Leana seorang aktris yang baru saja terjun ke dunia hiburan tiba-tiba didorong ke dalam laut. Bukannya mati, Leana justru masuk ke dalam sebuah novel yang di mana ia menjadi tokoh pendukung yang lemah. Tokoh itu juga memiliki nama yang sama dengannya
Leana menjadi salah satu simpanan tokoh utama yang telah beristri. Namun tokoh utama pria hanya menganggap ia sebagai alat pemuas hasrat saja. Dan terlebih lagi, di akhir cerita ia akan mati dengan mengenaskan.
Merasa hidup sudah di ujung tanduk, Leana berusaha mengubah nasib tokohnya agar tidak menjadi wanita simpanan yang bodoh dan tidak mati mengenaskan. Di sisi lain Leana juga harus mencari cara agar keluar dari dunia novel ini.
Akankah Leana mampu melepaskan diri dari tuannya yang terkenal kejam itu? Dan bagaimana caranya agar Leana mampu kembali ke dunia asalnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rembulan Pagi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seperti Di Novel
Leana menggigit bawah bibirnya. Ia tidak mengerti dengan keadaan ini. Dengan pikiran yang yang penuh tanda tanya, ia kabur dan memeriksa handphonenya berharap ia bisa kabur dari semua ini.
"Mana handphoneku Mira?" tanya Leana yang sibuk mencari keadaan handphonenya.
Ia menghiraukan Dalton yang tadi berada di depannya. Sedangkan Mira terus menunduk takut akan terjadi sesuatu.
"Pergilah, temui temanmu," ucap Dalton mengizinkan Mira.
Mira masuk ke dalam kemudian membuka lemari.
"Ini handphonemu." Mira menyodorkan sebuah handphone kecil yang bukan milik Leana.
"Ini bukan punyaku Mira," tolak Leana yang terus mencari keberadaan handphonenya. "Ah mungkin masih tertinggal di kapal pesiar ya? Aku pinjam handphone ini ya."
Leana membuka handphone itu dan terkejut melihat wallpaper. Di sana terdapat foto ia dan Mira mengenakan pakaian bak pelayan seperti di cerita dongeng. Foto itu sangat jelas dan tidak terlihat seperti editan.
Kepala Leana bertambah pusing, dengan handphone itu ia mencari semua informasi yang ada. Namun tidak ada satupun informasi yang ia temukan.
"Apa-apaan ini, bahkan semua artis terkenal yang ada tidak tercantum di sini. Data tidak juga ditemukan. Presidennya juga berbeda! Semuanya persis di dalam cerita itu. Mengapa?" Leana kebingungan dengan semuanya.
Ia mengetik nomor orang yang ia kenali, namun tidak ada satupun nomor dari mereka yang terdaftar. Kembali ia kebingungan dengan semua ini. Tidak mungkin mereka dengan cepat menghapus nomor.
Masih dengan pikiran yang kacau, Leana membuka galeri handphone itu. Isinya banyak foto dirinya bersama Mira. Semua terlihat begitu jelas. Ia juga melihat ada beberapa foto Dalton yang sengaja Leana foto dari kejauhan. Semua ini terlihat nyata dan sama sekali bukan tipuan.
"Ada apa ini?" tanya Leana kepada dirinya sendiri.
"Leana sepertinya sakitmu cukup berat. Mungkin ini karena shock semalam. Tenangkan dirimu, istirahat terlebih dahulu. Aku akan membawakan makanan untukmu."
Leana duduk, Mira keluar dari kamar itu. Leana menatap kesekeliling tempat ini. Ruangan ini indah, ia mengingat adegan ini. Di mana mereka sedang di ruang perawatan. Dalam lemari itu penuh alat-alat kesehatan. Jika para pelayan sakit ataupun tamu, pasti akan dibawa ke sini.
Leana menatap ke luar, ia ingat bahwa adegan saat Dalton menanyakan keadaaan Leana membuat gadis bernama Leana itu bahagia karena Dalton mengenalnya setelah tiga tahun lamanya. Dan setelah ini Dalton akan secara tidak sengaja memerhatikan Leana hingga semua itu menimbulkan kejadian yang merugikan Leana.
"Sepertinya aku mulai gila. Entah apa yang terjadi. Apakah ini alam lain? Aku sudah mati? Mengapa semuanya persis seperti di dalam novel? Aku menjadi Leana Si peran pendukung yang lemah. Terlebih lagi, semua yang ada di handphone ini berbeda dengan duniaku. Ada apa sebenarnya?"
Leana mengusap wajahnya. Ia berdiri memerhatikan tubuhnya. Saat ia melihat dirinya di cermin, ia terkejut melihat dirinya sangat tidak terawat. Jika ini adalah tipuan, tidak mungkin semuanya seberantakan seperti ini dalam semalam.
"Apa yang terjadi?"
Mira masuk, ia membawa makanan ke dalam ruangan itu.
"Makanlah, kau harus cepat sembuh Leana. Aku harus mengerjakan pekerjaanku. Maaf harus meninggalkanmu," lirih Mira yang segera pergi dari sana.
Tidak ada niat untuk makan, Leana berusaha mencerna semua kejadian ini. Dengan tekat yang penuh, ia memberanikan diri pergi ke luar. Ia menelusuri mansion milik pria yang bernama Dalton ini. Mansion ini memiliki detail persis seperti di novel itu.
