Valen Adisty, seorang gadis yatim yang gigih dan penuh semangat, baru saja menyelesaikan pendidikan kedokterannya dan bersiap memulai karier sebagai dokter muda. Namun, kehidupannya berubah drastis ketika takdir membawanya masuk ke dalam pernikahan tak terduga dengan Kevin Axelle Rayyan, seorang dokter spesialis tampan, dingin, dan sangat disegani di rumah sakit tempat Valen bekerja.
Di mata orang lain, Kevin adalah sosok dokter hebat yang perfeksionis, pendiam, dan sulit didekati. Namun di balik jubah putih dan tatapan matanya yang tajam, Kevin menyimpan kehangatan—sekaligus sifat posesif yang luar biasa tajam hanya untuk Valen seorang.
Sebagai dokter baru sekaligus istri rahasia dari dokter senior papan atas, Valen harus berjuang menyeimbangkan profesionalitas kerjanya dengan dinamika rumah tangganya yang penuh intrik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intan Wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suasana Desa dan Pertemuan Tak Terduga
Suasana desa selalu punya cara ajaib untuk menyembuhkan jiwa yang lelah. Udara pagi yang sejuk berpadu sempurna dengan rimbunnya dedaunan hijau yang menaungi jalanan tanah. Bau khas tanah basah dan dedaunan yang terpapar sinar matahari menyapa hangat saat sebuah mobil MPV hitam berbelok perlahan, lalu berhenti tepat di depan sebuah rumah panggung berarsitektur Bali modern yang asri.
Belum lagi mesin mobil benar-benar mati, pintu penumpang depan sudah terdorong terbuka. Seorang gadis bergaun santai dengan rambut dikuncir asal langsung meloncat turun.
"Assalamu’alaikum...!! Nenek...!!" seru Valen riang. Suaranya yang melengking penuh sukacita memecah keheningan jalan setapak berkerikil menuju halaman samping.
Di sana, seorang wanita tua bersanggul rapi tengah memegang selang, telaten menyiram deretan pot tanaman hias. Mendengar teriakan khas yang sangat ia kenal, wanita itu menghentikan aktivitasnya. Matanya berbinar seketika.
Di dalam mobil, Arin sang bunda hanya bisa menghembuskan napas panjang seraya menggelengkan kepala melihat tingkah anak sulungnya yang mendadak lupa umur. Sementara itu, di kursi belakang, sang adik memutar bola matanya malas.
"Mulai deh, sifat aslinya keluar. Kalau di depan Nenek aja lagaknya manja kayak anak TK," gumam sang adik dengan nada sebal yang ditahan.
"Sssstt... Udah, biarin aja," tegur Arin lembut seraya menepuk bahu anak bungsunya. "Kakakmu kan sibuk banget di kota. Jarang-jarang bisa pulang dan manja-manja begini sama Nenek."
"Eeeeh... Akhirnya cucu-cucu Nenek datang juga! Hahaha..." Nenek tertawa lepas, suaranya renyah membalas kehangatan pagi.
Dengan cepat Nenek memutar keran air hingga mati, lalu tergesa-gesa mengusapkan kedua tangannya yang basah ke celana kain longgar yang ia kenakan. Sebelum Valen sempat mendekat, Nenek sudah merengkuh tubuh cucu pertamanya itu dalam pelukan hangat yang beraroma khas minyak kayu putih dan bunga melati.
"Cucu kesayangan Nenek makin tinggi aja, makin cantik," puji Nenek seraya melepas pelukan dan menepuk-nepuk lembut kedua pipi Valen. "Ayo, ayo masuk! Nenek sudah buatkan es dawet hangat... eh, maksud Nenek es dawet segar khas desa favorit kalian semua!"
Gelak tawa seketika pecah mendengar lidah Nenek yang terpeleset. Arin yang baru saja mendekat ikut tertawa gemas, sementara sang adik yang tadinya cemberut akhirnya tak sanggup menahan senyum.
"Nenek... Maaf banget ya, Valen bolehkan nginep di sini beberapa hari?" ucap Valen sambil bergelayut manja di pundak sang nenek. "Soalnya aku ke sini memang untuk liburan sambil menunggu wisuda, Nek. Maaf juga pas Lebaran kemarin Valen nggak bisa pulang karena ada tugas dadakan dari dekan yang nggak bisa diwakilin..."
"Iya, nggak apa-apa kok. Nenek ngerti banget kesibukan kamu," jawab Nenek tulus sambil mengelus lembut rambut Valen.
"Bunda juga udah bilang begitu kok kemarin, Nak. Jadi Nenek pasti paham," timpal Arin menenangkan.
Melihat suasana yang mencair, sang adik melangkah maju dan menarik-narik ujung gaun Valen. "Kak, main ke pantai yuk!"
"Boleh, ayo!" sahut Valen penuh semangat.
"Ayo kejar aku, Kak!" seru sang adik yang langsung berlari duluan menuju arah pantai tak jauh dari rumah panggung Nenek.
###$$$$#####
Sore harinya, Valen berjalan-jalan sendiri kesebuah resort. Atmosfer hangat desa seolah berganti total dengan kemewahan sebuah resor pesisir di kawasan Seminyak, Bali. Ombak pantai berkejaran menghempas pasir putih dengan suara gemuruh yang teratur. Angin laut berembus cukup kencang, menyapu rambut-rambut halus di dahi Valen. Di atas sana, langit sore terbentang indah dengan gradasi warna jingga, keemasan, dan keunguan menciptakan golden hour yang sempurna.
