue ulang tahun. Riri menyapa mereka sebentar lalu kembali menuju ruang kerja.
Sampai di depan pintu, Riri mengetuk pintu itu pelan. Saat mendengar jawaban dari dalam, dia segera masuk.
"Om, tadi Nura ninggalin pesan-" Belum selesai dia bicara Dewangga sudah memotong.
"Saya sudah tahu. Nura ikut ibunya. Dia baru saja menelepon."
"Oh...." Riri mengangguk.
"Duduk, saya ingin bicara sama kamu."
Riri segera duduk di sofa yang ada di ruang kerja tersebut. Dia mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan. Memuji betapa mewahnya ruang kerja suaminya.
"Saya berencana memberitahu Nura tentang pernikahan kita," ucap Dewangga.
Riri menatap dengan wajah terkejut. Jantungnya berdebar kencang. Kedua tangannya saling meremas. Dia takut Nura tidak setuju dengan pernikahan mereka. Karena Riri tahu, Nura mengharapkan kedua orangtuanya rujuk.
"Om, kita cerai saja," katanya pelan.
"Cerai?“ Dewangga mengulangi ucapan Riri dengan ekspresi datar. "Saya..., sebentar Nura telepon." Dia segera menerima panggilan dari sang putri.
Riri menatap Dewangga yang sedang berbicara dengan Nura lewat sambungan telepon tanpa berkedip. Dia akui, Ayah sahabatnya ini masih sangat tampan. Meskipun usianya tak muda lagi. Tubuhnya masih bugar dan kekar, tidak seperti Bapak-bapak di desanya. Di balik kemeja hitam yang dikenakan, Riri bisa melihat otot lengan pria itu. Dia meneguk ludah.
'Haish! Apa yang aku pikirkan?! Jangan ngaco, Ri! Dia Ayah Nura! Jangan berani punya pikiran lain sama Om Dewangga!' gumamnya dalam hati.
Dewangga mematikan sambungan telepon dan kembali menatap Riri. Dia memperhatikan Riri begitu lekat. Memindai wajah gadis itu, lalu berkata, "Saya tidak bisa menceraikan kamu.“
Riri melotot, menatap Dewangga dengan bingung. "Kenapa gak bisa Om?" Dia panik. "Lagipula pernikahan ini terjadi karena salah paham."
"Saya hanya ingin menikah sekali seumur hidup," kata Dewangga.
'Menikah sekali seumur hidup? Apa maksudnya?' batin Riri bingung. Dia menatap Dewangga dengan wajah bingung. "Bukannya Om sama Tante Sarah sudah pernah menikah?"
“Saya dan Sarah tidak pernah menikah," katanya. Dia dan Ibu dari Nura memang tidak pernah menikah.
"Maksudnya gimana? Jadi Nura...?" Riri tidak melanjutkan ucapannya karena itu ranah sensitif.
“Nura sudah tahu." Dewangga sudah memberitahu Nura sejak putrinya usia 15 tahun. "Karena Nura tidak ada. Kamu ikut saya ke Jepang."
Riri terkejut, matanya melotot dengan mulut sedikit terbuka. "Ikut Om ke Jepang? Ngapain?"
Dewangga tidak menjawab, dia juga bingung kenapa tadi memesankan tiket pesawat untuk Riri juga. “Bersiaplah, kita ke Bandara setengah jam lagi."
"Eh, tunggu dulu Om. Kenapa aku harus ikut Om ke Jepang?" Dia jadi gelisah. 'Jangan-jangan Om Dewangga mau ajak aku bulan madu?' batinnya panik.
“Bukankah kamu ingin pergi ke Jepang?“
Riri terdiam, menatap Dewangga dengan kening berkerut. "Dari mana Om tahu kalau aku pengen pergi ke Jepang?"
"Nura yang beritahu. Sudah sana ke luar. Saya masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan," usir Dewangga.
"Om." Riri menatap Dewangga lekat. "Talak aku dulu."
Dewangga terdiam, tatapan mereka bertemu. "Kita bicarakan setelah pulang dari Jepang," putusnya pada akhirnya.
"Kenapa musti nunggu pulang dari Jepang? Kenapa gak sekarang aja nalaknya."
"Saya ingin memastikan dulu."
"Memastikan apa?" Riri bingung. Apa yang mau dipastikan? Bukankah cerai sekarang lebih baik sebelum Nura tahu?
Riri hanya tak ingin di cap mengkhianati sahabatnya. Dia sangat tahu harapan Nura. Riri tak ingin merusak impian sahabatnya.
"Aku takut Nura tahu, Om. Dia pasti benci banget sama aku. Om, buruan. Talak aku sekarang juga!" pinta Riri dengan wajah mengiba.
Hal yang paling ditakuti adalah Nura membencinya karena telah menikah dengan orang yang tak seharusnya. Selama dua tahun kuliah di Jakarta, Nura adalah satu-satunya sahabat. Meskipun kaya, tapi Nura tidak pernah memandangnya rendah seperti kawan-kawan yang lain. Nura sangat tulus padanya. Dan Riri tidak mau mengkhianati sahabat baiknya.
Riri menatap Dewangga dengan wajah memohon, menunggu lelaki dewasa itu mengucapkan talak untuknya.
Namun, pria itu masih tetap dalam diamnya. Riri sedikit kesal, dia kembali berkata, "Om! Ayo, cepat talak aku!" Dia mengulangi permintaan yang sama.
Kali ini Dewangga melepas kaca mata, menatap Riri dengan tatapan lekat. “Kenapa kamu ingin sekali bercerai dari saya?"
Riri mendengkus kesal. Sudah tahu alasannya masih saja bertanya. Pria dewasa di depannya ini sangat menyebalkan!
"Om masih bertanya?" Riri menggeleng sambil menghela napas.
“Saya ingin mendengar alasan kamu. Selain Nura!"
*,*..