Nama saya Yuda, Saya siswa SMA tahun ke 2. Kehidupan sekolah saya tidak ada yang istimewa. Tetapi ada seseorang yang sangat saya sukai dari tahun pertama sekolah, saya mengejar cintanya selama 2 tahun, namun tidak mendapatkan respon dan berujung penolakan yang menyakitkan. Sampai suatu saat saya mulai membuka mata saya, berapa banyak waktu yang saya buang sia-sia hanya untuk wanita yang tidak mencintai saya. Namun ini hanya permulaan dari cerita tahun ke 2 saya di sekolah. Dimana saya akhirnya memilih untuk melangkah maju dan berhenti membuang waktu, saya memutuskan untuk berhenti mengejar cintanya dan menjalin hubungan pertemanan dengan teman-teman lainnya. Berusaha mengupgrade diri dan mencoba membuka hati untuk orang baru walau rasa trauma dari orang lama masih membekas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dame Dha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2 Pertemanan
~ Sudut pandang Yuda ~
Bel pelajaran terakhir berbunyi, aku tidak mengucapkan sepatah kata pun setelah Yuki melontarkan penolakan.
Dan aku pastikan ini akan menjadi penolakan terakhirnya.
Sudah cukup, yang dikatakan Citra tidak salah. Aku hanya pengganggu.
Mungkin aku harus berterima kasih pada Citra karena sudah membuka mata ku.
Sebelum bersiap untuk pulang, aku menunggu Citra di lorong sekolah karena ada yang harus ku bicarakan dengan dia.
Tidak lama aku menunggu, Citra pun datang. Aku memanggilnya dan dia sedikit terkejut, namun dia tetap menghampiri ku walaupun muka dia yang lumayan tegang.
~ Sudut pandang Citra ~
Setelah bel pelajaran berakhir, saatnya pulang. Aku masih tidak percaya dengan apa yang ku katakan pada Yuda. Setelah ku pikir-kata ku cukup tajam.
Bahkan Yuda yang biasanya tersenyum ramah kali ini hanya terdiam. Dia seperti kehilangan setengah roh nya.
Yuki berterima kasih padaku namun dia juga minta maaf karena telah melibatkan ku dalam masalahnya.
"Citra, maaf aku menyeret mu dalam masalah ini, aku benar-benar putus asa sampai tidak bisa berpikir jernih". ucap Yuki sambil meminta maaf padaku.
"Tidak apa-apa, tugas ku sebagai ketua kelas, tidak mungkin aku bisa mengabaikan mu Yuki". ucapku sambil di menenangkan Yuki.
"Tapi aku khawatir pertemanan mu dengan Yuda akan bermasalah gara-gara ke egoisan ku" ucap Yuki padaku dengan sedikit khawatir.
Aku kembali menenangkan Yuki dengan berkata "Tidak perlu khawatir, aku kenal Yuda lebih dari siapapun di kelas ini, Yuda bukan orang pendendam, besok dia akan kembali ceria lagi"
"Aku benar-benar minta maaf Citra". Yuki kembali meminta maaf padaku.
"Sudah tidak perlu dipikirkan, Aku mau pulang duluan ya Yuki" ucapku pada Yuki dengan lembut.
Setelah berpamitan dengan Yuki, aku pun berjalan keluar kelas dan menuju lorong. Aku merasakan ada sesuatu yang aneh sedang mengawasiku.
Ternyata benar, Yuda sedang menunggu di depan lorong dengan ekspresi wajah yang kosong. Aku jadi sedikit merinding. Dia menatapku dari kejauhan dan saat itu juga aku faham kalau dia sedang menungguku.
Aku berjalan terus dengan perasaan campur aduk, setelah jarak aku cukup dekat dengan dia. Dia kemudian memanggilku.
"Citra, aku mau bicara serius sama kamu" ucap Yuda padaku.
Sosok Yuda yang ada di hadapanku seperti bukan Yuda yang ku kenal, senyum ramahnya benar-benar menghilang.
Aku menjawabnya dengan sedikit gemetar. "Aaa apa yang mau kau bicarakan Yuda, bicarakan saja"
"Tapi tidak disini Citra, lebih baik kita bicara di taman saja" ucap Yuda sambil menarik tanganku.
Sesaat setelah itu Yuki tiba-tiba datang dan menarik lenganku.
~ Sudut pandang Yuki ~
Setelah kejadian yang sangat diluar perkiraan ku, aku membereskan semua peralatan sekolah dan bersiap untuk pulang.
Di ujung lorong aku melihat dua orang yang sedang mengobrol, mereka adalah Citra dan Yuda.
Dari kejauhan aku memperhatikan mereka, sangat tidak beres. Wajah Citra sangat menggambarkan situasinya. Citra terlihat begitu ketakutan dan wajah Yuda sangat serius.
Aku tidak mengerti apa yang direncanakan Yuda tapi aku tidak bisa membiarkan Citra terlibat dalam masalahku. Saat ini aku yg harus melindungi Citra.
Setelah mengobrol singkat, Yuda seperti mengajak Citra ke suatu tempat. Wajah Citra yang begitu tegang membuatku tidak tahan.
Aku tanpa pikir panjang langsung berlari dan menggapai tangan Citra, Citra begitu terkejut dengan tindakan ku.
"Apa yang kau rencanakan Yuda, jangan pernah sakiti Citra" ucapku pada Yuda sambil membentaknya.
Yuda berpaling dan menatap kearah mataku, aku merinding. Ini bukan Yuda yang aku kenal selama ini.
"Haah...Apa maksudmu Yuki, Kamu pikir aku orang sejahat itu" Ucap Yuda dengan nada yang tinggi.