Valen melangkah mundur perlahan. Mata kanannya menempel ketat pada viewfinder kamera lensa telephoto tercanggih miliknya. Seluruh fokus dan jiwanya tersedot ke dalam bidikan, berusaha menangkap pantulan pendar cahaya matahari terbenam yang menari-nari di atas permukaan kolam renang infinity.
Sayangnya, jiwa seni yang terlalu menggebu sering kali mengabaikan keselamatan. Valen terus melangkah mundur tanpa menyadari tumitnya sudah berada di ambang pembatas kolam renang yang licin.
Srett!
"Eh...!"
Tumit sepatu ketsnya terpeleset di atas ubin basah. Dalam fraksi detik yang mendebarkan, insting utamanya bukanlah menyelamatkan tubuhnya sendiri, melainkan perangkat kamera berharga puluhan juta rupiah di tangannya. Refleks, Valen memutar tubuhnya di udara, mengangkat tinggi-tinggi kameranya agar tak tersentuh air.
Brak!
Aksi penyelamatan kamera itu berhasil, namun tubuh Valen harus membayar harganya. Ia jatuh menghantam tepian beton kolam dengan keras sebelum terperosok dan terseret di atas lantai batu dek yang kasar.
"Aww! Ssshh... Sakit!" ringis Valen tertahan.
Kamera impiannya memang selamat tanpa lecet sedikit pun di atas dada, tetapi rasa panas yang menusuk langsung merayapi siku kanan dan lutut kirinya. Kulit mulusnya tergores cukup dalam, membiarkan darah merah segar mengalir pelan mengotori lantai dek.
Di saat Valen meringis kesakitan sambil berusaha mengumpulkan kesadarannya, terdengar irama langkah kaki yang tenang mendekat.
Seorang pria bertubuh tinggi tegap berjalan menghampirinya. Pria itu mengenakan kemeja putih berlengan pendek yang digulung rapi hingga siku, memancarkan aura dingin, disiplin, dan sangat berjarak sebuah kontras yang tajam dengan hangatnya lanskap sore di Bali. Pria itu adalah Dr. Kevin axelle Rayyan, seorang dokter spesialis bedah muda yang kebetulan sedang menikmati masa cuti singkatnya.
Kevin berhenti tepat di samping tubuh Valen yang terkapar. Pandangan matanya yang tajam menatap luka Valen secara analitis tanpa raut panik, terkejut, apalagi simpati berlebihan.
"Jangan banyak bergerak," ujar Kevin singkat. Suaranya berat, tenang, namun menyiratkan otoritas tegas yang tak bisa dibantah.
Valen mendongak pelan, meringis menahan nyeri yang kian menyengat sembari memegangi tangannya. "Tapi... kamera saya..."
"Kamera kamu terbuat dari logam dan tidak bisa berdarah, tapi siku dan lutut kamu iya," potong Kevin dingin tanpa keraguan.
Dokter muda itu berlutut dengan satu kaki di samping Valen. Tanpa membuang waktu, ia merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah sapu tangan kain bersih berwarna grey melange, lalu menekannya cukup kuat tepat di atas luka terbuka di siku Valen untuk menghentikan pendarahan.
"Aww! Pelan-pelan dong! Sakit tahu, bukannya diusap malah ditekan!" pekik Valen kesal. Sifat manjanya yang tadi membuncah di rumah Nenek mendadak muncul kembali, terpicu oleh rasa perih yang luar biasa dan sikap pria di hadapannya yang dinilai sangat tidak ramah.
Kevin sama sekali tidak terpengaruh oleh protes atau tatapan tajam Valen. Sepasang matanya yang sedingin es menatap balik mata Valen datar, dia memang seorang dokter profesional yang biasa memandang pasien di atas meja operasi.
"Kalau tidak ditekan, pembuluh darah kapiler Anda akan terus mengeluarkan darah dan lukanya berisiko tinggi terinfeksi air kolam yang mengandung kaporit. Tahan sebentar," balas Kevin datar tanpa perubahan intonasi sedikit pun. "Bisa berdiri?"
Valen mengerucutkan bibirnya, merasa sangat jengkel dengan pria asing yang terasa begitu kaku, formal, dan 'sok tahu segalanya' ini. Namun, di balik rasa kesal yang membakar pipinya, ada desiran aneh yang mendadak berdesir halus di dadanya saat menatap mata bening milik dokter tersebut dari jarak sedekat ini.
"Bisa kok! Cuma begini doang," sahut Valen gengsi, mencoba mempertahankan harga dirinya. Namun, saat ia mencoba menumpukan berat badan pada kaki kiri, lututnya gemetar hebat dan rasa nyeri menusuk membuatnya kembali meringis pasrah.
Melihat hal itu, Kevin tidak membuang waktu untuk berdebat atau sekadar meminta izin. Dengan gerakan cepat, tangkas, dan sangat terukur, Kevin menyelipkan lengan kanannya di bawah lipatan lutut Valen dan lengan kirinya menyangga punggung perempuan itu.
Dalam satu helaan napas, Kevin mengangkat tubuh Valen ke dalam gendongannya ala bridal style.
"Eh! K-kamu mau bawa aku ke mana?! Lepasin! Aku bisa jalan sendiri!" seru Valen panik seketika. Refleks, kedua tangannya langsung melingkar erat di leher Kevin karena takut terjatuh.
"Ke klinik resor. Luka kamu harus segera dibersihkan dengan antiseptik dan dijahit jika diperlukan," jawab Kevin tenang. Pandangannya lurus menatap ke depan tanpa sedikit pun menoleh ke arah wajah Valen yang kini sudah merona merah padam entah karena kaget, kesal, atau rasa canggung luar biasa yang mendadak menyergap dadanya.