"Aku telah mati karena cinta, kali ini aku ingin hidup untuk diriku sendiri" atau begitulah yang diucapkan Evelyn awalnya sebelum dia mengenal kepribadian Matthew si Pangeran Kulkas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PhepipoOrevi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1. Prolog - Hari Kematian Evelyn
Evelyn tergeletak di atas tanah yang lembap. Gaun putih favorite nya sudah kotor. Penuh dengan lumpur bercampur dengan darah yang mengalir dari pundak Evelyn. Bau anyir darah pun perlahan mulai tercium. Rasa sakit mulai menusuk sampai ke tulang punggung. Evelyn terdengar mengerang kesakitan. Nafas nya pun terasa berat, tiap kali ia mencoba menarik nafas.
Suasana hutan yang begitu dingin, hening dan mencekam. Seolah seluruh dunia tenggelam dalam jerit tangis Evelyn. "Tuhan, apa salahku Tuhan .. "
"CEDRIC !!! Cedric hu hu hu hu .."
Evelyn mulai menangis menjerit memanggil nama kekasihnya. Malam ini seharusnya dia dan Cedric pergi melarikan diri dari tempat ini. Malam ini seharusnya dia sudah ada di Paris. Pikiran Evelyn mulai kalut. Dia terlihat panik, menangis dan menahan sakit.
"Evelyn? ENGGAK .. Evelyn apa itu kamu Darling? Enggak, enggak ini bohong. Ini semua pasti bohong! Mana wanita sialan pengganti mu yang kusiapkan itu. Oh Tuhan enggak, gak Eve jangan tinggalin aku. Aku cari pertolongan kamu tunggu sini sebentar sayang."
Cedric memeluknya menangis kebingungan sementara darah Evelyn masih terus mengalir. Cedric memapah Evelyn ke untuk bersandar di bawah pohon dan segera berlari meninggalkannya sambil menangis. Cedric tahu ia harus segera mencari bantuan. Tapi dia ada di kediaman Samantha, tunangannya!
Pikiran Cedric kalut. Tapi ia tidak punya jalan lain. Tidak apa-apa, aku akan jelaskan semuanya ke Samantha. Pikirnya sambil terus berlari.
Jarak Evelyn ditembak dengan kediaman Samantha 1.5 kilometer. Keringat dingin Cedric mulai mengalir. Saking kalutnya dia berlari, dia tidak sadar banyak batu di depannya, hingga ia jatuh terjerembab dan satu giginya patah mengeluarkan darah akibat benturan. Tapi Cedric tidak menyerah. Dia bangkit lagi dan mulai berlari. Dia tahu, waktu Evelyn tidak banyak. Dia tidak peduli rasa sakitnya. Evelyn, pokoknya Evelyn dulu, pikirnya.
Di bawah pohon pinus, Evelyn sendirian. Kepalanya bersandar lemas pada batang pohon yang kasar. Darah dari pundaknya masih terus mengalir, membasahi gaun dan tanah di sekitarnya. Pandangannya mulai kabur, tapi telinganya masih bisa mendengar suara gesekan gaun dan langkah kaki. Langkah itu sangat pelan. Tapi Evelyn bisa mendengarnya.
Evelyn memaksakan matanya terbuka. Ia berpikir Cedric sudah kembali membawa bantuan.
Tapi itu bukan Cedric.
Sesosok wanita paruh baya mengenakan gaun hitam lengan pendek, berdiri tegak di depannya. Wajahnya cantik, meski sudah dimakan usia, tapi sorot matanya begitu tajam dan dingin tanpa ada rasa kasihan sedikit pun.
Wanita itu adalah Leonor Ashworth. Ibu kandung Cedric.
Leonor berjalan pelan mendekati Evelyn. Ia berlutut di sebelah Evelyn, memperhatikan gadis yang sedang menahan kesakitan itu dengan sudut bibir terangkat tipis.
Dengan jemarinya yang terawat rapi, Leonor mengusap kepala dan wajah Evelyn yang mulai dingin, memaksa gadis itu menatap matanya.
"Harusnya kamu tahu diri dari awal, Evelyn," bisik Leonor. Suaranya begitu tenang, tapi tiap kata yang keluar seperti racun yang menusuk telinga. "Inilah akibatnya kalau wanita dari kasta rendahan sepertimu berani menggoda penerus Keluarga Ashworth. Kamu sudah diperingatkan berkali-kali, Evelyn. Hahaha cinta ya. Oh darling, cinta itu gak ada di kalangan bangsawan dear. Kamu pasti bingung kenapa Cedric nembak kamu hahaha Itu Saya yang atur dear, biar dia kira wanita yang disiapkan buat dia tembak gantiin kamu untuk mengelabuhi saya itu kan rencana nya. Oh dear, kamu bermain dengan bangsawan yang salah. Sekarang mati aja kamu dengan tenang" kata Leonor sambil masih tertawa puas. Tawanya yang melengking memecah keheningan malam. Leonor masih terus tertawa sambil berlalu pergi meninggalkan Evelyn.
Evelyn mencoba membuka mulutnya. Ia ingin memaki, ingin memuntahkan seluruh kemarahannya, tapi hanya desisan yang keluar karena Evelyn menahan kesakitan yang luar biasa.
Rasa dingin merambat makin cepat dari kaki sampai ke dada Evelyn. Kesadarannya makin terkikis. Air mata terakhir meluncur pelan dari sudut matanya yang setengah tertutup.
Tuhan... aku benci tempat ini... aku benci mereka semua... Aku ingin kesempatan Tuhan.. Aku tidak mau lagi jatuh cinta dengan Cedric.. Tidak akan.. Andai ada kesempatan itu..
Tepat saat dunia Evelyn hampir gelap gulita, suara derap langkah kaki lain terdengar berlari kencang membelah semak-semak. Seseorang berlutut di sampingnya dengan napas terengah-engah.
Tangan pria itu gemetar hebat saat merengkuh tubuh Evelyn yang sudah dingin, memindahkan kepala Evelyn ke pangkuannya. Evelyn memicingkan mata, berusaha mengenali siapa pria ini.
Bukan Cedric. Bukan juga pengawal keluarga Samantha.
Pria itu adalah Matthew Pendragon.
Grand Duke yang selama ini hanya Evelyn lihat dari jauh di pesta-pesta bangsawan yang dihadirinya karena desakan Cedric yang mengharuskannya hadir karena tuntutan pewaris. Pria yang tak pernah menyapanya meski mereka sering tanpa sengaja bertemu dikampus. Atau tanpa sengaja bertemu saat nongkrong di Cafe dekat kampus. Pria dingin itu.
Setitik air mata panas jatuh menetes tepat di pipi Evelyn yang pucat. Evelyn tertegun dalam sisa kesadarannya. Di bawah remang cahaya bulan, ia bisa melihat wajah Matthew dari dekat—mata keemasan pria itu memerah, penuh air mata, dan memancarkan kesedihan yang luar biasa dalam. Seolah-olah detik itu juga, seluruh dunia Matthew ikut runtuh bersama kepergiannya.
Kenapa... kenapa pria ini menangis untukku? batin Evelyn menjerit bingung di detik-detik terakhirnya.
Evelyn tidak sempat menemukan jawabannya. Matanya tertutup rapat, napasnya berhenti total, dan kegelapan menelan seluruh jiwanya.