Leana baru ingat, dia bisa membuka maps untuk melihat posisi ini. Dan saat ia membukanya, tempa ini berada di tempat yang tidak seharusnya. Yang Leana ingat bahwa tempat ini merupakan ladang jagung di dunianya. Tidak mungkin dalam semalam ladang jagung menjadi sebuah mansion mewah.
Dari kejauhan Dalton melihat Leana yang selalu berubah-ubah ekspresi.
"Apa yang terjadi pada wanita itu?" tanya Dalton bingung.
"Itu mungkin efek shock tuan, biasanya akan sembuh sekitar dua sampai tiga hari," jawab seorang pria di sebelah Dalton.
"Ah begitu ya, perubahannya membuat dirinya begitu kurang ajar," gumam Dalton.
................
Leana berputar-putar di ruangan. Berkali-kali ia telah mengecek handphonenya memastikan semuanya benar pada tempatnya. Namun semua ini sangat aneh. Banyak hal janggal dan tidak masuk akal.
Mira masuk ke dalam ruangan itu, dengan senyuman ia membawa sepotong roti dan susu hangat. Ia meletakkannya ke meja dan meminum susu itu tanpa menawarinya ke Leana.
"Ini makanan untukmu, tapi aku tahu kau tidak suka susu. Jadi susu tidak aku berikan," ucap Mira.
Leana mengangguk. Ia tidak tahu jika tokoh Leana ternyata tidak suka susu. Itu sangat berbeda dengan dirinya. Tokoh Mira adalah pelayan yang sangat baik. Ia berteman dengan Leana sejak Leana datang ke mari. Tidak dijelaskan secara detail tentang asal usul Leana. Penulis hanya menceritakan bahwa Leana tidak punya sanak keluarga dan bekerja di sini.
"Ayo kita kembali ke kamar, nyonya Merry pasti mengkhawatirkanmu," ajak Mira.
Leana dan Mira berjalan di dalam mansion itu. Leana terkagum dengan kemewahannya. Ia tidak menyangka jika semewah ini. Dan perempuan yang bernama Merry, ia adalah kepala pelayan. Leana melihat bahwa karakter Merry sangat persis di novel, seorang yang sangat berwibawa dan mempunyai hati yang lembut. Nyonya Merry sangat menyanyangi Anastasia.
"Kau tidak apa-apa Leana?" tanya nyonya Merry memegang lembut tangan Leana.
Leana mengangguk, dia masih memerhatikan sekitar berharap ada kamera tersembunyi dan dia sedang dikerjai.
"Besok kau tidak perlu bekerja, istirahat terlebih dahulu. Pelayan lain akan melakukan pekerjaanmu. Dan satu lagi, jangan membersihkan kolam lagi di paviliun tuan Dalton! Aku takut kau akan terpeleset dan tenggelam."
Leana ingat bahwa di novel Dalton memiliki kolam renang di paviliun dengan kedalaman 3 meter. Dan Leana yang bodoh selalu membersihkan tempat itu berharap Dalton akan melihatnya dan mencintainya.
Dalam novel itu, karakter Leana tidak terlalu sering ditunjukkan. Ia hanya ditunjukkan beberapa kali, dan puncaknya saat malam pertama Dalton dengan Anastasia, kala itu Anastasia menolak melakukannya dengan Dalton, alhasil Dalton dalam keadaan berhasrat tinggi memilih melakukannya dengan seorang pelayan di paviliun.
Adegan itu juga tidak diceritakan secara detail. Dalton mengingat dan melakukan itu ketika ia sedang berhasrat tinggi dan tidak ada yang bisa membantunya. Leana yang bodoh melakukan itu dengan berharap dicintai. Meskipun wanita itu tahu jika saat berhubungan intim nama Anastasia yang selalu ia sebut.
"Jika semua ini nyata, aku dalam masalah besar," gumam Leana.
"Ada apa Leana?" tanya nyonya Merry.
"Bisakah aku pindah dari tempat ini?" tanya Leana.
"Ada apa? Kau tidak bisa langsung pindah. Tapi aku akan mengurusnya jika kau ingin segera pindah. Dalam kontrak, jika pelayan ingin meminta pindah, ada waktu selama sebulan dan pada saat itu baru boleh pindah. Kau ingat kan?"
"Benarkah ada peraturan itu?"
Nyonya Merry mengangguk. Leana terkejut, ia tidak tahu jika kejadian ini ada di Novel. Ia juga tahu bahwa detail ini tidak akan ditulis di novel karena ini menceritakan soal Dalton, Anastasia dan Adeline.
Dorrr
Suara tembakan menggelegar, semua pelayan takut dan menutup telinganya
"Tuan Bastian melepaskan tembakan ke burung lagi di sini. Jika tuan Dalton mendengar pasti ia akan dihukum. Aku akan segera melaporkan ini kepada tuan Dalton!" Nyonya Merry segera beranjak ke dalam ruangannya.
Leana berdiri bagaikan patung. Semua adegannya sama persis seperti cerita di novel. Percaya tidak percaya namun kenyataan saat ini ia berada di tempat yang tidak seharusnya.
Sepertinya aku benar-benar masuk novel!