Aku menjawabnya dengan nada yang tinggi pula "Lalu kenapa Citra begitu ketakukan, apa kamu mengancamnya?"
"Ini tidak ada hubungannya denganmu Yuki, Citra adalah teman baik ku, tidak mungkin aku menyakitinya. Kamu memintaku untuk berhenti mengganggumu lagi kan. Maka jangan ganggu waktu ku dengan teman ku" ucap Yuda dengan ekspresi wajah yang sangat dingin, ini jelas bukan Yuda yang aku kenal.
Citra kemudian menengahi perselisihan kami
"Tidak apa-apa Yuki, jangan khawatir soal aku dan Yuda. Kami sudah berteman baik sejak kelas 1 SD. Tidak perlu khawatir" ucap Citra padaku sambil tersenyum.
Aku terkejut, aku tau mereka berdua sudah saling kenal sebelum masuk SMA, tapi ternyata hubungan mereka sudah sejauh itu. Aku tentu saja tidak ada hak untuk melarang.
"Baiklah kalau begitu, jaga dirimu Citra" ucapku pada Citra.
"Ya, terima kasih sudah mengkhawatirkan ku" jawab Citra.
~CITRA DAN YUDA ~
~ sudut pandang Citra ~
Setelah ketegangan antara Yuda dan Yuki mereda. Aku dan Yuda berjalan menuju bangku yang ada di taman dekat sekolah.
Aku tidak tau apa yang ada di pikirkan Yuda. Setelah duduk di taman, Yuda mulai berbica.
"Nah Citra, kamu melarangku untuk mendekati Yuki kan" ucap Yuda padaku.
"Iya benar" jawabku pada Yuda.
"Artinya kamu harus bertanggung jawab karena kamu sudah membuat ku berada dalam kondisi ini" ucap Yuda padaku.
"Apa maksudmu Yuda?" aku bertanya karena bingung dengan apa yang Yuda maksud.
"Mulai besok aku ingin kita bertukar tempat duduk, kamu duduk di samping Yuki menggantikan ku, Dan aku duduk di tempat dudukmu, apa kamu keberatan" ucap Yuda padaku.
"Haah....Hanya itu saja" jawabku sambil terheran-heran.
"Tentu saja, aku tidak bisa menjauhi Yuki kalau aku duduk di sampingnya setiap pelajaran dimulai, aku juga tidak bisa melibatkan murid lain untuk bertukar tempat duduk denganku" ucap Yuda padaku.
Nada bicaranya berubah, Yuda yang sempat ku pikir akan menghilang kini kembali lagi. Aku sangat lega karena dia bisa menyikapinya dengan cukup dewasa.
"Bersikap dingin dan tidak peduli itu sangat melelahkan, aku tidak ingin setengah-setengah dalam hal ini. Aku benar-benar sudah memikirkannya. Kali ini aku tidak akan mengusik Yuki lagi. Aku lebih baik menjauh dari orang yang baru ku kenal 1 tahun dari pada harus di jauhi oleh temanku yang sudah bersama selama 10 tahun" Yuda menjelaskan semua yang dia rasakan.
Mendengar kalimat yang dikatakan Yuda, jiwa ku seperti terjatuh dari langit ke bumi. Yuda bukan orang yang gampang melontarkan kata-kata manis ke semua orang. Jadi aku tahu betul kalau dia benar-benar tulus.
"Aaa..apa maksudmu Yuda, kenapa berkata seperti itu" ucapku dengan rasa gugup.
Apa ini, kenapa sekarang malah aku yang jadi bersikap aneh. Kenapa tubuhku mulai merasakan panas.
"Haah..Kurang jelas apa. Apa harus ku ulangi lagi" ucap Yuda padaku
Perasaanku pun semakin tidak karuan. Dari pada aku semakin terlihat aneh, lebih baik aku akhiri segera pertemuan kami.
"Aaah.. ooh..benar Yuda. Aku harus pulang karena ada kesibukan juga dirumah" ucapku dengan gugup pada Yuda.
Aku mengatakannya dengan tersedu-sedu.
"Ooh, yasudah. Sampai besok ya Citra" ucap Yuda padaku.
"Iyaa" jawabku pada Yuda
Aku pun pulang kerumah dengan perasaan campur aduk.
~ sudut pandang Yuda ~
Setelah berbicara dengan citra kami pun berpisah, aku memutuskan untuk mampir ke kafe milik pamanku untuk besantai sejenak.
Kebetulan besok adalah akhir pekan. Setiap akhir pekan atau libur sekolah aku selalu berada di kafe pamanku untuk membantu beliau. Sudah 2 tahun terakhir aku melakukannya.
Aku ditugaskan sebagai pelayan karena kemampuan komunikasiku yang bagus. Dan entah pamanku itu cuma bercanda atau tidak.
Beliau bilang setiap masa dimana aku rehat berkerja karena masuk masa ujian sekolah. Pengunjung yang datang ke kafe juga ikut berkurang, khususnya pengunjung wanita kantoran dan mahasiswi.
Beliau bilang aku mempunyai daya tarik sendiri ketika melayani pelanggan. Aku sendiri tidak menganggap itu sebuah kelebihan.
Aku malah merasa tubuhku sedang dijual oleh pamanku sendiri pada wanita dewasa yang kesepian. Tapi itu adalah pengalaman menyenangkan. Aku bisa menjadi diriku sendiri dan berhanti berpura-pura jadi cowok keren seperti disekolah.
-Terima kasih sudah membaca cerita saya. Untuk ilustrasi karakter cerita ini bisa lihat di Trending akun saya.
Jika ada kritik dan saran silahkan DM saya dan jangan sungkan-sungkan :D